Menjadi desainer itu tidak selamanya mudah. Kadang harus lembur menyelesaikan deadline. Pernah bekerja di salah satu brand ternama di Paris membuat Raina selalu menjadi incaran perusahaan besar, tetapi dia memilih bekerja di Violetta Wedding Organizer.
Keluarganya juga selalu mengajarkannya untuk tetap rendah hati dan sederhana, apalagi Ibunya, Shakira Vexia juga sejak dulu diajarkan kesederhanaan oleh Ibunya yang Raina panggil Eyang Putri.
“Sepertinya Ayah melewatkan satu hal.” Raina yang hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya menoleh dan mendapati Ayahnya yang hari itu ada di rumah.
“Bang Aries?” tebak Raina yang dijawab anggukan oleh Ayahnya. Raina tertawa dan memilih duduk di samping Ayahnya.
“Jadi? Siapa dia?” tanya Ayah Raina melipat koran yang tadi ia baca.
“Hmm bisa dibilang teman. Dikenalin sama mbak Tari sih,” jawab Raina santai.
“Tentara?”
Raina menganggukkan kepalanya.
“Kamu yakin?” tanya Ayah Raina serius. Raina menganggukkan kepalanya. Jujur, ia mulai nyaman dengan Aries walaupun pria itu kebanyakan menghilang.
“Ayah gagal lagi mendapat partner yang sepemikiran,” ucap Ayah Raina yang merupakan seorang Dekan Fakultas Ilmu Sosial di salah satu kampus Negeri di Jakarta.
Raina tertawa. Dia anak kedua dari 5 bersaudara. Kakak pertamanya perempuan, seorang dokter gigi yang menikah dengan seniornya yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam. Lalu Arina, saudari kembar Raina yang menikahi seorang polisi, dan dua adik Raina yang masih melajang. Regan dan Arinda.
“Mungkin nanti Arinda bisa Ayah jodohkan dengan salah satu mahasiswa kesayangan Ayah,” usul Raina.
“Kalau dia mau, kamu tahu Ayah tidak akan pernah memaksakan kehendak kalian. Jadi apapun yang kalian inginkan, asal bisa bertanggung jawab dan selalu jujur,” ucap Ayah Raina. Raina menganggukkan kepalanya.
“Ayah gak keberatan kalau Bang Aries seorang Abdi Negara?” tanya Raina memastikan. Dia masih memiliki ketakutan jika keluarga besarnya akan mencemooh profesi Aries sama seperti yang pernah Arina alami.
“Ayah justru bangga. Seorang Abdi Negara itu memiliki jasa yang besar untuk negara. Alfian menantu Ayah seorang Polisi, lalu Batari dan suaminya tentara, suami Khaylila juga tentara. Ayah doakan dia benar-benar serius sama kamu. Tidak perlu mendengar omongan orang lain, kamu yang menjalin hubungan,” ucap Ayah Raina. Raina tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu memeluk Ayahnya erat.
“Rain selalu bangga memiliki Ayah yang luar biasa,” ucap Raina. Ayah Raina mengusap rambut putrinya dengan sayang dan balas memeluk putrinya.
“Ayah bersyukur memiliki anak-anak yang membanggakan.”
Seperti dugaan Raina, Aries lagi-lagi hilang tanpa kabar. Kadang Raina berpikir, apa Aries benar-benar ingin PDKT dengannya? Tetapi otaknya mengatakan bisa jadi Raina hanya dijadikan teman. Toh ini baru lewat seminggu setelah pertemuan pertama mereka.
Raina masih berusaha tenang, dia juga bukan gadis bar-bar yang seagresif itu langsung minta dilamar. Dia masih bisa menjalaninya. Setidaknya dalam waktu 3 bulan, baru Raina akan meminta kepastian hubungan mereka.
“Bengong aja troos.”
Raina yang sedang menopang tangannya di dagu langsung berdecak dan menurunkan tangannya.
“Paan sih lo,” cibir Raina pada saudari kembarnya yang hari itu mampir di rumah orangtuanya.
“Seraa, sini sama onty.” Raina merentangkan tangannya pada Sera, keponakannya yang berusia 3 tahun.
“Ndak mau, sama onty Inda aja,” jawab Sera yang langsung berlari memeluk Arinda, adik bungsu Raina yang masih kuliah semester 3 jurusan Ekonomi Pembangunan.
Raina cemberut, sedangkan Arina tertawa karena penolakan dari Sera yang gengsinya selangit itu. Giliran tidak bersama Raina, anak semata wayangnya itu selalu menanyakan onty nya tetapi jika bertemu dia akan memilih bersama Arinda.
“Kata Ibu, udah ada gebetan nih Rain?” Arina mengerling jenaka. Raina mengedikkan bahunya tak acuh, dan meminta Arina untuk mendoakan yang terbaik pada hubungan mereka. Entah itu berlanjut atau tidak.
“Ohh jadi dia jarang hubungin lo? Ya berarti dia tipe-tipe cowok cuek, kayak kak Alfian. Mending gitu daripada awal-awal chat gak di kasih kendor, eh lama-lama jarang chat lalu hilang tanpa kabar,” ucap Arina santai setelah mendengar cerita kakaknya. Raina berdecak.
“Lo nyinggung hubungan gue sama Dion dulu?” tanya Raina sensi.
“Yee gue tuh ngomong fakta tau, kan banyak tuh sekarang tipe yang kayak gitu. Udahlah kalau jodoh mah, jodoh aja. Makanya kalau lo kebangun mimpi buruk tengah malam tuh sholat, jangan langsung tidur lagi,” ceramah Arina yang sangat mengetahui saudari kembarnya itu sholat nya masih bolong-bolong, walaupun belakangan ini dia mulai memperbaiki diri setelah tragedi obat antidepresan itu.
“Iya Nyah,” jawab Raina kalem lalu tiba-tiba ia menendang sesuatu di bawah meja.
“Eh kambeeng!” Raina memekik kaget lalu ia menundukkan kepalanya dan mendapati kucing anggora kesayangannya sedang terlelap dengan nyenyak.
“Yaampun Catty! Seharian dicariin ternyata disini,” ucap Raina. Arina tertawa dan ikut menunduk menatap kucing yang berbulu abu-abu itu.
“Ngumpet dari Sera nih, lo tau anak itu gimana aktifnya,” ucap Arina. Raina tertawa dan mengangguk. Sera selalu menarik ekor Catty, sekalipun kucing itu sedang makan atau tidur. Dan seolah paham Sera masih kecil, Catty hanya menatap kesal atau memilih tak peduli.
Ponsel Raina berbunyi, notifikasi chat dari Aries.
Bang Aries : Lagi apa?
Raina segera membalas pesan dari Aries. Setelah 3 hari tanpa kabar akhirnya pria itu kembali muncul ke permukaan.
Raina : Ngobrol sama adik Rain. Abang lagi apa?
Ponsel Raina berdering, telpon dari Aries. Daripada menjadi bulan-bulanan Arina, Raina memilih beranjak menuju teras samping untuk menjawab panggilan dari Aries.
“Assalamualaikum, hari ini sibuk?” tanya Aries. Raina pun menceritakan apa yang ia lakukan weekend hari ini.
“Nanti sore jalan bareng mau gak?” tanya Aries lagi. Raina berpikir sejenak.
“Hmm boleh. Emang mau ke mana?”
“PIM.”
“Oke.”
“Nanti dijemput ya.”
“Iya Abang.”
“Yasudah, Abang istirahat sebentar.”
Lalu sambungan berakhir. Sepertinya Raina harus terbiasa dengan intensitas komunikasi mereka yang kurang, tetapi sekalinya memberi kabar pria itu selalu mengajaknya ketemu.
Raina duduk bersisian dengan Aries, mereka sedang menunggu pintu theater terbuka sambil mengobrol ringan, kali ini membahas tentang orangtua Aries. Yang Raina tau, Aries adalah putra bungsu dari empat bersaudara, hanya memiliki satu kakak perempuan, dan orangtuanya bercerai sejak Aries masih SMA.
“Jadi Abang kalau mau ketemu Papanya gimana?” tanya Raina.
“Ya tiap selesai lebaran balik ke Medan, sekalian jenguk Nenek disana juga,” jawab Aries. Raina menganggukkan kepalanya.
“Enak ya Abang bisa rasain pulang kampung, Raina terakhir waktu SD kelas 4 deh, soalnya keluarga sekarang ngumpulnya di rumah Om Yudha di Jakarta,” ucap Raina.
“Gak enak pulang kampung, harga tiket biasanya mahal.”
Raina tertawa lalu pengumuman bahwa pintu theater telah dibuka terdengar. Raina segera beranjak bersama Aries untuk masuk ke dalam studio.
Setelah selesai nonton, Aries mengajak Raina untuk sholat maghrib kemudian mereka makan malam di salah satu restoran di mall. Mereka kembali mengobrol, bersama Aries Raina bisa menjadi dirinya sendiri dan entah kenapa dia semudah itu menceritakan kehidupannya secara blak-blakan.
“Orangtua Raina gak telpon?” tanya Aries saat mengantar Raina pulang ke rumahnya. Raina menggelengkan kepalanya
“Kan tadi udah bilang mau keluar bareng Abang,” jawab Raina santai.
“Jangan-jangan udah gak sayang Rain lagi,” ucap Aries serius. Raina mengerucutkan bibirnya tak terima.
“Mana ada gitu, Ayah sama Ibu kan percaya sama Raina, jadi gak ditelepon,” jawab Raina.
“Bisa jadi kan sekarang lebih sayang Arinda. Ayoloh Raina udah gak disayang lagi,” ucap Aries menakut-nakuti.
“Ih enggak tahu Bang.”
Aries tertawa, tawanya terdengar renyah dan seperti puas menggoda Raina.
“Abang kenapa pilih jadi tentara?” tanya Raina penasaran. Aries mengedikkan bahunya
“Tiba-tiba saja ingin, soalnya dulu gak tahu bakatnya dimana, terus ikut temen tes eh malah lulus. Raina kenapa jadi desainer?”
“Karena dulu waktu kecil pernah diajarin Yangti jahit, asik aja gitu. Terus pas SMP jadi suka buat sketsa rancangan baju, yaudah lulus SMA Ayah cariin beasiswa kuliah desainer jadi deh,” jelas Raina. Dulu memang Raina sangat malas di sekolah sampai Ayahnya kewalahan, tetapi malah diantara saudaranya hanya Raina yang mendapat beasiswa di luar negeri.
“Terus kenapa gak buka butik?” tanya Aries. Raina menggelengkan kepalanya.
“Raina gak suka lembur tiap hari, kayak boss Raina di kantor tuh tiap hari lembur mantau karyawannya, apalagi kalau ada nikahan, ribet deh,” jawab Raina
Saat tiba di rumahnya, pintu gerbang rumah Raina sudah terkunci padahal baru pukul 9 malam. Dan Aries kembali mengungkit jika orangtuanya tidak menyayangi Raina lagi.
“Adeekk! Bukain dong!” panggil Raina.
“Adeek.” Aries yang duduk di dalam mobilnya ikut berseru.
“Arinda! Regan! Ada yang baru nih,” panggil Raina lagi.
“Apaan tuh?” tanya Aries. Raina tertawa bersamaan dengan pintu utama rumahnya yang terbuka dan yang muncul malah Ibunya yang memakai daster rumahan.
“Ibuu, kata Abang Ibu gak sayang Rain soalnya gerbangnya dikunci,” Adu Raina saat Ibunya membuka kunci pagar. Aries segera turun dari mobilnya.
“Sayang kok, Ibu kunci karena Ayah lagi keluar kota besok ada seminar,” jawab Ibu Raina.
“Tuh, Abang sok tahu.. Huuu.”
Aries tersenyum lalu mencium punggung tangan Ibu Raina dengan sopan.
“Iya sayang Raina kok, iya kan Bu?”
“Iya disayanglah, kan anak Ibu.”
Kemudian Aries pamit pulang. Begitu mobilnya berlalu, Ibu Raina menatap putrinya dengan kerlingan jenaka.
“Dia anaknya sopan ya? Dan sepertinya Rain lebih bahagia sekarang. Gak mimpi buruk lagi semingguan ini?”
Raina menggelengkan kepalanya, dia juga baru sadar jika traumanya tidak lagi muncul dalam mimpinya di setiap malam.
“Yasudah, yuk masuk udah mal am,” ucap Ibu Raina. Raina mengangguk lalu segera beranjak masuk ke dalam rumahnya.