Ayah

1019 Kata

Nana terbangun setelah mendengar suara bising dari luar. Matanya mengerjap, memastikan pukul berapa ia disadarkan dari tidur. Bulan di luar nampak masih bersinar. Matanya beralih pada jam di atas meja belajar. Pukul dua dini hari, siapa yang membuat suara gaduh tidak berhenti? Gadis itu memasang telinga lebih tajam. Suara di luar bukan seperti orang yang tengah berbincang, tapi lebih kepada irama yang teratur, berulang meski sesekali berjeda. Di ujung riuh, bisa didengar ada napas yang cukup berat. Terbatuk sepanjang malam sepertinya sangat melelahkan bahkan untuk orang yang hanya mendengarnya. Tak perlu bertanya siapa yang terbatuk hingga membangunkannya. Nana sudah tahu, jika ayahnya-lah orangnya. Untuk beberapa saat, gadis itu hanya bergeming di atas kasur. Hatinya nyeri mendengar pri

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN