Ezra berkeliling ke seluruh ruangan mes, tempat tinggalnya. Ia fokus mencari tahu apakah ada CCTV yang terpasang.
Kemarin saat ia menyalakan kompor, bermaksud membakar surat dari Alika, tiba-tiba Dian menelepon. Managernya itu tahu persis apa yang sedang dilakukannya. Ezra yakin ada kamera pengawas atau semacamnya di dalam mes ini.
Sayangnya setelah berkeliling ke seluruh ruangan, Ezra tidak menemukan CCTV atau semacamnya. Itu membuatnya merasa heran. Menurutnya tidak mungkin Dian hanya menebak-nebak saja. Managernya itu begitu jelas menyuruhnya mematikan kompor dan menyuruhnya agar meletakkan surat ke atas lemari. Sehingga ia yakin, Dian mengetahui apa yang sedang dilakukannya.
Teringat lemari, Ezra segera bergegas ke ruang tengah. Ia membuka isi lemari dan mengeluarkan isinya. Baju-baju dan barang miliknya berserakan di lantai. Diperiksanya seluruh sudut dalam lemari, namun ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Merasa tidak puas, Ezra meraba-raba ke dalam lemari, barangkali saja ia menyentuh sesuatu yang mencurigakan. Tidak hanya itu ia mengetuk-etuk kayunya.
Pada sisi bagian belakang ia merasakan bunyi kayu tersebut berbeda dengan sisi yang lain. Karena penasaran, ia mencoba mendorongnya. Hasilnya, tetap saja ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Ezra menjadi pusing. Dengan menanggung perasaan kecewa, ia mengembalikan baju-baju dan barangnya ke dalam lemari tanpa merapikannya.
Ezra mendengus kesal jika ingat kejadian kemarin. Dian mengetahui apa yang sedang dilakukannya. Bukan hanya itu saja, seorang tidak dikenal bahkan tiba-tiba menyerangnya. Ia masih penasaran kenapa orang itu bisa berada di dalam mes, padahal jelas-jelas tidak ada siapa-siapa di sini selain dirinya. Pintu depan juga sudah ia kunci.
Ezra semakin geram kepada Eraneo yang telah membuatnya terdampar pada situasi memuakkan ini. Dengan perasaan emosi ia menendang-nendang lemari.
Bug! Bug! Lemari tetap berada di tempatnya. Sedangkan kaki Ezra merasa kesakitan. Emosinya menjadi tidak terkendali. Dengan sekuat tenaga, ia bermaksud menggulingkan lemari. Namun karena tenaganya lemah, lemari itu hanya sedikit bergeser maju, alih-alih terguling.
Ada celah antara bagian belakang lemari dengan dinding. Ezra penasaran. Ia mendekatinya. Seketika matanya terbelalak. Ia melihat sebuah pintu pada dinding yang tertutup lemari.
Buru-buru Ezra menggeser lemari agar menutupi kembali pintu tersebut. Ezra akan berpura-pura tidak mengetahuinya. Ia yakin orang-orang Eraneo pasti sedang mengawasinya melalui sebuah kamera tersembunyi. Jika mereka sadar bahwa dirinya menemukan pintu rahasia itu, maka kemungkinan ia akan mendapatkan masalah.
Ezra menduga orang misterius yang kemarin menyerangnya bisa memasuki mesnya melalui pintu tersebut lalu bersembunyi.
Mes ini terdiri dari dua bagian. Satu bagian adalah yang sedang ditempati Ezra dan satu bagian lainnya berada di sebelahnya. Ezra yakin kedua bagian itu terhubung oleh pintu yang tertutup lemari tersebut.
Pintu rahasia telah Ezra ketemukan, sekarang ia tinggal mencari di mana letak kamera tersembunyi terpasang.
Tok! Tok!
Ezra terkesiap waspada. Ia curiga jangan-jangan yang mengetuk pintu depan adalah orang Eraneo. Ia cemas kalau-kalau apa yang ia lakukan memancing perhatian mereka.
Tok! Tok!
Ezra berjingkat menuju ruang depan. Sampai di dekat jendela, ia mengintip keluar melalui gorden.
Ezra menarik napas lega ketika tahu pengetuk pintu itu adalah Gina. Buru-buru ia membukakan pintu.
Seulas senyum menyambut Ezra begitu pintu terbuka. "Hai, apa kabar?" tanya Gina.
"Baik," jawab Ezra sambil keluar menuju teras. "Silakan duduk!"
Gina duduk di kursi sambil terus mengulas senyum. Senyumnya seketika meredup melihat penampilan Ezra yang acak-acakan.
"Kamu baik-baik saja kan?" Gina tampak cemas.
"Aku baik-baik saja kok," ujar Ezra bohong.
Gina mengamati wajah Ezra dengan seksama. "Tapi wajah kamu kucel sekali!"
"Mungkin karena baru bangun tidur," dalih Ezra menutupi.
Gina mengernyit. Ia terus saja mengamati wajah Ezra.
"Aku nggak papa kok!" ujar Ezra merasa risih dengan sikap Gina.
"Bener?"
Ezra mengangguk.
Gina mendesah. "Semoga saja kamu nggak bohong!"
Ezra tergelak. "Buat apa aku membohongimu?"
Nagina menampakkan ekspresi cemberut. "Kali aja!"
Ezra mengedarkan pandangan ke sekitar area mes. Ia harus mengalihkan topik. "Kamu ke sini naik apa?"
"Taksi online," jawab Gina. "Maaf aku nggak bawa oleh-oleh."
Ezra terkekeh geli. "Ya ampun, Gina, nggak perlu repot-repot kalau mau ke sini. Kamu datang saja, aku sudah senang. Sejak kamu pindah kosan, aku nggak ada temen."
Gina tersenyum penuh arti. "Masa?"
Ezra mengangguk. "Iya."
"Kirain kamu merasa terganggu!"
"Enggaklah!"
Nagina mengangguk percaya. "Ngomong-ngomong, kamu nggak kerja?"
Ezra hanya tersenyum, merespon pertanyan Gina.
"Kamu juga baru kelihatan. Dari mana saja?"
Ezra bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia menceritakan kepada Gina tentang dirinya yang baru saja bebas dari sekapan.
"Aku tadi dari kantor kok?" ujar Ezra agar Gina tidak terus bertanya.
"Oh iya?"
Ezra mengangguk. "Aku nggak melihatmu di kantor kamu."
Seketika Gina cemberut. "Aku bingung, Ez!"
"Bingung kenapa?"
Gina mendesah berat. Ia membetulkan posisi duduk. "Aku akan dipindah ke pusat."
Ezra kaget. "Ke Jakarta?"
Gina mengangguk sedih. "Aku betah di sini!"
Ezra diam. Ia merasa akan kehilangan teman jika Gina pindah. Sejak tinggal di mes, hanya gadis itu yang ia kenal.
"Tapi aku sudah memohon kepada manager agar mau membantuku meyakinkan direktur pusat," ujar Gina.
"Terus hasilnya?"
Gina mengedikkan bahu. "Managerku bilang sudah berbicara kepada direktur tapi direktur belum bisa memberi keputusan."
Ezra bersimpati. "Semoga kamu tidak jadi dipindah."
"Aamiin!" ucap Gina senang. "Doa anak soleh biasanya cepet dikabulkan."
Ezra terkekeh. "Aku bukan anaknya Pak Soleh!"
Gina mengerjap manja, memasang ekspresi sebal. "Ih apaan sih. Orang aku lagi serius malah dibecandain!"
Ezra tertawa.
"Nggak lucu tahu!" Gina pura-pura cemberut.
"Hahaha!" Tawa Ezra semakin menjadi melihat ekspresi lucu Gina.
Gina menambatkan pandangan ke meja, pura-pura kesal.
"Maaf, aku cuman bercanda," ucap Ezra merasa bersalah. "Jangan cemberut dong!"
Gina menatap Ezra sambil tertawa. "Aku juga cemberutnya cuman pura-pura. Hahaha!"
Giliran Ezra yang memasang wajah cemberut. Itu hanya pura-pura saja.
"Kamu belum mandi ya?" tanya Gina mengalihkan topik.
Ezra mengernyit. "Memang penting ya?"
Serta merta Gina menutup lubang hidung menggunakan telapak tangan. "Bau tahu!"
Ezra membalas dengan cara mendekatkan ketiak ke arah Gina. Sontak Gina menjauh dengan ekspresi seolah dirinya tidak tahan.
"Mandi gih!" suruh Gina.
"Nanti kamu sendirian di sini kalau aku tinggal ke kamar mandi."
"Nggak papa. Mending sendirian ketimbang ditemani orang yang belum mandi."
Ezra terkekeh. "Ya sudah, aku mandi dulu!"
Gina mengangguk, masih pura-pura menutup lubang hidungnya.
***
Selepas mandi, Ezra menyampirkan handuk pada seutas tali tambang yang melintang di antara dua dinding. Tali tambang itu sudah ada sejak ia memasuki mes ini.
Karena terburu-buru, handuk itu jatuh. Beruntung Ezra sigap menangkapnya. Namun karena tidak hati-hati, ia terhuyung. Reflek Ezra berpegangan pada tali tambang.
Tali tambang terlepas dari dinding berikut pakunya, karena tidak kuat menahan beban. Ezra pun terjatuh ke lantai.
"Sial!" umpat Ezra sambil berusaha berdiri. Beruntung handuknya tidak menyentuh lantai.
Setelah berdiri tegak, Ezra menyampirkan handuk ke bahu. Ia memaku kembali tali tambang ke dinding. Dengan menggunakan ulekan batu, ia memaku kembali tali tambang tersebut.
Tali tambang berhasil terpasang kembali. Ezra menyampirkan handuk dengan hati-hati. Setelah itu ia meregangkan tali, memastikannya sudah dalam keadaan kencang.
Tiba-tiba pandangan Ezra tertambat kepada sebuah gambar berbingkai kayu yang terpasang di dinding dapur. Ia baru sadar kalau pemandangan itu terasa janggal.
Ezra merasa heran kenapa ada gambar di dapur. Memang gambarnya berupa perabotan dapur tapi menurutnya tetap tidak lazim.
Ezra memperhatikan dengan seksama bingkai gambar tersebut. Ia curiga pada sudut kiri atas pada bingkai tersebut yang tampak lebih menonjol. Ada sebuah bulatan di sana.
Ezra punya ide. Ia segera mematikan lampu dapur. Ia perhatikan pada sudut atas kiri bingkai tersebut tampak berkilau seperti sebuah cermin.
"Ketemu!" sorak Ezra lirih. Ia curiga bulatan kecil itu adalah kamera tersembunyi.
Ezra tersenyum. Ia menyalakan lampu dapur kembali, kemudian sambil tersenyum puas ia menuju ke ruang tengah.
Di ruang tengah, ia memperhatikan gambar dengan bingkai berukuran sama dengan yang berada di dapur. Ia perhatikan sudut-sudutnya dan menemukan sebuah tonjolan berbentuk bulatan kecil yang bentuknya mirip dengan yang berada di dapur. Ia yakin bulatan itu juga kamera tersembunyi.
Ezra merasa lega berhasil menemukan dua kamera tersembunyi. Meskipun begitu, ia akan membiarkannya saja karena jika menutupnya, orang Eraneo pasti akan bereaksi.
Ezra segera mengganti baju. Tidak lupa ia menyisir rambutnya. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia bergegas menuju teras. Gina sedang menunggunya sejak tadi.
Melewati ruang depan. Ezra melirik bingkai yang serupa, hanya beda gambar. Lagi-lagi ia menemukan benda menonjol berbentuk bulatan. Sekarang ia menemukan tiga kamera tersembunyi.
Ezra beranjak ke teras. Gina tampak sedang memainkan ponselnya.
Melihat kedatangan Ezra, Gina menghentikan kegiatannya. Ia menoleh. "Kamu mandinya lama juga ya, seperti cewek!"
Ezra terkekeh. "Masa?"
Gina mengangguk. "Ada kalau seperempat jam mah!"
Ezra terkekeh geli. "Tadi tali tambang di depan kamar mandi lepas. Aku harus membetulkannya dulu."
"Tali tambang buat apa?"
"Aku menggunakannya buat menyampirkan handuk sama kain lap."
Gina mengangguk tanda paham. "Kamu nggak kerja?"
Ezra mendesah tertahan karena Gina kembali menanyakan itu.
"Maksudku, kalau kamu nggak ada kerjaan, aku mau mengajakmu jalan-jalan," jelas Gina.
Ezra bimbang. Ia baru saja mendapatkan hukuman sekap. Kalau sekarang ia pergi dengan orang dari luar Eraneo, takutnya akan mendapatkan masalah.
Gina menangkap kebimbangan pada raut muka Ezra. Ia memberi solusi. "Mungkin kamu mau izin dulu sama manager kamu yang cantik itu?"
Ezra mempertimbangkan usulan Gina. Setelah ia pikir-pikir, bagus juga ide tersebut. Ia akan meminta izin kepada Dian. Ia juga perlu hiburan. Syukur-syukur ia diizinkan, kalau tidak pun tidak masalah baginya.
"Sebentar, aku telepon managerku dulu!" Ezra bangkit dari duduknya.
Ezra menuju ruang tengah dan mengambil ponsel. Ia menelepon Dian.
Panggilan Ezra langsung terjawab.
"Halo, ada apa, Ez?" tanya Dian.
"Mmhh, aku mau nanya?"
"Tanya apa?"
"Hari ini aku ada kerjaan apa enggak? Sejak tadi belum ada orderan!"
"Hari ini kamu saya kasih cuti. Istirahat saja di mes!"
Ezra menarik napas dalam-dalam. "Mumpung nggak ada kerjaan, boleh nggak aku mencari hiburan, biar besok fresh dan semangat lagi?"
"Mau ke mana dan sama siapa?" tanya Dian curiga.
"Sama Gina tetangga mes dan tetangga kantor juga," jawab Ezra. "Aku janji nggak akan bertingkah bodoh."
Dian terdiam.
"Please!" Ezra memohon. "Aku nggak ada hubungan apa-apa kok sama Gina. Swear! Aku cuman bete saja di rumah."
"Ya sudah, kalau sama Gina nggak papa," ujar Dian dengan nada terpaksa.
Ezra merasa senang. "Terima kasih, Manager!"
"Jangan sampai maghrib!" Dian mengingatkan.
"Siap!"