bc

Sang Pengelana

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

Birawa Adiguna, seorang pemuda dari keluarga biasa dengan latar belakang yang tidak sempurna. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, ayah dan ibunya telah bercerai.

Latar belakang ayah Birawa yang seorang penjudi dan ringan tangan, sempat membuat banyak mata dan telinga tetangga, di mana Birawa dibesarkan menghakimi, jika buah jatuh tak 'kan jauh dari pohonnya. Hingga membuat cinta kasih yang dibina Birawa dan Ayuna tak berlangsung lama.

Seperti nama yang telah dipilihkan untuknya, Birawa artinya hebat, dan Adiguna berarti bermanfaat. Birawa gigih mengejar cita-cita hingga ke India dan Irlandia. Banyak hal yang harus dilalui Birawa untuk bisa mewujudkan mimpinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 (Kepingan Masa Lalu)
Derap kaki mendekati pelataran kecil di sekitar kompleks perumahan pasar. Kaki berbalut sepatu mengkilap itu menjejak tanah dengan penuh kebanggaan. Setelah meninggalkan mobil mewah di sisi jalan, pemilik pantofel bermerek itu melangkah tegap menyusuri lorong. Senyum tipis melekat pada sang pemilik wajah manis, khas pria jawa yang menebar aura ramah tamah di setiap pasang mata tetangga yang melihatnya. "Birawa, to, iki?" tegur seorang ibu yang sedang asik menyisir hewan kecil di rambut seorang ibu yang lain. Laki-laki tiga puluh tahun bernama Birawa itu pun kembali melempar senyuman. "Enggih, Bu," jawabnya sedikit dengan tundukan kepala. "Mari, Bu. Aku nemuin Mbak Renata dulu, ya." Usai beramah tamah, Birawa kembali melanjutkan langkah. Pria itu terus menyusuri lorong, melewati rumah demi rumah yang tak berhalaman. Langkah itu terlihat santai, meski dalam hati Birawa sangat ingin segera sampai ke tempat tujuan. Masih lekat dalam ingatan Birawa, bagaimana sembilan tahun silam saat ia masih tinggal di tempat itu. Tanah becek saat hujan mengguyur semalaman, air menggenang dari selokan dangkal yang membanjiri halaman sekitar. Deretan rumah semi permanen dengan atap genting jamuran menjadi pemandangan yang tak lagi terelakkan. Kini, pantofel mengkilap miliknya tak lagi menjejak tanah kotor saat harus kembali memasuki lingkungan itu. Batu beton berbentuk segi empat telah tersusun rapih, menjadi pijakan aman di sepanjang lorong jalan. Tiba di depan pintu yang terbuka lebar, Birawa mengucapkan salam. Tampak perempuan lima tahun lebih tua dari Birawa telah antusias menyambut kedatangannya. "Sendirian, Bi?" tegur Renata seraya menyambut uluran tangan Birawa yang hendak mencium punggung tangannya. Perempuan berpostur mungil itu mengedarkan pandangan di balik tubuh tegap Birawa. Bola mata hitamnya bergerak-gerak, berusaha menemukan sosok yang ia cari. "Raini sama Keysha gak ikut, Mbak." Birawa merengkuh bahu Renata, memutar posisi perempuan tiga puluh lima tahun itu menghadap searah dengannya. "Kok, gak diajak?" tanya sulung dari tiga bersaudara itu masih penasaran. "Keysha kurang enak badan." Birawa mengakhiri percakapan. Sejurus kemudiam, mata Birawa tampak menyisir setiap sudut ruangan. Hingga irisnya berhenti saat menatap satu foto yang terbingkai cantik di dinding. Birawa sedikit menarik ujung bibir. Foto itu melempar ingatannya pada perjuangan sembilan tahun silam, saat ia terseok menyelesaikan Sekolah Menengah Atas. Kiriman uang SPP yang kerap terlambat ia terima dan uang jajan yang lebih dari pas-pasan. ❤ Isak tangis Birawa pecah, pemuda yang baru saja menginjak usia di angka enam belas itu tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan, tatkala mendapati pamit sang ibu. Ini kado ulang tahun terpahit ke dua yang Birawa peroleh dari orang tua, setelah kabar duka perceraian ibu dan bapaknya. Saat itu Birawa masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. "Harus, ya, Bu?" tanya Birawa seraya bersimpuh memeluk lutut sang ibu. Bu Jumi tersenyum, telempap kasar wanita paruh baya itu mengusap lembut kepala sang putra. "Harus, Le. Kamu dan adekmu Jeri masih butuh banyak biaya. Ibukmu ini bodoh, tapi kamu sama adekmu, ndak boleh kayak ibuk." Bulir bening yang sempat terhenti, seketika luruh kembali dari sudut netra Birawa, menambah irama tangis yang sedari tadi mewarnai. Setelah beberapa tahun menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah tetangga, demi menghidupi dan membiayai pendidikan Birawa dan kedua saudaranya, sudah saatnya Bu Jumi memberanikan diri. Ia percaya, jika Saudi Arabia akan membawanya memperoleh penghasilan lebih baik untuk hidupnya juga ke tiga anak-anaknya. Sejak Birawa masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, hubungan bapak dan ibu Birawa sudah penuh dengan konflik pelik, nafkah yang tak kunjung mereka terima dari sang ayah, perselingkuhan yang kerap kali juga dilakukan, ditambah lagi perilaku kasar sang ayah kepada ibunya. Pernah sekali birawa mendapati telapak tangan kekar itu mendarat tepat di pipi, dan darah keluar dari sudut bibir sang ibu. Ayah Birawa tak sadarkan diri, efek alkohol itu benar-benar sudah merajai. Kadang memaki, dan sesekali mencederai fisik perempuan mungil yang telah melahirkan tiga anak dari rahimnya. Bertahun-tahun kisah itu terus berulang, hingga Bu Jumi, ibunda Birawa merasa tak sanggup lagi hidup bersama sosok kasar seperti suaminya. Hingga akhirnya, perpisahan itu pun terjadi. "Dadio wong seng berguna, ya, Le. Jangan khawatirkan ibuk, baik-baik dengan mbak dan adekmu. Sekolah seng bener di Trenggalek ikut Bulekmu, kalau kamu kangen ibuk, pulanglah ke rumah ini." Bu Jumi mengecup lembut ubun-ubun putra kesayangannya. ❤ Aroma khas kopi kemasan menguar di penciuman, menggugah kesadaran laki-laki berkacamata itu dari lamunan. Tatkala Birawa tersadar, secangkir minuman late dan sepiring pisang goreng kesukaannya telah terhidang di hadapan. Sepotong pisang terbalut tepung kering itu berhasil masuk ke kerongkongan Birawa. Masih sangat ia ingat, bagaimana dulu Renata selalu menyiapkan sepiring pisang goreng dan secangkir teh untuk ia juga Jeri adiknya. Menu andalan pengganjal perut sebelum mereka berangkat ke sekolah. Kenangan demi kenanangan pun kembali berjejal liar bak ingin keluar dari kepala Birawa. Ada tangis, rindu, duka, juga bahagia yang menjalar seketika. "Bulek cuma bisa mbantu biaya tinggalmu aja yo, Bi. Untuk biaya kelulusan dan pendaftaranmu masuk perguruan tinggi, kayaknya bulek ndak sanggup." Wanita bergelung rambut itu lirih berujar, seraya membenahi piring dan gelas lepas makan malam. Birawa tersenyum tipis, remaja delapan belas tahun itu berusaha menerima lapang d**a dengan apa yang baru saja keluar dari bibir adik kandung ibundanya. Tiga tahun sudah Bulek Arti menampung Birawa dengan cuma-cuma. Tak tega rasanya ia menerima kiriman uang ibu Birawa dari hasil jerih keringatnya bekerja di luar negeri. "Ini, kemarin ibumu kirim." Bulek Arti menyodorkan amplop cokelat setebal kemasan obat nyamuk bakar ke arah Birawa. "Untuk biaya daftar kuliah, kata ibumu," ujarnya menambahi. Birawa menyambut uluran amplop dari Bulek Arti. Ditatapnya lekat benda yang kini ada di tangannya, kemudian bergantian menatap wanita paruh baya di hadapannya. "Kapan ibuk telpon, Bulek?" "Kemarin, tapi ibumu ndak bisa lama. Cuma titip pesen, kamu kon kuliah di keguruan, Le." Menjadikan putra-putrinya guru adalah mimpi Bu Jumi sejak belia, tapi sejauh pengorbanan yang telah ia lakukan, baru Birawa yang memiliki keuletan mewujudkan cita-cita. Detik jam terus berpacu, bak beradu tangkas dengan semangat Birawa yang menggebu. Pesan, keringat lelah, dan perjuangan sang ibu membuat tekadnya semakin membara. Berbekal rata-rata nilai Ujian Akhir 91,68 menempatkan Birawa menjadi siswa paling berprestasi. Bertubi beasiswa masuk ke perguruan tinggi pun ditawarkan pada remaja bertinggi badan 160 sentimeter itu. Birawa adalah sosok sederhana. Meski memiliki mimpi setinggi Mahameru, ia tetap mempertimbangkan segala saran, masukan, juga pesan yang masuk melalui telinganya. Tiga tahun menjadi tanggungan adik sang ibu, kemudian ia tinggalkan begitu saja setelah beasiswa sudah ada di tangan, bukanlah keputusan mudah bagi seorang Birawa. Universitas Brawijaya, Malang. Salah satu tiket beasiswa yang ditawarkan pada remaja berkulit sawo matang itu. Namun, Birawa masih penuh dengan pertimbangan. Jika ia menerima beasiswa tersebut, sudah pasti ia harus rela indekos dan meninggalkan rumah Bulek Arti. Berbanding terbalik dengan pesan ibu Birawa. Setelah SMA, ibu birawa ingin ia tetap tinggal dan menemani bulek Arti di rumahnya. Lantaran bulek Arti sudah tak lagi bersuami, dan hanya sebatang kara tinggal di Trenggalek. "Birawa ambil beasiswa STKIP di Trenggalek, Bulek," ucapnya sembari memoles kendaraan tua yang menjadi tunggangan tiap kali pergi ke sekolah. Bulek Arti membelalak. Ada raut tak percaya dengan keputusan yang diambil oleh keponakannya. "Bukanne Unibraw itu mimpimu, Bi?" tanyanya masih penuh keraguan atas ucapan Birawa. Birawa tersenyum ke arah Bulek Arti, memindahkan tatapan mata dari motor tua miliknya. "Yakin, Bulek," imbuhnya lantang dengan logat khas jawa. Alis hitam milik Artika pun berpaut. Otaknya masih terus berpikir, beguraukah Birawa dengan pilihan yang sudah ia putuskan? Ketika perguruan tinggi yang ia idamkan selama ini siap membiayai pendidikannya, Birawa justeru menambatkan STKIP menjadi pilihan. "Unibraw beasiswanya agribisnis, Bulek. Kalau STKIP sudah pasti keguruan, sesuai sama keinginan ibuk. Birawa juga bisa sambil bantu-bantu bulek juga, to?" Birawa melanjutkan penjelasan. Mendengar ucapan Birawa, netra wanita berpostur kurus tinggi itu pun berkaca-kaca. Latar belakang keluarga yang sama sekali jauh dari kata harmonis, bahkan cenderung berantakan, tak membuat Birawa tumbuh menjadi pribadi buruk. Namun sebaliknya, ia bersikap jauh lebih dewasa dibanding dengan remaja seusianya. "Putramu sungguh membanggakan, Mbak." "Syukur alhamdulillah, Tik ... Mbak seneng tenan dengere." Suara dari seberang telepon itu terdengar bergetar, ada isak tangis yang jelas tertahan. "Kenopo Mbak Jum ndak mau ngobrol langsung sama Birawa?" Tahun ini, tepat purnama ke tiga Bu Jumi meninggalkan putra putrinya di Indonesia. Menitipkan Birawa pada adik satu-satunya yang berstatus janda. Namun, pemuda yang sangat dekat dengan ibunya itu belum sekali pun mendengar suara sang ibu melalui telepon. Bu Jumi tampak sengaja menghindar. Hanya Artika, adiknya yang menjadi perantara kabar tentang Birawa. "Mbak ndak sanggup denger suara Birawa, Tik. Mbak tau, bocah iku paling sayang karo aku. Nanti malah aku yang tersedu-sedu." Suara itu makin terdengar bergetar. Sebelum akhirnya, ia menyudahi percakapan. ❤ Telempap tangan mungil melambai tepat di depan wajah Birawa. Seketika mengembalikan kesadaran pria berkacamata itu pada kenyataan. Mata Birawa beradu tepat dengan iris hitam milik Renata. Ibu beranak dua itu tampak tersenyum tipis menatap saudara laki-laki yang begitu dibanggakan oleh ibunya. Remaja bertubuh kurus dengan gaya rambut bak aktor Teuku Ryan saat berumur dua puluh tahunan, kini telah menjelma menjadi sosok yang sangat berwibawa. Kemeja lengan panjang biru tua tanpa motif, tampak serasi berpadu dengan celana dasar hitam dan pantofel mahal yang ia kenakan. Renata tak pernah menyangka sebelumnya, jika Birawa akan mewujudkan mimpi dari India hingga ke Irlandia. Mengejar cita-cita bukan hanya sebagai ambisi, tetapi juga berbagi kebahagiaan yang dapat dinikmati seluruh keluarganya. "Pengen jalan-jalan ke luar negeri ora, Mbak?" tanya Birawa memecah kekaguman saudara perempuannya. Renata menyunggingkan senyum seraya membalas ucapan birawa, "Ora usah ngeledek."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

read
1.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook