58_rindu

2030 Kata

Terdengar sayup-sayup bunyi isakan tangis dari celah jendela kelas yang masih sangat sepi karena Kamerun memang berangkat sangat pagi sekali untuk mengerjakan tugas kelasnya yang sempat tertunda. Semula ia mengabaikan namun pada ahirnya Kamerun harus menanggalkan bulpoinnya dan melangkah keluar untuk mencari asal suara. Takut? Tidak,hanya saja bulu kuduknya sedikit berdiri jika ia kembali mendengar isakan memilukan itu. Menyebalkan! Kamerun menggeser pintu gudang secara paksa,meski berat ia tetap berusaha membukanya sendiri. "Sial!" Kesalnya saat ia melihat meja yang sengaja diletakkan dibalik pintu. "Pantas saja berat!" Gumamnya sambil melangkah mengikuti asal suara isak tangis. "Pria?" Gumamnya pelan,saat melihat pria berseragam meringkuk memunggunginya. "Tidak mungkin hantu. Masak i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN