Diberi Kesempatan

1378 Kata
Ezra merasakan lengannya digamit sambil ditarik. Ia hanya bisa pasrah karena kedua tangannya terikat di belakang punggung. Kepalanya juga terbungkus kain hitam. Saat ini, memberontak bukanlah ide yang baik.  Sambil berjalan menuruti tarikan seseorang yang tidak dikenalnya, Ezra menghitung langkah sejak meninggalkan ruangan tempatnya disekap. Pada langkahnya yang kesembilan, ia merasakan dirinya di arahkan berbelok kiri.  Berdasarkan gema dari tapak sepatunya, Ezra menduga dirinya berada di dalan ruangan tertutup. Aromanya juga cukup harum. Sejak berbelok kiri tadi, ia terus menghitung jumlah langkahnya.  Pada hitungan keenam langkah, Ezra merasakan dirinya diarahkan belok kanan. Ia mendengar bunyi daun pintu terbuka. Ia yakin sedang memasuki sebuah ruangan.  Ruangan yang dimasuki Ezra lebih sejuk. Ia dipaksa berhenti. Badannya diputar paksa dan didorong hingga terjatuh pada sebuah benda empuk. Ia yakin sedang duduk di sofa.  "Di mana aku?" tanya Ezra penasaran.  Pertanyaan Ezra tidak terjawab karena lelaki yang membawanya dari ruang sekap tadi telah meninggalkan ruangan.  "Katakan, di mana aku!" Intonasi Ezra meninggi. Itu membuat napasnya terengah-engah.  Ezra mengendus aroma parfum yang cukup familiar pada hidungnya. Aroma itu mengingatkannya kepada Dian.  "Dian?" tebak Ezra. Ia mendengar tarikan napas tidak jauh darinya.  Tebakan Ezra tepat. Dian sedang berdiri persis di hadapan Ezra.  "Diamlah! Aku akan membuka penutup kepalamu!" Dian menarik ke atas kain yang menutupi kepala Ezra.  Ezra tersenyum lega ketika melihat Dian sedang berdiri di depannya. "Sudah kuduga."  "Aku menyuruhmu diam!" hardik Dian sambil membuka ikatan tangan Ezra.  Ikatan tangan Ezra terlepas. Dian mengambil kursi plastik dan menempatkannya persis di depan Ezra, lalu mendudukinya.  "Terima kasih sudah membebaskanku," ucap Ezra merasa senang.  "Bukan aku yang membebaskanmu!" ujar Dian. Ia mengambil sebuah amplop dari saku baju seragamnya. Ia mengacungkannya ke muka Ezra. "Kamu ingat amplop ini?"  Ezra mendengus. Tentu saja ia mengingatnya. Amplop itu berisi surat dari Alika.  Dian membuka amplop dan mengeluarkan suratnya. "Aku sudah membaca surat ini."  Ezra melengos. Ia merasa bersalah kepada Alika karena gagal membakar surat itu.  "Surat itu ada di meja kerjaku. Aku yakin pimpinan Eraneo sudah membacanya," ujar Dian menatap Ezra tajam. "Nggak lama kemudian mereka menyuruhku memberimu makan di ruang penyekapan."  "Terima kasih atas makanannya," ucap Ezra. "Sayangnya itu membuatku ingin buang air besar."  Dian mendengus, menahan kesal kepada Ezra. "Kalau mau berterima kasih soal makanan, ucapkan itu kepada pimpinan Eraneo. Mereka yang memberikannya. Saranku kamu berterima kasihlah kepadaku yang telah memohon kepada pimpinan agar membebaskanmu dari hukuman sekap. Jarang sekali mereka mengabulkan permohonan manajer. Jika sekarang mereka mengabulkannya itu karena mereka memberimu kesempatan sekali lagi."  Ezra mengerjap. "Terima kasih aku ucapkan kepadamu karena sudah membantuku bebas dari hukuman sekap."  Dian tergelak. "Di Eraneo, terima kasih tidak cukup hanya dengan ucapan!"  Ezra mengernyit. "Lalu dalam bentuk apa?"  Dian menggeser kursi lebih dekat kepada Ezra. Ia menatap lelaki itu. "Jangan melakukan hal bodoh lagi!"  Ezra balas menatap Dian. Ia merasa perlu mengklarifikasi. "Aku nggak tahu akan bertemu Alika. Aku mengantarkan paket makanan seperti biasa. Sepertinya Alika sengaja menjebakku."  "Tapi kamu senang kan bisa bertemu Alika?" Dian membelalakkan mata.  Ezra menggeleng. "Enggak. Justru aku merasa sedang apes bertemu Alika."  Dian terkekeh, tidak mempercayai ucapan Ezra.  "Aku sudah berusaha menghindari mantan bosku dan Alika. Itu kulakukan karena aku nggak mau mendapatkan hukuman," dalih Ezra. "Kalau akhirnya aku bertemu Alika, itu di luar dugaanku. Aku juga terpaksa menerima surat itu agar ia nggak curiga. Lagipula aku nggak menceritakan apa pun padanya."  "Tapi kamu berniat membakar surat itu seperti yang diminta Alika bukan?" Dian mengerjap sinis. "Itu indikasi kalau kamu bermaksud menyembunyikan sesuatu dari Eraneo."  "Aku memang takut kalau surat itu diketahui Eraneo. Aku nggak mau mendapatkan masalah. Maka itulah aku membakarnya." Ezra berdalih.  Dian mendekatkan kepala ke wajah Ezra. "Dalihmu tidak bisa diterima pimpinan Eraneo. Mereka hanya ingin kamu bisa menjauhi orang lain, keluargamu, dan semua orang selain aku. Kamu harus melakukan itu, bagaimanapun caranya, paham?"  Ezra bungkam.  Dian membetulkan posisi duduk. "Aku peduli sama kamu, Ezra. Aku ingin kamu tidak mendapatkan hukuman."  Ezra terkekeh sinis. "Buat apa kamu peduli sama aku. Bukannya kamu bagian dari Eraneo ya?"  "Kamu juga bagian dari Eraneo!" sergah Dian tidak mau kalah.  "Beda!" timpal Ezra bermaksud memancing emosi Dian. Ia ingin tahu seberapa cerdas manajernya itu dalam mengendalikan emosi.  Dian tersenyum sinis. "Faktanya seperti itu, suka nggak suka, terima atau enggak."  Ezra mendesah berat. Ia tidak terima dianggap bagian Eraneo. Sungguhpun begitu ia membenarkan ucapan Dian bahwa suka tidak suka, menerima atau enggak, dirinya adalah bagian Eraneo.  "Aku rasa kita akan kehabisan energi kalau membahas lagi persoalan itu." Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi besok. Baik atau buruk, hadapi saja situasi yang kamu alami saat ini. Caramu menyikapinya akan menentukan nasibmu nanti."  Ezra melengos. Kalimat Dian memang bijak, tapi ia malas mendengarnya karena diucapkan seorang yang menjadi bagian sindikat mafia.  "Aku nggak bermaksud mengguruimu," ujar Dian seolah bisa membaca isi hati Ezra. "Anggaplah kalimat sok bijak itu adalah nasehat untuk diriku sendiri."  Ezra melengos. Ia lebih memilih memperhatikan penampilannya yang lusuh ketimbang memperhatikan ucapan Dian.  "Di matamu mungkin aku adalah orang jahat." Dian menunduk. Ia menelan ludah. Sejurus kemudian ditariknya napas dalam-dalam. "Tapi aku nggak peduli apa pun penilaian orang terhadapku. Aku hanyalah orang yang berupaya untuk bersikap realistis dan tetap memelihara harapan."  Ezra melirik Dian. Tadi ia merasakan sebuah getaran halus pada setiap intonasi kata gadis itu. Meskipun samar, ia bisa menangkap kegetirannya.  "Apakah kamu ingin mengatakan bahwa nasibmu sama buruknya denganku?" tebak Ezra.  Dian mengangkat dagu. Ia melirik Ezra sekilas, kemudian mendengus sambil menambatkan pandangan ke luar kantor. "Baik dan buruk itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dulu aku menganggap nasibku sangat buruk, bahkan aku sampai ingin mengakhiri hidup. Namun seiring berjalannya waktu, aku sadar kalau mengeluh tidak akan mengubah apa pun."  Ezra tercenung. Ia menemukan sisi Dian yang lain. Gadis di depannya itu seolah sedang ingin menunjukkan bahwa dirinya cukup tegar.  "Apakah kamu juga punya keinginan untuk melarikan diri dari Eraneo?" pancing Ezra.  Dian menoleh kaget. Ia balik bertanya. "Jika kamu menjadi aku, apa yang akan kamu lakukan?"  Ezra tergelak. "Aku enggak mengenalmu. Aku tahu kisahmu di Eraneo juga hanya sepotong-sepotong. Lalu bagaimana mungkin aku bisa menjawab pertanyaanmu itu?"  "Kalau begitu jangan pernah lagi penasaran kepada sesuatu yang bukan urusanmu!" hardik Dian pelan tapi bertenaga. "Karena itu sama sekali enggak ada gunanya buatmu."  Ezra mengangguk. "Oke, aku paham."  Dian mendesah panjang.  Dalam hati, Ezra salut kepada Dian yang pandai mengendalikan emosi. Seandainya ia berada pada posisi Dian, belum tentu ia akan setenang dan sesabar gadis itu dalam menyikapi perasaan kesal.  "Sebaiknya kamu pulang ke mes!" Dian berdiri sambil menatap Ezra tajam. "Besok kamu mulai bekerja lagi. Eraneo masih memberi kesempatan padamu untuk memperbaiki sikapmu pada perusahaan. Jangan sia-siakan itu!"  Mendengar kata 'perusahaan" membuat Ezra ingin tertawa karena jelas-jelas Eraneo bukanlah perusahaan legal. Namun ia memilih untuk diam saja agar tidak mendapatkan masalah baru.  Dian meninggalkan Ezra menuju kursinya.  "Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Ezra bermaksud menghentikan langkah Dian.  Dian tidak acuh. Ia duduk di kursinya seolah tidak ada orang lain di ruangan ini.  Meskipun tidak ditanggapi, Ezra tetap bertanya. "Mes sudah aku kunci dan hanya ada aku saja di sana. Lalu bagaimana bisa ada orang lain di sana yang tiba-tiba menyerangku? Orang itu masuk lewat mana?"  Dian menoleh kepada Ezra. "Kembali ke mes!"  Ezra tidak mau kembali ke mes sebelum rasa penasarannya terjawab.  "Kembali ke mes kataku!" Intonasi Dian meninggi.  Baru kali ini Ezra melihat Dian segalak itu, tapi itu tidak membuatnya merasa takut.  Dian membelalakkan mata. Tangannya teracung ke arah Ezra. "Kembali ke mes atau aku panggil pengawas Eraneo buat mengantarkanmu!"  Ezra tetap tidak mau menuruti perintah Dian. Ia bersedekap sambil memandang Dian. "Jawab dulu pertanyaanku!"  Dian tidak mau kompromi. Ia menelepon pengawas. "Halo, Pengawas, tolong antarkan kurir ke mesnya sekarang. Terima kasih!"  Alih-alih takut, Ezra tertawa geli. Ia mengira Dian hanya menggertak saja karena ia yakin pengawas Eraneo tidak mungkin muncul di muka umum, apalagi menampakkan wajahnya kepada para kurir yang diawasinya.  Tawa Ezra bergenti seketika, saat seseorang berpostur kekar baru saja masuk ke kantor. Orang itu mengenakan jaket dan helm tertutup rapat, seperti orang yang siap berkendara roda dua.  Ezra berdiri mencegah orang berbadan kekar itu mendekatinya. "Biar aku pulang sendiri saja. Kamu nggak usah repot-repot mengantarkanku."  Orang berbadan kekar itu tidak peduli. Ia menyeret Ezra dengan kasar menuju parkiran.  Ezra berusaha memberontak, tapi tenaganya kalah jauh.  "Aku bisa jalan sendiri!" bujuk Ezra.  Orang berbadan kekar itu tetap menyeret Ezra menuju sebuah sepeda motor. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN