Ezra berdebar ketika lalu lintas mulai padat merayap. Kendaraan besar seperti mobil, truk, dan bus bergerak pelan, sesekali berhenti beberapa detik, kemudian merayap lagi. Sedangkan sepeda motor masih bisa melaju mulus, melewati celah antar kendaraan atau mengambil bahu jalan. Pada situasi seperti ini, kalau bukan karena ada kecelakaan lalu lintas, biasanya sedang ada operasi polisi.
Jika ini operasi lalu lintas, Ezra menjadi gelisah, membayangkan di depan sana akan banyak polisi menghentikan setiap kendaraan. Kalau polisi itu hanya meminta pengendara menunjukkan SIM dan STNK, itu tidak merisaukan Ezra. Namun jika ternyata ada pemeriksaan barang-barang bawaan, itu akan membuat Ezra dalam masalah besar.
Ezra trauma pernah digeledah polisi. Ia pernah mengalami situasi buruk itu ketika akhirnya polisi menemukan paket narkoba di dalam kemasan makanan yang ia bawa. Waktu itu ia digelandang ke kantor polisi dan sempat menjalani tes urine. Beruntung Dian membebaskannya.
Kali ini ia tidak mau mendapatkan masalah yang sama. Di dalam boks makanan yang ia bawa sudah pasti terdapat paket narkoba. Jika nanti ia digeledah, maka itu akan menjadi situasi yang sangat buruk baginya. Waktu itu ia memang bisa lolos dari jerat hukum. Kali ini ia belum tahu bagaimana nasibnya jika peristiwa pahit itu terulang.
Berusaha tenang, Ezra memilih untuk melewati celah di antara dua lajur. Sayangnya tidak selamanya celah cukup untuk ia lalui. Ia terpaksa harus berhenti ketika sampai di belakang dua truk gandengan yang berhenti bersebelahan.
"Sial!" umpat Ezra karena tidak ada celah baginya untuk melepaskan diri dari kemacetan. Ia terperangkap pada situasi yang membuat sepeda motornya tidak bisa bergerak. Mau tidak mau ia harus sabar menunggu sampai kedua truk gandengan di depannya bergerak maju.
Kemacetan ini membuat Ezra stres. Selain gelisah karena takut digeledah polisi, cuaca juga sedang panas. Pantulan sinar matahari dari bodi mobil dan aspal membuat hawa semakin panas.
Keringat mulai bercucuran pada punggung, dahi, dan tengkuk Ezra. Ia melirik arloji pada pergelangan tangan. Dua belas menit lagi tepat jam dua belas siang. Setelah mengantar paket ini, ia bisa beristirahat. Ia pun berdoa dalam hati agar perjalanan ini lancar dan aman.
Beberapa menit terjebak di antara kendaraan-kendaraan besar dan belum ada tanda-tanda lalu kemacetan akan terurai membuat Ezra hanya bisa mengeluh sambil berpikir bagaimana caranya keluar dari situasi ini. Tiba-tiba ada seorang lelaki berpostur tinggi besar, mengenakan helm tertutup rapat, berjalan menghampiri Ezra. Lelaki itu muncul dari jalur sebelahnya yang lancar.
"Buka boks kamu!" suruh lelaki itu kepada Ezra tanpa basa-basi. Suaranya kurang begitu jelas karena wajahnya tertutup helm.
"Kamu siapa?" tanya Ezra siaga.
"Kalau mau aman, menurut saja!" hardik lelaki berhelm itu.
Ezra menduga lelaki itu adalah orang Eraneo. Sehingga ia membiarkan saja ketika boksnya dibuka begitu saja seperti sedang dirampok. Lebih baik baginya untuk menurut. Ia tahu, Eraneo pasti tidak akan membiarkan dirinya tertangkap polisi.
Ezra melirik. Ia melihat lelaki berhelm itu membuka boks dan mengambil sebuah amplop dari dalam kemasan makanan.
"Aku tunggu kamu di depan kantor pos!" suruh lelaki berhelm itu sambil merapikan kembali isi boks.
