Baru saja Ezra mendapatkan orderan untuk mengirimkan dua porsi nasi ayam kremes. Ia bergegas memacu sepeda motornya menuju gerai yang dimaksud aplikasi.
Ada yang berbeda dengan suasana pada hari ini ketimbang pada hari Sabtu. Pada hari pertamanya itu, ia begitu semangat karena belum mengetahui kedok Eraneo.
Bagi Ezra, hari kedua bekerja pada Eraneo ibarat hari pertama menghadapi perang. Semalam ia telah menata hati untuk siap menerima kenyataan bahwa ia sedang terperangkap sindikat mafia. Untuk keluar dari situasi buruk ini adalah dengan menghadapinya. Meratapi nasib tidak akan memperbaiki keadaan, malah semakin membuatnya terpuruk.
Ezra akan tetap menjalankan tugasnya sebagai pengantar makanan, meskipun sudah tahu di dalamnya ada paket narkoba. Ia tidak bisa mengelak, karena kalau ia melakukannya resikonya sangat ngeri.
Satu hal yang membuat Ezra tenang adalah Dian sudah meyakinkan bahwa dirinya akan aman dari polisi. Itu sangat penting karena tidak lucu kalau ia tersangkut kasus hukum dengan tuduhan sebagai kurir narkoba.
Sampailah Ezra di gerai nasi ayam kremes yang cukup terkenal di kota ini. Menurutnya sangat tidak masuk akal kalau gerai tersebut terlibat dengan Eraneo. Mereka tidak akan mempertaruhkan reputasi gerainya hanya untuk berkonspirasi menjadi pengedar narkoba.
Ezra memesan makanan sesuai aplikasi. Ia menunggu di kursi sambil mengamati kegiatan di gerai tersebut. Tidak ada yang aneh dalam pandangannya. Semua tampak normal. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana Eraneo memasukkan paket narkoba ke dalam kemasan makanan?
Ezra menduga Eraneo telah menyusupkan orang ke gerai-gerai tertentu. Mereka bertugas memasukkan paket narkoba ke dalam kemasan.
"Dua porsi nasi ayam kremes, Ranfood!" panggil pelayan melalui mikrofon.
Ezra bangkit dari duduknya. Sambil berjalan menuju kasir, dalam hati ia merasa heran kenapa dirinya yang belum lama mengantre sudah dilayani dulu, padahal jelas-jelas antrean sebelum dirinya masih cukup banyak.
"Ini, Mas!" Pelayan menyerahkan satu kresek besar berisi dua porsi nasi ayam kremes dan dua cup es tes.
"Sudah dibayar via Ranpay ya, Mbak?" ujar Ezra sambil menerima kresek.
"Sudah, Mas," jawab pelayan. "Terima kasih atas pesanannya."
Ezra mengangguk. Ia berlalu dari gerai. Di parkiran ia memberikan uang dua ribu rupiah kepada petugas parkir.
"Ranfood banyak yang ambil ke sini ya, Pak?" tanya Ezra kepada petugas parkir.
"Jarang sih, Mas!" jawab petugas parkir. "Aplikasi itu kurang populer."
"Begitu ya, Pak?" Ezra menyalakan mesin motor.
"Iya, hati-hati di jalan, Mas!" ucap petugas parkir.
Ezra menjalankan sepeda motornya menuju jalan raya, kemudian memacunya dengan kecepatan tinggi.
Ada perasaan was-was ketika Ezra melewati pos polisi. Ia trauma karena sempat berurusan dengan polisi. Ia tidak mau lagi digeledah seperti pada hari pertamanya bekerja.
Sejauh dua kilometer, perjalanan Ezra lancar, namun mendekati lokasi tujuan, ia curiga kepada sebuah sepeda motor yang selalu tertangkap spionnya sedang berada di belakangnya. Pengendaranya mengenakan helm dan jaket warna hitam. Ezra memperhatikan nomor polisinya kemudian menghafalnya.
Sepeda motor itu tiba-tiba menghilang ketika Ezra sampai ke lokasi tujuan.
Ezra memarkir sepeda motor di bawah pohon mangga. Ia membawa kresek, menuju sebuah rumah lama yang masih cukup kokoh dan terlihat klasik.
Ezra menggoyangkan lonceng kecil di dekat pintu. "Ranfood!"
"Taruh di depan pintu saja!" teriak seseorang dari dalam rumah.
Dari suaranya yang nyaring, Ezra yakin pemilik suara itu adalah seorang perempuan muda. Ia pun meletakkan kresek ke depan pintu.
"Sudah saya letakkan di depan pintu!" teriak Ezra.
"Makasih!"
"Sama-sama!"
Ezra kembali ke sepeda motornya. Ia mengenakan helm sambil mengawasi ke arah kresek yang tadi diletakkannya.
