Kamerun menyandarkan tubuhnya,menyentuh dadanya yang terasa sakit meski nampak baik-baik saja,menghapus cairan bening yang luluh dari kedua pelipis matanya menahan isak tangisnya. Berguman perlahan. "Inikah yang dinamakan cinta sesungguhnya? Kenapa rasanya sesakit ini? Dulu Kamerun pernah jatuh cinta namun rasanya terhianati tidak separah ini!" Hatinya semakin pedih tubuhnya melemas dan pada ahirnya Kamerun kalah dengan sifat cengengnya yang tiba-tiba saja hinggap menghampirinya. Kamerun tidak pernah sesedih sekarang,meski ia pernah merasa kehilangan saat tuhan mengambil kedua orang tuanya. Kamerun masih tetap tegar dan tidak secengeng ini. Haruskah Kamerun menyerah kali ini? Ah tidak! Tidak. Kamerun masih harus tetap bertahan meski perasaan sakitnya tidak kunjung mereda. Tiba-tiba

