Ke Ungaran

1881 Kata
Menggunakan sepeda motor inventaris perusahaan, Ezra mengajak Gina ke Ungaran, sebuah kota di daerah atas.  Ezra sengaja memilih daerah atas karena jika berada di daerah bawah kota Semarang, ia takut bertemu keluarga, teman, tetangga, dan tentu saja Alika. Mereka ke sebuah kafe yang berada di pinggiran kota Ungaran.  "Kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanya Gina heran. "Kita berkendara sejauh lebih dari dua puluh kilometer hanya untuk mengunjungi kafe kecil ini."  "Cari suasana baru," jawab Ezra asal-asalan. "Lagipula meskipun kecil tapi kafe ini cukup bagus buat melepas penat."  "Iya juga sih?" Gina mengedarkan pandangan ke sekeliling area kafe.  Ezra menunjuk ke arah pemandangan gunung. "Lihatlah, dari sini kita bisa menikmati keindahan gunung. Suasananya pun sangat sejuk."  Gina mengangguk sepakat. Namun dalam hati ia curiga bukan itu alasan sebenarnya. "Atau kamu takut pacar kamu melihat kita berduaan kalau di Semarang?"  Ezra terkekeh. "Aku kan sudah pernah bilang kalau aku belum punya pacar."  Gina mengerjap, lantas tergelak. "Oh iya, aku lupa."  Brug! Seorang lelaki berusia tiga puluh tahun terjatuh di dekat meja Ezra. Topinya yang bertuliskan NYC terpental cukup jauh.   Ezra bangkit dari duduknya. Ia berusaha membantu lelaki itu berdiri. "Mas nggak papa?"  Lelaki itu memberi isyarat bahwa ia bisa berdiri sendiri. "Terima kasih, aku nggak papa." Tangannya berpegangan pada meja lalu berusaha berdiri.  Ezra mengambil topi dari lantai. "Ini topi Anda?"  Lelaki itu mengangguk. "Iya, Mas, itu topi saya."  Ezra memberikan topi kepada lelaki itu.  "Terima kasih," ucap lelaki itu sambil memakai topi.  "Sama-sama," ucap Ezra.  Lelaki itu berlalu dari hadapan Ezra.  Ezra kembali ke tempat duduknya. Ia menatap Gina. "Mau pesan apa?"  "Aku kopi latte aja," jawab Gina sambil merapatkan jaket. Cuacanya cukup dingin meski sudah siang.  "Oke!" Tangan Ezra melambai ke waitress.  Waitress mendekati meja Ezra. "Mau pesan apa, Mas?"  "Kopi latte dua," jawab Ezra.  Waitress mencatat pesanan Ezra. "Ada lagi, Mas?"  "Itu saja dulu, Mbak!" jawab Ezra.  "Baik, mohon ditunggu ya, Mas?" Waitress pamit.  Ezra mengangguk.  Sepeninggal Waitress, Gina pindah kursi yang tadinya berhadapan dengan Ezra, kini bersebelahan.  Meski bukan kali pertama kali duduk sedekat ini dengan Gina, Ezra tetap saja merasa risih. Ia tidak terbiasa berduaan dengan perempuan selain ibunya dan Alika.  "Ternyata kamu pemalu juga ya?" ujar Gina menangkap kegugupan Ezra ketika tadi ia pindah tempat duduk.  Ezra berusaha menetralisir kegugupannya. "Masa sih?"  Gina mengangguk. "Aku merasakannya."  "Itu hanya perasaanmu saja," timpal Ezra.  Gina mengerjap sambil terkekeh.  Ezra buru-buru mengalihkan topik. "Jadi hari ini kamu cuti ya?"  "Sebenarnya bukan cuti sih, cuman diberi waktu buat beristirahat karena semalam aku lembur," ujar Gina. "Kamu mah enak nggak ada lemburnya."  "Kok tahu kalau aku nggak ada lemburnya?"  "Aku perhatikan kalian jam empat sore sudah nggak ada pekerjaan."  "Memang."  "Kalian nggak pernah dapet orderan malam ya?" tanya Gina. "Menurutku itu aneh buat perusahaan jasa pengantaran."  Ezra membenarkan ucapan Gina. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan orderan malam. Menurutnya itu aneh, seperti komentar Gina.  "Atau mungkin kalian menggunakan sistem shift?" tebak Gina.  Ezra menggeleng. "Aku nggak tahu soal itu. Yang jelas aku bekerja dari jam enam pagi sampai jam empat sore dan belum pernah mendapatkan orderan melebihi jam itu."  Gina menatap Ezra dengan sorot aneh. "Menurutku kalian misterius!"  Ezra terdiam. Ia mulai tidak nyaman karena Gina membahas soal perusahaannya.  "Kamu merasakannya enggak?" tanya Gina.  Ezra menggeleng bohong. "Kalau aku sih yang penting bekerja dan nggak mau mikir yang aneh-aneh."  Seorang lelaki muda, pelayan kafe datang. Ia menyuguhkan pesanan ke atas meja. "Dua kopi latte. Silakan dinikmati."  "Makasih, Mas!" ucap Gina.  "Sama-sama, Mbak," balas pelayan kafe sambil mengulas senyum ramah. Ia meninggalkan meja Gina dan Ezra.  "Aku penasaran dengan kopi di kafe ini." Gina menyesap kopinya sedikit. Ia mengerjap sambil mengatupkan bibir.  "Enak?" tanya Ezra penasaran.  Gina mengangguk. "Lumayan buat kafe di pinggiran kota."  Ezra mencicipi kopinya. "Mmhh, iya lumayan."  "Nggak percuma kamu mengajakku ke sini," komentar Gina.  Ezra tersenyum. Ia juga baru kali pertama ke kafe ini. Sebenarnya tadi ia hanya asal-asalan saja memilih kafe ini.  "Aku boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Gina. Ia mengambil gelas kopi dari atas meja.  Ezra yang sedang memegang gelas kopi, mengurungkan niat untuk menyesapnya. "Tanya apa?"  Gina menyesap kopinya sedikit, kemudian meletakkan gembali gelasnya ke atas meja. "Ini sedikit kepo sih, tapi aku memang penasaran."  Ezra mengernyit. "Soal apa?"  "Di kantor kamu, Dian bekerja sendirian saja?" tanya Gina. "Aku nggak melihat ada kegiatan layaknya kantor pada umumnya."  Ezra terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Menurutnya, pertanyaan Gina termasuk kepo. Sejak mengenal gadis itu, ia memang merasakan kalau Gina terlalu ingin tahu tentang perusahaannya.  "Maaf kalau aku kepo," ujar Gina menunjukkan mimik tidak enak hati. "Aku bertanya soal itu juga karena ada alasannya, nggak sekadar ingin tahu urusan perusahaan kantor lain."  Ezra mengerjap. "Memang apa alasannya?"  Gina menyesap kembali kopinya. Masih memegangi gelas, ia berujar. "Dulu aku punya teman yang cukup dekat. Ia pernah bekerja di Eraneo sebagai kurir selama beberapa minggu, kemudian ditarik ke kantor. Waktu kantornya pindah, aku nggak pernah bertemu dengannya lagi. Entah di mana ia sekarang berada. Apakah masih bekerja di Eraneo atau enggak. Nomor ponselnya juga sudah tidak aktif lagi sejak itu."  Ezra menjadi salah tingkah. Tidak mungkin ia menceritakan soal perusahaan kepada orang luar. Itu bisa membuatnya dalam masalah besar karena ada kemungkinan sekarang ia sedang diawasi orang-orang Eraneo.  Dari cerita Gina tadi, Ezra menangkap sebuah kaganjilan. "Waktu itu kantor Eraneo belum pindah ke tempat yang sekarang?"  Gina mengangguk. "Iya."  "Terus kalian kenalnya di mana?" tanya Ezra heran. "Bukankah kantor kalian berjauhan?"  Gina tampak gugup mendapat pertanyaan dari Ezra.  "Apa kantor kamu juga dulunya berdekatan dengan kantor Eraneo yang lama?" cecar Ezra.  "Aku kenal karena kami tetangga kos!" ujar Gina. "Ia tinggal di kosan sebelah kamu itu."  "Berarti mes di sebelahku?" Ezra memastikan.  "Iya, yang kamu tempati itu kayaknya buat cowok. Temenku itu tinggal di sebelahnya yang khusus buat cewek." Gina menjelaskan.  Sekarang Ezra paham.  "Aku memanggilnya dengan sebutan Nofia," imbuh Gina. "Teman-temannya biasa memanggilnya Septi."  Ezra terhenyak. Ia curiga, jangan-jangan yang dimaksudkan Gina adalah Septi Nofiasari.  "Kamu mengenalnya?" tanya Gina menangkap keterkejutan dari wajah Ezra.  Buru-buru Ezra menggeleng. Kalau ia menjawab iya, takutnya Gina bertanya yang macam-macam.  "Tapi kamu seperti terkejut pas aku menyebut namanya," ujar Gina.  Ezra tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya. "Aku punya teman namanya Nofia juga."  Gina mengernyit. "Kamu terkejut pas aku menyebut nama Septi, bukan ketika aku menyebut nama Nofia."  Ezra terpojok. Ia menjadi salah tingkah. "Masa sih?"  Gina mengangguk. "Iya waktu aku sebut nama Nofia, reaksimu biasa-biasa saja."  Ezra terkekeh. "Itu hanya perasaanmu saja!"  Gina menatap wajah Ezra, tidak percaya. "Kalau kenal juga nggak papa."  Kekehan Ezra semakin menjadi seiring posisinya semakin terpojok. "Kalau memang kenal, terus buat apa aku menyanggahnya?"  Gina mengangguk-angguk, masih tidak mempercayai ucapan Ezra.  "Kalian sangat dekat ya?" pancing Ezra. Ia curiga, Septi yang dimaksud Gina adalah Septi yang sedang ia cari.  "Dekat banget sih enggak. Ia anaknya sedikit tertutup. Cuman bisa dibilang hanya sama aku ia mau berteman. Aku perhatikan ia nggak punya teman lagi." Gina menjelaskan.  "Kapan terakhir kali kalian bertemu?" cecar Ezra.  Gina tampak berpikir. "Sudah cukup lama sih, hampir dua tahunan."  Septi masuk Eraneo sekitar dua tahun lalu. Itu membuat Ezra yakin Septi yang dimaksudkan Gina adalah Septi yang sedang ia cari.  "Kamu belum menjawab pertanyaanku!" Gina mengingatkan.  Ezra mendesah pelan. Ia bingung harus menjawab apa.  "Aku khawatir terjadi sesuatu kepada Nofia," ujar Gina. Ia menggoyang-goyangkan gelas kopinya sambil pandangannya menerawang jauh. "Ia anak yang baik. Aku sangat kehilangannya."  "Kamu nggak coba menanyakannya kepada managernya atau teman kerjanya?"  "Sudah, tapi nggak ada satu pun yang tahu." Gina menyesap kopinya yang mulai mendingin. "Aku merasakan keanehan pada Eraneo. Mereka sangat tertutup. Karyawannya jarang yang tersenyum."  Ezra menelan ludah. Ia membenarkan ucapan Gina. Tentu saja karyawan Eraneo susah tersenyum karena berada dalam tekanan tinggi, ujarnya dalam hati.  "Itulah kenapa aku kepo pada Eraneo," desah Gina. Wajah cantiknya berubah murung.  "Aku juga nggak begitu paham dengan Eraneo, sehingga aku minta maaf kalau nggak bisa menjawab pertanyaanmu," ujar Ezra merasa bersalah.  "Tapi kamu beberapa kali masuk ke kantor Eraneo kan?" desak Gina.  Ezra mengangguk gelisah. "Memang, tapi aku hanya bertemu dengan manager saja."  Gina menatap Ezra lekat-lekat. "Di sana cuman ada Dian saja kan?"  Ezra terdiam.  "Apa kamu pernah melihat ada orang lain lagi di kantor itu?" cecar Gina.  Ezra mengangguk. "Pernah."  "Masa?"  Ezra kembali mengangguk. Selain Dian, ia pernah bertemu dengan orang lain di kantor itu yaitu orang yang mengeluarkannya dari ruang penyekapan.  "Terus sekarang di mana orang itu?" tanya Gina dengan tatapan penuh selidik.  Ezra semakin terpojok. "Aku nggak tahu."  "Itu berarti memang hanya Dian saja yang selalu berada di kantor itu," sergah Gina. "Itu sangat aneh. Tarif sewa di gedung itu sangat mahal. Kalau kantornya hanya diisi satu dua orang, menurutku itu hanya membuang-buang biaya saja."  Ezra diam saja.  "Aku sebenarnya nggak peduli sama Eraneo, apalagi untuk mencampuri urusan mereka." Gina menatap Ezra lekat-lekat. "Aku hanya penasaran, apakah hilangnya Septi itu ada hubungannya dengan keanehan mereka atau enggak."  Ezra berdeham kecil, sekadar cara untuk mengurangi kegugupannya. "Atau mungkin Nofia sudah pulang ke rumah?"  Gina terdiam.  "Kamu tahu alamat rumahnya?" tanya Ezra, berusaha keluar dari kegugupannya.  Gina menunduk. "Aku nggak tahu alamat rumahnya."  "Apa Nofia nggak pernah cerita di mana rumahnya?"  Gina menggeleng. "Nofia agak tertutup. Ia nggak pernah cerita soal pribadi."  Ezra berada di atas angin. Ia bisa mengatasi rasa gugupnya. "Mungkin Nofia sudah pulang ke rumahnya atau barangkali pindah kerja."  Gina menggeleng. "Tapi kenapa ponselnya susah dihubungi?"   Ezra akan menggunakan kesempatan ini untuk mengorek keterangan dari Gina. "Kamu punya fotonya Nofia? Kali aja aku bisa membantu menemukannya."  Gina menatap Ezra aneh. "Aku nggak pernah punya fotonya."  "Bukannya kalian cukup dekat ya?" cecar Ezra.  "Iya!" desah Gina. "Tapi bukan berarti kami bisa foto-foto bareng. Nofia nggak pernah mau setiap kali aku minta berfoto bersamanya."  Ezra menjadi teringat keterangan Nadia bahwa Septi tidak suka berfoto.  "Kalau ada fotonya, aku nggak bingung mencari cara untuk menemukannya!" ujar Gina.  Ezra mengangguk paham.  Gina meneguk habis sisa kopinya. Ezra memandanginya dengan perasaan tidak enak hati karena telah menyembunyikan sesuatu tentang Septi dari Gina.  Ezra ingin menemukan jejak Septi. Itu alasannya masuk Eraneo. Namun ia tidak mungkin menceritakannya kepada Gina. Jika melakukannya, gadis itu pasti akan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawabnya.  "Kamu mau makan?" tanya Ezra, mengalihkan topik.  Gina menggeleng tanpa semangat. Ia menoleh kepada Ezra. "Pulang saja yuk?"  Ezra mengangguk. Ia berdiri. "Aku ke kasir dulu."  "Aku saja yang bayar!" Gina beranjak dari kursinya menuju kasir.  Ezra merasa tidak enak hati kalau Gina yang membayarnya. Ia mencegat gadis itu. "Sudah biar aku saja!"  Gina melewati hadangan Ezra. Ia melangkah cepat menuju kasir.  Ezra hanya bisa pasrah, melihat Gina membayar tagihan. Ia kembali ke meja untuk mengambil jaket yang ia geletakkan di atas meja.  Setelah mengambil jaket, tiba-tiba wajah Ezra pucat ketika tanpa sengaja pandangannya menangkap sosok Alika yang sedang duduk dengan seorang lelaki di meja paling pojok. Mereka pura-pura tidak mengetahui keberadaannya.  Ezra ingat, lelaki yang bersama Alika itu adalah orang yang tadi terjatuh di dekat mejanya. Spontan Ezra memeriksa meja dan kursi yang didudukinya. Ia meraba bagian bawah meja dan menemukan sebuah alat penyadap suara. Ia yakin lelaki bertopi NYC itu memasang alat penyadap itu dengan berpura-pura terjatuh. Ezra membiarkan alat penyadap itu pada tempatnya. Ia melirik ke arah Alika. Ia yakin detektif itu sedang mengawasinya dan telah mendengarkan semua percakapannya dengan Gina.  Alika mengulas senyum ke arah Ezra. Buru-buru Ezra membuang muka. Perasaannya menjadi gelisah. Ia takut Alika akan mendekatinya. Jika itu terjadi maka ia bisa mendapatkan masalah dari Eraneo. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN