Julian Araka

1567 Kata
Rama Frananta dikabarkan telah menjalin hubungan dengan seorang artis pendatang baru. Dan hal itu pula yang menjadi titik permasalahan kandasnya hubungan rumah tangganya dengan Mirena Dirasya. Hak asuh jelas jatuh ke tangan Mirena. Mirena tidak akan melepaskan satu-satunya anak yang telah ia besarkan hingga saat ini. Rama sendiri tidak menuntut banyak. Setelah perceraian berlangsung, ia segera pergi meninggalkan rumah dan seolah menghilang dari panggung hiburan. Para media pun dibuat kebingungan dengan terus mencari keberadaan Rama. Dan karena itulah, Mirena menjadi sasaran bagi para pencari berita. Sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan Mirena, tentu Olive merasa terganggu dengan para wartawan yang juga selalu mengikuti dirinya. Seolah Olive bisa menjadi kunci jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka cari.  “Nanti juga mereka capek sendiri.” Itu yang selalu dikatakan Mirena kepada teman-teman yang merasa kasihan dengannya. Mirena memang wanita yang kuat dan mandiri. Ia tidak terlihat larut dalam kesedihan. Seolah apa yang sedang menjadi kegiatannya saat ini, mampu mengalihkan perhatiannya dari pemberitaan saat ini. Saat ini sebuah taman di tengah kota tengah dipenuhi oleh Mirena dan seluruh krunya. Kebetulan saat ini ia sedang melakukan pengambilan adegan malam untuk sebuah series yang tengah digarapnya. Series bergenre romansa itu langsung memuncaki rating penonton sejak episode pertama tayang. Dan sepertinya, ia bersama krunya akan melakukan pengambilan gambar sampai pagi. Lampu-lampu menyinari dua orang pemain yang sedang beradegan sebagai pasangan kekasih. Mirena tampak serius memandangi keduanya lewat layar monitor. Dinginnya malam tidak menyurutkan konsentrasinya saat ini. Tak lama konsentrasinya buyar saat segerombolan orang muncul dari arah parkiran dan memenuhi area syuting. Awalnya Mirena pikir itu adalah para penggemar sang aktris mengingat gadis yang bermain di dalam seriesnya tengah naik daun. Tapi saat melihat Olive membawa sebuah kue ulangtahun dengan lilin angka 35, barulah ia menyadari gerombolan yang sedikit riuh itu datang untuknya. Kegiatan syuting malam itu terhenti. Semua kru dan juga para pemain bertepuk tangan, seolah mereka sudah tahu lebih dulu akan rencana ini, karena Mirena menjadi satu-satunya orang yang terkejut. Nyanyian selamat ulang tahun mulai terdengar, beberapa orang yang ada di dekat Mirena langsung mengajaknya bersalaman. “Ya ampun, Olive…!” seru wanita itu saat Olive mendekat dengan senyum merekah. Satu tangannya berusaha melindungi lilin di atas kue ulang tahun agar tidak tertiup angin. Briana, gadis kecilnya, menghampiri Mirena sambil memberikan buket bunga mawar putih padanya. Briana tadi mengambil asal buket bunga yang begitu banyak di dalam mobil Olive. Nyanyian masih terus terdengar, dan diakhiri dengan sorakan saat Mirena meniup lilin di atas beberapa kue ulang tahunnya setelah sebelumnya ia berdoa. Beberapa wartawan yang memang sudah sejak awal syuting menunggu di taman ini langsung mengincar Mirena untuk diwawancarai. Sebelumnya Mirena juga memberi tahu krunya untuk break sejenak dan menikmati makan malam serta kudapan yang telah disiapkan Olive. Awalnya Mirena malas menanggapi para wartawan itu, tapi mengingat hari ini ulang tahunnya, ditambah ia tahu para wartawan itu sudah sangat kelelahan menunggunya, akhirnya dengan berbekal suasana hatinya yang sedang bagus, ia pun meladeni para wartawan yang jumlahnya sekitar 10 orang. “Selamat