Dian mengajak Ezra duduk di sofa. Manager itu menyuguhkan softdrink ke atas meja.
"Kamu pernah melihat para pimpinan Eraneo?" tanya Dian.
Ezra diam, malas menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Semua kurir di sini, termasuk kamu, hanya mengenal manager saja," ujar Dian. "Kebetulan sekarang managernya adalah aku."
Ezra bertepuk tangan. Ia menatap Dian sinis. "Manager yang hebat!"
Dian balas menatap Ezra, sebal. "Kalau sikap kamu masih seperti ini, aku akan mempromosikanmu untuk menggantikanku sebagai manager!"
Ezra mengernyit. "Keren, baru kerja dua hari, aku langsung mau dipromosikan menjadi manager."
"Kalau kamu minat, aku akan merekomendasikan kamu sekarang biar dipromosikan!"
"Itu ancaman atau sebuah penghargaan?" tanya Ezra dengan nada menyindir.
"Tergantung cara kamu menilainya!" timpal Dian. "Kalau kamu membutuhkan uang banyak dan siap dengan segala konsekuensinya, jabatan itu akan kamu anggap sebagai penghargaan."
"Boleh aku tanya?" Ezra mengerjap.
"Tanya apa?"
"Ketika kamu dipromosikan menjadi manager, bagaimana perasaanmu saat itu?"
Dian melengos. "Aku dijadikan manager sebagai hukuman."
"Memangnya apa salah kamu?" Ezra penasaran.
Alih-alih menjawab, Dian meneguk softdrink sedikit demi sedikit.
Sambil menunggu, Ezra ikutan meminum softdrink.
Dian meletakkan kaleng softdrink ke atas meja. "Aku melamar kerja pada Eraneo karena pacarku."
"Pacar kamu kerja di sini juga?" tanya Ezra.
"Kalau yang kamu maksud bekerja adalah menjadi kurir sepertimu, enggak!" jawab Dian. "Pacarku memberi informasi kalau ada lowongan kerja di PT. Eraneo. Akhirnya aku melamar dan dua hari kemudian langsung disuruh interview. Aku mendatangi kantor Eraneo yang waktu itu belum pindah ke sini."
Ezra kaget. "Jadi dulu kantornya bukan di sini?"
"Bukan, kantornya dulu di Kaligawe," jawab Dian. "Saat itu pelamarnya banyak sekali. Aku harus mengantre sejak pagi. Siangnya baru mendapatkan giliran interview."
Dian kembali meneguk softdrink. Ia mulai tertarik dengan cerita Dian.
"Di antara enam puluhan pelamar yang diinterview, hanya sebelas saja yang diterima, salah satunya aku," kenang Dian. "Aku senang sekali karena diberitahu akan mendapatkan gaji yang sangat besar."
Ezra menatap Dian, nyaris tanpa berkedip. "Terus?"
"Setelah bekerja selama sebulan, aku mendapatkan gaji. Nominalnya memang benar segitu. Tentu saja aku semakin bersemangat." Dian tersenyum getir. "Namun masuk bulan kedua aku dipanggil manager. Saat itu aku diberitahu kalau di dalam kemasan makanan yang selalu kuantarkan berisi paket narkoba. Aku juga diancam akan dihabisi jika melarikan diri atau melapor polisi. Keruan saja aku sangat shock dan sempat mencoba untuk melakukan bunuh diri."
Ezra terdiam. Ia bisa menangkap kilatan kegeraman pada sorot mata Dian. Ia bisa merasakan ada beban berat dari setiap tarikan napas gadis itu.
"Sejak saat itu aku mulai dilarang berhubungan dengan dunia luar." Dian melanjutkan cerita. "Aku nggak bisa menelepon orang tuaku, pacarku, dan semua orang yang kusayang."
"Memangnya sebelumnya diperbolehkan?"
Dian mengangguk. "Sebelumnya aku masih bebas berkomunikasi dengan pacarku, bahkan beberapa kali ketemuan dengannya. Gobloknya, aku nggak pernah menghubungi keluarga dan teman-temanku. Saat itu aku dibutakan cinta. Waktu luangku hanya aku habiskan bersama pacarku saja."
Ezra tertegun. Baru kali ini ia melihat mata Dian berkaca-kaca. Ia menyodorkan boks tisu kepada gadis itu.
Dian menarik satu helai tisu. Ia menyeka air matanya yang belum sempat jatuh. "Setelah sadar kalau aku sudah enggak bisa berkomunikasi dengan dunia luar, aku baru menyesal kenapa sebelumnya enggak pernah menelepon orang tuaku."
Ezra menepuk lengan Dian, sebagai bentuk simpati. Sekarang ia baru tahu kalau Dian juga sebenarnya korban seperti dirinya.
"Aku stres dan mogok kerja selama hampir seminggu. Itu membuat managerku marah. Aku disekap di sebuah ruangan yang sangat pengap. Entah berapa hari aku berada di sana. Tahu-tahu, managerku mengeluarkanku dan memintaku untuk kembali bekerja."
"Terus kamu kembali bekerja?"
Dian menatap Ezra dengan sorot pasrah. "Aku terpaksa bekerja kembali daripada disekap di ruangan pengap. Aku berusaha menerima keadaan sambil mencari cara untuk keluar dari situasi buruk ini."
Ezra mengangguk.
"Aku bekerja seperti biasa dan setiap bulan menerima gaji besar. Namun aku selalu berupaya melarikan diri."
"Apa saja yang kamu lakukan untuk melarikan diri?" Ezra penasaran.
"Banyak!" jawab Dian. "Diam-diam aku menemui pacarku dan menceritakan semuanya padanya."
"Nekat banget!" komentar Ezra. "Saat itu kamu tahu kan resikonya?"
Air mata Dian menetes. "Aku sangat tertekan sehingga nggak bisa berpikir jernih."
"Terus Eraneo tahu nggak apa yang kamu lakukan?"
Air mata Dian semakin deras mengalir. Ia menangis tanpa suara. "Ternyata pacarku adalah salah satu pimpinan Eraneo. Ia mengakuinya setelah aku menceritakan semuanya padanya."
"Astaga!" Ezra terperangah.
"Saat itu aku ingin mati." Dian menyeka air matanya. "Namun kejadian itu aku jadikan momen untuk bangkit. Aku harus bisa keluar dari situasi buruk. Aku membuat perjanjian dengan manager Eraneo."
"Perjanjian?"
Dian mengangguk. "Isi perjanjian itu adalah, aku minta kepada Eraneo agar mengizinkanku bekerja sama dengan pihak bank tempat aku membuka rekening tabungan di sana."
"Kerja sama?"
"Iya, aku bekerja sama dengan bank agar jika aku mati, maka uang tabunganku akan dikirimkan kepada orang tuaku."
"Eraneo mengizinkan?"
Dian mengangguk. "Iya tapi mereka meminta syarat agar aku tetap tidak berhubungan dengan dunia luar termasuk orang tuaku."
"Sepertinya kamu merencanakan sesuatu?" tebak Ezra.
Dian menunduk. "Saat itu aku selalu berpikir lebih baik mati ketimbang terperangkap di sini. Aku nggak mau lagi bunuh diri tapi aku mempersiapkan diri jika suatu saat dihabisi Eraneo, setidaknya aku bisa memberikan sesuatu kepada orang tuaku."
Ezra terdiam. Ia mulai menaruh respek kepada Dian.
"Motivasiku bekerja adalah menabung sebanyak-banyaknya. Aku sudah enggak peduli lagi barang apa yang aku kirimkan. Aku hanya ingin punya uang banyak." Dian tersenyum sambil meneteskan air mata. "Namun aku terus mencari cara bagaimana keluar dari Eraeno. Sampai suatu hari aku nekat membiarkan diriku tertangkap polisi. Aku sadar cara itu nggak akan berhasil dan kemungkinan besar aku akan dihabisi Eraneo."
"Apa yang kamu lakukan agar tertangkap polisi?" Ezra penasaran.
Dian menoleh. "Aku hanya disuruh menceritakan ini kepadamu tanpa menjelaskannya secara detail, jadi aku nggak bisa menjawab pertanyaanmu itu."
"Oke!" Ezra paham posisi Dian. "Lalu kamu tertangkap polisi?"
Dian tertawa sumbang. "Aku dibawa ke kantor polisi, tapi sebelum diinterogasi penyidik, aku lebih dulu dijemput managerku."
"Lalu?"
Dian menelan ludah. "Aku mengira diriku akan dihabisi, ternyata enggak!"
"Apa yang mereka lakukan?"
Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Mereka malah menjadikanku manager."
Ezra mengatupkan bibir.
"Kamu tahu apa resikonya menjadi manager?" tanya Dian.
Ezra terdiam.
Dian mendengus. "Semua karyawan hanya tahu pimpinan mereka adalah manager. Kamu dan lainnya nggak akan pernah tahu siapa saja atasanku dan kalian."
Ezra mengangguk paham.
"Semua permasalahan harus berakhir pada manager," beritahu Dian. "Kalau ada yang tertangkap polisi, manager yang mengambilnya. Intinya kalau Eraneo harus mempertanggungjawabkan sesuatu, managerlah yang menanggungnya. Sampai di sini kamu paham seberapa beratnya menjadi manager?"
"Iya," jawab Ezra. "Tapi bagaimana cara kamu berhubungan dengan pimpinan di atasmu?"
"Kamu nggak perlu tahu dan jangan pernah mencoba untuk mencari tahu!" sergah Dian.
"Tapi kamu mengenal pimpinan di atas kamu kan?" pancing Ezra.
Dian menggeleng. "Mendengar suaranya pun enggak pernah. Kami berkomunkkasi via aplikasi."
"Sangat rapi!" puji Ezra sekaligus geram.
"Seandainya kamu akan dipromosikam menjadi manager, maka akulah yang mengangkatmu untuk menggantikanku. Jadi kamu hanya mengenalku saja. Setelah itu aku akan dipindahkan ke tempat yang nggak akan pernah kamu ketahui tempatnya," jelas Dian. "Apa kamu mau menjadi manager?"
Ezra menggeleng kuat-kuat.
Dian menatap Ezra tajam. "Kalau begitu jangan berulah karena Eraneo sedang mempersiapkanmu menjadi bagian mereka!"
Ezra kaget. "Astaga! Kenapa harus aku?"
"Aku nggak tahu alasannya. Yang pasti mereka memiliki alasan kuat."
"Apa karena mereka tahu kalau aku sedang mencari jejak Septi?" duga Ezra.
"Bisa jadi!"
"Aku nggak mau menjadi bagian mereka!" Ezra mengucapkannya pelan tapi penuh penekanan.
"Kalau mereka menginginkannya, kamu bisa apa?" Dian terkekeh sinis.
"Aku akan memberontak!" Ezra mengepal.
Dian menggeleng. "Kamu sudah tahu resikonya kan?"
"Bodo amat dengan resikonya!" Ezra emosi.
Dian mendengus. "Semakin sering kamu bersikap atau melakukan sesuatu yang dianggap menentang Eraneo, semakin kuat Eraneo menginginkanmu menjadi bagian mereka. Mereka membutuhkan orang-orang pemberani sepertimu. Jadi saranku janganlah melakukan kesalahan seperti yang sering kulakukan, yaitu menentang mereka."
Ezra bungkam. Dalam keadaan emosi, ia sulit menerima saran dari Dian.
"Kamu menghadapi sesuatu yang nggak bisa kamu lihat. Mereka bisa tahu semua yang kamu lakukan tapi kamu nggak tahu siapa mereka." Dian mendesah panjang. "Mereka memiliki sistem dan jaringan yang kuat."
Ezra memejamkan mata kuat-kuat. Ia tidak habis pikir, Eraneo bisa sekuat dan sejahat itu tapi selalu aman dari masalah hukum.