Tatapan Ane lurus ke arah gedung berlantai 15 yang berdiri menjulang tinggi di depannya. Helaan napas panjang berulang kali keluar dari mulutnya. Ini sudah ke-20 perusahaan yang Ane datangi dalam bulan ini untuk melamar pekerjaan. Dan hasilnya selalu sama, dirinya tak diterima dengan alasan sedang tak membuka lowongan pekerjaan. Baru saja Ane pun mengalaminya, penolakan sewaktu dia bertanya pada bagian resepsionis. Ane kembali mencari pekerjaan karena sadar dirinya dan Alcander butuh makan. Uang di rekening Ane benar-benar sudah habis dan uang seratus ribu yang digunakan untuk ongkos tadi benar-benar uangnya yang terakhir. Beban hidup Ane yang memang sudah berat terasa semakin berat sejak Alcander menumpang di rumahnya. Pria itu selalu mengeluh karena setiap hari mereka memakan mie insta

