Lari Pagi

1408 Kata
Langit masih cukup gelap. Lampu-lampu di kompleks kos-kosan masih banyak yang menyala. Ezra keluar rumah, kemudian mengunci pintu. Ia telah bersiap untuk lari pagi. Begitu membalikkan badan, Ezra kaget ketika Gina tahu-tahu ada di dekatnya. "Niatnya mau ngageitin tapi nggak jadi. Hehehe!" Gina cengar-cengir. "Pas aku keluar rumah tafi kok aku nggak lihat kamu?" ujar Ezra merasa aneh. "Aku menyamar menjadi kabut!" jawab Gina sekenanya. Ezra tertawa. "Sudah siap?" tanya Gina. "Sudah!" "Sudah cek kompor belum?" "Aku kan nggak masak!" "Oh iya ding!' ujar Gina terus menebarkan senyum. "Ayo lari!" "Ayo!" Gina memulai lari. Ia lari santai, tidak terlalu memforsir tenaga. Ezra mengimbangi kecepatan Gina. "Ini sih joging namanya." "Joging juga lari kan?" dalih Gina tidak mau kalah. "Iya juga sih." ujar Ezra. Ia menunjuk ke arah kanannya. "Kita lewat situ saja yang langsung ke jalan raya." "Oke." Mereka menuju jalan raya dan berlari di sepanjang trotoar. Lampu-lampu kota masih menyala. Lalu lintas masih lengang, hanya sesekali melintas angkot dan sepeda motor. Ezra merasakan sesuatu yang mencurigakan. Sejak mulai menyusuri trotoar, telinganya menangkap suara sepeda motor yang berjalan tidak jauh di belakangnya. Ia heran kenapa sepeda motor itu tidak menyalipnya padahal ia dan Gina berlari santai. Ezra memiliki ide. Ia menoleh kepada Gina. "Tali sepatuku lepas!" Ia berhenti. "Ya sudah betulin dulu." Gina ikut berhenti. Ezra berjongkok. Ia sengaja membetulkan tali dengan menghadap ke jalan raya agar lebih leluasa melirik ke sepeda motor yang sejak tadi berjalan di belakangnya. Sepeda motor itu berhenti. Pengendaranya pura-pura menerima telepon. Sambil menali ulang sepatunya, mata Ezra mengawasi motor tersebut. Ia tidak bisa melihat wajah pengendaranya dengan jelas karena mengenakan helm, tapi ia menghafalkan nomor polisinya. Ezra selesai menali sepatunya. Ia kembali berdiri. "Sudah?" tanya Gina. Ezra mengangguk. "Ayo lanjut!" Mereka kembali berlari. Ezra memasang pendengarannya baik-baik. Sepeda motor yang dicurigainya kembali berjalan di belakangnya. Ezra yakin sepeda motor itu membuntuti dirinya dan Gina karena sejak tadi berada di belakang mereka sambil menjaga jarak. "Kita mau ke mana?" tamya Ezra. "Ke mana saja yang penting terus lari pagi," jawab Gina. "Ini kalau kita terus mengikuti trotoar ini akan sampai ke Simpanglima," beritahu Ezra. Ia memiliki ide untuk memastikan sepeda motor itu membuntutinya atau tidak. "Padahal aku pengen makan bubur ayam Pak Sutono yang tersohor itu." "Berarti kita harus balik arah dong!' timpal Gina keberatan karena mereka sudah terlanjur berlari cukup jauh ke arah Simpanglima. "Gimana, kamu mau nggak kita sarapan bubur ayam Pak Sutono?" tanya Ezra. "Mmhh, ya sudah nggak papa," ujar Gina terpaksa. Mereka berbalik arah, menyusuri trotoar yang tadi dilewatinya. Ezra melirik ke wajah pengendara motor itu ketika mereka berpapasan. Ia akan menunggu, apakah motor itu akan ikut berbalik arah atau tidak. Setelah berlari sejauh satu kilometer, Ezra tidak melihat tanda-tanda kalau sepeda motor itu mengikuti mereka. "Kamu suka banget ya sama bubur ayam Pak Sutono?" tanya Gina. "Iya," jawab Ezra. "Sering beli dong?" "Iya." Ezra bohong karena ia belum pernah membelinya. Dulu ia pernah menikmati bubur itu karena ditraktir Alika. "Katanya beli bubur di sana ngantrenya lama ya?" Ezra mengangguk. "Memangnya kamu belum pernah beli di sana?" "Belum," jawab Gina. "Tahu kalau antreannya lama sudah bikin aku kehilangan selera makan bubur." "Tenang saja, kalau jam segini antreannya belum begitu lama," ujar Ezra. "Semoga saja," timpal Gina. Mereka terus berlari santai menyusuri trotoar. Hingga sampai di warung bubur ayam Pak Sutono, Ezra tidak melihat sepeda motor itu mengikutinya. Meskipun begitu ia tetap waspada karena bisa jadi itu adalah intelijen Eraneo. "Tuh kan antreannya belum banyak?" ujar Ezra kepada Gina. Ia masuk ke dalam warung. Gina langsung duduk di kursi karena kelelahan. Ia menyeka keringat di dahi menggunakan handuk yang sejak berangkat melingkari pada lehernya. Ezra mendekati Pak Sutono, penjual bubur ayam yang sedang menata kursi. "Pak, pesan dua porsi ya?" "Mas sabar nunggu nggak?" Pak Sutono balik bertanya. "Masih lama nggak, Pak?" tanya Gina. "Ini saya baru buka, belum siap saji, mungkin sekitar sepuluh menit lagi," beritahu Pak Sutono. "Nggak papa, Pak, cuman sepuluh menit ini," timpal Ezra. "Yang penting begitu siap saji, kami menjadi pelanggan pertama dan kedua hari ini." "Giliran mas sama mbak masih agak lama," beritahu Pak Sutono. "Sudah ada pesanan sejak tadi. Totalnya lebih dari lima puluh porsi." Gina kaget. "Berarti masih lama dong, Pak?" "Sampai pada giliran mas sama mba sekitar satu jam lagi," jawab Pak Sutono. Ezra celingak-celinguk. "Yang pesan pada ke mana, Pak? Apa take away ya, Pak?" "Kebanyakan makan di sini kok." "Terus orangnya pada ke mana?" Pak Sutono menunjuk ke sebuah lapangan tenis yang tidak jauh dari situ. "Itu mereka pada senam, Mas!" Ezra dan Gina saling pandang. "Wah keburu kelaparan aku, Ez!" keluh Gina. "Terus enaknya gimana dong?' tanya Ezra minta pendapat. "Ke sana saja yuk?" Gina menunjuk ke arah warung lain. "Kita makan soto aja, gimana?" Ezra memandang ke arah yang ditunjuk Gina, tapi bukan warung yang menjadi perhatiannya, melainkan sebuah sepeda motor yang terparkir di sekat situ. Nomor polisinya sama dengan sepeda motor yang tadi membuntutinya. Motor itu terparkir tanpa diketahui siapa pemiliknya. "Gimana, Ez?" tanya Gina sedikit sebal karena Ezra alih-alih merespon pertanyaannya malah melamun. Ezra terkesiap. "Eh, gimana-gimana?' "Nggak gimana-gimana." Gina kesal. "Aku punya ide!" ujar Ezra. Gina hanya melirik saja karena masih kesal. "Di sana kan ada warung soto. Gimana kalau kita sarapan di sana?" tanya Ezra. Gina mendengus, kesal tapi tertawa. *** Ezra baru rebahan sekitar lima menit ketika ponselnya berdering. Ia malas untuk bangkit. Lari pagi bersama Gina tadi cukup menguras tenaganya. Ia ingin beristirahat sejenak. Sayangnya, ia tidak pernah bisa mengabaikan setiap ada panggilan telepon. Sehingga meskipun malas, ia bangkit dari kasurnya kemudian berjalan ke meja. Ezra mengambil ponsel dari atas meja. Ada panggilan telepon dari Alika. Serta merta ia gelisah. Setelah mendengarkan semua cerita dari Dian tentang betapa sadisnya Eraeno, ia tidak berani menjawab panggilan tersebut. SIM Card Ezra masih tertanam pada ponsel tersebut. Itulah kenapa Alika masih bisa menghubunginya. Hanya saja, demi keamanan detektif itu, ia menolak panggilan tersebut. Bukan hanya itu saja, ia segera mengambil SIM Card tersebut lalu memasukkannya ke dalam dompet. Ada perasaan bersalah setelah Ezra menolak panggilan Alika. Hatinya gelisah, memikirkan betapa kesal dan cemasnya detektif itu padanya. Untuk menenangkan perasaan, ia ke teras. Di teras, Ezra perhatikan pintu rumah kos Gina tertutup rapat. Pintu gerbangnya juga digembok. Ia menduga gadis itu sedang keluar rumah. Tidak ada teman ngobrol, Ezra memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar komplek mes. Setelah mengunci pintu, ia melangkah santai, menyusuri gang yang sejak kemarin selalu sepi. Sampai di ujung gang, Ezra mampir ke sebuah toko kecil. Ia ingin membeli camilan. "Permisi!" teriak Ezra ke dalam toko "Mari, Mas, mau beli apa?" tanya seorang perempuan gemuk yang tahu-tahu muncul dari bawah. Saat Ezra datang, ia memang sedang duduk bersila di lantai. Ezra menunjuk ke arah snack yang digantung. "Yang rasa kentang dua, Bu!" Pemilik toko mengambilkan snack yang dimaksudkan Ezra. "Apa lagi, Mas?" "Air mineral kemasan botol satu, Bu!" Pemilik toko mengambilkan satu botol air mineral. "Semua berapa?" tanya Ezra mengambil dompet. Pemilik warung memasukkan belanjaan Ezra ke dalam kresek hitam sambil dalam hati menjumlahkan harganya. "Semua tiga belas ribu, Mas!" Ezra memberikan uang pas kepada pemilik toko. "Makasih, Mas!" ucap pemilik warung. "Sama-sama!" balas Ezra. Ezra baru saja berniat untuk berlalu dari toko, namun tiba-tiba ia teringat seseorang. "Oh iya, Bu. Perkenalkan saya Ezra, pendatang baru di sini. Rumah saya di ujung gang sebelah sana yang bercat hijau." "Iya, Mas, selamat datang, semoga betah di sini," timpal pemilik warung. "Terima kasih, Bu," ucap Ezra. "Semalam saya melihat seseorang duduk di pos ronda. Saya duga ia laki-laki. Rambutnya agak panjang. Ia memakai kalung yang liontinnya berupa huruf. Apa ia orang sini?" Pemilik warung berpikir, mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Yang badannya tinggi tegap itu ya?" Ezra mengangguk. "Iya, Bu." "Oh itu juga orang baru di sini, Mas," beritahu pemilik warung. "Saya juga belum tahu namanya." "Orang itu sudah berapa lama di sini, Bu?" "Sekitar setengah bulanan. Kenapa, Mas?" Ezra menggeleng. "Nggak papa, Bu. Kalau ia orang sini, saya merasa lega. Takutnya orang tidak dikenal." "Orangnya jarang bergaul, Mas," ujar pemilik warung. "Kelihatannya sih pendiem. Dulu pernah sekali beli sabun mandi di sini sama pembersih wajah." Ezra mengernyit. Ia merasa heran, kalau orang itu stres, kenapa beli pembersih wajah? Lagi pula semalam penampilannya tampak lusuh. Aneh kalau orang itu mandi. "Ibu tahu rumahnya?" tanya Ezra. Pemilik warung menunjuk rumah di seberang. "Itu rumahnya yang bercat kuning!" Ezra memperhatikan rumah yang ditunjuk pemilik warung. "Oh itu? Ya sudah kalau begitu saya permisi." "Iya, Mas." Ezra meninggalkan toko sambil memperhatikan rumah bercat kuning yang pintu dan jendelanya rapat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN