Disekap

366 Kata
Ezra membuka mata. Ia mendapati dirinya terkulai di pojok ruangan tanpa alas. Ia tidak tahu sedang berada di mana. Yang ia lihat, ruangan 4x4 ini begitu pengap, tidak ada jendela. Satu-satunya ventilasi berada di atas sebuah pintu. Cahaya pun sangat minim, hanya ada sebuah lampu kecil di tengah ruangan. Ezra merasakan kepalanya terasa nyeri dan pusing. Perutnya terasa sedikit mual. Kedua tangan dan kakinya terikat. Ia meronta, berusaha melepaskannya namun ikatan itu sangat kuat. Tenaganya pun lemah. Sekarang Ezra ingat. Kali terakhir sebelum berada di sini adalah dirinya masih berada di mes. Saat itu ia baru saja mengunci pintu depan. Ketika ia membalikkan badan, seorang bercadar tahu-tahu berada di depannya. Orang itu mendengkul selangkangannya, membuatnya terkapar, merasakan kesakitan yang luar biasa. Tidak lama kemudian, ia merasakan tengkuknya dipukul dengan kuat. Ia pun tidak ingat apa-apa. Surat! Ezra mencemaskan surat dari Alika. Ia belum sempat membakarnya. Jika itu jatuh ke tangan orang Eraneo bisa gawat. 'Jangan-jangan surat itu sekarang berada di tangan orang Eraneo?' gumamnya. 'Gara-gara itu sekarang aku dijebloskan ke ruangan pengap ini.' Ezra tidak tahu sekarang jam berapa dan sudah berapa lama di sini, yang pasti sekarang ia sadar sedang dalam kesulitan besar. Pintu terbuka. Ezra terkesiap. Serta merta ia merasa senang ketika tahu Dian yang baru saja membuka pintu. Dian mendekati Ezra sambil menenteng kresek. Ia meletakkannya di depan Ezra. Dengan tatapan dingin, tangannya membuka ikatan kaki Ezra. "Akhirnya kamu datang!" ujar Ezra merasa lega. "Aku datang bukan untuk menyelamatkanmu!" hardik Dian. Ia baru saja selesai melepaskan ikatan kaki Ezra. "Tapi kamu melepaskan ikatanku!" sanggah Ezra. Ia memutar badan, agar Dian mudah melepaskan ikatan tangannya. Dian melepaskan ikatan tangan Ezra. "Sekarang kamu bisa makan menggunakan tanganmu sendiri!" Ezra tersenyum senang. Ia menggaruk-garuk tangannya yang sedikit gatal. "Makanlah sebelum basi!" Dian berdiri. Ia berlalu dari hadapan Ezra dan berjalan menuju pintu. Buru-buru Ezra berdiri, namun kepalanya terasa pusing. Ruangan ini seolah-olah miring. Ia pun ambruk. Dian menoleh kepada Ezra. "Ini hukuman karena kamu berani menentang Eraneo!" Dengan susah payah, sambil menahan sakit di kepala, Ezra berdiri. Ia berjalan mendekati Dian dengan langkah terhuyung. Brug! Ezra ambruk dalam posisi terlungkup. Ia melihat Dian keluar ruangan. Pintu pun kembali terkunci. Ezra memukul lantai dengan tenaga lemah. "Sial!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN