Satu dari Empat Orang

1233 Kata
Dian menatap Ezra dengan mimik sebal. "Kalau aku sampai menelepon kamu itu berarti ada sesuatu hal yang mendesak. Bisa-bisanya kamu meladeni perempuan genit itu dan membuat manager kamu menunggu!" Jika Dian adalah seorang manager dari perusahaan legal, pasti Ezra akan meminta maaf telah membuat kesal atasannya itu. Sejak awal ia telah kehilangan respek kepada Dian dan ia merasa tidak layak memberikan rasa hormat kepada managernya itu. "Ada apa kamu memanggilku?" Ezra tidak mau basa-basi. "Aku sudah pernah menegurmu, kalau kamu tidak bisa menghargaiku sebagai manager, paling tidak kamu sadar, sikap burukmu itu bisa merugikanmu sendiri," tegur Dian. "Setiap kata yang kamu ucapkan. Semua sikap yang kamu lakukan di dalam ruangan ini terpantau. Kita selalu diawasi. Jadi, aku minta kamu bersikap baik itu bukan karena aku minta dihormati, tapi agar kamu enggak mendapatkan masalah!" Ezra mendesah, malas mendengarkan ocehan Dian. "Gimana tugasmu hari ini?" tanya Dian. "Baik, semua terkirim tepat waktu." "Bagus, pertahankan!" Ezra mengernyit. Ia merasa geli, buat apa mempertahankan kinerja baik jika itu melanggar hukum? "Kamu sadar nggak kalau tadi ada yang mengikutimu?" tanya Dian. Ezra mengangguk. "Iya, pada orderan pertama seperti ada yang membuntutiku. Siapa orang itu?" "Kamu nggak perlu tahu dan jangan coba untuk mencari tahu!" Dian memperingatkan. "Kamu lakukan saja tugasmu dengan baik." "Tapi itu membuatku nggak tenang," ujar Ezra terus terang. "Nanti juga kamu akan terbiasa," ujar Dian. "Yang pasti, kalau ada orang yang membuntutimu, kalau bukan intel Eraneo berarti polisi." Mendengar kata polisi membuat Ezra merinding. "Tapi tenang saja, kamu akan tetap aman. Eraneo sudah mengantisipasi segala kemungkinan. Hal paling buruk yang kemungkinan akan kamu hadapi adalah tertangkap polisi, tapi saya pastikan kamu nggak akan sampai menginap di sel tahanan." Ezra menatap Dian lekat-lekat. "Itu sebuah jaminan?" "Pasti!" jawab Dian mantap. "Kamu hanya perlu melakukan tugasmu dengan baik." Ezra sedikit merasa tenang. Paling tidak ia mendapatkan jaminan akan aman dari polisi. Dengan begitu, ia bisa fokus memikirkan cara untuk menemukan jejak Septi dan keluar dari Eraneo. Ia optimis bisa melakukannya. Ezra akan mengikuti alur yang diciptakan Eraneo. Selama itu ia akan mempelajari situasinya. Ia akan mencari celah bagaimana keluar dari Eraneo dengan aman, bahkan kalau bisa membongkar sepak terjang mereka. "Ada satu nasehat dariku yang harus kamu ingat baik-baik." Dian memajukan wajahnya. "Jangan pernah mencoba agar tertangkap polisi!" Ezra mengerjap. Ia pernah berpikir seperti itu. "Jadi itu yang kamu sebut mendesak? Kamu memintaku segera menemuimu hanya untuk mendengarkan nasehat yang lucu?' Dian menatap Ezra dengan sedikit membelalakan mata. "Kenapa kamu sebut lucu?" "Memangnya ada yang mau ditangkap polisi?" Ezra tertawa meledek. "Ada beberapa orang yang pernah mencobanya!" Dian memberi penekanan pada kata 'pernah'. "Semuanya nggak ada yang berhasil!" Ezra terdiam. Ia mempercayai ucapan Dian. Namun ia merasa penasaran. "Kenapa nggak berhasil?" "Bagus kamu menanyakannya!' timpal Dian. "Ada empat orang yang pernah mencoba membiarkan dirinya tertangkap polisi. Dua di antaranya hanya beberapa jam saja berada di kantor polisi karena Eraneo mengambilnya. Satu orang diproses hingga persidangan. Hakim menjatuhkan vonis sepuluh tahun penjara karena terbukti memiliki narkoba dalam jumlah besar. Beruntung ia nggak divonis mati." Ezra ngeri sekaligus heran. "Dalam jumlah besar?" Dian tersenyum sinis. "Eraneo memberinya pelajaran agar menjadi shock terapi buat yang lainnya. Saat ia tertangkap, polisi hanya menemukan dua paket sabu-sabu berukuran beberapa gram saja, tapi Eraneo membuat rekayasa seolah-seolah ia menyimpan narkoba dalam jumlah lebih banyak lagi di rumah kosannya." "Jahat!" maki Ezra geram. Dian mengedikkan bahu. "Maka itu jangan macam-macam!" Ezra melengos. "Kamu pasti merasa ngeri bukan?" Dian tersenyum sinis. "Sampai kamu nggak sadar aku baru menceritakan tiga orang dari empat orang yang pernah mencoba membiarkan dirinya tertangkap polisi." Ezra menatap Dian penasaran. "Satu lagi nasibnya bagaimana?" Dian menarik napas dalam-dalam. "Satu orang lagi hilang tanpa diketahui di mana keberadaannya." Ezra terdiam, semakin merasa ngeri. "Kamu tahu siapa orang itu?" Dian mengerjap. "Ia adalah Septi Nofiasari. Orang yang telah membuatmu terperangkap di sini. Ia adalah alasan kamu masuk Eraneo bukan?" Ezra terperanjat. "Septi sengaja membiarkan dirinya tertangkap polisi. Ia menabrakkan sepeda motornya ke tiang traffict light. Makanan yang dibawanya berantakan dan polisi menemukan tiga paket narkoba," cerita Dian. "Di kantor polisi, ia mengirim pesan kepada temannya yang bernama Nadia menggunakan ponsel lain yang entah dari mana ia mendapatkannya. Ia pikir, setelah itu ia akan terhindar dari Eraneo. Sayangnya sebelum polisi menginterogasinya, seorang yang mengaku sebagai manager Eraneo membebaskannya. Sejak itu ia dinyatakan hilang." Ezra merasakan kejanggalan atas cerita Dian. "Pak Maman, bapaknya Septi pernah melapor polisi karena anaknya tidak pulang-pulang. Hingga sekarang kasusnya belum jelas. Septi belum diketemukan jejaknya. Menurutku itu aneh!" Dian mengernyit. "Anehnya di mana?" "Septi kan pernah masuk kantor polisi karena kecelakaan itu dan kedapatan membawa narkoba. Kenapa polisi menyatakan belum menemukan jejaknya?" Dian tersenyum sinis. "Septi belum sempat diinterogasi!" Ezra tidak mau kalah. "Tapi paling tidak polisi meminta Septi menunjukkan KTP, SIM, dan STNK!" "Eraneo bisa membuat Septi tidak meninggalkan jejak!" tegas Dian. "Apa ada oknum yang terlibat?" Dian menggeleng. "Nggak ada. Eraneo hanya mengondisikan agar Septi tidak meninggalkan jejak. Mereka punya banyak cara." Ezra masih belum paham. "Tapi waktu aku ditangkap polisi kemarin, mereka menanyakan SIM, STNK, bahkan KTP. Mereka juga menemukan serbuk putih dalam paketku, tapi aku bisa bebas." Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Kasusmu beda!" Ezra semakin tidak paham. "Beda bagaimana?" Dian mendesah panjang. "Eraneo sengaja agar kamu tertangkap polisi. Mereka menyiapkan serbuk putih dalam kemasan makanan yang kamu bawa, tapi itu bukan narkoba." "Astaga!" Ezra geram karena merasa dipermainkan. "Kenapa?" "Agar sejak awal kamu tahu bahwa kamu akan menjadi kurir narkoba. Eraneo sudah tahu apa motifmu melamar kerja," beritahu Dian. "Kemudian Eraneo memintaku untuk menjelaskan semuanya sama kamu." Ezra menampar-menampar jidatnya sendiri. "Kalian sadis!" Dian mengedikkan bahu. "Jadi sekarang kamu paham kan kenapa aku banyak cerita sama kamu? Eraneo berharap kamu akan menjadi bagian dari sindikat yang kuat!" Ezra membuang muka, tidak sudi menjadi anggota mafia. "Tapi kemarin kamu bilang kalau serbuk putih yang kubawa itu narkoba!" "Memang, agar kamu shock!" timpal Dian. "Sekarang kamu sudah sedikit menerima keadaan, jadi aku beritahukan apa adanya." Ezra mendengus. "Apa Septi masih hidup?" Dian mematung sejenak. Sejurus kemudian ia mendesah. "Aku nggak bisa menjawabnya karena itu bukan kewenanganku." "Tapi kamu tahu keberadaannya bukan?" cecar Ezra. Dian tertawa terbahak-bahak. "Seandainya aku menunjukkan kepadamu di mana Septi berada, apa yang bisa kamu lakukan? Kamu akan memberitahukan orang tuanya agar menjemput anak itu?" Ezra terdiam. Jika saat ini berhasil menemukan Septi, ia memang tidak bisa menyelamatkan gadis itu, tapi setidaknya ia akan memikirkan banyak rencana. "Lupakan soal Septi!" suruh Dian tegas. "Kalian enggak kasihan sama bapaknya yang telah mencari anak semata wayangnya selama dua tahun ini?" gugat Ezra. "Jangan tanyakan itu padaku!" intonasi Dian meninggi. "Aku sama seperti dirimu, terperangkap di sini tanpa tahu bagaimana cara melepaskan diri dari situasi ini." Ezra tertawa mengejek. "Bukannya kamu adalah bagian dari sindikat ya?" Dian mematung, menatap Ezra kesal, kemudian menunduk dalam-dalam. "Kamu pasti nggak akan peduli kalau cerita tentang perjalananku di sini." Ezra melirik Dian ragu. "Kamu mau ngedrama juga?" Dian mengangkat dagu. Ditatapnya Ezra tajam. "Kamu mau mendengar atau enggak, percaya atau enggak, aku akan tetap menceritakannya." "Oke, anggap saja aku sedang kasihan sama kamu." Ezra menyilangkan kaki. "Kalau bukan disuruh, aku nggak mau cerita sama orang yang nggak punya atitud sepertimu," keluh Dian. "Memangnya siapa yang menyuruhmu?" "Kamu nggak perlu tahu!" "Lalu bagaimana aku akan mempercayaimu?" "Bodo amat kamu mau percaya atau enggak!" Intonasi Dian meninggi. Ezra mengedikkan bahu. "Oke, aku akan mendengarkan kisah perjalananmu terperangkap sindikat mafia." Dian melirik jam dinding. "Jangan ke mana-mana. Aku akan ke toilet sebentar." Ezra mendengus sebal. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN