Hujan mengguyur kota Semarang sejak menjelang maghrib dan belum ada tanda-tanda akan reda hingga masuk waktu sholat isya. Ezra menikmatinya sambil melamun di teras.
Ezra merapatkan jaket. Hawa dingin menyergapnya. Sepasang kaki ia tarik ke atas kursi. Pandangannya terus tertambat ke arah rumah kosan Gina. Sejak minggu siang rumah itu terkunci rapat. Bahkan pintu gerbangnya masih digembok.
Hujan, sepi, dan perasaan galau, membuat Ezra semakin tenggelam dalam lamunan. Ia berandai-andai, jika ada Gina pasti suasananya akan berbeda. Tiba-tiba ia merindukan keceriaan gadis itu.
Ezra merindukan suasana keceriaan Gina, bukan karena pada kecantikan dan keseksiannya. Ia sama sekali tidak memiliki perasaan lebih kepada gadis itu. Ia hanya tidak betah berada dalam kesunyian.
Sejak bertemu Jacky dan Alika, perasaan Ezra menjadi tidak nyaman. Ia merasa bersalah kepada mereka karena ia tampak sekali menghindar.
Ezra sadar benar, Jacky dan Alika pasti bisa mengendus kebohongannya soal SIM Card. Ia terpaksa tidak berterus terang kepada mereka, apalagi berbohong. Ia hanya khawatir, mereka akan mendapatkan masalah.
Sekarang Ezra khawatir, Alika dan Jacky akan menyelidiki sikap anehnya. Jika itu terjadi maka ia akan berada pada posisi sulit.
Tadi Alika tidak turun dari mobil. Ezra menduga detektif itu kakinya masih belum bisa berjalan normal. Jika dugaannya benar maka kemungkinan Alika tidak akan memaksakan diri untuk menyelidikinya. Itu membuat kecemasannya sedikit berkurang.
Sorot cahaya membuat Ezra terkesiap. Adrenaliinnya terpacu untuk memasang kewaspadaan. Ia menoleh ke sumber cahaya yang ternyata berasal dari lampu mobil.
Ezra menurunkan kaki dari kursi. Ia bersiap untuk masuk ke mes, kalau-kalau ternyata mobil itu milik Jacky.
Sorot lampu padam. Sekarang Ezra bisa memperhatikan dengan jelas badan mobil tersebut. Ia pun merasa lega karena ciri-ciri mobil itu berbeda dengan milik Jacky.
Pintu mobil terbuka, seseorang keluar sambil mengembangkan payung. Ezra tidak bisa mengenali dengan jelas siapa sosok tersebut, apakah laki-laki atau perempuan?
Sosok berpayung itu berjalan mendekati Ezra. Ternyata orang itu adalah Gina. Ezra tersenyum lega.
Gina berhenti di depan teras mes Ezra. "Hai, Ezra!"
Ezra bangkit dari kursi. "Aku kira siapa!"
"Boleh bertamu ke tempatmu?" Gina memasuki teras.
"Gimana aku akan menolak kalau kamu sudah terlanjur masuk?" ujar Ezra sambil terkekeh.
Gina tersenyum. Ia meletakkan payung di pojokan teras. Ia menyeka wajahnya yang sedikit terpercik air hujan.
Ezra menyiapkan kursi untuk Gina. "Duduk, Na!"
"Terima kasih!" Gina duduk di kursi.
Ezra menduduki kembali kursinya. "Dari mana hujan-hujan begini?"
"Dari kosanku yang baru." Gina meletakkan tas ke atas meja.
"Jadi kamu sudah pindah?"
Gina mengangguk. "Iya, tadi siang aku sudah pindahin semua barang-barangku."
"Pindah ke mana?"
"Kaligawe."
"Aku kehilangan tetangga sebaik dirimu dong?" keluh Ezra.
"Kan aku akan sering main ke sini!" timpal Gina.
Ezra mengerjap. Dalam hati ia merasa heran, kenapa Gina rela meluangkan waktu buat main ke sini dalam keadaan hujan deras?
"Nggak mengganggu kamu kan?" Gina mengerjap.
Buru-buru Ezra menggeleng. "Nggak dong, justru aku seneng."
"Bener?"
Ezra mengangguk. "Iyalah!"
Gina menepuk jidatnya pelan. "Astaga, aku beli martabak tapi ketinggalan di atas dasbor mobil."
Ezra terkekeh. "Pasti karena buru-buru ya?"
Gina mengangguk sebal. "Ho-oh, sayang kalau nggak kemakan." Ia berdiri dari duduknya.
"Mau ke mana?" tanya Ezra.
"Ambil martabakanya."
"Biar aku saja yang ngambil." Ezra menawarkan diri.
"Nanti ngerepotin kamu!"
"Enggak kok!" Ezra berdiri. "Aku pinjam payungnya ya?"
Gina mengangguk. "Maaf ya jadi ngerepotin?"
"Santai saja!" Ezra mengambil payung. Ia berjalan menuju mobil.
Pandangan Ezra tiba-tiba terarah ke pos ronda. Ia heran kenapa tiba-tiba ada orang sedang duduk di sana, padahal beberapa menit lalu ia melihat pos ronda itu kosong.
Ezra melambatkan jalannya. Matanya memperhatikan penampilan orang tersebut. Dari ciri-cirinya yang berambut panjang lusuh, ia yakin lelaki itu adalah orang yang sama dengan orang yang ia lihat malam minggu kemarin.
Ezra semakin yakin ketika melihat liontin pada kalung lelaki itu yang berupa huruf R. Lelaki itu melengos ketika Ezra mendekat.
Ezra segera membuka pintu mobil. Dari luar, ia mengambil kresek yang berada di atas dasbor. Ia menutup kembali pintu mobil dan kembali ke mes.
Sambil berjalan, Ezra mengamati wajah lelaki di pos ronda itu. Menurutnya lelaki itu pantas dicurigai. Dalam keadaan hujan deras seperti sekarang ini, kenapa lelaki itu lebih memilih berada di pos ronda sendirian ketimbang berada di rumah?
Meskipun penasaran, ingin memperhatikan wajah lelaki itu secara lebih jelas, tapi Ezra harus cepat kembali ke teras karena Gina pasti menunggunya. Lagipula ia tidak ingin lelaki itu curiga karena dirinya memperhatikannya.
Ezra kembali ke teras. Ia meletakkan kresek berisi martabak ke atas meja. Ia meletakkan payung ke pojokan.
Gina mengambil dus dari dalam kresek. Dibukanya penutup dus. Aroma martabak menggugah selera Ezra.
"Aku ambilin piring ya?" Ezra menawarkan diri.
"Nggak usah," cegah Gina. "Kita bisa langsung menyantapnya dari dus ini!"
Ezra mengedikkan bahu sambil duduk di kursi. "Ya sudah!"
Gina mencomot satu iris martabak. Ia mengendusnya sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam mulut. "Mmhh, enak banget, sumpah. Coba aja!"
Air liur Ezra berlimpah. Ia mengambil satu iris martabak dan menyantapnya. "Bener, enak banget!"
Ezra dan Gina menyantap separuh dari isi dus. Dalam keadaan hujan seperti ini menyantap martabak yang masih hangat membuat suasana menjadi ikut hangat.
"Ada yang kurang!" ujar Ezra.
"Martabaknya kurang banyak?" tebak Gina.
"Bukan itu maksudku," sanggah Ezra. "Makan martabak enak tanpa air minum ibarat komplek kos-kosan tanpa kamu. Hehehe!"
Gina tertawa sampai nyaris tersedak. "Uhhuk!"
Ezra panik. Ia berdiri. "Aku ambil minum dulu!" Ia tergopoh menuju ke dalam.
Ezra ke dapur, mengambil dua gelas dan satu botol air mineral kemasan besar kemudian kembali ke teras. Ia meletakkan dua gelas ke atas meja dan mengisinya dengan air.
Gina mengambil gelas lalu meneguknya separuh. Wajahnya menampakkan kelegaan setelah minum.
"Maaf, aku telat nyediain air minum," ucap Ezra merasa bersalah. "Harusnya tadi aku ambil minum dulu sebelum kita menyantap martabak."
"Nggak papa," timpal Gina. "Ayo habisin!"
Ezra meraba perutnya. "Sudah nggak muat."
"Halah!" Gina mencibir.
"Beneran kenyang. Tadi sebelum kamu datang aku sudah makan banyak."
JGERR! Kilatan petir menggelegar. Reflek Gina menutup telinga.
"Kamu nggak takut sama petir ya?" tanya Ezra.
"Takutlah!" Gina terkekeh. "Betewe, di kantor kamu ada lowongan kerja nggak?"
"Setahuku sih belum ada lagi," jawab Ezra. "Siapa yang mau mencari kerjaan?"
"Sepupuku, baru lulus SMA."
"Coba kamu cari infonya di resepsionis," saran Ezra.
"Oh iya, ya?" Gina terkekeh sendiri. "Tapi sepupuku itu sukanya di lapangan."
"Main sepakbola?"
"Main kelereng!"
Ezra dan Gina tertawa bersama.
"Kalau di perusahaan kamu kan ada pekerjaan jadi kurir makanan. Kayaknya itu cocok buat sepupuku," ujar Gina.
Ezra tersenyum dipaksakan. Seandainya Eraneo masih membuka lowongan pekerjaan, ia tidak akan memberitahu Gina. Ia tidak mau sepupu gadis itu mengalami nasib seperti dirinya.
"Kantor kamu kok sering sepi ya?" ujar Gina. "Yang biasa aku lihat cuman manager kamu yang cantik itu."
Ezra tersenyum saja sebagai respon atas ujaran Gina. Menurutnya wajar kalau gadis itu berkomentar begitu karena Eraneo memang terlihat aneh, memiliki kantor tapi hanya manager saja yang berada di sana.
"Apa mereka bekerja via online?" tanya Gina.
"Mmhh, Eraneo memang perusahaan jasa pengantaran makanan berbasis aplikasi, jadi mungkin kebanyakan pekerjaan dilakukan secara online," jelas Ezra mengarang.
"Oh begitu ya?" Gina tampak berpikir. "Kalau boleh nanya lagi, kalian bekerja secara shift atau bagaimana?"
"Setahuku sih enggak," jawab Ezra.
"Terus kalau ada yang mau order di atas jam empat sore gimana tuh?"
Ezra terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Pada aplikasi jasa pemesanan makanan selain Ranfood, biasanya masih menerima order sampai malam," ujar Gina.
Ezra membenarkan ucapan Gina. Ia juga merasa heran, kenapa Eraneo memberlakukan jam kerja. Sepemahamannya, kebanyakan aplikasi pemesanan makanan tidak memberlakukan jam kerja. Kurir dibebaskan untuk mengaktifkan aplikasi kapan saja. Ezra tidak yakin kalau Eraneo tidak berpikir sejauh itu.
"Sepeda motor kamu disediakan perusahaan?" tanya Gina lagi.
"Iya."
"Wow keren!" Gina berdecak. "Eraneo memang beda dengan perusahaan sejenisnya."
Ezra tersenyum dipaksakan.
"Dengan menggunakan sistem jam kerja, berarti kalian mendapatkan gaji dong?"
Ezra mengangguk.
"Bener-bener beda!" Gina mengeleng-gelengkan kepala.
"Ya begitulah!" Ezra mulai merasa tidak nyaman dengan topik ini.
"Maaf ya kalau aku kepo?" ucap Gina.
"Nggak papa, kamu kan harus tahu profil perusahannya dulu sebelum merekomendasikan sepepumu untuk bekerja di sana." Ezra berujar.
"Tapi aku beneran penasaran sama perusahaanmu itu!" Gina memasang wajah serius.
"Penasaran kenapa?"
"Selain berbeda dengan perusahaan sejenisnya, Eraneo sepertinya tertutup banget!"
"Oh iya?"
Gina mengangguk mantap. "Apa itu hanya perasaanku saja ya?"
"Bisa jadi!" sahut Ezra. "Memangnya apa yang membuatmu merasakan seperti itu?"
"Mereka nggak bergaul sama sekali!" jawab Gina. "Kecuali kamu tentunya!"
"Memangnya kamu sering bertemu dengan karyawan Eraneo?"
"Ya iyalah, kantorku kan sebelahan dengan kantor kamu," jawab Gina. "Mereka nggak pernah terlihat ngobrol dengan sesama temannya, apalagi kepada orang lain."
"Aku ngobrol sama kamu kan?" Ezra terkekeh.
"Belum tentu kamu mau ngajak aku ngobrol duluan kan?" sergah Gina.
Ezra terkekeh untuk menyembunyikan salah tingkahnya. Ia mengakui dugaan Gina benar. Jika bukan karena gadis itu yang memulai berkenalan duluan, mungkin ia tidak akan mengenal gadis itu.
"Nomor ponsel saja kamu nggak mau ngasih tahu. Hehehe!" keluh Gina sambil terkekeh.
Ezra tertawa. "Aku lupa mau minta izin sama managerku."
"Tuh kan, mau ngasih nomor telepon ke orang lain saja harus izin sama manager!"
"Karena memang nomor itu dikasih perusahaan," dalih Ezra.
Gina mendengus pelan. "Jadi aku harus menunggu izin dulu dari manager kamu nih?"
Ezra mengangguk.
"Apa aku sendiri yang akan minta izin sama manager kamu yang cantik itu?" Gina mengerjap.
"Jangan!" Buru-buru Ezra mencegah.
"Nggak papa, manager kamu kelihatannya baik kan?"
Ezra menelan ludah. Jika Gina benar-benar akan melakukan itu, maka akan gawat. Ia tidak mau Gina celaka karenanya.
"Kamu takut dimarahi manager kamu itu?" tanya Gina.
Ezra mendesah cemas. "Pokoknya jangan. Biar aku saja yang minta izin."
Gina mengedikkan bahu. "Memang benar, perusahaan kamu itu aneh dan tertutup."
Ezra meringis.
Gina melirik arloji. "Aku pulang dulu ya?"
Ezra mengangguk, merasa lega. "Iya."
"Kamu nggak mau main ke kosanku yang baru?"
"Kapan-kapan saja!"
"Besok sore saja. Nanti aku jemput!" Gina mengerjap.
Ezra mengacak rambutnya, bingung harus bersikap apa.
"Sudah kuduga!" keluh Gina. "Kamu pasti nggak bakalan mau."
Ezra cengar-cengir.
"Ya sudah nggak papa. Aku juga nggak mau memaksa. Hehehe." Gina mengambil tas, lalu berdiri. "Jangan lupa martabaknya dihabisin!"
"Iya." Ezra mengambilkan payung. Ia menyerahkannya kepada Gina.
"Terima kasih ya, Ez?" ucap Gina
"Aku yang berterima kasih sudah dikasih martabak." Ezra tersenyum.
"See you, Ez!" Gina melambai kepada Ezra menggunakan tangan kiri. Tangan kanannya memegang erat payung.
Ezra balas melambai.
Gina menerobos hujan yang masih cukup deras. Ezra terus memperhatikan gadis itu sampai mobilnya tidak tampak lagi.
Beberapa saat setelah mobil Gina pergi, Ezra melihat orang yang sejak tadi duduk di pos ronda ikutan pergi.