Pukul 15:38 wib. Ezra baru saja selesai mengantarkan orderan keempat di hari ini. Ia melaju lambat di jalan raya sambil memikirkan cerita Dian kemarin.
Setelah dipikir-pikir, ia merasa harus mengikuti saran Dian agar tidak melakukan sesuatu yang dianggap menentang Eraneo. Ia tidak mau Eraneo menjadikannya sebagai bagian mereka. Menjadi kurir narkoba saja sudah membuatnya dalam posisi sangat sulit, apalagi terlibat langsung sebagai bagian sindikat mafia.
Ezra akan bersikap layaknya anak manis penurut. Dengan begitu ia tidak akan terlalu mencolok perhatian Eraneo.
Tin! Tin!
Ezra kaget, mendengar bunyi klakson yang cukup memekakkan telinganya. Ia sadar, posisi sepeda motornya terlalu ke tengah, padahal jalannya lambat. Ia berpikir pasti mobil di belakangnya merasa terhalang. Maka ia pun mengarahkan setang stir ke pinggir.
Tin! Tin!
Ezra menjadi kesal kepada pengemudi mobil di belakangnya karena masih saja membunyikan klakson padahal sepeda motornya sudah berada di pinggir.
Mobil di belakang Ezra kembali membunyikan klakson. Ezra melirik spion. Seketika pucat wajahnya ketika sadar mobil itu adalah milik Jacky.
Reflek Ezra menambah kecepatan sepeda motornya dan pura-pura tidak tahu kalau di belakangnya ada mobil Jacky.
Mobil Jacky ikut menambah kecepatan. Ezra tidak mau bertemu dengan mantan bosnya itu karena urusannya bisa gawat. Bukan hanya dirinya saja yang akan kena masalah tapi juga Jacky.
Ezra tidak mau Eraneo mencelakakan Jacky karena dirinya. Sehingga terpaksa ia harus menghindar. Dengan perasaan merasa bersalah ia mempercepat sepeda motornya. Sayangnya situasi lalu lintas sedang lancar. Itu memudahkan Jacky untuk melaju kencang dan mengejarnya.
Sebuah ide mendarat di benak Ezra. Jika terus berada di jalan ini, Jacky akan dengan mudah menyusulnya. Maka ia segera memasuki sebuah gang permukiman. Ia berharap Jacky akan kehilangan jejak, paling tidak mantan bosnya itu tidak bisa melaju kencang di gang sempit.
Ezra memasuki gang. Kebetulan di mulut gang tersebut ada papan peringatan bahwa mobil dilarang masuk kecuali milik warga setempat. Sambil terus melajukan sepeda motornya, sesekali ia melirik spion.
Ezra merasa lega setelah masuk jauh ke dalam gang. Dari spion ia tahu Jacky tidak mengikutinya. Maka ia pun melambatkan laju sepeda motornya.
Di depan sebuah warung makan, Ezra berhenti. Ia memarkirkan sepeda motornya, kemudian memasuki warung tersebut.
"Bu tolong bikinin es teh satu!" pinta Ezra kepada seorang ibu-ibu muda, pemilik warung.
"Di bungkus apa diminum di sini?" tanya pemilik warung.
"Bungkus saja, Bu, tapi jangan diikat karet. Tolong kasih sedotan ya?" jawab Ezra. "Saya bayar sekalian. Berapa, Bu?"
"Tiga ribu, Mas."
Ezra memberikan uang pas kepada pemilik warung. Ia duduk sambil matanya mengawasi sekitar, kalau-kalau Jacky lewat gang ini.
Tidak butuh waktu lama, es teh pesanan Ezra telah siap.
"Ini, Mas!" Pemilik warung menyerahkan es teh kepada Ezra.
"Terima kasih, Bu!" ucap Ezra sambil keluar dari warung.
"Sama-sama!"
Ezra duduk di atas jok sepeda motor. Ia sebenarnya tidak haus. Ia memesan es teh sekadar cara untuk membuang waktu sampai jam kerjanya habis.
Belum sampai es tehnya habis, jam kerja Ezra sudah habis. Ia membuang bungkus es ke dalam tempat sampah. Dinyalakannya mesin motor, lalu beranjak dari tempat itu.
Ezra menyusuri permukiman kemudian menuju jalan raya untuk pulang ke kosan. Ia merasa lega karena terhindar dari bertemu dengan Jacky. Sungguhpun begitu, ia merasa bersalah kepada mantan bosnya itu.
Perasaan lega Ezra tidak berlangsung lama ketika berada di jalan raya, tahu-tahu mobil Jacky tertangkap spion sedang berada di belakangnya persis. Reflek ia menambah kecepatan, tapi terlambat karena mobil Jacky menyalip dan memepetnya. Ezra tidak bisa berkutik.
Jendela kaca depan kiri terbuka. Ezra menoleh. Wajahnya seketika pucat ketika mendapati Alika berada di mobil itu.
"Hai, Ez, apa kabar?"
"Eh, Kak Alika!" ujar Ezra, salah tingkah.
"Mau ke mana, buru-buru amat?" Alika mengerjap.
Ezra cengar-cengir. "Anu, Kak, aku lagi nyari rumah temen!"
Pandangan Alika menyisir sepeda motor Ezra. "Motor kamu baru ya?"
Ezra semakin salah tingkah. "Ini punya perusahaan, Kak."
Alika membaca stiker pada boks yang berada di bagian belakang motor Ezra. "Ranfood ya?"
"Iya, Kak." Ezra berkeringat.
Jacky turun dari mobil dan menghampiri Ezra. Ia mengajak Ezra bersalaman. "Kamu ke mana saja?"
"Nggak ke mana-mana, Pak." Keringat Ezra semakin banyak. Ia mengelapnya mengunakan lengan baju seragamnya.
"Saya dan Alika ke rumahmu tapi kata orang tuamu kamu sudah kerja dan tinggal di mes." Jacky memperhatikan penampilan Ezra. "Kenapa nomor telepon kamu susah dihubungi?"
"Mmhh, anu, Pak. SIM Card-nya hilang." Ezra menjawab asal-asalan.
"Tapi ponsel kamu masih ada di rumah!" sergah Jacky. "Bapakmu memberitahukannya kepada saya."
Ezra gelisah. Ia celingak-celinguk, takut ada intel Eraneo di dekatnya.
"Kalau ponsel kamu ditinggal di rumah, terus kamu kerja pakai apa?" selidik Jacky. "Bukankah kamu bekerja menggunakan aplikasi?"
"Iya, Pak, saya mendapatkan fasilitas ponsel dari perusahaan." Ezra semakin gelisah. Ia berusaha mencari cara agar bisa lepas dari situasi ini.
"Terus nomor kamu ke mana?" cecar Jacky.
"Hilang."
"Hilang apa nggak diaktifkan?" tanya Alika dari dalam mobil. "Aku sempat meneleponmu dan waktu itu menyambung tapi kamu menolaknya."
"Kepencet, Kak!" Ezra semakin kewalahan.
"Kepencet tapi setelah itu nggak aktif lagi!" gerutu Alika. "Kamu nggak mau kenal aku lagi?"
"Bukan begitu, Kak." Ezra terpojok.
"Nyatanya tadi kamu berusaha menghindar kan?" Alika mengerjap curiga. Ia memberikan selembar tisu kepada Ezra. "Wajahmu berkeringat!"
Ezra menerima tisu dari Alika dan mengelap wajahnya.
Jacky menepuk bahu Ezra. "Kami semua mengkhawatirkanmu, Ez."
"Saya baik-baik saja kok, Pak." Ezra meremas tisu bekas mengelap wajahnya. Ia melemparkannya ke dalam tempat sampah yang berada tidak jauh darinya.
"Boleh kami meminta nomor ponsel kamu yang baru?" Jacky mengerjap.
"Mmhh, nanti saya kirimkan nomornya ke bapak," ujar Ezra berbohong.
"Kenapa nggak sekarang saja?" gugat Jacky curiga dengan sikap aneh Ezra.
"Saya sedang buru-buru, Pak!" Ezra pura-pura melirik arloji.
Jacky meletakkan kedua telapak tangan ke sepasang bahu Ezra. "Kalau kamu dalam kesulitan, kamu jangan ragu menghubungi saya atau Alika ya?"
Ezra mengangguk.
"Mes kamu di mana?" tanya Alika.
Ini pertanyaan paling susah untuk dijawab Ezra.
"Aku ini detektif, Ez, jadi kalau kamu mencoba berbohong, aku bisa mendeteksinya!" ujar Alika. "Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Aku kehilangan keceriaan dari wajah kamu."
Ezra menelan ludah. Ia semakin terpojok.
Sebuah sepeda motor menghampiri mereka. Seorang lelaki berseragam polisi mendekati Ezra dan Jacky.
"Selamat sore!" sapa lelaki berseragam polisi.
Jacky menoleh. "Sore, Pak."
"Ada masalah?" tanya lelaki berseragam polisi. "Kenapa kalian berhenti di pinggir jalan? Ini jalur cepat, jadi harap tidak berhenti di sini!"
"Baik, Pak, kami cuman ada urusan sebentar. Nanti kami jalan lagi!" ujar Jacky.
"Silakan kalau kalian ada urusan, tapi cari tempat yang tidak mengganggu pengguna jalan lain."
"Kita lanjut jalan aja, Pak!" pinta Alika kepada Jacky.
Jacky mengangguk. Ia menoleh kepada lelaki berseragam polisi. "Urusan kami sudah selesai kok." Ia berlalu dari hadapan Ezra lalu kembali masuk ke mobil.
Ezra menarik napas lega.
"Ez, kapan-kapan aku mau main ke tempatmu, boleh kan?" tanya Alika.
Ezra tersenyum bimbang.
Kaca jendela di dekat Alika tertutup. Mobil Jacky berjalan, meninggalkan Ezra.
Setelah mobil Jacky pergi. Lelaki berseragam polisi menatap tajam kepada Ezra. "Kamu juga jalan!"
"Baik, Pak!" Ezra kembali ke sepeda motornya. Ia merasa yakin kalau lelaki itu polisi gadungan yang dikirim Eraneo untuk membantunya agar lepas dari Jacky dan Alika.