Surat yang Tak Pernah Terkirim

2092 Kata
Sejak ada Rusli, mes tampak lebih bersih dan rapi. Tadi pulang kerja ia mendapati lantai teras dalam keadaan mengkilap. Kotoran cipratan air hujan semalam, sama sekali tidak berbekas.  Bukan hanya teras, seluruh lantai di dalam mes juga dalam keadaan bersih dan aromanya lebih segar, mulai dari ruang depan hingga dapur. Bahkan kamar mandi dan baknya terlihat kinclong. Ezra yakin Rusli adalah anak rajin dan selalu menjaga kebersihan.  Yang lebih mengejutkan dari itu semua adalah Rusli telah menyiapkan nasi dan lauknya. Tadinya Ezra berpikir anak itu membelinya di warung, namun ternyata anak itu memasak sendiri. Memang lauknya hanya oseng-oseng kacang, telur dadar, tempe goreng, dan sambal. Namun bagi Ezra itu sudah luar biasa.  Keterkejutan Ezra tidak sampai di situ. Rusli ternyata cakap ketika menjadi imam dalam sholat maghrib berjamaah. Bacaan Surat Alfatihah-nya fasih, tidak kalah dengan ustaz di kampungnya.  Selesai sholat, mereka makan malam bersama. Rusli tidak banyak bicara ketika makan. Ezra salut, ternyata anak itu khusyuk bukan hanya ketika sholat saja, tapi juga ketika makan.  Nilai plus Rusli semakin bertambah di mata Ezra. Selain fisiknya rupawan, santun, baik, rajin, cakap menjadi imam sholat, juga banyak tersenyum. Itu membuat Ezra sangsi apakah benar anak itu pernah berada pada titik hidup segan, mati tak mau.  Selepas makan bersama, Ezra mengira Rusli akan melanjutkan ceritanya, tetapi ternyata tidak. Anak itu membaca buku filsafat. Koleksi buku Rusli cukup banyak. Jatah space lemari untuk anak itu lebih banyak diisi buku-buku ketimbang buat baju.  Memasuki waktu sholat isya, Rusli menghentikan bacanya. Ia mengajak Ezra sholat isya berjamaah.  Selama menjalankan sholat isya, Ezra menjadi tidak khusyuk. Ia tidak sabar untuk mendengar kelanjutan cerita Rusli.  Selepas salam, Rusli merebus air. Ezra menjadi semakin tidak sabar, namun ia berusaha untuk tampak santai. Ia yakin Rusli akan menyeduh kopi agar obrolan nanti semakin lengkap.  Keyakinan Ezra menjadi kenyataan. Rusli menyeduh kopi hitam dua gelas untuk mereka dan menyajikannya di ruang tengah. Aromanya menguar, menggugah selera Ezra.  "Gimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Rusli membuka obroan.  Ezra mengedikan bahu. Tidak mungkin ia menceritakan pengalamannya tadi siang. Meskipun tampak baik, menurutnya Rusli belum bisa ia percayai sepenuhnya.  "Ya begitulah. Aku nggak menganggap ini sebagai pekerjaan. Siapa sih yang mau menjadi kurir narkoba?" ujar Ezra akhirnya.  Rusli tersenyum, memahami kegelisahan Ezra. Ia menyesap kopinya hingga terdengar bunyi seruput. Ezra tidak mau kalah, ia juga menyeruput kopinya.  "Kerjaan kamu sendiri bagaimana?" Ezra balik bertanya sambil mencomot keripik singkong sisa semalam.  Rusli mendesah. "Aku banyak belajar tentang administrasi perkantoran di Eraneo. Awalnya aku malas karena merasa nggak sudi menjadi bagian sindikat mafia. Namun ternyata belajar ilmu administrasi itu menyenangkan."  "Kita bukan bagian mereka!" sergah Ezra tidak terima.  Rusli tersenyum masam. "Faktanya seperti itu!"  Ezra mendengus. Kata-kata Rusli sama persis dengan yang diucapkan Dian kemarin.  "Dian juga banyak memotivasi aku," ujar Rusli. "Dulu aku sangat membencinya, tapi setelah mengenalnya, ternyata ia anak yang baik."  Ezra mengernyit protes. "Baik dari mana?"  "Nanti kamu juga akan merasakannya jika sudah mengenal Dian dengan baik," ujar Rusli diplomatis. Ia menyesap kembali kopinya.  Ezra tidak sependapat dengan Rusli. Di matanya, Dian tetaplah bagian Eraneo. Selain itu managernya itu juga ketus dan galak.  "Dian cantik kan?" Rusli mengerling, meledek Ezra.  Alih-alih tersenyum, Ezra mencibir Rusli.  