Kata-kata Bijak

1189 Kata
Pagi sampai siang ini Ezra belum mendapatkan orderan. Itu membuatnya senang. Namun ia bukan tipe orang yang suka bermalas-malasan, sehingga lama-kelamaan ia merasa jenuh juga. Daripada bengong di depan mes, Ezra mencoba jalan-jalan. Ia mengemudikan sepeda motornya sambil memasang kewaspadaan, kalau-kalau Jacky dan Alika membuntutinya. Ponsel Ezra berdering. Ia menepi untuk memeriksa aplikasi. Sebuah orderan baru saja masuk. "Tiga porsi Mie Goreng Aceh dan tiga cup Es Teh Lemon." Ezra membaca orderan. Ezra bergegas ke gerai yang dimaksud aplikasi. Di sana ia tidak menunggu lama, makanan yang dipesan siap dikirim. Ezra segera mengantarkan orderan dengan kecepatan sedang. Ia sangat hafal alamat tujuan, sehingga tidak mengalami kesulitan. Tidak sampai lima menit, ia sudah sampai ke lokasi pemesan. Ezra memarkirkan sepeda motor di bawah pohon jambu yang berada di halaman rumah tersebut. Ia menenteng kresek dan menuju pintu. Tok! Tok! Daun pintu terbuka. Seorang perempuan remaja berambut panjang tersenyum. "Ranfood?" "Iya, dengan Mbak Nita?" Ezra menyodorkan kresek kepada perempuan remaja tersebut. Alih-alih menerima pesanan, perempuan remaja tersebut membuka daun pintu lebar-lebar. "Masuk, Mas!" Meskipun bingung, Ezra menurut. Ia masuk ke ruang tamu. "Silakan duduk, tunggu sebentar ya?" Perempuan remaja tersebut masuk ke ruang tengah. Ezra meletakkan kresek ke atas meja. Ia duduk sambil dalam hati bertanya-tanya, kenapa paketnya tidak langsung diterima, padahal sudah dibayar? Pertanyaan Ezra terjawab ketika perempuan remaja tersebut kembali menemuinya, ditemani seorang perempuan yang membuat wajah Ezra pucat, seolah sedang melihat hantu di siang hari. "Kak Alika?" Lemas lutut Ezra. Lidahnya terasa kelu. Ia tidak menyangka akan bertemu Alika di sini. Ia curiga, detektif itu menjebaknya. Sambil mengumbar senyuman penuh arti, Alika berjalan mendekati kursi. Langkahnya terpincang-pincang, terutama pada kaki sebelah kanan. Dengan sedikit susah, ia duduk di kursi. "Kamu kerja ada jam istirahatnya kan?" tanya Alika masih terus mengembangkan senyumnya. "A-ada, Kak." Ezra terbata. "Mulai jam berapa sampai jam berapa?" Alika membuka kresek. Ia mengeluarkan tiga kemasan mika ke atas meja. "Jam dua belas sampai jam satu." Ezra menjadi gelisah. Ia takut akan ditanyai macam-macam. Alika melirik arloji pada pergelangan tangannya. "Berarti dua menit lagi masuk jam istirahat dong?" Ezra mengangguk sambil menelan ludah. Perasaannya semakin tidak enak ketika perempuan remaja di dekat Alika menata setiap mika kemasan Mie Goreng Aceh, salah satunya diletakkan di depannya. "A-aku pamit ya?" Ezra berdiri. Alika menggeleng sambil menatap Ezra tajam. "Duduk!" "T-tapi a-aku...." "Kamu sekarang masuk waktu istirahat!" Suara Alika naik satu oktaf. "Jadi saatnya kita makan siang bersama." Perempuan remaja membagikan es teh lemon. Ia menatap Ezra. "Maaf, tadi aku belum jawab pertanyaan mas. Aku Nita yang order makanan ini." Ezra mengangguk kaku kepada Nita. "Satu porsi itu buatmu, Ez!" beritahu Alika kepada Ezra. Ezra pasrah. "Aku kan kurirnya, Kak!" "Tinggal makan apa susahnya sih?" gerutu Alika, menampakkan mimik kesal. "Kamu pasti belum makan siang bukan?" Ezra tidak mau berdebat lebih lama. Ia tidak pernah bisa menang adu mulut dengan Alika. Mau tidak mau ia harus menurut. Alika membuka kemasan mika. Ezra berdebar-debar menyaksikan itu. Ia takut di dalamnya terdapat paket narkoba. Alika mengendus makanannya. "Mmhh, dari aromanya pasti enak rasanya!" Ezra merasa lega karena Alika tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Pandangannya beralih kepada Nita. Perempuan itu membuka kemasan mika. Nita langsung menyantap makanannya. "Mmhh, iya benar enak ini!" Ezra menarik napas lega. Pada kedua makanan itu tidak diketemukan paket narkoba. Sekarang ia penasaran dengan makanan yang ada di depannya. "Kenapa bengong?" hardik Alika kepada Ezra sambil mengunyah. "Ayo dimakan!" Ezra membuka kemasan mika perlahan. Aroma mie goreng Aceh langsung membuat air liurnya berlimpah ruah. Namun ia harus memeriksa dulu isinya, memastikan tidak ada paket natkoba di dalamnya. Setelah memastikan tidak ada paket narkoba di dalamnya, Ezra merasa lega. Sekarang ia baru tahu bahwa tidak semua makanan diselipkan paket narkoba. Ezra melirik Alika dan Nita. Mereka tampak lahap menikmati makanannya. Sementara ia belum menyentuhnya sama sekali. Tidak mau mendapatkan teguran Alika lagi, akhirnya ia segera memakannya. "Ezra...." panggil Alika. Ezra menoleh dengan hati dag dig dug. "Iya, Kak?" Alika melirik Nita. "Nita adalah klien-ku untuk kasus teror." Ezra mengangguk kepada Alika dan Nita. "Beliau tinggal di dekat Simpanglima. Tempat ini adalah rumah neneknya," beritahu Alika. "Kami sedang membahas untuk kembali melanjutkan penyelidikan kasusnya." Ezra tersenyum, senang karena itu berarti kondisi kesehatan Alika sudah membaik. "Kami menyatakan perang terhadap teroris!" ucap Nita, menimpali ucapan Alika. "Kasus Septi terpaksa saya limpahkan kepada detektif dari kantor lain," beritahu Alika. "Aku perlu menyampaikan ini kepadamu karena menghargai hasil usahamu." Ezra senyum terharu. Alika melotot. "Kamu dari tadi senyam-senyum saja bisanya!" Alih-alih merasa sebal, senyum Ezra semakin lebar. Ia merindukan kegalakan Alika. "Mas Ezra sudah lama bekerja di Eraneo?" tanya Nita. "Baru empat hari," jawab Ezra. "Temen aku juga kerja di sana," beritahu Nita dengan nada parau. Ezra kaget. "Menjadi kurir juga?" "Tadinya menjadi kurir, tapi sekarang katanya menjadi staf administrasi," jawab Nita. Ezra menjadi teringat cerita Dian. Ada seorang kurir yang bandel masih berkomunikasi dengan pacarmya, padahal sudah diperingatkan beberapa kali. Akibatnya kurir itu dipindahtugaskan menjadi staf administrasi. Bukan hanya itu saja, pacar orang itu juga diteror. Pacar orang itu adalah anak orang kaya, kemudian menyewa detektif untuk menyelidiki siapa penerornya. Kebetulan detektifnya adalah Alika. Alika menyelidikinya dan hampir saja menemukan pelaku teror, namun akibatnya Alika ikut mendapatkan teror, sampai mengalami kecelakaan lalu lintas. "Temenku itu bernama Rusli," beritahu Nita. "Mas Ezra kenal?" Ezra menggeleng. "Enggak." Nita menunduk. "Sebenarnya Rusli itu cowokku, tapi sejak dipindah menjadi staf administrasi ia ghosting aku. Aku belum pernah ketemu lagi dengannya. Nomor ponselnya mendadak nggak aktif." Ezra bersimpati. "Kenapa nggak coba cari di kantornya?" Nita tersenyum masam. "Aku nggak tahu kantornya di sebelah mana!" Ezra kaget. "Rusli nggak pernah ngasih tahu di mana kantornya?" Nita menggeleng sedih. "Kamu tahu kantornya kan, Ez?" selidik Alika. Ezra menggeleng bohong. "Enggak mungkin kalau kamu enggak tahu!" Alika mengerjap penuh arti. "Aku kerja berdasarkan aplikasi, Kak!" dalih Ezra. Terpaksa ia harus berbohong. "Semua serba online, mulai dari melamar kerja sampai mendapatkan fasilitas seperti seragam dan ponsel." "Kamu mendapatkan fasilitas sepeda motor lewat online juga?" selidik Alika tidak percaya. "Sepeda motor sudah siap di mes!" dalih Ezra. Alika menatap Ezra. Ia mengendus kebohongan Ezra. "Tatap mataku, Ez!" Ezra menatap Alika sambil menahan napas. Ia merasa bersalah karena menyembunyikan sesuatu. "Aku tahu apa yang sedang kamu lakukan dan apa yang sedang menimpamu, Ezra!" Alika menatap Ezra teduh. "Aku percaya kamu bisa mengatasi masalahmu sendiri. Namun jika membutuhkan bantuanku, kamu tahu kan harus menghubungi aku ke mana?" "Aku baik-baik saja. Kak Alika nggak usah mencemaskanku," ujar Ezra tanpa berani menatap mata Alika. Alika mendengus. "Kamu boleh menyembunyikan sesuatu dariku. Aku nggak akan mendesakmu untuk membukanya. Aku percaya kamu hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk berani terbuka padaku. Jadi, pesanku cuman satu: belajarlah mengendalikan emosi!" Ezra mengangguk. Alika meraih jemari Ezra. "Sekarang habiskan makanmu, setelah itu kamu boleh melanjutkan hidupmu, Adikku!" Sepasang mata Ezra terasa panas. Rasanya ia ingin menangis mendengar kata-kata bijak dari Alika. Alika menyodorkan sebuah amplop kecil kepada Ezra. "Kamu simpanlah di celana dalammu. Setelah kamu baca bakarlah!" Ezra terkekeh geli. "Aku serius, simpan sekarang pada celana dalammu!" Alika melotot. "Aku sama Nita akan berpaling, tenang saja!" Alika dan Nita berpaling dari Ezra. Ezra mengambil amplop kecil itu. Ia menyusupkannya ke dalam celana dalam. Ia yakin di dalamnya berisi sebuah surat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN