Ezra sedang melaju kencang ketika tiba-tiba sebuah motor sporty memepetnya dan memberi isyarat agar dirinya menepi. Tidak mau membuat masalah, ia pun menurutinya.
Ezra berhenti di pinggir jalan. Ia melihat pengendara sepeda motor itu turun dari motor, kemudian mendekatinya. Dari posturnya yang tinggi tegap, ia yakin pengendara motor itu seorang lelaki. Wajahnya tertutup helm.
"Di depan ada operasi lalu lintas," beritahu lelaki tersebut. Suaranya sedikit kurang jelas karena tertutup helm. "Saya harus pastikan kamu membawa kelengkapan surat-surat. Pinjami dompetmu sekarang dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh!'
Ezra keberatan. "Buat apa?"
"Tenang saja, saya nggak akan mengambil uangmu, cuman mau ngecek kelengkapan surat-suratmu saja!"
Menurut Ezra, alasan yang dikemukakan lelaki itu tidak logis. "Kamu siapa?"
"Saya orang yang selalu mengawal dan mengawasimu, jadi lebih baik kamu menurut saja kalau nggak mau mendapatkan masalah!"
Ezra menduga lelaki itu orang Eraneo. Meskipun keberatan, ia akhirnya meminjamkan dompetnya. Tidak banyak uang di dalam dompetnya, sehingga seandainya dirampok pun ia tidak akan kehilangan banyak. Lagipula ia yakin lelaki itu hanya akan memeriksa isi dompetnya saja.
Lelaki itu memeriksa isi dompet dengan teliti. Ia memeriksa KTP, SIM, dan STNK tanpa menyentuh uang Ezra sama sekali. Setelah itu ia memeriksa semua lekukan dompet. Itu membuat Ezra heran, kalau benar hanya akan memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan kenapa memeriksa isi dompetnya dengan teliti?
"Bagus, surat-suratnya lengkap!" Lelaki itu mengembalikan dompet kepada Ezra. "Sekarang angkat kedua tanganmu!"
Ezra bingung. "Kenapa?"
"Tolong kooperatif. Saya nggak akan mencelakakanmu!" Lelaki itu mulai kesal.
Mau tidak mau, Ezra menuruti keinginan lelaki itu. Ia mengangkat kedua tangannya.
Lelaki itu memeriksa setiap saku dan meraba-raba tubuh Ezra, mulai dari badan hingga kaki. "Saya harus memastikan kamu nggak bawa sesuatu yang mencurigakan. Ini demi keamananmu juga."
"Sudah?" tanya Ezra, ingin situasi ini cepat berlalu.
"Sekarang buka sepatu dan kaos kakimu!"
Ezra mendengus. Lagi-lagi, ia menurut. Itu semata karena ia ingin semuanya cepat selesai. Ia duduk di atas jok motor lalu melepas kedua sepatu dan kaos kakinya.
Lelaki itu memasukkan jari-jarinya ke dalam sepatu. Tidak hanya itu, kaos kaki pun diperiksanya. Ezra menduga penggeledahan ini berhubungan dengan pertemuannya dengan Alika. Ezra berpikir, para pengawas Eraneo pasti curiga dirinya menerima sesuatu dari Alika. Bersyukur celana dalamnya tidak diraba. Ia kagum kepada Alika yang sangat antisipatif, sehingga amplop itu aman.
"Silakan pake lagi!" Lelaki itu menyerahkan sepatu dan kaos kaki kepada Ezra.
Ezra merasa lega. Ia memakai kembali sepatunya.
"Hati-hati di jalan!' ucap lelaki itu sambil menaiki sepeda motornya.
Ezra mengangguk. Dalam hati ia merasa geli atas sikap sok perhatian lelaki itu.
Ezra melanjutkan perjalanan. Ia harus mengantar orderan keduanya hari ini. Sampai di tujuan, perjalanannya lancar. Ia tidak mendapati operasi polisi seperti yang dikatakan lelaki itu. Ia yakin itu hanya akal-akalan lelaki itu saja saja agar dirinya mau digeledah.
***
Ezra membuka amplop kecil dari Alika. Di dalamnya berisi surat dua lembar ukuran B5.
Sambil rebahan, Ezra membaca tulisan tangan Alika:
Ez, aku yakin kamu sedang melanjutkan penyelidikan kasus hilangnya Septi. Aku sengaja membiarkannya dan tidak memberitahukannya kepada Pak Jacky karena aku percaya kamu tidak akan mengacaukan kasus yang juga sedang ditangani para detektif. Jadi aku harap kamu juga memahami bahwa kasus itu sedang dipecahkan pihak yang berwenang.
Aku menulis surat ini sambil menanggung perasaan cemas yang luar biasa. Aku memang tidak tahu persis apa dan siapa yang sedang kamu hadapi di sana. Hanya saja, aku punya firasat kalau kamu sedang dalam tekanan besar. Firasatku bukan tanpa sebab, Ez, sebab logikanya kalau Septi belum bisa diketemukan berarti ada kekuatan besar yang menyembunyikannya. Dan aku merasa ngeri membayangkan kamu berada di dalam lingkaran kekuatan besar tersebut.
