Aku memejamkan mataku. Menunggu. Lalu aku membuka mataku lagi. Sebuah kekuatan baru masuk ke dalam diriku secara tiba-tiba. Dan aku terkejut mendapati diriku masih berada di kamarku. Duduk di dekat jendela. Irama merdu lagu itu masih terdengar di telingaku. Begitu indah dan syahdu. Menyentuh relung hatiku dan menyejukkan jiwaku. Biola...? Aku bangkit berdiri dan melongok keluar jendela mencari-cari sosok yang ada dalam pikiranku. Tidak ada. Dia tidak terlihat dimana pun. Tetapi mengapa suara biola itu terdengar semakin jelas? Lantunan lagu kesukaanku. Karya Paman Ardian tersayang yang telah meninggal. Jantungku berdegub kencang bagai sebuah genderang yang ditabuh oleh seribu tangan tak kasatmata. Mungkinkah itu paman yang datang untuk mengajakku? Kenapa aku takut? Padahal tadi aku

