Buang Air Kecil

414 Kata
Semalaman Ezra disekap dalam ruangan ini. Sejak diberi makan Dian enam jam lalu, ia belum mendapatkan lagi makanan. Bukan itu yang merisaukannya tetapi sekarang perutnya mulas, menahan keinginan buang air besar dan pipis. Ruangan ini tidak dilengkapi toilet. Ezra bingung bagaimana caranya harus membuang hajat. Ia memang tidak lagi terikat tapi tidak ada yang bisa dilakukannya di sini. Entah akan sampai berapa lama lagi berada di sini, Ezra tidak tahu. Ia berharap akan segera dibebaskan. Sejak Dian memasuki ruangan ini untuk melepaskan ikatan tangan dan kakinya, Ezra lebih banyak menghabiskan waktu dengan cara membaringkan tubuh. Badannya terasa sakit. Kepalanya terasa nyeri. Perutnya mual dan mulas. Membuatnya tidak bebas bergerak. Beberapa kali Ezra tertidur, meskipun tidak bisa pulas. Setiap kali terjaga, ia merasakan sekujur badannya pegal-pegal. Kalau saki badan, ia masih bisa menahannya, tapi kebelet pipis dan buang air besar sulit sekali ia tahan. Ezra bangkit dari rebahan. Ia melihat kresek bekas bungkus makanan. Ia berdiri sambil berpegangan pada dinding agar tidak limbung. Sambil menahan sakit ia berjalan dan mengambil kresek tersebut. Ezra membawa kresek tersebut menuju pojok ruangan. Ia membuka kancing celana dan menurunkan resletingnya. Dikeluarkan burung dari sangkarnya. Ezra menempatkan kresek di bawah kepala burung. Ia menarik napas dalam-dalam, lantas menggelontorkan urine ke dalam kresek. Kepala Ezra terasa nyeri selama ia menumpahkan air kencingnya. Ada perasaan lega ketika Ezra selesai menumpahkan urine-nya. Ia mengikat kuat-kuat bagian atas kreseknya, kemudian meletakkanmya di pojokan. Perut Ezra masih terasa mulas karena ia belum mengeluarkan hajat besarnya. Ia bingung harus buang air besar di mana. Tidak air di sini, membuat Ezra berpikir dua kali untuk BAB sembarangan. Ezra kembali menarik resleting dan mengancing celananya. Ia mendekati pintu dan menggedornya berkali-kali, mengundang perhatian siapa saja agar ada yang membukanya. Namun sia-sia saja, karena sampai tangannya pegal, tidak ada satu orang pun yang mau membukanya. Ezra duduk dengan menyandarkan punggung pada dinding. Dalam hati ia berdoa semoga dirinya segera dikeluatkan dari ruangan pengap ini. Rasa sakit di kepala Ezra semakin terasa. Ia memejamkan mata berharap itu sedikit mengurangi rasa sakitnya. Pintu terbuka. Seorang lelaki berbadan tegap dengan mengenakan cadar, mendekati Ezra. Tanpa basa-basi, orang itu meringkus Ezra dan memborgolnya. Ezra tidak berkutik. Ia meronta-ronta. "Bebaskan aku!" Lelaki bercadar membungkus kepala Ezra. "Bangun!" Ezra merasakan badannya tertarik ke atas. Kepalanya terbungkus kain, sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa, selain bayangan gelap. Sejurus kemudian lelaki itu mendorong dan memaksanya jalan. "Aku mau dibawa ke mana?" "Kalau mulutmu tidak bisa diam, aku akan pukul lehermu!" ancam lelaki itu. Ezra hanya bisa pasrah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN