Ngopi

1833 Kata
Ezra terbiasa bangun beberapa menit sebelum azan subuh, namun pagi ini ia terlambat setengah jam. Ia kaget ketika tidak mendapati Rusli di sebelahnya.  Ezra bangkit dari tempat tidur. Ia merasa curiga ketika tas ransel Rusli di dekat lemari sudah tidak ada di tempatnya. Serta merta ia berlari ke pintu.  Pintu depan dalam keadaan tidak terkunci, padahal semalam Ezra merasa yakin telah menguncinya. Perasaannya mulai tidak enak, khawatir terjadi sesuatu terhadap Rusli.  "Atau jangan-jangan Rusli pergi?" guman Ezra menduga-duga.  Ezra tidak punya waktu untuk berspekulasi. Ia harus segera mandi dan melaksanakan sholat subuh. Ia pun menuju ke kamar mandi.  Selama mandi, benak Ezra dipenuhi pikiran-pikiran buruk. Ia tidak mengenal Rusli. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, misalnya ternyata Rusli adalah orang yang ditugaskan untuk mengawasinya. Jika benar demikian, maka ruang geraknya semakin sempit. Ia akan kesulitan untuk melakukan penyelidikan.  Ezra tidak mungkin terus membiarkan dirinya berada dalam tekanan Eraneo. Ia tidak mau hanya pasrah saja seperti Dian. Ia punya misi pribadi yaitu menelusuri jejak Septi. Setelah menemukannya, ia akan mencari cara keluar dari Eraneo dengan aman. Itu akan sulit ia dapatkan jika ruang geraknya semakin menyempit.  Keluar dari kamar mandi, Ezra dikagetkan sosok lelaki yang sedang berada di dapur. Butuh waktu dua detik baginya untuk menyadari kalau sosok itu adalah Rusli.  "Rusli?" tegur Ezra. Ia melihat Rusli sedang menyeduh kopi. Aromanya menguar, menggugah selera.  Rusli menoleh. "Kamu suka kopi nggak?"  Ezra mengangguk. Ia melirik dua gelas kopi yang baru saja Rusli letakkan ke atas baki.  "Aku bikin dua gelas. Satunya buat kamu." Rusli tersenyum. Sejurus kemudian ia beranjak dari dapur menuju ruang tengah sambil membawa baki berisi dua gelas kopi.  Ezra mengekor Rusli. Ia masih penasaran, ke mana anak itu tadi. "Kamu keluar mes?"  Rusli meletakkan baki ke atas lantai. Ia menoleh kepada Ezra. "Aku sholat subuh berjamaah di mushola."  "Tas kamu kok nggak ada?" Ezra penasaran.  "Isinya sudah aku taruh di lemari," jawab Rusli.  Bibir Ezra membundar tanpa mengucapkan suara. Kini ia baru tahu kenapa pintu depan tidak terkunci. "Memangnya kamu tahu letak mushola terdekat?"  "Dulu aku kan tinggal di mes ini." Rusli berkata sambil menyiapkan camilan yang ia beli semalam dalam perjalanan ke mes.  Ezra kaget. "Dulu kamu tinggal di sini berapa lama?"  "Sekitar dua bulanan," jawab Rusli.  Ezra penasaran, ingin mengorek keterangan Rusli lebih jauh, tapi nanti setelah ia selesai melaksanakan sholat subuh.  Ezra menggelar sajadah di dekat tempat tidur. Ia menoleh kepada Rusli. "Aku sholat dulu. Nanti kita ngobrol sambil ngopi."  Rusli mengerjap. "Oke."  Ezra mengucapkan niat sholat subuh, kemudian takbirotul ihrom. "Allahu akbar!" Ia begitu khusyuk sejak membaca niat pertama hingga salam.  Selepas salam, Ezra melafalkan zikir dan doa. Rusli menunggu Ezra selesai berdoa. Meskipun sebenarnya ia sudah tidak sabar untuk menikmati segelas kopi dan camilan.  Selesai berdoa, Ezra melipat sajadah dan menyimpannya ke atas meja. Ia mendekati Rusli.  "Silakan dinikmati," ucap Rusli. "Semoga takaran kopi dan gulanya sesuai seleramu. Kalau aku sih suka yang kental."  Ezra mengambil gelas. Ia menyesap pelan-pelan karena kopinya masih sangat panas. "Mmhh, enak juga seduhanmu. Ini sesuai seleraku."  Mendapatkan pujian dari Ezra, Rusli hanya tersenyum. Ia mengambil gelas dan menyesap kopinya.  "Ngomong-ngomong, kamu sudah berapa lama kerja di Eraneo?" tanya Ezra.  Senyum hangat Rusli berubah getir. "Minggu lalu, genap empat bulan aku terperangkap di Eraneo."  Ezra mengerjap. Ia membayangkan selama empat bulan ini pasti Rusli sangat tertekan.  "Kamu sendiri sudah berapa lama di Eraneo?" Rusli balik bertanya.  "Aku baru semingguan tapi rasanya seperti setahun," keluh Ezra. Ia mencomot keripik singkong yang disediakan Ezra. Ia memakannya dengan geram.  Rusli mengangguk, memahami perasaan Ezra. "Nasib kita sama, Ez!"  "Kamu kerja sebagai apa?" tanya Ezra memastikan. Sebenarnya ia sudah tahu dari Dian bahwa Rusli pernah menjadi kurir, sebelum akhirnya ditarik ke kantor menjadi staf administrasi.  "Dulu aku menjadi kurir selama tiga bulan. Itu adalah masa-masa paling sulit dalam hidupku. Yah, kamu tahu sendirilah bagaimana rasanya mengantarkan narkoba. Aku merasa diriku menjadi orang paling jahat sedunia," kenang Rusli. Senyumnya hilang, berganti kegeraman. "Kalau enggak ingat dosa, mungkin aku sudah mengakhiri hidup."  "Kapan kamu akhirnya tahu kalau dalam makanan yang kamu kirimkan itu berisi narkoba?" Ezra penasaran.  "Sejak hari pertama," jawab Rusli. "Waktu itu aku sudah mengantarkan empat orderan. Sorenya aku dipanggil manager. Saat itu, Dian memberitahuku bahwa aku adalah kurir narkoba berkedok pengantar makanan."  Ezra menelan ludah. "Bagaimana perasaanmu waktu itu?"  Spontan Rusli tertawa sumbang. "Waktu itu aku mengira Dian sedang bercanda. Hahaha!"  Ezra tertawa getir. Ia menjadi teringat kepada momen yang sama dengan Rusli yaitu ketika diberi tahu kalau ia menjadi kurir narkoba.  "Saat Dian menjelaskan semuanya, telingaku nggak bisa mendengarkannya dengan baik karena aku sedang down. Otakku kosong. Hatiku remuk. Saat itu aku nggak ubahnya seperti mayat hidup." Rusli menunduk dalam-dalam.  Ezra menepuk bahu Rusli. "Aku juga merasakan seperti yang sudah kamu rasakan."  Rusli menoleh. "Kamu berbeda denganku yang tampak tegar. Aku nggak bisa sepertimu. Aku merasa putus asa saat itu."  "Iya aku paham," timpal Ezra. "Awalnya aku juga merasa terpuruk. Namun aku berusaha untuk keluar dari situasi buruk ini."  Rusli tersenyum. "Kamu hebat, belum seminggu saja sudah bisa bersikap. Aku butuh waktu satu bulan baru bisa menjadi seperti sekarang ini."  "Selama sebulan itu pasti sangat berat bagimu," timpal Ezra. "Kalau boleh tahu, bagaimana caranya kamu akhirnya bisa menjadi seperti sekarang ini?"  Rusli menarik napas dalam-dalam. Sejurus kemudian ia tersenyum penuh arti. "Dua bulan pertama, aku merasa seperti kerbau yang bodoh dan penurut. Aku begitu takut akan mendapatkan hukuman, maka itu aku benar-benar pasrah. Aku nggak berani berhubungan dengan dunia luar. Sepulang kerja aku langsung mengurung diri di mes sampai pagi. Begitu terus, hingga aku merasa hidup segan, mati tak mau. Memasuki bulan ketiga, aku dipindah ke sebuah rumah kos. Di sanalah aku mulai sadar bahwa hidup belum berakhir."  "Kos?" Ezra penasaran.  Rusli mengangguk. "Sebuah rumah kos yang cukup besar. Rumah itu terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian buat cowok dan bagian lainnya buat cewek."  "Di mana itu?" Ezra semakin penasaran.  "Nggak jauh dari sini sih," jawab Rusli. "Dian juga berada di sana hingga sekarang."  "Apa karyawan Eraneo kumpul semua di sana?" tanya Ezra.  "Iya, kami dikumpulkan di sana," jawab Rusli. "Mungkin biar mudah melakukan pengawasan."  "Terus kenapa kamu pindah ke sini?"  Rusli menggeleng. "Aku nggak pindah tapi dipindahin!"  "Kenapa?"  Rusli mendesah berat. "Aku melakukan kesalahan lagi!"  "Kesalahan?"  Rusli menunduk. "Aku berencana menulis sebuah surat untuk seseorang. Belum sempat kukirimkan, surat itu ketahuan pengawas."  Ezra kaget. "Terus kamu diapain?"  Rusli memejamkan mata kuat-kuat. "Aku disekap selama tiga hari."  Ezra mendengus. Ia juga pernah mendapatkan hukuman sekap. "Disekap di mana?"   "Di sebuah ruangan, masih di dalam kantor Eraneo," jawab Rusli.  "Di dalam kantor Eraneo?" Ezra menjadi teringat ketika ia dikeluarkan dari ruang sekap. "Pantesan!"  Rusli menatap Ezra. "Pantesan kenapa?"  "Pantesan dari ruang sekap menuju kantor Dian, hanya berjarak beberapa langkah saja. Aku masih ingat, dari ruang sekap itu aku cuman belok dua kali," ujar Ezra.  "Kapan kamu disekap?"  "Kemarin," jawab Ezra. "Tadi pagi dibebaskan."  "Berarti kamu di ruang sekap sebelahku!" duga Rusli. "Karena kita nggak berada di ruang yang sama."  "Memangnya ada berapa ruang sekap?" Ezra penasaran.  Rusli terdiam. Ia melirik bingkai di dinding. Sejurus kemudian ia menatap Ezra. "Ada dua."  "Bagaimana kamu bisa tahu?" Ezra merasa heran sekaligus penasaran.  "Aku mempelajari semua ruangan di kantor Eraneo. Ada dua buah ruangan yang selalu tertutup. Aku menduga itu adalah ruang sekap!"  Ezra termenung. Ia mempercayai pengakuan Rusli karena anak itu bertugas di kantor. Sedikit banyak Rusli pasti mengetahui seluk beluk area kantor, begitu pikir Ezra.  "Sebentar!" Ezra membetulkan beringsut, lebih mendekat kepada Rusli. "Tadi kamu bilang bahwa di tempat tinggal yang baru itu kamu mulai sadar bahwa hidup belum berakhir. Apa yang membuatmu mendapatkan kesadaran itu? Nggak mungkin kan kalau itu datang secara tiba-tiba?"  Alih-alih menjawab, Rusli melirik bingkai gambar di dinding.  Ezra ikut melirik bingkai gambar itu. Ia tahu di sana ada kamera tersembunyi.  Rusli menatap Ezra. "Kamu tahu nggak kalau di bingkai gambar itu ada kamera tersembunyi?"  Ezra menggeleng, pura-pura tidak tahu. Ia belum yakin kalau Rusli berada di pihaknya.  Rusli mendesah. "Di bingkai gambar itu ada kamera tersembunyi."  "Ah masa?" Ezra berlagak mengamati bingkai gambar itu.  Rusli mencolek Ezra. "Jangan memandang ke sana. Kamu pura-pura saja nggak tahu!"  Ezra mengangguk. "Oke."  "Kalau penyadap suara kayaknya nggak ada. Aku sudah memeriksa semuanya. Nggak tahu deh kalau sekarang," ujar Rusli.  Ezra hanya mengangguk-angguk saja. Baginya lebih baik pura-pura tidak tahu kalau mau aman.  Rusli menarik napas dalam-dalam. Ia tersenyum ke arah lain. "Aku mau menceritakan sesuatu, tapi aku harap kamu bisa menyimpannya rapat-rapat."  Ezra mengerjap. Sejurus kemudian ia mengangguk. "Kamu bisa mempercayai aku."  Senyum Rusli semakin terkembang. Pandangannya mendarat ke plafon. "Aku punya pacar yang sangat baik dan cantik. Karena ia, aku masih memelihara harapan."  Ezra tersenyum. Inilah saat yang ia tunggu. "Terus?"  Rusli menatap Ezra. "Gadis itu bernama Nita, nama lengkapnya Anita Swara. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak stasiun radio di Jawa Tengah, juga memiliki satu stasiun televisi lokal. Tapi bukan karena Nita anak orang kaya yang membuatku memacarinya."  Ezra mengangguk tanda percaya. "Terus?"  Rusli melanjutkan. "Kami kenal di f*******:. Ia mengajakku ketemuan di sebuah warung tenda. Saat itu aku nggak tahu kalau ia anak orang kaya. Ia datang menggunakan sepeda. Penampilannya juga terlihat sederhana."  Sambil menikmati kopi, Ezra mendengarkan cerita Rusli dengan antusias.  "Kami sering ketemuan di warung tenda itu. Kadang ia datang pakai sepeda, kadang menggunakan angkot," kenang Rusli. Senyumnya terkembang. "Aku sebenarnya sudah menyukainya sejak di f*******: dan makin cinta karena sering bertemu. Namun siapa sangka pada tanggal 22 Januari, dua tahun lalu, Nita nembak aku duluan."  "Wow!" seru Ezra kaget. Ia mengakui kalau Rusli memamg ganteng dan mudah menarik simpati lawan jenis. "Terus kamu jawab apa?"  Rusli tersipu. Ia menunduk malu. "Tentu saja aku menerimanya. Sejak itulah kami jadian."   Ezra mencomot keripik singkong. Ia semakin penasaran dengan kelanjutan cerita Rusli.  Rusli mengambil gelas lalu meneguk sedikit kopinya.  Ezra semakin tidak sabar mendengar kelanjutan cerita Rusli.  "Selama dua tahun itu, aku nggak tahu kalau Nita anak orang kaya. Ia selalu menolak setiap kali aku ingin ke rumahnya. Katanya rumahnya selalu sepi. Sambil bercanda ia bilang katanya takut berdua-duaan di tempat sepi."  Ezra tersenyum. Dalam hati ia geli mendengar alasan Nita.  Rusli menatap Ezra. "Tahu nggak, waktu itu aku masih menganggur?"  Ezra mengernyit. "Serius?"  Rusli mengangguk. Ia tertawa geli. "Nita tetap saja mengaku nyaman bersamaku meskipun sering kami jalan-jalan tanpa jajan."  Ezra tersenyum, kagum kepada Nita.  "Karena malu, aku akhirnya melamar kerja ke sana kemari. Akhirnya aku diterima di Eraneo." Wajah Rusli seketika mendung. "Di sanalah penderitaanku dimulai."  Ezra menarik napas dalam-dalam. Ia menepuk bahu Rusli, memberi semangat.  Rusli melirik jam dinding. "Kita harus bersiap-siap. Kamu jam enam sudah harus mulai kerja kan?"  Ezra mengangguk kecewa. Momen Rusli masuk Eraneo adalah cerita yang ia tunggu sejak semalam. Namun ia harus bersabar sampai Rusli ada kesempatan untuk melanjutkan ceritanya.  "Nanti malam kita lanjutkan lagi!" ujar Rusli. "Maaf kalau aku jadi curhat. Pasti bikin kamu bete kan?"  Buru-buru Ezra menggeleng. "Aku seneng kok mendengarnya. Nanti malam beneran ya kamu lanjutin?"  Rusli mengangguk. "Insya Allah."  "Oh iya, kamu ke kantor jam berapa?" tanya Ezra.  "Jam tujuh," jawab Rusli.  "Naik apa?"  "Jalan kaki saja. Lagian kan kantor nggak jauh dari sini."  Ezra mengangguk. "Okelah kalau begitu." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN