Gimana, mau kan makan malam di kosanku?"
Reflek Ezra mengangguk. Ia sedang tidak fokus kepada apa pun. Pikirannya sedang dijejali bayangan-bayangan buruk yang kemungkinan akan menimpanya setelah ini.
Fakta bahwa dirinya terperangkap ke dalam pusaran sindikat mafia dan tidak bisa keluar dari situasi tersebut telah membuat Ezra terpuruk. Ingin rasanya ia meluapkan amarah, namun ia tahu itu tidak akan memperbaiki keadaan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gina. Wajahnya menampakkan kecemasan.
Ezra mengangguk.
"Tapi wajah kamu pucat!" Gina memperhatikan wajah Ezra secara seksama.
"Mungkin karena belum makan," dalih Ezra.
"Ya sudah makan dulu gih!"
"Nasiku ada di dalam kantor." Ezra berdiri. Niat hati ingin mencari suasana tenang dengan menyendiri, malah Gina mendekatinya. "Aku balik ke kantor dulu ya?"
Gina mengangguk. "Iya, maaf kalau aku malah membuat makan siang kamu tertunda."
"Nggak papa," timpal Ezra.
Gina bangkit dari duduknya. "Aku juga mau makan dulu."
Ezra mengangguk. Ia mengajak Gina kembali ke dalam gedung. Mereka berjalan beriringan.
"Sial!" Gina melirik arloji pada pergelangan tangannya. "Waktu makan siangku tinggal dua belas menit."
Ezra hanya melirik saja, sebagai respon terhadap kegelisahan yang Gina tunjukan.
Mereka berjalan beriringan tanpa mengobrol hingga sampai di lobi.
"Aku mau ke kantin!" beritahu Gina. "Jangan lupa ya nanti malam?"
Ezra mengerjap. "Iya."
"See you!" Gina melambai tangan kepada Ezra.
Dengan malas, Ezra balas melambai kepada Gina.
Mereka berpisah di lobi. Gina menuju ke kantin. Ezra menuju ke kantor.
Di dalam kantor, Dian tampak sibuk di depan komputernya. Ia sempat melirik ke pintu ketika Ezra membukanya. Ia pura-pura tidak acuh ketika lelaki itu duduk di sofa,
Ezra membuka nasi bungkus yang masih tetap berada di tempatnya sejak ia meninggalkannya beberapa belas menit lalu. Meskipun selera makannya hilang, tapi perutnya harus terisi. Sehingga mau tidak mau ia menyantapnya.
Ezra hanya memakan nasinya sebanyak lima suapan. Perutnya terasa mual melihat makanan di depannya. Sebelum muntah, ia segera membungkus kembali nasinya, lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Itu sampah organik. Kamu harus membuangnya di tempat yang seharusnya!" tegur Dian saat melihat Ezra membuang sisa makanannya.
"Bodo amat!" Ezra tidak peduli.
Sikap kurang ajar Ezra, membuat Dian beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekati Ezra dengan mimik marah. "Kamu boleh kehilangan rasa hormat kepadaku, tapi itu jangan membuatmu tidak ramah kepada lingkungan!"
Ezra terkekeh sinis. "Kalian peduli kepada lingkungan tapi tidak peduli kepada kemanusiaan!"
Dian menatap Ezra tajam. Ia menunjuk ke arah meja kerjanya. "Duduk di sana. Kita harus bicara!"
Ezra mendengus. Meskipun malas, ia menurut saja, duduk di depan meja kerja Dian.
Dian duduk di kursinya. Ia menyodorkan sebotol air mineral kepada Ezra. "Minumlah dulu!"
Ezra meneguk sedikit air minum yang disediakan Dian.
"Hari ini aku bebaskan kamu dari tugas!" ucap Dian.
Ezra melengos, tidak peduli. Ia sudah kehilangan separuh dari semangat hidupnya. Jika bukan karena motivasinya untuk menemukan jejak Septi, ia pasti sudah putus asa.
"Kamu tentu masih penasaran sejauh mana Eraneo mengetahui latar belakangmu bukan?" Dian menatap Ezra tajam.
Ezra diam. Ia memang penasaran tapi enggan mengakuinya di depan Dian.
"Aku akan tetap memberitahukannya meskipun kamu tidak mau mendengarkannya." Dian menyingkirkan keyboard komputer ke samping agar kedua tangannya bisa leluasa bergerak di atas meja. "Kamu dari kekuarga miskin. Bapakmu hanya pegawai rendahan di sebuah perusahaan swasta. Ibu kamu seorang ibu rumah tangga yang kadang sesekali menjadi buruh cuci dan seterika baju tetangga-tetangga. Kamu menjadi anak tunggal sejak adikmu meninggal karena sakit."
Ezra tidak terkejut meskipun semua yang dikatakan Dian benar. Ia yakin Eraneo telah menyelidiki kehidupannya.
"Belum lama ini kamu dipecat dari sebuah kantor jasa detektif independen. Pekerjaanmu terakhir adalah menjadi office boy. Kamu sempat menjadi asisten detektif bernama Alika. Setelah kehilangan pekerjaan, kamu melamar pada PT. Eraneo dan di sinilah kamu sekarang!"
Ezra mendengarkan ucapan Dian dengan lagak seolah-olah tidak peduli.
"Orang terakhir yang kamu temui adalah Alika dan Jacky di rumah sakit. Orang terakhir yang kamu hubungi via telepon adalah seorang mahasiswi semester akhir yang sedang menyelesaikan skripsinya." Dian mengerjap kepada Ezra. "Apa perlu aku sebuat nama mahasiswi itu?"
Ezra terbelalak. "Jangan ganggu gadis itu! Aku nggak akan lagi menghubunginya."
Dian terkekeh sinis. "Kamu takut gadis bernama Nadia itu akan celaka? Apa kamu menyukainya?"
"Enggak!" jawab Ezra tegas. Ia khawatir Eraneo akan mengusik Nadia. "Aku nggak dekat dengannya!"
"Tapi kamu mengkhawatirkannya!" Dian mengerjap.
Ezra melotot. "Aku nggak akan berhubungan dengan siapa pun, baik Nadia, Jacky, ataupun Alika!"
"Oke, semoga kamu menepati ucapanmu karena jika enggak, bukan kamu saja yang akan celaka tapi juga mereka!" ancam Dian. "Lalu siapa gadis seksi yang ngobrol sama kamu di depan mushola tadi?"
Ezra kesal. Ia memajukan wajahnya. "Kalian mengawasiku sedetail itu?"
"Pasti!" Dian memajukan kepalanya, hingga wajahnya dengan Ezra hanya berjarak kurang dari setengah meter. "Eraneo pasti akan mencari tau siapa gadis seksi itu!"
"Aku baru mengenalnya tadi pagi!" beritahu Ezra menegaskan. "Aku nggak mungkin menghindarinya karena ia tetangga kosan dan kantornya juga bersebelahan dengan Eraneo."
"Eraneo pasti tahu apa yang kamu lakukan!" tegas Dian. "Kamu boleh ngobrol dengan siapa pun, tapi jika berani membuka rahasia Eraneo, kamu akan tahu akibatnya!"
Ezra melengos. Ia sedikit lega karena masih diperbolehkan ngobrol dengan orang lain yang baru dikenalnya.
"Regina adalah pengecualian karena ia tetangga kantor dan tetangga di tempat tinggalmu," ujar Dian. "Tapi Eraneo nggak akan memberi toleransi jika kamu masih berkomunikasi dengan Alika, Jacky, keluargamu, tetanggamu, dan teman-temanmu. Jadi saranku, sebisa mungkin kamu menghindari siapa pun kecuali aku!"
Ezra kaget karena Dian bisa begitu cepat mengetahui nama Gina.
"Kamu kaget aku mengetahui nama gadis seksi itu?" Dian mengerjap penuh intimidasi. "Secepat dan seakurat itulah Eraneo mencari informasi."
Ezra semakin merasa ngeri kepada keseriusan Eraneo dalam mengawasi karyawan-karyawannya.
"Sekarang aku mau tanya sesuatu. Aku sudah tahu jawabannya, hanya menguji kejujuranmu saja." Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Apa motivasimu melamar kerja pada Eraneo?"
Ezra tertawa. "Tentu saja karena butuh pekerjaan. Aku butuh uang. Sayangnya, ternyata Eraneo adalah sindikat mafia. Itu di luar perkiraanku."
Tatapan Dian menghunus lurus pada sepasang mata Ezra. "Aku tahu ada yang kamu sembunyikan!"
"Terserah!" Ezra membuang muka.
"Dengar ya, Detektif gagal!" Pandangan Dian mengintimidasi. "Jangan kamu kira Eraneo nggak tahu apa yang kamu lakukan saat masih menjadi asisten Alika."
Ezra terdiam, antara kaget dan geram karena Dian mengetahui lebih banyak tentang dirinya ketimbang yang ia duga.
Dian mengambil ponsel dari atas meja. Ia mengusap layar, kemudian menatap Ezra. "Apa perlu aku bacakan laporan dari intelijen tentangmu yang sudah aku terima?"
"Bacakan saja!" tantang Ezra. Ia harus tahu sejauh apa Eraneo mengetahui identitasnya.
"Tapi aku malas membacanya!" Dian mengerjap penuh arti. Ia memberikan ponselnya kepada Ezra. "Kalau kamu penasaran silakan baca sendiri!"
Penasaran, Ezra menerima ponsel Dian. Ia membaca sebuah pesan dari kontak bernama 'Intel Eraneo'. Dengan teliti ia membacanya.
Ezra Ardika terindikasi kuat melamar kerja karena ingin menyelidiki jejak Septi Nofiasari, salah satu karyawan Eraneo yang dianggap hilang oleh keluarganya. Ezra banyak mendapatkan informasi dari Nadia dan Maman Nurzaman. Biarkan saja ia masuk. Lihat sejauh apa yang bisa ia lakukan. Ia tidak akan berbahaya jika sejak awal sadar sedang masuk perangkap. Jauhkan ia dari Alika, Jacky, dan Nadia.
Ezra tercengang setelah setelah selesai membacanya. Eraneo telah menelanjanginya. Latar belakang kehidupannya telah diketahui Eraneo, bahkan motivasinya memasuki Eraneo terbongkar secara jelas. Ia sudah tidak bisa berkutik.
"Siapa Septi?" tanya Dian dengan nada menyelidik.
Ezra tersenyum sinis. "Kamu managernya di sini, masa nggak tahu?"
"Apa hubungan kamu dengan Septi?"
"Kalian kan punya intelijen. Seharusnya kalian tahu kenapa aku mencari keberadaan Septi!" hardik Ezra.
Dian mendengus. "Maksudku adalah, buat apa kamu mencari Septi jika kamu tidak bisa berbuat banyak di sini. Kamu bahkan dalam kendali Eraneo."
Terlanjur diketahui semua, Ezra harus berpura-pura tidak berdaya. "Awalnya itu ambisi pribadi. Aku ingin membuktikan bahwa Jacky salah telah memecatku. Aku nekat meneruskan penyelidikan meskipun sudah tidak menjadi asisten Alika. Namun kini aku sadar sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi di sini."
"Aku akui kamu hebat bisa mengetahui kalau Septi pernah bekerja di Eraneo. Aku yakin, Alika pun belum tentu bisa melakukan seperti yang telah kamu capai." Dian menyeringai. "Bagus juga kalau kamu sadar diri sudah tidak berdaya di sini. Jadi sekarang kamu fokuslah dengan pekerjaanmu."
Ezra terdiam. Ia memang terpuruk, tapi mendengar ucapan Dian justru telah menumbuhkan semangat baru. Ia semakin termotivasi untuk menemukan jejak Septi.
Ezra merasa terlanjur basah, sehingga ia akan menyelam sekalian untuk meneruskan ambisinya menemukan jejak Septi.