Ezra baru selesai sholat maghrib, ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia melipat sajadah, lalu bergegas menuju pintu.
Seulas senyum manis menyambut Ezra ketika ia membuka daun pintu. Pemilik senyum itu adalah Gina yang aroma parfumnya menyerbak. Perempuan itu tampak lebih cantik ketimbang tadi siang meskipun wajah ovalnya hanya tersapu bedak tipis-tipis. Sayangnya Ezra bukan tipe lelaki yang mudah tergoda. Sehingga ia menganggapnya biasa saja.
Gina mengerjap, sedikit kemayu. "Enggak lupa kan kalau malam ini...."
"Makan malam di kosan kamu!" potong Ezra sambil berusaha tersenyum.
Gina tergelak manja. "Ternyata kamu nggak lupa."
Ezra tersenyum dipaksakan. Ia tidak tahu kenapa merasa tidak nyaman dengan perhatian Gina. Baginya terasa aneh kalau ada seorang perempuan cantik yang baru kenal beberapa jam mengajaknya makan malam bareng.
"Aku tunggu di kosan ya?" Gina menunjuk kosannya.
Ezra mengangguk. "Aku lepas sarungku dulu."
"Jangan dilepas di sini!" Gina berlagak menutupi wajahnya menggunakan tangan.
Ezra tergelak. "Nggak dong, aku ke dalam dulu!"
Gina mengerjap sambil terus mengembangkan senyum. Ia membalikkan badan, kemudian kembali ke kosannya yang hanya berjarak beberapa langkah saja.
Ezra menutup pintu. Ia kembali ke dalam untuk mengganti sarung dengan celana panjang.
Kalau Ezra pikir-pikir, bersahabat dengan Gina bisa mengalihkan perasaan terpuruknya. Hanya saja ia merasa aneh kenapa hal itu justru membuatnya merasa tidak nyaman. Ia menduga itu karena dirinya sedang membutuhkan kesendirian untuk menenangkan diri.
Ezra mengambil celana panjang dari kapstok di dinding. Ia mengenakannya dengan malas-malasan, lalu melepas sarungnya.
Ezra melipat sarungnya. Ia meletakannya ke atas sajadah, kemudian bergegas keluar rumah. Setelah mengunci pintu, ia menuju rumah kosan Gina.
"Masuk, Ez!" teriak Gina ketika mendapati Ezra berada di depan pintu gerbang. "Dorong aja pintunya."
Ezra mendorong daun pintu gerbang yang terbuat dari besi. Ia melihat di meja teras telah terhidang berbagai menu makanan. Ada dua kursi yang sudah diposisikan saling berhadapan, salah satunya telah diduduki Gina.
"Duduk, Ez!" Gina mempersilakan.
Ezra duduk. Ia mengernyit heran. "Kamu masak sebanyak ini?"
Gina mengangguk sambil tersenyum. "Namanya juga lagi belajar masak, jadi semua resep dari Youtube pengen dicoba semua."
"Di kosan kamu ada beberapa orang?" tanya Ezra basa-basi.
"Aku sendirian," aku Gina.
Ezra kaget. Reflek ia mengedarkan pandangan ke sekitar. "Kosan sebesar ini sendirian?"
"Tadinya bertiga tapi yang dua udah pindah." Gina mengambil piring. Ia mengelapnya menggunakan tisu. Disodorkannya piring tersebut kepada Ezra. "Silakan nikmati ala kadarnya."
"Ladies first!" ujar Ezra.
"Tamu dulu dong!" Gina menyerahkan piring kepada Ezra, setengah memaksa.
Ezra terkekeh menerima piring dari Gina. "Jadi aku tamu nih?"
"Anggap saja ini ungkapan selamat datang di komplek ini dari tetangga yang sok akrab."
Kekehan Ezra semakin menjadi. Sejak pagi tadi, baru kali ini ia bisa tertawa selepas itu. Ia menyendok nasi ke atas piring. Ia bingung harus memilih lauk apa. Di depannya ada daging rendang, semur tahu, ayam goreng, lalapan, dan sambel. Ia malah mencomot tempe goreng dan menyendok sedikit sambel.
"Ih, nggak niat banget makannya!" keluh Gina. Ia menyendok seiris daging rendang ke atas piring Ezra. "Semur tahunya nanti dicicipi juga ya?"
Ezra tersenyum, tidak kuasa untuk menolak. "Aku makannya pakai tangan saja ya?"
"Silakan! Aku juga lebih suka makan pakai tangan ketimbang makai sendok," ujar Gina. Ia menyendokan nasi ke atas piringnya kemudian melengkapi dengan semua lauk yang dimasaknya sendiri.
Ezra menyuapkan nasi dan cuilan daging rendang ke mulutnya. Lidahnya bergoyang, merasakan lezatnya masakan Gina.
Gina menatap Ezra tidak berkedip. "Nggak enak ya?"
"Enak!" jawab Ezra jujur sambil mengunyah makanannya. "Kamu pintar masak ternyata."
"Seriusan enak?" Gina menampakkan ekspresi seolah tidak percaya. "Ini eksperimen kedua lho!"
"Sangat lezat untuk eksperimen kedua," puji Ezra tulus.
Pujian Ezra membuat Gina tersipu. "Ah, kamu bisa saja menghiburku."
"Beneran enak!" Ezra menuangkan semur tahu ke atas piringnya. Ia penasaran dengan menu tersebut.
"Makanan favorit kamu apa?" tanya Gina sambil mengunyah.
"Tumis kangkung, tempe goreng, dan sambel trasi," jawab Ezra. "Hampir setiap hari ibuku memasak itu karena nggak punya uang lebih buat masak yang enak-enak. Lama-lama itu menjadi menu favorit keluarga kami."
Gina mengerjap. "Tumis kangkung dan sambel terasi, ditambah lagi nasinya masih anget, wah, itu luar biasa!"
"Suka tumis kangkung juga?"
Gina mengangguk mantap. "Suka banget!"
Ezra tersenyum senang. Ia menikmati masakan hasil masakan Gina. Pagi tadi ia sarapan sedikit saja karena buru-buru. Siangnya juga hanya makan beberapa suapan. Sehingga malam ini ketika disuguhi makanan lezat, selera makannya timbul.
Ezra pikir, ia tidak boleh terus berlarut dalam keterpurukan. Meratapi nasib tidak akan membuat keadaannya lebih baik. Ia harus mengembalikan semangat hidupnya. Ia harus menciptakan ketenangan dalam diri agar bisa berpikir dengan jernih.
Sekarang Ezra semakin mengerti kenapa seorang detektif harus memiliki kecerdasan emosi. Ia baru paham, pengendalian diri akan membantunya untuk mencari cara dalam menghadapi masalah.
Ezra tersenyum geli mengingat sikap kurang ajarnya kepada Dian tadi siang di kantor. Beruntung managernya itu bisa menyikapi sikapnya dengan tenang dan tidak terpancing emosi.
"Duh, bahaya nih kalau senyum-senyum sendiri!"
Ledekan Gina membuat Ezra terkesiap. "Habis enak sih makanannya!"
"Seenak itu ya sampai membuatmu melamun?" Gina terkekeh.
Ezra terkekeh. Ia kembali menyantap sisa makanan di atas piring.
"Kalau boleh tahu kamu asalnya mana?" tanya Gina.
"Masih Semarang."
"Masih Semarang kok tinggal di mes?"
"Biar bisa fokus kerja," dalih Ezra. "Kalau kamu asalnya mana?"
"Aku Jakarta," jawab Gina.
"Jauh juga ya?" ujar Ezra.
"Lumayan!" sahut Gina. "Aku dipindahin ke cabang Semarang."
Ezra mengangguk-angguk. "Gimana rasanya tinggal di Semarang?"
"Mmhh..." Gina tampak berpikir. "Sama saja sih. Setiap kota punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cuman aku merasakan lebih tenang hidup di sini."
"Oh iya?"
Gina mengangguk. "Iya, orang Semarang ramah-ramah. Sikap kekeluargaan di sini sangat kental."
"Begitu ya?" Ezra meletakkan piring ke atas meja. Ia meneguk air minumnya sampai habis.
Gina mengangguk. "Tambah lagi dong. Masakannya masih banyak tuh."
"Aku makan banyak banget lho, sampai kekenyangan." Ezra meraba perutnya.
"Alhamdulillah kamu mau makan masakanku," ujar Gina. "Lain kali aku mau masak menu favoritmu."
"Boleh tuh!" timpal Ezra. "Nanti aku diundang makan lagi nggak?"
Gina berlagak berpikir. "Diundang nggak ya?"
Ezra terkekeh, sadar sedang diledek.
"Kalau nggak ngundang kamu, lalu siapa yang akan mencoba masakan eksperimenku. Hehehe."
Ezra tertawa, namun tiba-tiba tawanya berhenti seketika, saat pandangannya menangkap sesosok bayangan sedang duduk di pos ronda yang tidak jauh dari tempatnya. Seingatnya tadi di sana tidak ada orang.
Gina memandang ke arah yang dipandang Ezra. "Ada apa, Ez?"
Ezra menoleh. "Kamu kenal dengan orang yang sedang duduk di pos ronda itu?"
Gina berdiri agar jangkauan pandangannya lebih luas. "Oh itu? Tenang saja, itu orang stres yang tinggal di ujung gang."
"Stres?"
Gina mengangguk. "Lihat saja kakinya, sebelah kanan memakai sandal, sebelah kirinya memakai sepatu."
Ezra memicingkan mata. Keadaan di pos ronda tampak remang-remang. Tidak ada penerangan di sana. Cahaya yang meneranginya berasal dari lampu penerangan jalan yang cukup jauh. Sehingga ia tidak bisa menangkap dengan jelas alas kaki apa yang dipakai orang itu.
"Pandangan kamu tajam juga ya?" ujar Ezra heran. "Atau mataku saja yang minus sehingga nggak bisa melihat dengan jelas apa yang dipakai orang itu."
Gina tertawa. "Aku juga nggak bisa melihatnya secara jelas. Tapi orang itu memang selalu memakai sandal dan sepatu untuk kedua kakinya."
"Oh begitu ya?"
Gina mengangguk. "Coba aja deketin!"
"Enggak ah! Nanti malah diajak ngobrol," canda Ezra.
Gina tertawa. "Ya bagus dong, berarti kamu tambah teman satu lagi."
Ponsel Gina yang berada di ruang dalam, berdering. Bunyinya terdengar sayup-sayup sampai ke teras.
"Aku terima telepon dulu ya?" pamit Gina.
"Iya."
Gina masuk ke rumah.
Ezra bangkt dari duduknya. Ia masih penasaran, apakah benar orang yang duduk di pos ronda adalah orang stres seperti yang dikatakan Gina tadi. Ia mendekat ke pintu gerbang dan memperhatikan orang tersebut.
Dari penampilannya yang lusuh dan rambutnya yang acak-acakan, Ezra menduga kalau orang yang duduk di pos ronda tersebut memang orang stes, seperti yang dikatakan Gina.
Ada sebuah benda kecil yang tampak mengkilap di leher orang itu. Ezra menduga itu liontin kalung. Ia heran, orang stres memakai kalung juga.
Meskipun masih penasaran, Ezra kembali ke kursinya. Pandangannya terus tertambat ke pos ronda. Orang itu tiba-tiba beranjak dari pos ronda, berjalan gontai melewati jalan di depan rumah Gina. Ezra sempat melihat dengan jelas bentuk liontin yang mirip sebuah huruf, kalau bukan huruf 'R' kemungkinan 'B'.
Tidak lama kemudian Gina keluar. "Maaf, aku tinggal-tinggal." Ia sambil duduk di kursi.
"Santai aja!" ujar Ezra.
"Besok lari pagi yuk?" ajak Gina.
"Aku kan kerja!" ujar Ezra.
Gina mengernyit. "Memangnya hari minggu kamu nggak libur?"
Ezra menepuk jidat sendiri. "Astaga, aku lupa kalau besok hari minggu!"
Gina terkekeh. "Jadi kamu baru sadar kalau sekarang malam minggu?"
Ezra mengerjap, menertawakan dirinya sendiri. Keterpurukannya telah membuatnya tidak ingat hari.
"Mungkin karena kamu mulai kerja di hari Sabtu. Biasanya kan karyawan baru mulai kerja pada hari Senin atau kalau enggak pas tanggal satu," ujar Gina.
"Bisa jadi!" timpal Ezra. "Aku menandatangani kerja hari Jumat, tanggal 12 November. Besoknya langsung disuruh kerja. Mungkin itu membuatku merasa seolah-olah hari pertamaku kerja adalah hari Senin. Hehehe."
"Bahaya kalau lupa malam minggu," ujar Gina.
"Kenapa?"
"Kalau punya pacar, pacar kamu bisa ngambek karena kamu lupa nggak ngapelin!"
Ezra tertawa. "Aku nggak punya pacar."
"Masa?"
"Dih, nggak percaya!"
Gina mengernyit. "Masa kamu belum punya pacar?"
"Aku memang belum pernah pacaran."
Gina mengangguk-angguk. "Tapi baguslah, kadang pacaran malah bikin galau, bukannya bikin semangat kerja."
"Begitu ya?"
"Duh maaf jadi curcol. Hehehe!"
"Curcol itu apa?"
"Curhat colongan. Hehehe!"
Ezra tertawa, baru dengar istilah itu.
"Gimana, besok jadi lari pagi nggak?" tagih Gina.
"Boleh, jam berapa?"
"Selepas subuh."
Ezra mengangguk. "Oke, besok kita lari pagi."
"Akhirnya, aku punya teman lari pagi!" sorak Gina.
Ezra tersenyum. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa Gina seperti ingin mendekatinya? Tadi pagi gadis itu yang pertama kali mengajak kenalan, siangnya mengajak makan siang bareng meskipun tidak terlaksana, malam ini mengajak makan malam, dan besok mengajak lari pagi.