Enam menit lagi jam sepuluh malam. Hujan masih saja mengguyur kota Semarang sejak dua jam lalu dengan intensitas sedang. Hawa dingin membuat Ezra meringkuk di atas kasur dengan mengenakan jaket dan menutupi badannya menggunakan selimut.
Seharusnya rasa lelah dan hawa dingin membuat Ezra mengantuk. Kenyataannya ia masih terjaga. Selama apa pun ia memejamkan mata, tetap saja ia tidak bisa tidur. Pikirannya melayang-layang tidak tentu arah.
Ezra masih belum mengerti apa maksud Alika memberinya sebuah kresek berisi sekumpulan huruf yang membentuk satu kalimat. Jika itu sebuah pesan, ia berpikir keras, kira-kira itu ditujukan untuk siapa?
Ezra mencoba menganalisa. Jika pesan itu ditujukan kepadanya, pertanyaannya adalah apa maksud kalimat 'AKU SUDAH TAHU'? Apakah Alika sudah tahu kalau dirinya sedang terperangkap ke dalam sindikat mafia. Jika iya, bagaimana detektif itu bisa tahu?
Memang Ezra mengakui kalau Alika adalah detektif handal. Namun Eraneo adalah sebuah sindikat yang sangat rapi dan terorganisir dengan baik. Tidak mudah orang luar bisa mengetahui kedok mereka. Ezra sendiri merasa yakin jika Dian tidak menjelaskannya, belum tentu ia bisa mengetahuinya.
"Atau jangan-jangan pesan itu ditujukan untuk Eraneo?" gumam Ezra.
Ezra membuka kemungkinan itu bahwa Alika sedang mengirim pesan kepada Eraneo. Motif yang dilakukan Alika sama persis dengan yang pernah dilakukan Eraneo kepada detektif itu, yaitu mengirimkan kotak berisi sekumpulan huruf yang membentuk satu kalimat.
Ezra menduga, Alika sudah tahu kalau teror yang ia alami, pelakunya adalah Eraneo. Detektif itu mengirimkan pesan bahwa dirinya sudah berhasil memecahkan kasus itu kemudian memberitahukannya kepada pelakunya, yaitu Eraneo.
Ezra juga menduga, Alika sengaja menggunakan cara seperti yang dilakukan Eraneo, semacam shock terapi.
Alika selalu melakukan sesuatu dengan perhitungan yang cermat. Ezra menduga, detektif itu sudah tahu kalau pesan dalam kresek itu akan jatuh ke tangan Eraneo melalui dirinya.
Masih jelas dalam benak Ezra sore itu ketika Alika datang ke rumahnya. Detektif itu menunjukkan kepadanya sebuah paket teror berisi sebuah kotak seukuran kotak cincin. Di dalamnya terdapat kumpulan huruf yang membentuk sebuah kalimat: HATI-HATI DI JALAN SAYANG.
Besoknya, Ezra mendapat kabar kalau Alika mengalami kecelakaan lalu lintas. Ezra yakin paket teror dan kecelakaan Alika saling berkaitan.
Keyakinan Ezra akhirnya terbukti ketika Dian menceritakan sebuah kisah kepadanya. Ada seorang kurir Eraneo yang bandel tetap menjalin komunikasi dengan pacarnya meskipun sudah berkali-kali diperingatkan agar tidak berhubungan dengan orang luar. Akibatnya si kurir itu ditarik ke kantor menjadi staf administrasi. Sedangkan pacarnya mendapatkan teror berkali-kali.
Kisah itu semakin terang ketika Ezra mendengar pengakuan Nita bahwa gadis itu memiliki pacar bernama Rusli yang bekerja sebagai kurir pada Eraneo. Rusli tiba-tiba menghilang dan tidak bisa lagi dihubungi.
Nita adalah klien Alika yang sering mendapatkan teror. Alika menyelidiki kasus itu. Alih-alih menemukan titik terang, Alika justru ikut mendapatkan teror, salah satunya adalah paket kotak berisi kumpulan huruf.
Berdasarkan itu semua, Ezra menemukan benang merahnya. Ia menarik kesimpulan bahwa teror yang didapatkan Alika bermula dari Rusli yang bandel masih berhubungan dengan Nita. Itu membuat Eraneo bukan hanya menjauhkan sepasang kekasih tersebut, tapi juga meneror Nita. Nita meminta bantuan kepada Alika untuk mengungkap kasus itu. Alika sendiri akhirnya ikut mendapatkan teror.
Ezra merasa ngeri mengingat Eraneo bisa melakukan apa saja agar karyawannya tidak berhubungan dengan dunia luar. Itu membuatnya berhati-hati.
Ezra tidak mau disekap lagi hanya gara-gara mendapatkan surat dari Alika. Maka itulah tadi siang ia sebisa mungkin menghindari Alika. Sayangnya, detektif itu lebih cerdik ketimbang dirinya yang akhirnya berhasil mencegatnya dan memberinya sebuah kresek berisi kotak berisi sekumpulan huruf.
Beruntung Ezra berpikir jernih. Kalau ia menyembunyikan kresek itu, Eraneo pasti akan tetap mengetahuinya. Karena itulah agar aman, ia menyerahkan kresek tersebut kepada Dian.
Tok! Tok!
Ezra terkesiap. Ia siaga mendengar ketukam pintu.
Tok! Tok!
Ezra melirik jam dinding. Sekarang sudah jam sepuluh malam. Ia heran kenapa ada orang bertamu ke mesnya malam-malam.
"Gina?" tebak Ezra. Hanya gadis itu yang biasa berkunjung ke mesnya.
Terdengar kembali pintu diketuk. Bunyinya lebih kencang ketimbang sebelumnya. Ezra menyingkap selimut. Ia bangkit dari kasur dan berjingkat menuju pintu.
Melalui kaca jendela, Ezra mengintip. Ia melihat di luar ada sebuah mobil yang tidak dikenal terparkir persis di depan mes. Ia menarik napas dalam-dalam, khawatir kalau-kalau Alika atau Jacky yang mengetuk pintu.
"Ezra!" teriak seseorang dari depan pintu.
Ezra kaget mendengar namanya disebut. Dari suaranya yang bas, ia bisa tahu kalau orang itu adalah laki-laki. Hanya saja ia merasa tidak mengenal suara tersebut.
Ezra bimbang, apakah akan menyahut atau tidak. Ia khawatir orang itu akan berniat jahat, apalagi ia merasa tidak mengenal pemilik suara itu.
"Ini dari Eraneo!" teriak orang itu lagi.
Jantung Ezra terpacu mendengar Eraneo disebut. Tidak ada pilihan lain baginya selain harus membukakan pintu atau ia akan mendapatkan masalah.
Meskipun malas, terpaksa Ezra membuka pintu. Ia melihat ada dua orang sedang berdiri di hadapannya. Satu orang mengenakan helm tertutup rapat dan satu lagi seorang lelaki seusianya yang mengenakan seragam Eraneo.
"Saya Rusli, karyawan Eraneo!" Lelaki berseragam Eraneo itu mengulurkan tangan kepada Ezra.
Sekarang, Ezra ingat lelaki bernama Rusli adalah orang yang pernah menemuinya di mushola waktu itu. Ia menduga Rusli di hadapannya adalah Rusli pacarnya Nita.
Ezra menjabat tangan Rusli. "Ada perlu apa ya?"
Lelaki berhelm angkat bicara. "Mulai malam ini, Rusli akan tinggal di mes ini sama kamu."
Ezra tersenyum, merasa senang karena akan memiliki teman, juga karena ia ingin mengorek banyak informasi tentang Eraneo kepada lelaki itu.
"Boleh aku masuk?" tanya Rusli.
"Eh, iya, silakan!" Ezra membuka pintu lebar-lebar, kemudian menyalakan lampu.
Rusli melepas sepatu. Bersamaan dengan itu lelaki berhelm berlalu dari mes tanpa pamit.
Ezra memandangi kepergian lelaki berhelm itu hingga masuk ke dalam mobil. Ezta merasa geli karena lelaki itu mengenakan helm di dalam mobil. Ia yakin orang itu tidak mau dikenali.
"Aku masuk ya?" pamit Rusli sambil menenteng sepatu.
"Iya." Ezra menutup dan mengunci pintu. "Sepatunya letakkan saja di rak."
Rusli meletakkan sepatu ke rak. Setelah itu Ezra mengantarnya ke ruang tengah.
Di ruang tengah, Rusli melepas tas ransel ke lantai.
"Kita akan berbagi lemari itu!" Ezra menunjuk lemari.
"Iya, terima kasih, besok saja nggak papa kan?"
Ezra mengangguk. Ia duduk di atas kasur. "Kasur ini cukup untuk kita berdua."
Rusli mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih."
Kesan pertama Ezra, Rusli adalah seorang yang ramah dan sopan. Wajah anak itu juga tampak selalu tersenyum.
"Aku bawa makanan ringan," ujar Rusli. Ia membuka tas ranselnya lalu mengambil sebuah kantong snack. Ia meletakkannya ke atas meja di dekat kasur.
"Aku nggak biasa ngemil kalau malam hari," sahut Ezra.
Rusli mengangguk tanda paham. "Aku mau ke kamar mandi."
Ezra menunjuk ke arah belakang. "Di sana! Nyalakan saja lampunya."
Rusli tersenyum. Ia menuju ke belakang.
Sepeninggal Rusli, Ezra merebahkan diri ke kasur. Sebenarnya ia ingin ngobrol dengan Rusli, tetapi ia merasa lebih baik membiarkan anak itu istirahat dulu.
Ezra menarik selimut. Dipejamkannya mata berharap akan mengantuk. Alih-alih mengantuk, pikirannya melayang-layang.
Ezra menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha menepiskan semua pikiran yang berjubel di otaknya dengan cara mengingat-ingat hal indah yang pernah ia alami dulu. Cara itu cukup efektif. Pikirannya sedikit lebih tenang, sehingga ia mulai merasakan kantuk.
Perlahan tapi pasti Ezra mulai kehilangan kesadaran. Namun saat ia hampir tertidur, ia dikagetkan batuk Rusli.
"Maaf, batukku mengganggumu. Uhhuk uhhuk!" Rusli merasa bersalah.
Ezra tersenyum sebagai isyarat bahwa ia tidak menganggap itu sebagai masalah. "Kamu butuh obat batuk?"
Rusli naik ke kasur. Ia beringsut ke dekat Ezra. "Aku bawa kok, tadi juga sudah minum."
"Kalau begitu istirahatlah!" suruh Ezra. "Selimut ini cukup buat dua orang."
"Oke!" Rusli tersenyum. Ia merebahkan diri di sebelah Ezra. "Sebenarnya, aku ingin ngobrol banyak denganmu tapi sekarang bukan waktu yang tepat."
Ezra mengernyit. Ia menjadi penasaran, apa sebenarnya yang ingin diobrolkan Rusli? Pengakuan Rusli terdengar cukup aneh karena mereka baru saling kenal.