Kamu tahu, Ez? Aku selalu curiga kepada apa pun dan siapa pun. Barangkali itu karena aku terbiasa menyelidiki kasus. Namun, aku selalu berusaha berprasangka baik kepadamu karena aku percaya kamu tidak akan pernah merasa tenang jika berani membohongiku.
Meskipun cerdas, kamu anak lugu, ambisius, dan jujur, meskipun aku bisa merasakan beberapa kali kamu berusaha membohongiku atau sengaja menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tetap memakluminya karena aku yakin kamu terpaksa melakukannya demi sebuah alasan yang kuat.
Apa pun alasanmu, kuharap kamu tetap mau berbagi kepadaku. Apa yang sedang kamu lakukan itu sangat beresiko. Bukan bermaksud meremehkanmu, tapi aku harus katakan bahwa kamu belum mampu menanggung beban penyelidikan seorang diri. Andai kamu merasa bisa pun, kamu harus tetap ingat bahwa kepercayaan diri yang terlalu berlebihan bisa menjadi bumerang.
Ezra, adikku, aku percaya sama kamu, jadi jangan pernah lagi menyalahgunakan kepercayaanku.
Setelah membaca surat ini, bakar segera kertasnya tanpa sisa. Oke?
ALIKA
Ezra segera bangkit dari rebahan. Ia menuju dapur, berniat membakar surat dari Alika.
Ezra menyalakan kompor gas. Belum sempat ia membakar surat, ponselnya berdering. Ia bimbang, jika menunda menjawab panggilan telepon tersebut, ia takut akan mendapatkan masalah, karena sudah pasti panggilan tersebut dari orang Eraneo. Namun ia juga harus segera melenyapkan surat itu.
Ezra memutuskan untuk menjawab panggilan telepon tersebut sambil membakar surat. Ia mengambil ponsel dari saku celana dan memeriksa layar. Ternyata Dian yang meneleponnya.
"Halo," sapa Ezra, malas. Ia mendekatkan surat ke atas api.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dian. Nadanya langsung tinggi.
Reflek Ezra mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia menunda untuk membakar surat. "Memangnya apa yang akan kulakukan?"
Dian mendengus. "Matikan kompor kamu!"
Ezra kaget, bagaimana Dian bisa tahu kalau ia sedang menyalakan kompor?
"Kamu nggak dengar pertanyaanku?" hardik Dian.
Sambil tetap menempelkan ponsel pada telinga, Ezra mematikan kompor. "Sudah!"
"Sekarang jauhkan surat itu dari kompor!" suruh Dian.
Ezra memperhatikan setiap sudut di sekitar dapur. Ia tidak melihat ada kamera pengawas. "Surat apa?"
"Percuma membohongiku. Aku tahu semuanya!"
Sambil tetap menelepon, Ezra berkeliling ke setiap penjuru rumah, mencari kamera pengawas tapi tidak menemukannya.
"Apa yang kamu cari? CCTV?" Dian terkekeh.
Ezra heran, bagaimana Dian bisa mengetahui apa yang sedang dilakukannya, padahal ia tidak menemukan CCTV di dalam mes.
"Cepat jauhkan dari kompor surat yang tadi kamu baca. Letakkan ke atas lemari dan jangan coba-coba menyentuhnya lagi!" suruh Dian. "Besok bawa surat itu ke kantor!"
"Aku nggak paham maksud kamu!" Ezra masih saja mengelak.
"Kalau surat itu hilang, kamu akan dihukum sekap selama seminggu!" ancam Dian.
Ezra terus berpura-pura tidak paham. "Surat apa?"
Dian mendengus. "Kamu mulai berani macam-macam ya? Oke, mungkin kamu merasa hebat bisa lolos dari pengawas, tapi kamu nggak mungkin bisa lolos dari hukuman!"
Ezra tertawa untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Sekali lagi aku perintahkan kamu untuk menyimpan surat itu ke atas lemari. Aku hitung sampai tiga, jika belum melakukannya kamu akan menyesal." Dian memberi ultimatum.
Ezra bergegas ke depan untuk mengunci pintu.
"Satu!" hitung Dian.
Ezra terus berjalan cepat. Ia sampai di pintu depan.
"Dua!"
Tangan Ezra berhasil meraih anak kunci. Ia tinggal memutarnya searah jaruk jam agar pintu terkunci.
"Tiga! Waktu kamu habis!" ujar Dian.
Ezra mematung. Tidak terjadi sesuatu pada dirinya. Ia pun segera mengunci pintu. Ia membalikkan badan dan berniat kembali ke dapur untuk segera membakar suratnya. Namun ia kaget ketika tahu-tahu ada seorang bercadar hitam sedang berdiri di depannya.
Belum sempat Ezra menyadari apa yang sedang terjadi. Tahu-tahu orang bercadar itu mendengkul selangkangannya.
"Augh!" Ezra terkapar, merasakan sakit yang luar biasa.
Orang bercadar hitam memukul tengkuk Ezra hingga tidak sadarkan diri.