“Untuk apa ayahmu memanggil kita?” Tanya Danish di tengah-tengah langkahnya yang sedang mengikuti Aniq. “Aku juga tidak tahu. Sudahlah, kita temui saja dulu. Sebentar lagi juga kita akan tahu apa yang ingin disampaikannya sampai menghubungi kita.” Danish tak mengatakan apa pun lagi, lagi pula benar juga yang dikatakan Aniq, mereka akan segera mengetahui alasan perdana menteri atau ayah Aniq yang tiba-tiba memanggil mereka malam-malam begini. Begitu tiba di depan sebuah pintu, Aniq bergegas mengetuknya. Dan setelah teriakan dari seseorang di dalam ruangan mengizinkan mereka masuk, tanpa ragu mereka berdua pun masuk ke dalam. Sosok perdana menteri sedang duduk sambil membuat kaligrafi di secarik kertas. Aniq dan Danish duduk tepat di hadapan pria paruh baya itu. “Ayah, ada apa meman

