Secangkir s**u hangat yang dibuat beberapa menit lalu di dapur kini telah berada di atas nakas. Sejak pulangnya dari pemakaman, ia tidak bisa beristirahat seperti apa yang diutarakan pada Tamara tadi. Ia justru merasa insomnia padahal sebelum ini jarang sekali merasakan hal tersebut. Kepalanya pun penuh oleh banyak pertanyaan, apakah kerumitannya untuk tidur malam ini ada kaitannya dengan masalah yang mendadak merajalela di kepala? Sehingga meski waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, ia tidak bisa tidur dengan tenang? Entahlah! Yasmin menatap s**u itu, lalu menghela napas. Kakinya bergerak turuni ranjang dan bergegas menjangkau sepasang sandal buku dengan kaki jenjangnya. Tangannya terulur membawa serta gelas s**u itu bersamanya keluar ke balkon kamar. Meski sudah lewat tengah malam,