Daun pintu terbuka sedikit. Sebuah tangan putih mulus terjulur keluar, lalu mengambil kresek itu. Pemilik tangan itu sama sekali tidak keluar. Ezra menduga perempuan itu enggan dikenali wajahnya.
Dalam hati Ezra merasa geli melihat cara perempuan itu mengambil paketan, namun ia merasa itu bukan urusannya. Baginya yang penting sebuah orderan sudah sukses ia kirimkan.
Baru saja akan menyalakan mesin motor, sebuah orderan kembali masuk. Ezra mendengus. Betapa mengerikan tugasnya, mengantar paket narkoba dengan kedok pengiriman makanan. Kapan saja ia beresiko ditangkap polisi. Meskipun Dian sudah menjamin bahwa Eraneo akan memastikan paket-paket yang dikirimkan aman, tapi ia tetap tidak bisa tenang.
Kadang Ezra berpikir, seandainya ditangkap polisi itu lebih baik ketimbang terus-terusan berada dalam perangkap sindikat mafia. Kepada penyidik ia akan menjelaskan semuanya. Dengan senang hati ia akan menunjukkan kantor Eraneo, kemudian mempercayakan polisi membongkar kedok mereka.
Namun Ezra sadar, Eraneo bisa melakukan apa saja. Jika ia membongkar kedok mereka, bisa jadi ia yang akan masuk ke penjara sendirian, sementara Eraneo tidak dijerat hukum. Begitu besar kekuasaan Eraneo, Ezra sudah membuktikannya sendiri. Ia yang jelas-jelas kedapatan membawa paket narkoba, masih bisa dibebaskan tanpa proses hukum.
***
Selepas mengikuti sholat asar berjamaah, Ezra duduk di serambi mushola. Hingga detik ini, tiga orderan sudah Ezra kirimkan. Semuanya berjalan lancar, tanpa kendala apa pun. Sekarang ia ingin beristirahat sambil menunggu orderan masuk.
Ezra berharap ia tidak akan menerima orderan lagi hingga jam kerjanya selesai nanti. Setiap kali mengirim paket, jantungnya berdetak lebih kencang dari normal.
Ponsel Ezra berdering. Ada sebuah panggilan telepon dari nomor tidak dikenal. Meskipun ragu, ia tidak bisa mengabaikannya karena menurut pemikirannya, orang yang mengetahui nomor teleponnya pastilah orang Eraeneo juga.
"Halo, Ezra!"
Ezra seperti mengenal suara tersebut. "Iya, ini siapa ya?"
"Kamu ke kantor sekarang!"
Panggilan berakhir. Ezra yakin tadi itu suara Dian. Dalam hati ia bertanya, ada masalah apa?
Dengan menanggung perasaan berdebar-debar, Ezra beranjak dari serambi mushola menuju kantor Eraneo. Ia berharap dirinya tidak mendapatkan masalah di sana.
Belum sampai ke kantor Eraneo, Ezra kepergok Gina.
"Hai, Ez!" Gina mendekati Ezra.
"Hai, Gina!" Ezra membalas sapaan Gina.
"Aku mau pindah kosan!" beritahu Gina.
Ezra menjadi teringat kemarin siang rumah kosan Gina terkunci. "Mau pindah ke mana?"
"Belum tahu. Nanti aku kabari?"
Ezra meledek. "Apa gara-gara aku, kamu akhirnya pindah?"
"Bukan," sanggah Gina. "Urusan tempat tinggal, semua diatur perusahaan."
Ezra mengedikkan bahu, berlagak memasang ekspresi sedih. "Aku bakal kehilangan tetangga yang masakannya enak dong?"
Gina mengerjap. "Kita kan masih bisa ketemu di kantor!"
Ezra mengangguk agar obrolan ini tidak berkepanjangan. Ia sedang ditunggu Dian di kantor.
"Boleh minta nomor ponsel kamu?" tanya Gina dengan ekspresi berharap.
Ezra bingung bagaimana cara menolak Gina. Ia tidak diperbolehkan membagikan nomor ponselnya ke sembarangan orang. "Mmhh, maaf, Gina, ini nomor dari perusahaan. Aku harus izin dulu sama managernya."
"Kamu nggak punya nomor sendiri?"
"Punya sih, tapi sudah nggak aku pakai."
Gina menunjukkan mimik kecewa. "Ya sudah nggak papa."
Ezra melirik ke arah kantor. "Maaf, Gina, aku lagi ditunggu managerku."
"Oke." Gina menyingkir dari hadapan Ezra. "Kalau diizinkan manager kamu, segera kasih nomormu ya?"
Ezra mengangguk. "Oke."
"Buruan sana, nanti dimarahin manager kamu yang cantik itu lho!" Gina terkekeh, meledek Ezra.
"Cantik tapi galak!" Ezra mengucapkan itu sambil berlalu dari hadapan Gina.