ulang tahun, Mbak Mirena Dirasya. Kami kaget juga karena sebelumnya nggak tahu kalau hari ini ulang tahun Mbak Mirena. Gimana perasaan Mbak Mirena saat ini?” Seorang wartawan dari salah satu berita infotaimen memulai tanya jawabnya. “Ya jelas senang dong, apalagi saya lupa kalau hari ini ulang tahun saya. Tapi tiba-tiba anak saya dan teman-teman juga datang. Huaaa, masih kaget sebenarnya,” jawab Mirena dengan tawa kecil. Dilihatnya Briana yang kini berdiri di sampingnya sambil meremas satu tangan Mirena erat. Mirena tahu Briana sedikit tidak nyaman dihadapkan dengan banyak orang seperti ini. “Mbak, di wawancara sebelumnya Mbak Mirena bilang kalau hubungan Mbak dengan Mas Rama baik-baik saja meski sudah berpisah. Apakah Mas Rama juga akan datang ke sini?” “Mas Rama sudah memberikan ucapan selamat belum, Mbak?” “Iya, Mbak, Mas Rama bakalan datang ke sini nggak Mbak?” Para wartawan itu mulai berebut tanya membuat suasana hati Mirena kembali tidak enak. Meski raut wajahnya langsung berubah, ia tetap memaksakan senyumnya untuk menghargai wartawan-wartawan haus berita di hadapannya. “Oh, kalau itu saya nggak mau banyak komentar, ya. Saya hanya mau menanggapi kejutan ulangtahun saya, juga series yang sedang saya garap.” Tak berhenti di situ, kini seorang kameramen langsung menyoroti Briana dan beberapa wartawan mulai membombardir gadis kecil itu dengan berbagai pertanyaan. “Papa kamu diajak ke sini nggak?” “Hubungan Papa dan Mama kamu baik-baik saja kan setelah berpisah?” “Kapan terakhir kamu berkomunikasi dengan Papa kamu?” Briana tidak terkejut, tidak juga takut. Wajahnya datar dan tak ada keinginan sedikitpun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan barusan. Justru ia membuang muka dan tidak menghiraukan satu pun wartawan yang menanti jawabannya. Dari pada menjawab, ia lebih ingin meninju wajah wartawan itu satu per satu. Mirena semakin tidak nyaman dengan pertanyaan yang kini mengarah ke anaknya. Sebelum amarahnya meledak, atensinya menangkap salah satu pemainnya yang berjalan mendekat. Dia adalah Julian Araka, seorang artis cilik berusia 9 tahun muncul dengan mulut penuh krim kue ulang tahun. Kedua tangannya juga penuh dengan krim kue. Jari jemari kecil itu tengah ia jilat satu per satu. Dengan wajah polos, artis cilik itu berbicara di depan salah satu kamera, membuat sang kameramen mundur sedikit, takut kameranya terkena krim yang dibawa anak itu. “Ini kan acara ulang tahun Tante Mirena, kok kalian malah tanya-tanya Om Rama, sih. Mending om dan tante semua makan aja di sana. Tuh, di sana tuh.” Araka menunjuk kerumunan orang-orang yang sedang makan bersama. Mirena sedikit terkejut dengan ucapan salah satu artisnya, sedangkan Briana melirik laki-laki itu dengan sinis. Mirena berusaha tetap tersenyum di depan kamera. Ia melepaskan genggaman tangan Briana dan memeluk Araka dari belakang, dan kembali berbicara pada wartawan sebelum para wartawan itu mengincar Araka. Sikap Mirena barusan tentu membuat Briana menjadi semakin kesal, lebih kesal dari saat ia dihadapkan pertanyaan para wartawan. “Oh iya, gimana kalau nanti disambung lagi? Saya mau nemenin anak-anak makan dulu. Kalian juga ya. Ayo, semuanya makan dulu.” Mirena langsung menggiring Araka untuk menjauh dari kerumunan wartawan. Meski kecewa, para wartawan itu menuruti perkataan Mirena untuk menunda wawancara dan bergabung dengan kru-kru lainnya. Seakan dilupakan Mirena, Briana masih berdiri mematung di pijakannya. Dari jauh ia melihat Mirena tengah memeluk Araka dengan gemas, sesekali mencium pipi gembilnya, meski dipenuhi dengan krim kue. “Itu kan, artis anak-anak yang main di film kamu.” Entah muncul dari mana, Abelia tiba-tiba berada di samping Briana. Ia juga memegang piring kue yang terbuat dari kertas, dan ada potongan kue cokelat di atasnya. “Aku kira anak ilang,” sahut Briana tidak tertarik. “Emangnya kamu nggak tahu dia siapa?” Abelia mengerutkan kedua alisnya. “Aku nggak pernah tahu. Dia main di series ini?” “Kayaknya nggak deh, dia itu main di salah satu film Mami kamu. Baru muncul langsung main film layar lebar. Tapi emang actingnya bagus sih, soalnya aku udah nonton filmnya.” Abelia menjelaskan panjang lebar dengan mulut penuh kue. Deretan giginya penuh dengan cokelat. “Kata Mama aku, Mami kamu suka banget sama Julian Araka. Soalnya meski masih kecil, dia actingnya bagus banget.” Abelia terus saja mengoceh, tanpa gadis kecil itu ketahui, jika saat ini kuping Briana terasa sangat panas mendengarnya. Tanpa dijelaskan pun, melihat bagaimana kedekatan Mirena dengan Araka membuatnya sangat kesal. Araka seolah mampu mencuri seluruh atensi Mirena darinya. “Udah ah, aku mau makan. Abis itu aku mau pulang.” Briana berjalan meninggalkan Abelia. Membuat gadis itu buru-buru menghabiskan suapan besar terakhirnya sebelum berlari kecil mengejar Briana. Para kru juga artis masih bersantai di dekat dua buah food truck yang terparkir di pinggir taman. Juga ada sebuah meja panjang yang terdapat banyak kue ulang tahun yang bentuknya sudah tidak jelas. Melihat banyak orang yang tampak lahap menyantap makanan dan kudapan, tapi tak satu pun dapat menggugah selera Briana. Dilihatnya Abelia dan adiknya, Kina, sedang menikmati kue wortel di dekat meja panjang. “Bri, kamu nggak makan, Nak?” tanya Mirena lembut. Diusapnya pucuk kepala Briana, membuat gadis itu sedikit mendangak menatap sang ibu. Briana hanya tersenyum kecil, kembali menatap ujung sepatunya yang sedikit kotor. Mirena sedikit membungkukan badan, agar ia bisa menatap sang anak dengan sejajar. “Its okay, Nak. Kadang para wartawan itu memang menyebalkan, tapi mereka juga ada baiknya kok. Mereka adalah orang-orang yang kerap membantu Mami memberi kabar film baru, series ba…” “Mi…” potong Briana. “Aku nggak lapar. Dan aku nggak kepikiran sama orang-orang itu.” Mirena mengerutkan alisnya, tebakannya rupanya salah. “Terus kenapa kamu diam aja? Lelah ya? Makasi ya, malam-malam sudah datang ke sini.” Briana lagi-lagi hanya membalas dengan senyuman. Sejujurnya yang membuat dia enggan saat ini karena dilihatnya Araka masih saja menempel pada ibunya. Dan yang membuat Briana makin sebal karena pria kecil itu masih saja memakan kue ulang tahun langsung dari tangannya. Membuat mulut dan pipinya penuh dengan krim. “Oh iya, kalian belum berkenalan.” Mirena tersenyum lebar. Ia mengelus kepala Araka dengan lembut. “Ini Kak Bri. Ayo salaman.” Araka tidak berkata apa-apa dan hanya menyodorkan satu tangannya pada Briana. Briana tampaknya enggan menerima uluran tangan Araka, tapi karena tatapan Mirena, dengan malas Briana mengulurkan tangannya. Dan yang membuat Briana kaget, karena pria kecil itu tak hanya bersalaman tapi juga mencium punggung tangannya, seperti sedang bersalaman dengan orang tua. Setelah bersalaman, Mirena kembali mengajak Araka untuk mengambil kue lagi. Meninggalkan Briana yang mematung sambil menatap telapak tangannya yang penuh dengan krim kue. Dengan kesal ia mengusap kasar tangannya di bajunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN