Isi Kresek

1512 Kata
Sebelum meninggalkan kafe tadi, Ezra sempat melihat mobil Alika di parkiran. Selama perjalanan kembali ke Semarang, ia sering melirik spion, kalau-kalau mobil Alika membuntutinya.  Ezra menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi, mengantisipasi kalau-kalau Alika mengejarnya. Berkali-kali Gina protes atas ulahnya tersebut, namun ia tidak menggubrisnya. Baginya lebih baik dimarahi Gina ketimbang tertangkap Alika.  Sampai di Semarang, Ezra mengantarkan Gina ke kosannya. Di sana ia berharap gadis itu mau mengajaknya singgah. Jika ia langsung ke mes, takutnya Alika terus membuntutinya dan akhirnya tahu tempat tinggalnya. Itu bisa gawat. Ia khawatir Alika akan mengunjunginya. Jika itu terjadi bukan hanya dirinya saja yang akan mendapatkan masalah, tapi detektif itu kemungkinan terancam keselamatannya.  Sampai di kosan, ternyata Gina tidak memintanya singgah. Gadis itu bahkan turun dari sepeda motor dengan wajah kesal.  "Gina!" panggil Ezra sambil mengawasi sekitar, memastikan mobil Alika tidak berada di area ini.  Gina menghentikan langkahnya.  "Aku minta maaf!" ucap Ezra setengah berteriak karena posisi Gina sudah cukup jauh.  Gina mengangguk tanpa menoleh kepada Ezra. Ia kembali melangkah.  Ezra turun dari sepeda motor dan segera mengejar Gina.  Gina sampai di depan pintu gerbang kosan.  "Kamu marah ya?" tanya Ezra sambil mengatur napas.  Gina menggeleng. Ia mendorong pintu gerbang.  Ezra buru-buru menahan Gina dengan memasang tangannya pada pintu gerbang.  "Aku capek. Beri aku jalan!" Gina melirik Ezra kesal.  Ezra menarik tangannya. "Kamu nggak mengajakku mampir?"  Gina menggeleng. "Lain kali saja ya?"  Ezra mendengus kecewa. Ia pasrah saja melihat Gina memasuki kosan tanpa menoleh kepadanya.  Ezra masih mematung di depan pintu gerbang. Ia merasa bersalah kepada Gina. Tadi ia terpaksa ngebut karena takut dibuntuti Alika.  Ezra menuju sepeda motornya dengan berjalan mundur. Ia masih berharap Gina akan keluar dan memintanya untuk singgah, meskipun ia tahu itu mustahil.  Sampai di sepeda motor, Ezra menyalakan mesin motor sambil tetap memandang ke arah kosan Gina. Sayangnya hingga ia meninggalkan lokasi itu, Gina tetap saja tidak keluar.  Ezra menjalankan sepeda motor, kembali menuju mesnya dengan menanggung perasaan bersalah kepada Gina. Ia menjalankan sepeda motornya pelan sambil terus memikirkan Gina, hingga membuatnya tidak sadar kalau mobil Alika tengah menunggunya di ujung gang.  Sampai di ujung gang, lelaki bertopi NYK mencegat Ezra.  Ezra kaget dan tidak bisa berkutik. "Mau ngapain?"  Lelaki bertopi mencantolkan kresek ke gantungan barang pada sepeda motor Ezra. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia kembali masuk ke mobil Alika.  Ezra menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang, memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikannya. Ia takut ada orang Eraneo yang melihat adegan tadi.  Mobil Alika berjalan. Melalui kaca jendela yang terbuka, detektif itu tersenyum penuh arti kepada Ezra.  Ezra memandang kepergian mobil Alika dengan perasaan campur aduk. Setelah tadi merasa tidak enak hati kepada Gina, sekarang ia merasa malu kepada Alika karena sudah menghindari gadis itu. Dari itu semua, ada yang lebih mencemaskannya, yaitu kalau-kalau ada orang Eraneo yang mengetahui kalau dirinya bertemu Alika.  Ezra melanjutkan perjalanan. Ia memilih jalan yang berlawanan dengan arah yang dipilih mobil Alika tadi.  Jalan yang dipilih Ezra akan membuatnya harus memutar jauh untuk sampai ke mesnya. Ia tidak mau mengambil resiko karena kalau memilih jalan yang lebih dekat, ia khawatir Alika akan membuntutinya lagi.  Melalui spion, Ezra mencurigai sebuah mobil yang sejak tadi berada di belakangnya. Lalu lintas tidak begitu ramai, tapi mobil itu tidak menyalipnya padahal ia melaju pelan.  Ezra menambah kecepatan. Mobil itu ikut menambah kecepatan. Ia curiga sedang diikuti seseorang, tapi siapa? Ia yakin itu bukan Alika karena mobil detektif itu berlawanan arah dengannya.  Untuk memastikan, Ezra mengerem sepeda motornya secara tiba-tiba. Mobil itu pun melakukan hal yang sama. Kini di antara sepeda motornya dan mobil itu hanya berjarak kurang dari sepuluh meter.  Melalui spion, Ezra mengintip pengemudi mobil tersebut. Sayangnya wajah orang itu tidak begitu jelas. Dari posturnya, Ezra menduga pengemudinya seorang lelaki dan sendirian.  Ezra berpikir, jika pengemudi mobil itu orang Eraneo, maka kemungkinan besar orang itu telah mengawasinya sejak ia pergi dengan Gina. Maka itu ia memiliki ide agar tidak mendapatkan masalah.  Ezra kembali menjalankan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli diikuti mobil itu. Ia hanya ingin mencari aman. Ia akan ke kantor dan menemui Dian.  Mobil itu terus mengikuti Ezra sampai ke kantor. Setelah memarkirkan sepeda motornya, ia bergegas menemui Dian sambil menenteng kresek.  Tanpa mengetuk pintu, Ezra langsung masuk kantor. Kedatangannya membuat Dian kaget   "Boleh aku duduk?" tanya Ezra kepada Dian.  Dian mengangguk. "Duduklah!"  Ezra duduk di kursi. Ia meletakkan kresek ke lantai lalu menarik napas dalam-dalam. "Aku punya itikad baik untuk patuh kepada Eraneo."  Dian mengernyit, tidak paham. "Maksudnya?"  "Aku tadi pergi sama Gina ke Ungaran. Kami hanya ngopi saja di sebuah kafe dan tidak melakukan hal aneh," cerita Ezra.  Dian memotong. "Kamu nggak harus menceritakan semua kegiatanmu padaku."  "Aku belum selesai cerita," sergah Ezra.  Dian mengerjap. "Oke, silakan lanjutkan."  "Pas mau pulang, aku baru menyadari di kafe itu ada Alika dan temannya yang nggak aku kenal," lanjut Ezra. "Karena nggak mau bertemu mereka, aku pulang dengan ngebut. Kupikir aku lolos dari mereka, tapi ternyata enggak."  Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Terus?"  Ezra melanjutkan. "Setelah mengantar Gina di kosannya dan berniat kembali ke mes, di ujung gang, tahu-tahu Alika dan temannya mencegatku. Alika tetap berada di dalam mobil, sedangkan teman lelakinya mendekatiku."  Dian mengerjap, penasaran dengan kelanjutan cerita Ezra.  "Lelaki itu mencantolkan sebuah kresek ke gantungan pada sepeda motorku," beritahu Ezra. "Ia tidak mengucapkan apa pun, kemudian kembali ke mobilnya. Setelah itu mereka pergi."  "Mana kreseknya?" tagih Dian.  Ezra mematung.  "Mana?" desak Dian.  Ezra mendesah. "Aku beritikad baik, akan menyerahkan kresek itu sama kamu, tapi aku harus tahu apa isinya."  Dian mengernyit. "Kamu tidak punya hak tawar. Kalau beritikad baik, seharusnya kamu enggak perlu penasaran dengan apa isinya!"  Ezra mendengus. "Tolonglah, aku ingin tahu!"  Dian menggeleng. "Sudah kubilang, kamu nggak punya hak tawar!"  Ezra diam. Kresek di lantai ia pegang erat-erat, baru akan ia serahkan kepada Dian jika managernya itu memberi jaminan dirinya akan diperbolehkan melihat isinya.  "Aku nggak akan memaksamu untuk menyerahkannya padaku. Aku nggak berwenang untuk itu." Dian memajukkan kepala, lebih mendekat kepada Ezra. "Namun kamu tahu sendirilah bagaimana Eraneo bertindak. Mereka tahu semua apa yang kamu lakukan. Mereka nggak akan menolerir segala penyelewengan."  "Aku nggak menyeleweng!" sergah Ezra.  "Menyembunyikan sesuatu dari Eraneo adalah penyelewengan!" Dian menegaskan.  Ezra mendengus. "Tapi aku punya itikad baik. Aku nggak mau menyembunyikan sesuatu dari Eraneo. Aku hanya ingin tahu apa isi kresek itu saja. Apa keinginanku salah?"  Dian mendengus, kesal karena Ezra ngotot. Sungguhpun begitu ia memahami keinginan Ezra.  "Aku akan coba minta izin kepada pimpinan," ujar Dian akhirnya.  Dian menelepon sebuah kontak yang selama ini ia ketahui sebagai pimpinan. Ia hanya bisa mendengar suaranya tanpa pernah melihat seperti apa sosoknya.  "Halo, Bos!" ucap Dian ketika panggilannya terjawab.  "Ada apa?" Suara itu sudah disamarkan dengan filter.  "Ada kurir yang mendapatkan kresek dari temennya. Ia menyerahkannya padaku, namun ia ingin tahu apa isinya. Mohon pengarahannya, Bos."  "Ezra?"  "Iya, Bos."  "Pengawas sudah melaporkannya sama aku. Buka saja di depan Ezra, tapi syaratnya ia harus selalu terbuka sama kita. Jika tidak, ia akan mendapatkan hukuman yang tidak terduga."  "Baik, Bos."  Panggilan telepon berakhir.  Dian menatap Ezra. "Kamu boleh melihatnya tapi dengan syarat kamu harus selalu terbuka sama Eraneo, jika tidak, kamu akan mendapatkan hukuman tidak terduga."  Ezra merasa lega. "Oke, aku akan memenuhi syarat itu."  "Taruh ke atas meja kreseknya!" suruh Dian.  Ezra meletakkan kresek ke atas meja perlahan.  "Sekarang buka ikatannya dan jangan membukanya dulu," suruh Dian. "Ingat, kamu hanya boleh membuka ikatannya saja!"  Ezra membuka ikatan kresek perlahan. "Sudah!"  Dian berdiri, mengintip ke dalam kresek yang sedikit terbuka. Dengan hati-hati ia meraba bagian luarnya. Ia merasakan ada sebuah kotak kecil di dalamnya.  Dian melirik Ezra. "Kamu tahu apa isinya?"  Ezra menggeleng.  Dian kembali meraba kresek. Setelah yakin kalau isinya aman, ia mengambilnya. Di tangannya kini tergenggam sebuah kotak kecil seukuran kotak cincin yang terbuat dari bahan karton.  Ezra ingat, Alika pernah mendapatkan kotak yang serupa dari peneror. Kotak itu berisi kumpulan huruf yang jika dijejer membentuk sebuah kalimat.  "Kamu bisa menebak apa isinya?" tanya Dian.  Ezra menggeleng, meskipun ia menduga kalau isi kotak itu berisi kumpulan huruf.  Perlahan, Dian membuka penutup atas kotak. Ia mengernyit ketika tahu di dalamnya berisi kertas berbentuk bujur sangkar. Dibaliknya kotak tersebut agar isinya bisa dikeluarkan.  "Apa ini?" Dian memeriksa kumpulan huruf dalam genggamannnya. Ia melirik Ezra.  Ezra mengedikkan bahu padahal ia ingin menyarankan agar Dian menjejerkan kumpulan huruf itu ke atas meja secara berurutan.  Dian mengambil kertas paling atas yang tercetak huruf 'A'. Ia meletakkannya pada meja. Sadar kalau masih ada huruf-huruf lain, ia menjejerkan ke atas meja secara berurutan hingga membentuk sebuah kalimat: AKU SUDAH TAHU.  Ezra mengernyit kaget sekaligus penasaran, apa maksud Alika memberinya kresek berisi sekotak huruf tersebut?  Dian menatap Ezra tajam. "Apa maksud huruf-huruf itu?"  Ezra menggeleng. "Aku nggak tahu."  "Kresek itu dari Alika buatmu bukan?" tanya Dian dengan tatapan curiga.  "Memang," sahut Ezra.  "Apa maksud Alika mengirimimu pesan seperti itu?" selidik Dian.  "Aku nggak mau berspekulasi," ujar Ezra diplomatis.  "Kamu pasti tahu!" desak Dian.  "Aku nggak tahu." Ezra kukuh.  Dian mendengus. Ia duduk di kursinya. "Kalau begitu pulanglah ke mes. Besok kamu mulai kerja lagi!"  Ezra merapikan kumpulan-kumpulan huruf di atas meja.  "Tinggalkan saja di situ!" hardik Dian.  Ezra menurut. "Oke, aku pulang ke mes." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN