Menjelang libur Natal dan Tahun Baru, Raina harus mengejar deadlinenya. Lembur telah menjadi sahabat Raina beberapa hari belakangan ini, kantung matanya mulai terbentuk, bahkan Raina harus mengatakan selamat tinggal pada me time yang setiap malam dia lakukan sebelum tidur.
Raina sibuk menyelesaikan desainnya, bolak-balik ke gudang kain, sesekali ikut terjun langsung menjahit desainnya. Wedding Organizernya memang juga merancang beberapa gaun pernikahan untuk di pajang agar bisa mengurangi budget dari mempelai pengantin.
“Oh God! Gue butuh liburan!” Olivia memijit pelipisnya. Di kubikelnya, selain Raina, ada Olivia, Sada, dan Meta yang bekerja di bagian desainer.
“Tenang aja, ini minggu terakhir kita,” jawab Raina santai lalu kembali menggigit pensilnya.
Mereka berempat telah merencakan liburan ke luar negeri beberapa hari yang lalu dan Kathmandu, ibu kota Nepal menjadi pilihan mereka.
“Yes! Gue gak sabar liburan!” ucap Sada riang. Meta hanya bisa meniup poninya setengah sebal. Sebelum liburan mereka harus melewati rintangan dikejar deadline seperti sekarang, terjebak dalam kubikel dari matahari belum terbit sampai matahari kembali ke peraduannya.
Raina berusaha menyelesaikan desainnya, saking sibuknya dia harus makan sambil berkutat dengan desainnya. Tetapi lebih repot lagi bagian keuangan yang harus menguraikan semua pengeluaran selama setahun ini serta bagian dekorasi dan catering yang pastinya akan terjun langsung saat pesta pernikahan berlangsung untuk menghandle acara. Raina kadang-kadang juga ikut turun jika rancangannya dipilih oleh mempelai pengantin.
“Wahh udah jam 1 aja,” Meta merenggangkan otot-ototnya. Raina mendongak dan seketika ia meraih ponselnya. Pasti Ibunya sudah cemas.
Benar saja, ada 7 panggilan tak terjawab dari Ibunya serta beberapa notifikasi chat dari Ibunya, Regan, dan... Aries?
Ibunda
Rain pulang jam berapa?
Pulang naik apa?
Udah tengah malam, Ibu tidur duluan.
Nanti telpon Regan ya, kunci rumah ada sama dia.
Hati-hati pulangnya, nak.
Raina segera membalas pesan Ibunya, takut Ibunya semakin khawatir.
Gak tahu pulang jam berapa, Bu.
Nanti Rain telpon Regan kalau udah mau pulang.
Raina beralih membaca chat dari Regan yang sepertinya masih begadang.
Regantara
Chat aku kalau mbak udah di depan.
Asiaap pak
Kemudian Raina membaca chat dari Aries. Komunikasi mereka lumayan lancar walaupun tidak setiap hari, dan terakhir mereka bertemu saat Aries mengantarnya pulang 2 minggu yang lalu.
Bang Aries
Rain sudah pulang?
Chat itu dikirim satu jam yang lalu. Raina segera membalasnya.
Masih di kantor. Ada apa Bang?
Setelah itu Raina segera membereskan barangnya, memutuskan untuk pulang sekarang karena kantuk mulai menghinggapinya, bahkan segelas kafein tidak mempan.
“Pulang sekarang?” tanya Sada. Raina menganggukkan kepalanya, dia butuh tidur agar besok pagi bisa lebih segar menghadiri rapat akhir mereka.
“Iya, besok kita ada rapat lho jam 11,” ucap Raina mengingatkan. Sada menepuk jidatnya, baru ingat. Olivia mengerang kesal. Meta mengusap wajahnya yang tampak kelelahan.
“Oke, kita pulang sekarang aja,” Olivia memutuskan untuk bangkit dari kursinya dan membereskan kertas-kertas gambarnya. Sada dan Meta ikut membereskan kertas-kertas di atas mejanya dan mereka menuju lift bersama.
Olivia tampak menelpon kekasihnya, Sada sudah berkutat dengan sopir grab nya, dan Meta beranjak menuju parkiran. Raina mengeluarkan ponselnya, tadi pagi dia pergi diantar Arinda karena nyaris terlambat. Raina mendapati chatmya dibalas Aries.
Bang Aries
Abang jemput. Tunggu di situ.
Chat itu terkirim 10 menit yang lalu, artinya pria itu sudah menuju ke sini.
“Eh, gue duluan ya, grabnya udah ada,” pamit Sada. Raina dan Olivia mengangguk. Olivia tampak kesal, sepertinya telponnya tak mendapat jawaban.
“Lo pulang sama siapa, Rain?” tanya Olivia.
“Di jemput, lo?” Raina balik bertanya. Olivia mengedikkan bahunya.
“Gak tahu nih, Fabian gak jawab telpon gue,” jawab Olivia kesal, lalu dia kembali berkutat dengan ponselnya.
Tak lama kemudian, mobil Aries terlihat. Raina segera pamit pada Olivia yang hanya dijawab dengan lambaian tangan, sepertinya panggilan teleponnya sudah dijawab.
Raina membuka pintu samping kemudi lalu tersenyum lebar pada Aries yang malam itu memakai kaos navy dan ripped jeans hitam.
“Kantung matanya nih.” Aries mengusap bawah mata Raina yang sedikit bengkak dan kecokelatan dengan telunjuknya.
“Kurang tidur Bang, harus selesaiin desain biar bisa liburan,” jawab Raina nyengir.
Aries menyalakan mesin mobilnya lalu memacu mobilnya membelah kesunyian malam itu.
“Kompres pakai air dingin nanti, kakaknya Abang dulu gitu kalau ngilangin kantung mata,” ucap Aries memecah keheningan. Raina menganggukkan kepalanya.
“Nama kakaknya Abang yang cewek, siapa?” tanya Raina.
“Kak Anyelir, dipanggil Anya,” jawab Aries.
Setelah itu percakapan mengenai kakak perempuan Aries menghiasi obrolan mereka hingga tiba di rumah Raina.
Keesokan paginya, Raina berbaring miring di kasur empuknya, ponselnya menempel di telinga kanan dan matanya terpejam sambil mendengarkan suara riuh rendah di seberang.
“Jadi bagaimana?”
Pertanyaan dari si penelepon membuat Raina membuka matanya, dia bergumam pelan, bertanya apanya yang bagaimana.
“Kira-kira bisa temenin Abang?”
Raina sedang berbincang dengan Aries melalui via telepon, tiba-tiba saja tidur pagi Raina diinterupsi dengan panggilan suara dari Aries. Gagal sudah rencana tidur pagi Raina hingga pukul 9 nanti.
“Yang penting acaranya sebelum tanggal 24, Bang. Soalnya tanggal segitu Rain udah berangkat ke Kathmandu,”
“Oh ya? Flight jam berapa?”
“Hm pagi, nanti Rain cek tepatnya jam berapa. Tapi Rain gugup deh, Bang,” ucap Raina menyuarakan pikirannya.
Aries mengajak Raina untuk menemaninya menghadiri acara pernikahan salah satu sepupunya, pastilah seluruh keluarga besar Aries juga hadir.
“Lah, Kok gugup? Kan yang nikahan bukan Rain,” ucap Aries bergurau. Raina tertawa kecil.
“Gugup ketemu keluarga Abang,”
“Macam mana pula itu? Gak usah guguplah, ada abang,” jawab Aries santai.
“Oke kalau gitu, Rain temenin Abang tapi ada reward nya ya,” ucap Raina nyengir. Di seberang, Aries tertawa kecil.
“Rain mau apa memangnya?” tanya Aries.
“Antar Rain ke bandara, oke?”
Lagi-lagi tawa Aries terdengar, membuat Raina mengulum senyumannya.
“Kalau itu tanpa Rain bilang juga pasti Abang usahain antar. Sekalian jemput juga?”
“Iya dong, Abang. Rain gak pernah nolak gratisan,” jawab Raina lalu ia tertawa.
“Baiklah, nanti abang kabarin. Yaudah, Abang kerja dulu. Rain gak ke kantor?”
Raina melirik jam digital yang ia letakkan disamping stopwatch pasir miliknya. Pukul 08.26.
“Habis ini Rain siap-siap, ada rapat,” jawab Raina kemudian ia menyibak selimutnya, melawan rasa mager dan kasurnya yang seperti posesif melarangnya beranjak.
Setelah mengucap salam, sambungan berakhir. Raina membuka ruang obrolannya dengan Batari, memberitahu jika Aries mengajaknya ke pernikahan sepupunya.
Mbak Tari
Bagus dong, ada kemajuan.
Kamu terimakan ajakannya?
Iya mbak
Mbak Tari
Good. Ingat ya kamu harus minta kepastian dengan hubungan kalian.
Oke mbak. Makasih ya.
Doain Rain.
Mbak Tari
Pastilah mbak selalu doain yang terbaik.
Raina beranjak sebelum rasa malas mendominasinya.
“Kerja Rain, cari uang tuh susahnya kayak cari jodoh.”
Raina memilih memakai long dress berwarna navy dengan bentuk A-line, rambut sebahunya ia biarkan tergerai dengan aksesoris jepitan rambut mungil dengan aksen mutiara kecil. Wajahnya ia rias agar terlihat natural. Raina tidak ingin terlihat mencolok di antara tamu undangan lain tentu saja.
Tepat saat Raina selesai memilih high heels dan mengambil salah satu koleksi clutch nya, panggilan dari Ibunya terdengar. Pasti Aries sudah berada di bawah dan telah menunggunya.
“Hey,” sapa Raina. Dia bersitatap dengan Aries yang memakai baju batik dengan warna yang sama dengan dress Raina.
Aries tersenyum tipis menanggapi sapaan Raina, kemudian pamit pada Ibu Raina dan mengajak Raina ke tempat acara berlangsung.
Saat mereka tiba, banyak tamu undangan yang hadir memenuhi ballroom salah satu hotel ternama di ibu kota. Aries mengajak Raina ke salah satu meja bundar, sepertinya tempat keluarganya berkumpul.
“Nah, ini dia yang ditunggu, akhirnya datang juga,” ucap seorang pria yang wajahnya sekilas mirip dengan Aries, Raina yakin itu salah satu kakak Aries.
“Ku pikir kau tak akan datang, Es. Selama ini selalu saja malas datang jika ada acara keluarga,” ucap pria yang duduk di sisi kanan seorang wanita paruh baya dengan logat bataknya yang kental.
“Datanglah, Bang, kan udah janji kemarin,” jawab Aries. Perhatian teralih pada Raina yang berdiri di samping Aries.
“Hey, siapa pula gadis itu? Pastilah dia yang membuat kau mau hadir di sini. Siapa nama kau?” pria yang duduk di samping wanita paruh baya itu berceletuk riang.
“Kenalin, ini Raina, teman Aries.” Aries tersenyum canggung lalu dia memperkenalkan keluarganya pada Raina.
Wanita paruh baya dengan tatapan teduh yang memakai gamis biru navy dan jilbab bercorak dengan warna dasar senada dengan gamisnya adalah tante Nada, Ibu Aries. Lalu bang Beni, pria yang paling cerewet yang duduk disamping tante Nada, kemudian Bang Hendra yang mirip dengan Aries, dan Bang Rahul, suami mbak Anyelir.
“Para perempuan, biasalah sedang mengobrol, kecuali Mama tentu saja,” ucap bang Beni. Raina tertawa kecil.
“Sini Raina, duduk dekat tante,” ucap tante Nada lembut. Raina menurut, duduk di samping Ibu Aries.
“Raina kerja di mana?” tanya tante Nada.
“Bah, Mama mulai mengintrogasi calon menantu rupanya,” ucap bang Hendra. Raina tersenyum canggung. Tante Nada melotot.
“Di Violett Wedding Organizer, tante,” jawab Raina sopan.
“Gampanglah kau urus nikah nanti, Es, calon kau sudah berpengalaman,” kelakar bang Beni. Semuanya tertawa. Raina dan Aries salah tingkah.
“Berhenti ganggu adikmu, Beni, Hendra,” tegur tante Nada.
“Udah lama kenal Aries?” tanya tante Nada lagi.
“Baru sebulan, Ma.” Giliran Aries yang menjawab. Tante Nada tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya.
Obrolan mereka terhenti saat kakak dan kakak ipar Aries bergabung, kemudian memperkenalkan diri. Raina ikut menggendong anak bang Hendra yang berusia 8 bulan.
“Jadi kapan kau nikahi dia, Es?” bisik bang Hendra. Aries hanya tersenyum masam, tak menanggapi.
“Lihat, dia sudah cocok menjadi Ibu untuk anak kau,” ucap bang Hendra menatap Raina yang sedang mencium wajah Intan, anak bang Hendra dan mbak Indah.
“Raina, kapan-kapan mampir ke rumah ya?” ucap tante Nada. Raina tersenyum, mengangguk setuju, lalu memeluk gemas Intan yang tertawa-tawa sambil berceloteh dengan bahasa bayinya.
“Semoga yang ini jadi ya, Es,” ucap mbak Indah, istri bang Hendra. Aries mengangguk, dalam hati tanpa sadar ia mengamini.