Spontan Ezra mengangguk. Ia yakin amplop yang diambil lelaki berhelm itu berisi paket narkoba. Itu membuatnya merasa lega. Eraneo sedang melakukan tindakan pengamanan agar dirinya dan paket narkoba itu aman.
Setengah berlari, lelaki berhelm itu menyeberang ke jalur di sebelahnya. Sampai di tepi jalan, lelaki berhelm itu sedang ditunggu seorang pengendara sepeda motor.
Tin! Tin!
Ezra kaget mendengar bunyi klakson dari mobil yang yang berada persis di belakangnya. Ia baru sadar kalau kendaraan-kendaraan di depannya sudah sejak beberapa detik lalu bergerak. Buru-buru ia maju dan memilih berada di bahu jalan seperti kendaraan-kendaraan roda dua lain.
Situasi lalu lintas masih padat merayap, namun berada di bahu jalan membuat Ezra bisa melaju tanpa kendala. Ia hanya harus berhati-hati agar jangan sampai menyenggol mobil-mobil di sebelah kanannya.
Apa yang ditakutkan Ezra akhirnya menjadi kenyataan. Penyebab kemacetan lalu lintas ternyata adalah operasi polisi. Mereka menggeledah semua kendaraan tanpa terkecuali.
Meskipun yakin kalau paket narkoba yang berada di boksnya sudah diambil lelaki berhelm tadi, tapi Ezra tetap merasa berdebar. Debaran itu semakin kencang ketika seorang petugas polisi mengarahkannya untuk menepi.
Ezra menurut. Ia menepikan sepeda motornya. Seorang petugas lain menghampirinya.
"Selamat siang!" ucap petugas polisi. "Harap matikan mesin motor dan silakan turun!"
"Selamat siang, Pak!" Ezra turun dari sepeda motor.
"Harap menunjukkan STNK dan SIM!" pinta petugas.
Ezra mengambil STNK dan SIM dari dalam dompet lalu menyerahkannya kepada petugas. Petugas memeriksanya dengan teliti.
"Apa yang ada di boks itu!" tanya petugas sambil mengembalikan STNK dan SIM Ezra.
"Paket makanan, Pak!" jawab Ezra. Ia menyimpan kembali STNK dan SIM ke dalam dompet.
"Buka!" suruh petugas.
Ezra membuka boks. Petugas segera memeriksa isi boks. Ia memeriksa dengan teliti isi pasa paket makanan. Setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, polisi itu merapikan kembali kemasan makanan yang tadi diperiksanya.
"Silakan jalan!" ujar petugas polisi.
Ezra menarik napas lega. Ia segera menutup boks dan kembali melanjutkan perjalanan.
Perjalanan Ezra kembali lancar. Lalu lintas cukup lengang hingga sampailah ia di depan kantor pos. Ia celingak-celinguk, mencari lelaki berhelm yang tadi memintanya untuk menunggu di sini.
Ezra melihat lelaki berhelm sedang berdiri di pinggir jalan. Ia pun menghampirinya.
Lelaki berjaket menyongsong Ezra. Ezra pun berhenti.
Tanpa basa-basi, lelaki berhelm itu membuka boks Ezra. Ia meletakkan kembali amplop ke dalam kemasan makanan. Setelah menutup kembali boks, ia memberi isyarat kepada Ezra agar melanjutkan perjalanan.
Ezra mengangguk. Ia tancap gas untuk mengantarkan paket ke pemesan. Perjalanannya lancar dan aman sampai paket berhasil diterima pemesan.
***
Ezra dalam perjalanan menuju warung makan langganannya ketika ponselnya berdering. Buru-buru ia menepi. Dilihatnya layar ponsel. Ia kaget ketika tahu ternyata kontak bernama Gina meneleponnya.
'Bagaimana bisa ada kontak bernama Gina dalam ponsel ini? Apakah itu Gina yang kukenal?' tanya Ezra dalam hati. Ia merasa heran dan bimbang untuk menjawab panggilan tersebut.
Karena lama tidak dijawab, panggilan telepon itu berakhir otomatis. Ezra merasa lega. Ia bermaksud melanjutkan lagi perjalanannya, tapi kontak bernama Gina kembali meneleponnya.
Sebuah dorongan dari dalam hati, membuat Ezra akhirnya menjawab panggilan tersebut. Ia menunggu Gina bicara lebih dahulu, memastikan bahwa pemanggil itu adalah Gina yang dikenalnya.
"Kamu di mana?" tanya Gina.
Ezra mengernyit mendengar suara Gina yang dikenalnya itu. Namun untuk memastikan ia akan berpura-pura tidak tahu. "Maaf ini siapa ya?"
"Hey, kontakku kan sudah tersimpan di ponsel kamu!" tegur Gina.
Ezra merasa heran. "Bagaimana bisa kontak kamu tersimpan di ponselku?"
Gina terkekeh manja. "Aku yang menyimpannya waktu kamu mandi. Kebetulan ponselnya tergeletak di ruang depan. Aku juga misscalled nomor kamu ke nomorku. Makanya aku bisa menyimpan nomor kamu. Maaf ya, Ez, kalau aku lancang. Habis kamu pelit sih!"
Ezra mendengus. Ia kesal bukan hanya karena Gina lancang melakukan itu tapi juga karena ia kesal kepada diri sendiri yang telah teledor. Sekarang ia cemas Eraneo akan mengetahuinya. Jika itu terjadi, maka bukan hanya dirinya yang bisa mendapatkan masalah tapi juga Gina.
"Sekali lagi, aku minta maaf," ucap Gina dengan nada menyesal. "Sebagai bentuk permintaan maaf, aku akan menraktir kamu makan siang, bagaimana?"
Ezra menoleh ke sekitar, khawatir ada orang Eraneo yang sedang mengawasinya.
"Kamu marah ya?" tanya Gina.
Ezra diam. Hatinya semakin gelisah membayangkan kemungkinan terburuk jika Eraneo tahu ia dalam ponselnya ada kontak Gina dan Gina juga menyimpan kontaknya. Ia tidak mau gadis itu celaka, seperti yang dialami Nita karena berhubungan dengan orang Eraneo.
"Kamu diam, berarti marah kan?" tanya Gina mengambil kesimpulan. "Sekali lagi aku minta maaf ya?"
Ezra mendesah. "Sudahlah, semua sudah terlanjur. Aku nggak marah kok, cuman menyesalkan saja kenapa kamu bisa sampai melakukan itu."
"Jadi kamu memaafkan aku?"
"Iya."
Gina terdengar mendesah lega. "Terima kasih ya, Ezra. Aku nggak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi."
Ezra tidak ingin terlalu lama bercakap melalui telepon bersama Gina. Ia takut percakapan ini disadap. "Kamu tadi mengajakku makan siang ya?"
"Iya, aku mau traktir kamu."
"Di mana?"
"Kamu maunya di mana?"
Ezra harus menghindari tempat umum agar tidak diketahui orang-orang yang mengenalnya. "Kamu mau nggak makan di warung tenda?"
"Boleh."
"Nanti aku share loc. Nggak jauh kok dari kantor kamu."
"Oke!"
"Tutup dulu ya?"
"Iya."
Ezra mengakhiri panggilan telepon. Ia segera membagikan lokasi warung tenda langganannya kepada. Warung itu cukup tersembunyi, berada di tengah permukiman. Meskipun sederhana, tapi menu di sana cukup banyak variannya. Rasanya juga enak.
Selesai membagikan lokasi kepada Gina, Ezra mengantungi ponselnya. Ia segera bergegas menuju warung tenda langganannya.
Sampai di warung tenda, Ezra mendapati Gina sudah berada di sana.
"Sudah lama?" tanya Ezra sambil duduk di kursi panjang, bersebelahan dengan Gina.
Gina melirik penunjuk waktu pada ponselnya. "Lumayan, sekitar seratusan detik."
Ezra terkekeh. "Berarti sekitar tiga sampai empat menitan kan?"
Gina mengangguk.
Ezra merasa lega karena berarti Gina tidak terlalu lama menunggunya. "Kamu mau makan apa?"
"Aku sudah pesan dua porsi nasi pecel. Lauknya telur bulat. Minumnya dua gelas es teh manis," beritahu Gina.
Ezra kaget. "Itu menu andalanku setiap kali makan siang di sini."
Pemilik warung, seorang perempuan berusia empat puluhan menyuguhkan dua gelas es teh ke meja. "Silakan!"
"Terima kasih, Bu!" ucap Gina.
"Sama-sama," sahut pemilik warung.
Ezra melirik seorang remaja putri berusia belasan, anak dari pemilik warung yang sedang menyiapkan pesanan. Ia masih heran kenapa Gina bisa memesan menu favoritnya.
"Begitu datang, aku langsung tanya sama ibu pemilik warung, kenal Ezra nggak," ujar Gina berterus terang. "Katanya kenal. Terus aku tanya lagi, apa makanan favorit Ezra. Beliau menjawab nasi pecel sama telur bulat. Minumnya es teh manis. Ya sudah, aku langsung pesan dua porsi. Hehehe."
Ezra tergelak. "Owalah, ternyata begitu ya ceritanya?"
Alih-alih menjawab, Gina meminum es teh menggunakan sedotan. "Ah, segaarr!"
"Kamu nyaman makan di warung tenda?" tanya Ezra heran.
Gina menoleh. "Kenapa enggak? Aku sering kok makan di warung tenda. Menunya nggak kalah sama rumah makan."
Ezra mengangguk-angguk. Berdasarkan wajah Gina yang tampak ceria, ia mempercayai pengakuan gadis itu.
Ezra menjadi teringat kejadian kemarin ketika Gina terlihat kesal kepadanya. Ia menatap gadis itu. "Aku minta maaf ya soal perjalanan dari Ungaran kemarin?"
Gina mengedikkan bahu. "It's ok. Aku nggak marah kok, cuman sedikit sebal."
Ezra merasa lega. Ia meneguk sedikit es tehnya.
"Kalau boleh tahu kenapa sih kemarin pulangnya kamu ngebut?" tanya Gina.
Ezra tersenyum dengan ekspresi tidak enak hati. Ia tidak mungkin menjelaskan yang sebenarnya bahwa ia sedang menghindari seseorang. "Nggak papa sih, cuman waktu itu aku agak ngantuk saja. Kalau jalannya pelan, aku bisa ketiduran di atas motor. Hehehe!"
Gina tertawa, menganggap Ezra sedang bercanda. Sungguhpun demikian ia tidak yakin lelaki itu berkata apa adanya.
"Kalau ngebut kan adrenalinnya terpacu, jadi nggak mengantuk," imbuh Ezra berdalih.
"Begitu ya?"
Ezra mengangguk.
"Betewe, nanti malam aku boleh nggak ke mes kamu?"
Ezra bingung harus menjawab apa. Nanti malam ia mau mendengarkan kelanjutan cerita Rusli. "Aduh maaf, nanti malam aku mau ngerjain sesuatu sama temenku."
Gina mengatupkan bibir, kecewa.
Tahu kalau Gina kecewa, Ezra buru-buru memberi solusi. "Atau aku saja yang mengunjungimu besok malam?"
Gina mengangguk dengan senyum dipaksakan.
Ezra masih merasa tidak enak hati. "Nggak papa kan?"
Gina mengerjap. "Sebenarnya aku ingin membahas sesuatu sama kamu nanti malam, tapi kalau kamu nggak ada waktu, ya nggak papa, besok saja."
Ezra penasaran, sebenarmya apa yang ingin dibahas Gina dengannya? Namun ia memendam rasa penasaran tersebut.
"Silakan nasi pecelnya!" Pemilik warung menyuguhkan dua porsi nasi pecel dengan lauk telur bulat ke atas meja.
"Terima kasih, Bu," ucap Gina.
"Sama-sama," sahut pemilik warung. Ia berlalu dari hadapan Gina dan Ezra.
Ezra melirik Gina yang kehilangan keceriaan pada wajahnya.