Briana Frananta
Briana mengerjapkan matanya berulang. Melihat lagit-langit rumahnya yang begitu terang dengan cahaya yang berasal dari lampu gantung kristal yang berkilauan. Samar-samar terdengar suara berisik dari banyak mulut. Juga terdengar suara langkah dari banyak kaki. Tapi telinga Briana lebih fokus menangkap suara dua presenter acara infotaiment di televisi. Televisi itu sudah menyalah sejak tadi. Setelah kartun yang dilihatnya habis, Briana langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa tanpa berniat mematikan tayangannya.
Di antara suara samar-samar itu, tiba-tiba saja teriakan Olive serasa memekik seisi rumah dengan kebawelannya. Sejak dua jam yang lalu Olive memang begitu sibuk dengan para anak buahnya. Wanita berusia 34 tahun itu sedang disibukan oleh rencana pesta kejutan ulang tahun teman baiknya yang juga bosnya sendiri. Rencananya ia dan kru lainnya akan membuat pesta kejutan ulang tahun untuk Mirena di lokasi syuting.
“Aduh! Ini kuenya kenapa gak cepat-cepat dimasukan ke dalam mobil? Tapi jangan ditaro di bagasi, nanti coklatnya meleleh. Iya, iya… taro di kursi belakang mobil saya saja. Bouquet bunganya juga langsung masukan ke mobil asisten saya. Hati-hati jangan sampai bunganya rontok.”
Entah apalagi yang diperintahkan Olive kepada para pekerjanya tapi suara itu cukup mengganggu Briana sekarang. Briana masih terdiam memandangi lampu kristal yang menggantung tepat di atas kepalanya. Masih belum ingin beranjak dari sofa panjang, sesekali ia menggerak-gerakan kedua kakinya mengikuti irama yang disendandungkan mulutnya. Soundtrack film Cinderella Story yang ia tonton tadi siang serasa masih menggema di telinganya.
Sekilas Briana melirik sebuah televisi plasma yang berada tak jauh darinya. Rupanya si kedua penyiar gosip itu terlihat begitu bersemangat membawakan sebuah berita. Tapi, bukankah semua penyiar gosip memang harus seperti itu agar membuat berita yang sebenarnya biasa-biasa saja, terdengar menjadi sangat heboh.
“…padahal penonton di rumah juga tahu banget ya, setiap film yang disutradarai oleh Mirena Dirasya ini juga gak sedikit dimainkan oleh sang mantan suami yaitu Rama Frananta. Tapi kenapa juga pernikahan mereka harus berakhir di saat puncak karier masing-masing.”
“Walaupun Mirena selalu mengatakan jika perpisahannya ini dikarenakan kesibukan masing-masing, tapi ada juga loh, sumber yang menyebutkan jika Rama Frananta ketahuan selingkuh…”
“Masa, sih? Astagaaa… tapi aku juga pernah dengar, sih. Cuma kan yang kita tahu keduanya itu pasangan yang cocok banget, yang satu sutradara terkenal, yang satunya lagi aktor terkenal. Apalagi mereka sudah dikaruniai satu orang putri yang gemesin banget, aku pernah ketemu di salah satu pemutaran perdana filmnya Rama Frananta.”
“Waktu dimintai keterangan sih, Mirena Dirasya enteng aja jawabnya. Dia bilang untuk saat ini dia lebih memilih untuk fokus pada putri dan kariernya.”
“Jangan-jangan gosip perselingkuhan itu memang benar adanya ya, tapi baik Mirena maupun Rama memilih untuk menutupinya demi menjaga sang putri.”
Briana tersenyum kecut sambil kembali menatap langit-langit rumahnya. Lagi-lagi mulutnya menyenandungkan lagu yang sama. Olive sendiri pun entah sudah berapa kali melintas di dekatnya. Suara sepatu hak yang dipakai Olive serasa memeriahkan acara sibuk-sibuk di dalam rumahnya.
Namun kali ini berbeda. Langkah kaki Olive berhenti di dekat Briana. Walau tak langsung melihat, Briana bisa merasakan apa yang saat ini tengah dilakukan Olive. Olive meraih remot televisi yang berada di atas meja dan mematikan siaran televisi dengan sedikit kesal. Seolah seperti baru saja menutup kedua mulut presenter tersebut sehingga mereka langsung terdiam. Entah kesal karena ia lelah atau karena berita yang ia lihat di televisi.
Olive membuang napas kasar. Melirik Briana yang masih terbaring di sofa dengan mata terbuka. Olive berjalan untuk meletakan remote televisi di tempatnya.
“Heran, deh. Malam-malam gini kok, ada sih yang nayangin acara kayak gitu.”
Olive menoleh kembali pada Briana. Dilihatnya Briana masih bersantai sambil menggulung-gulung rambut dengan ujung jari telunjuknya. Kenapa anak ini sama sekali tidak berkomentar, pikirnya dalam hati.
“Jangan dengerin apa kata si presenter gossip, ya! Mami kamu mesen, kalau kamu jangan suka nonton acara orang dewasa.” Briana sempat menoleh pada wanita cantik ini sesaat. Olive memang selalu terlihat cantik dengan rambut pendek sebahu yang diwarnai cokelat keemasan. Kulitnya yang putih serta tubuhnya yang langsing membuat Olive tidak terlihat seperti wanita yang sudah mempunyai dua orang anak. Abelia dan Kina. Adalah dua orang putri Olive yang usianya hampir sebaya dengan Briana. Abelia 11 tahun dan Kina 9 tahun. Briana sendiri saat ini sudah berusia 12 tahun.
“Siapa yang nonton?” Nada bicara Briana terdengar begitu malas. “Orang televisinya nyalah sendiri. Lagian juga aku gak tahu televisinya lagi nyiarin apa.”
Olive memutar kedua bola matanya. Sebenarnya ia sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan anak ini kepadanya. “Tapi kan tetap aja suaranya kedengaran. Nonton gak nonton, kalau nyalahin televisi, ya jangan acara gossip.”
“Kalau diganti juga paling isinya cuma ngomongin berita perceraian Papi sama Mami.”
Olive kembali menghela napas panjang. “Berarti kamu nonton!” Olive pun membalikkan badannya dan bersiap kembali pada acara sibuk-sibuknya yang sempat tertunda. Samar-samar Briana masih dapat mendengar suara teriakan Olive. “Mending kamu siap-siap deh, sebentar lagi kita berangkat ke lokasi shooting Mami kamu.”
Setelah kepergian Olive, Briana pun masih sempat memandangi wanita itu dari belakang. Briana harus akui, walaupun wajah Olive tampak menyeramkan dan tidak bersahabat, tapi siapapun akan mengira jika Olive adalah seorang model profesional. Cara jalannya pun sangat anggun. Tapi mulutnya menyebalkan. Olive terus saja mengomel, pikir Briana.
Briana bangun dari duduknya. Kepalanya sedikit pusing. Ia ingat jika tadi tidak sempat tidur siang, padahal Olive sudah sangat cerewet menyuruhnya tidur siang, sehingga ia harus mengalami sakit kepala karena menahan kantuk. Memang ada alasan yang lebih penting dari sekadar masuk kamar dan berganti pakaian tidur lalu terlelap dalam buayan mimpi. Malam ini, Briana harus menahan kantuknya untuk menjadi bagian acara pesta kejutan ulang tahun ibunya di lokasi shooting.
Jam menunjukan pukul 10 malam. Matanya melihat setiap langkah kaki yang ada di dekatnya. Pesuruh-pesuruh Olive terlihat sangat sibuk. Beberapa tengah menyiapkan karangan bunga, lalu ada yang dua orang yang sedang menggotong kardus kue dan membawanya ke luar rumah. Belum lagi orang-orang yang ia lihat keluar masuk dapur untuk menyiapkan makanan-makanan yang akan mereka bawa. Dan Olive yang tampak sibuk mengatur semuanya.
Briana tersenyum kecil. Ia menunduk melihat sepatu convers yang talinya terikat asal. Menyedihkan, pikirnya. Bagaimana bisa anak seumurnya sangat buruk dalam mengikat tali sepatu. Tapi, setidaknya terikat, ucapnya sembari menyenangkan dirinya sendiri. Ya… menyenangkan diri sendiri, itu lah yang selalu ia lakukan.
Hidup sebagai anak tunggal di sebuah rumah besar dan mewah beserta dengan kepopularitasan kedua orang tuanya. Ibunya, Mirena Dirasya, yang adalah seorang sutradara terkenal yang sudah memiliki rumah produksi sendiri. Dan ayahnya adalah aktor terkenal bernama Rama Frananta.
Seperti yang selalu Briana dengar, kedua orang tuanya adalah pasangan yang serasi. Yang satu seorang sutradara dan yang satu adalah aktor. Terkenal, bergelimang harta, sukses di usia muda. Hidup seperti itu yang selalu membuat iri setiap orang. Tapi andai mereka tahu, hidup yang mereka iri dan puja itu rupanya tak mampu membuat dasar hatinya tersenyum. Bahkan Briana tak merasakan apa-apa saat mendengar berita perceraian kedua orang tuanya tersiar di mana-mana.
“Berita orang tuaku adalah sumber pencarian mereka.” iIu yang selalu dikatakan Briana setiap ada yang menanyakan pendapatnya. Lagipula, Briana tidak terlalu menyukai jika orang lain membaca isi hatinya. Dengan kata lain, ia tidak terlalu suka dikasihani.
“Kak Bri!” Sebuah suara kecil mengalihkan perhatian Briana. Ia menoleh ke arah pintu. Sebuah senyum lebar dengan deretan gigi putih bersih tengah mengarah padanya. Perasaan Briana lumayan senang kala itu. Bila dibandingkan dengan ocehan Olive, tentu Briana lebih memilih bertemu dengan anak pertama Olive yang bernama Abelia.
Tak jauh beda dengan Briana, Abelia merupakan gadis kecil yang cantik yang periang. Briana akui, ia yakin dirinya sangat periang sebelum pristiwa perceraian kedua orang tuanya. Abelia berusia 11 tahun, satu tahun dibawahnya.
Abelia muncul dari balik pintu masuk. Sepintas ia terlihat seperti seorang penyusup yang sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Briana bisa mengira, pasti Abelia juga berharap jika tidak ada Olive di sekitarnya saat ini. Wajahnya sangat senang. Gaun berwarna merah selutut itu sangat pas di tubuhnya. Abelia memang seorang gadis kecil yang sangat cantik. Buru-buru Briana menggeser duduknya, tahu jika Abelia akan segera menempati sofa yang sama dengannya.
“Kenapa, sih? Kok, kamu kayaknya gak semangat?” tanya Abelia penasaran.
“Biasa deh, Mamah kamu abis marahin aku, gara-gara aku nonton gossip.”
“Kata Mamah, acara itu emang gak bagus buat anak-anak.” Briana hanya tersenyum kecil kala itu. Ia yakin, Abelia sebenarnya mengerti perasaannya.
Tiba-tiba saja Abelia bersemangat, “Eh, ayo kita ke mobil. Aku udah gak sabar nih, mau kasih kejutan ke Mami kamu.”
Ah, iya. Kejutan. Hampir saja Briana lupa dengan alasan ramai-ramai di rumahnya. Dan sekarang ada Abelia di sampingnya. Ia harus lebih bersemangat. “Aku juga. Yuk.”
Abelia tampak senang. Ia langsung berdiri dan menggandeng tangan Briana, mengajaknya untuk segera keluar dari rumah. Dari jauh, Olive tampak senang melihat keduanya berjalan bersama. Sebenarnya ia mengkhawatirkan perasaan Briana. Tapi ia yakin, Briana tidak selemah yang orang pikirkan.