Cibiran Ezra membuat Rusli tergelak. "Kamu mengakuinya atau enggak, Dian tetap cantik. Hahaha!"  Ezra tidak menggubris ledekan Rusli. Ia mencomot keripik singkong dan menikmatinya tanpa mempedulikan tawa Rusli.  "Kamu pernah punya pacar?" pancing Rusli.  Ezra melirik sadis. "Aku nggak mau pacaran. Kalau ada gadis yang membuatku suka, aku akan langsung mengajaknya ke KUA."  Rusli mengerjap dengan mimik meledek. "Mau ngapain ke KUA?"  "Jualan cilok!" jawab Ezra sebal.  Tawa Rusli semakin menjadi-jadi. Ia terbahak-bahak melihat ekspresi Ezra yang menurutnya lucu.  "Aku nggak tertarik membahas soal asmara," ujar Ezra. "Bukannya aku nggak peduli sama soal cinta tapi aku ingin fokus membantu orang tua dulu."  Kepala Rusli codong ke arah Ezra. "Yakin nggak tertarik membahas soal asmara?"  Ezra mengangguk tegas.  Rusli mendesah sambil terkekeh. "Kalau begitu kamu pasti nggak akan tertarik dengan kelanjutan ceritaku!"  Ezra menoleh. "Kalau kisahmu itu pengecualian!"  Rusli tertawa terpingkal-pingkal, sambil meraba perutnya.  Ezra menjadi tidak sabar. "Ayo lanjutkan ceritamu tadi pagi!"  Rusli berhenti tertawa. "Sabar dong!"  Ezra mendengus. Ia harus mengakui kalau Rusli memang teman ngobrol yang menyenangkan, selama tidak membahas soal Dian.  "Kemarin kamu cerita tentang pacar kamu yang bernama Nita," pancing Ezra, agar Rusli segera melanjutkan cerita tadi pagi. "Terakhir kamu bercerita bahwa kamu diterima kerja di Eraneo. Kamu bilang di sanalah penderitaan kamu dimulai."  Rusli tersenyum salut. "Kamu masih ingat juga ternyata ya?"  "Kan baru tadi pagi!"  Rusli mengangguk-angguk. Sejurus kemudian ia menarik napas dalam-dalam. "Aku nggak perlu bercerita banyak soal seberat apa penderitaanku di Eraneo. Kamu juga merasakannya. Lagipula, kata-kata nggak akan mampu menggambarkannya."  Ezra mengangguk sepakat.  "Aku pernah bilang sama kamu bahwa setelah dipindah di kosan yang baru, aku mulai menemukan kesadaran bahwa hidup belum berakhir. Semua karena Nita. Berkat gadis itu aku menemukan kembali semangatku," kenang Rusli. "Begitu besar kekuatan cinta, hingga aku berani main kucing-kucingan dengan Eraneo."  "Kucing-kucingan?" tanya Ezra penasaran. Suaranya kurang jelas karena di mulutnya penuh dengan keripik singkong. "Kamu tahu kan resikonya?"  Rusli mengangguk sambil tertawa geli. "Aku pura-pura bodoh di hadapan Dian dan para pengawas itu. Strategiku berhasil pada awalnya. Mereka tidak tahu aku pernah ketemuan dengan pacarku."  Ezra mengernyit heran. "Mereka melakukan pengawasan melekat. Bagaimana mungkin mereka nggak bisa tahu apa yang kamu sembunyikan?"  Rusli tersenyum. Ia mengambil gelas, bukan mau minum kopi tapi hanya dipegangi saja menggunakan kedua telapak tangannya. "Dua bulan aku memendam rindu kepada Nita. Aku yakin ia juga merasakan hal yang sama denganku. Pasti ia menunggu kabarku. Sementara Eraneo melarangku berkomunikasi dengan dunia luar. Namun aku nggak kehabisan akal. Aku bisa mengajak ketemuan Nita tanpa dicurigai. Mereka mungkin mengawasiku tapi nggak tahu kalau yang sedang kuajak bicara adalah pacarku."  Ezra penasaran. "Bagaimana kamu melakukannya?"  Rusli meneguk kopinya yang sudah menghangat. Sejurus kemudian pandangannya menerawang ke plafon, mengenang kejadian waktu itu.  Rusli menjawab pertanyaan Ezra. "Aku datang ke Eraeno dengan membawa dua ponsel. Satu punyaku sendiri, disita Dian dan satunya aku sembunyikan di kamar mandi sebuah mushola. Ponsel itu hadiah ultah dari Nita."  Ezra tersenyum, mengakui kecerdikan Rusli.  "Selama dua bulan aku tidak berani menyentuh ponsel itu. Namun hari itu aku memberanikan diri mengirim pesan kepada Nita agar ketemuan di sebuah warung makan langgananku. Aku memintanya agar bersikap seolah di antara kami baru saling mengenal."  "Nita nggak nanya alasan kenapa kamu meminta begitu?"  "Tanya, tapi aku berusaha memberinya pemahaman bahwa aku nggak bisa menjelaskannya saat itu," jawab Rusli. "Meskipun ia enggak puas dengan jawabanku tapi akhirnya ia menurutiku."  "Jadi pada pertemuan itu, pengawas Eraneo nggak sadar kalau kamu sedang menemui pacarmu?" Ezra penasaran.  "Sepertinya begitu karena aku nggak mendapat teguran. Kamu pasti tahulah kalau Eraneo selalu bergerak cepat. Mereka pasti langsung bereaksi jika ada karyawannya yang bertingkah macam-macam."  Ezra mengerjap sepakat. "Logikanya, kalau Eraneo sadar kamu sedang main kucing-kucingan waktu itu, pasti mereka langsung menegurmu. Setelah itu kalian masih sering bertemu?"  "Akan mencurigakan kalau aku sering mengobrol dengan orang yang sama. Para pengawas tidak bodoh. Maka setelah itu aku hanya berkomunikasi via ponsel saja."  "Kamu meggunakan ponsel yang kamu sembunyikan di kamar mandi mushola?"  Rusli mengangguk. "Itu pun nggak mesti seminggu sekali."  "Eraneo sama sekali nggak curiga?" tanya Ezra heran.  Rusli mendesah berat. "Aku akhirnya ketahuan."  "Bagaimana mereka bisa tahu?"  "Itu karena keteledoranku sih sebenarnya." Rusli meneguk habis kopinya. Wajahnya berubah muram. "Biasanya aku meninggalkan ponsel dari perusahaan di dalam jok sepeda motor. Hari itu aku lupa karena buru-buru."  "Apa kaitannya dengan ponsel perusahaan?" Ezra bingung.  Rusli menatap Ezra, sayu. "Setelah teleponan dengan Nita, aku keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba, dua orang yang semuanya mengenakan helm meringkusku dan membawaku ke kantor. Di sana aku langsung dimarahi Dian dan diancam jika masih berhubungan dengan Nita, maka bukan hanya aku saja yang akan mendapatkan hukuman tetapi juga Nita. Rupanya, ponsel perusahaan bukan hanya menyadap isi ponsel tapi juga pada bagian belakangnya terdapat penyadap suara yang sangat peka di dalam ruangan tertutup."  Ezra kaget sekaligus cemas "Kalau begitu semua percakapan kita di sini didengar pengawas dong!"  Rusli mengangguk pedih. "Ponsel kamu di mana sekarang?"  Ezra menunjuk meja di dekat kasur. "Itu!"  "Pada radius lima meter di dalam ruangan tertutup, suara kita bisa tersadap dengan jelas," beritahu Rusli.  Ezra melirik ponselnya. Tanpa perlu menghitungnya, ia yakin jarak antara ponsel dengan dirinya duduk saat ini kurang dari lima meter. Serta merta ia cemas.  "Obrolan kita masih wajar. Mereka nggak akan menegur kita," hibur Rusli.  Meskipun mempercayai ucapan Rusli, Ezra merasa harus berhati-hati dalam berbicara.  "Sejak itu aku nggak menghubungi Nita lagi. Aku nggak mau mendapatkan hukuman. Namun itu membuat Nita mencariku," kenang Rusli. "Pas aku sedang mengantar paket, tahu-tahu Nita mencegatku. Rupanya ia membuntutiku sejak dari rumah makan langgananku. Saat itu ia marah-marah dan mengataiku sudah berubah. Ia bahkan curiga aku sudah tidak menyayanginya lagi. Aku nggak bisa membela diri karena nggak mungkin aku menjelaskan situasi yang sebenarnya kepadanya."  Ezra bisa membayangkan betapa saat itu Rusli dalam posisi serba salah.  "Setelah marah-marah, Nita pergi sambil menangis," ujar Rusli, melanjutkan ceritanya. "Gara-gara pertemuan itu, aku dipindahkan ke kantor menjadi staf administrasi."  Ezra sudah pernah mendengar kisah itu dari Dian, namun cerita Rusli lebih lengkap.  "Selama seminggu aku murung. Selama itu aku berpikir keras bagaimana caranya aku bertemu Nita dan meyakinkan gadis itu," lanjut Rusli. Ia tersenyum pedih mengenang itu. "Dalam keadaan mental down dan pikiran kusut, akhirnya aku nekat menemui Nita di kampusnya. Sayangnya hari itu, ia sedang nggak ada kelas. Beruntung aku ketemu temannya dan diberi alamat rumah Nita."  "Gila!" pekik Ezra tertahan. "Kamu sadarkan kalau Eraneo selalu mengawasimu?"  Rusli menunduk pedih. "Aku sudah kehabisan akal."  "Terus kamu ketemu Nita?"  Rusli menggeleng. "Nita nggak mau menemuiku."  Ezra mendesah pelan. Ia ikut merasakan kepedihan Rusli.  "Itu pertama dan terakhir kali aku ke rumah Nita. Aku kaget ketika tahu ternyata ia anak seorang konglomerat." Rusli kembali menunduk. "Sejak saat itu aku nggak pernah tahu kabar Nita. Sepertinya ia berusaha melupakanku. Awalnya aku merasa patah hati, tapi setelah kupikir-pikir itu jalan terbaik bagi kami. Kalau kami masih berhubungan, aku takut ia akan mendapatkan masalah dari Eraneo."  Ezra memahami perasaan Ezra. "Apa sikap Eraneo setelah kamu ke rumah Nita?"  Rusli mengangkat dagu. Wajahnya semakin kusut. "Aku disekap selama tiga hari. Semoga Nita nggak mendapatkan masalah."  Ezra menduga Rusli belum tahu kalau Nita mendapatkan teror. "Jadi kamu nggak tahu kabar Nita?"  Rusli mengangguk pedih.  Ezra menepuk bahu Rusli. Ia merasa lega setelah tahu kalau anak itu tidak tahu bahwa Nita mendapatkan teror dari Eraneo. Menurutnya, itu lebih baik, karena jika mengetahuinya, Rusli pasti akan semakin merasa sedih.  "Lalu kesalahan apa lagi yang kamu lakukan hingga kemarin disekap lagi selama tiga hari?" tanya Ezra.  "Aku menulis surat untuk Nita tapi belum sempat kukirimkan, sudah ketahuan pengawas." Rusli beranjak dari duduk. Ia menuju lemari dan mengambil sebuah amplop, kemudian kembali ke dekat Ezra.  Ezra mengernyit. "Apa itu?"  Rusli membuka amplop dan mengambil kertas yang sudah terlipat rapi. Ia menyerahkannya kepada Ezra. "Silakan kalau mau membacanya."  Ezra menerima surat itu dengan mimik bingung. "Ini surat kamu yang ketahuan pengawas?"  Rusli mengangguk.  "Nggak disita?"  Rusli menggeleng. "Setelah mengeluarkanku dari ruang sekap, Dian mengembalikan surat itu padaku."  "Kok bisa?"  "Kata Dian, pimpinan memberi waktu padaku sampai tiga hari ke depan untuk membakar surat itu. Jika tidak, aku akan disekap lagi." Rusli menjelaskan. "Eraneo ingin tahu sejauh apa aku menuruti perintah mereka."  Ezra mendengus. "Kenapa nggak mereka saja sih yang membakarnya!"  Rusli tersenyum dipaksakan. "Sebelum membakarnya, aku ingin menunjukkannya padamu. Jika sesuatu terjadi padaku, paling tidak ada orang lain yang pernah membaca surat itu, meskipun surat itu nggak pernah terkirim kepada Nita."  Ezra mengerjap paham. Ia membuka lipatan kertas di tangannya, lalu membaca isi suratnya:  Dear Nita,  Bukan bermaksud membela diri yang membuatku menulis surat ini. Aku hanya ingin kamu tahu betapa aku selalu menjaga cinta kita. Tidak pernah sekali pun terbersit di benakku untuk menjauhimu. Namun keadaan memaksaku melakukan itu.  Saat ini, aku memang belum bisa menjelaskan kepadamu seperti apa kesulitan yang sedang kualami, namun kelak kamu akan tahu, aku sengaja menyembunyikan keadaanku karena satu alasan kuat.  Aku bisa memaklumi kalau kamu marah atau kesal kepadaku. Aku terpaksa menyembunyikan sesuatu darimu, seperti kamu menyembunyikan latar belakang keluargamu dariku. Aku yakin kamu punya alasan kuat kenapa kamu melakukan itu. Begitu pula aku! Jadi, kalau aku bisa memaklumimu, kuharap kamu pun mau memaklumiku.  Dari yang selalu merindukanmu: Rusli.  Setelah membaca surat itu, Ezra menarik napas dalam-dalam. Ia melipat kembali surat tersebut lalu mengembalikannya kepada Rusli.  "Bagaimana menurutmu isi suratku?" tanya Rusli.  Ezra menatap Rusli. "Kalau aku menjadi Nita, pasti akan akan menangis semalaman."  Rusli menunduk dalam-dalam. Ia meremas surat tersebut kuat-kuat. Sejurus kemudian ia berdiri.  "Mau ke mana?" tanya Ezra.  "Aku harus membakar surat ini." Rusli mengatakannya sambil berjalan menuju dapur. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN