S E L A M A T M E M B A C A * * * Dei berbaring miring menghadap pada suaminya. Waktu sudah begitu larut namun dua manusia yang tengah berbaring itu belum ada yang ingin memejam kan matanya. “Jadi tidak sia-sia kan mengusir anaknya pergi?” Ucap Dei tersenyum geli pada suaminya. “Tidak sia-sia, kan sudah di persipakan dengan matang.” Jawab Al santai. “Dapat ide dari mana bikin begituan?” “Bakat tersembunyi Abang itu.” “Bohong,” cibir Dei. “Serius Sayang, ini kan tahun pertama kita rayakan Anniv bareng. Jadi harus spesial.” Mendengar jawab Al, Dei mereasa bersalah. Seharusnya ini adalah kali ke tujuh mereka merayaakan bersama bukan kali pertama. “Maaf ya,” ucap Dei pelan penuh sesal. Al tersenyum manis, dia tidak bermaksud mengungkit masalah yang telah berlalu sungguh dia

