"Kebahagianku adalah tetap melihatnya tersenyum." ~Hayu.
"Ibu, Aina mau ke Om Dokter, ya?" teriak Aina dari halaman depan sambil mendekap boneka pemberian Alam. Gadis kecil tersenyum sendiri, karena ia senang bisa ke rumah Alam.
"Nanti dulu, Nak. Ini masih pagi," sahut Hayu dari dalam tergesa-gesa keluar.
Tapi saat Hayu melangkahkan kakinya ke teras. Aina sudah belari kecil menuju rumah Alam yang berada tepat di belakang rumah Hayu. Aina tinggal berjalan beberapa langkah dan berbelok kanan. Gadis kecilnya memang pemberani, tak jarang ia membeli jajan di toko depan seorang diri.
"Ya ampun anak itu. Kalau sudah dekat sama seseorang maunya ke rumah orang itu terus," gerutu Hayu dan masuk kembali ke rumahnya.
Sudah hampir seminggu ini Aina tiap Sabtu pagi di hari libur sekolahnya selalu berkunjung ke rumah Alam. Kebetulan juga Sabtu adalah hari libur Alam. Menjelang sore Hayu akan menjemputnya sepulang dari Kafe.
"Asalkan Alam bisa membuat Ainaku tersenyum dan bahagia maka aku akan mengijinkan Alam selalu bersama Aina," gumam Hayu dalam doanya.
"Wah sudah hampir pukul sembilan. Aku harus ke Kafe nih." Dengan terpaksa Hayu menyeret kakinya menuju pintu keluar dan menguncinya.
Hayu menatap langit sebentar. Berkomat-kamit di bibirnya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil Hayu selalu menatap langit dan berdoa untuk hari ini.
Tanpa Hayu sadar ada sepasang mata yang melihatnya keluar dari teras dan merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
"Yah, lihat siapa sih? Kok wajah ayah terkejut?"
"Bukan siapa-siapa kok."
Antara percaya dan tidak tapi yang dilihat pria tua itu memang merasa ada sesuatu yang mengganjal. Pria tua itu seakan-akan mengenal Hayu sejak lama tapi tidak tahu di mana.
*****
"Om Dokter, sudah makan belum?" Aina kecil bertanya dengan mimik yang menggemaskan.
"Sudah. Aina sudah makan belum?" tanya Alam kembali.
Berpikir sejenak dan tersenyum nakal.
"Sudah tadi tapi Aina masih lapar." Aina mengikuti Alam menuju dapur dengan wajah lesu.
"Aina mau makan apa? Biar Om Dokter yang buatin."
"Hmm apa, ya?" Menopangkan dagunya ke atas meja dengan mata yang melihat ke atas.
"Sini biar Bi Sum yang buatin nasi goreng telur dadar ya," ujar Bi Sum sambil menyalakan kompor.
Aina tersenyum sumringah. Inilah yang dinantikan Aina di hari Sabtu. Bukannya Aina tidak mengijinkan Alam memasaknya, tetapi masakan Alam tak bisa dimakan sama sekali. Kadang asin kadang hambar. Maklum Alam adalah orang super sibuk seperti Presiden. Sejak mengenal Aina dan Hayu, jam kerjanya ia kurangi.
Aina sangat menyukai nasi goreng buatan Bi Sum. Rasanya mantap dan jos gandos kata Aina. Aina dengan lahap memakan nasi goreng itu tanpa dia hiraukan panggilan Alam.
"Mas, sedang panggil siapa?" tanya seorang gadis bertubuh tambun yang masuk ke rumah Alam.
"Loh katanya besok mau ke sini sama ayah, Seroja? Kok kamu sendiri?" Alam terkejut ketika mendapati adiknya sudah di ambang pintu.
"Itu karena ayah ingin ketemu sama Mas Alam," tunjuk Seroja ke arah ayahnya.
"Seroja mau minta makan sama Bi Sum. Lapar nih Mas," ujarnya sambil menepuk perut gendutnya.
"Dasar kamu itu tukang makan aja kerjaannya," gurau Alam sembari menuju tempat garasi mobil menemui ayahnya.
Seroja yang masuk ke dapur agak terkejut mendapati Aina di meja makan bersama Bi Sum.
"Bi Sum," panggilnya yang membuat Aina terkejut.
"Loh sampeyan toh Mbak? Katanya Mas Alam besok datang?" Bi Sum langsung berdiri dari kursinya.
"Dia siapa, Bi?" selidiknya penuh curiga.
"Oh ... dia itu Aina. Tetangganya Mas Alam. Ibunya kerja sama Mbak Arimbi," jelas Bi Sum.
"Salam kenal Tante cantik. Saya Aina." Aina segera memberi salam tanpa disuruh dan menyalami tangan Seroja.
Dasarnya Seroja yang ingin sekali menginginkan adik perempuan langsung mencubit pipi Aina dengan gemas.
"Ya ampun Seroja. Anaknya orang jangan kamu main cubit dong. Sakit nanti," omel sang ayah yang mengetahui Seroja sedang mencubit Aina.
"Ih ... ayah. Seroja gemas," sungutnya dengan manja.
"Hai, nona kecil. Siapa namanya?" Sang ayahpun ikut membungkuk memperkenalkan diri.
"Nama saya Aina, Kek," ucap Aina malu.
"Kamu cantik, Aina. Mata dan senyumanmu mengingatkan kakek dengan seseorang," kata Gibran sambil membelai lembut rambut panjang Aina.
"Siapa yang ayah maksud?" tanya Alam sambil membawa dua koper dari luar. Satu besar lagi dibawa sopirnya. Alam tahu itu pasti camilan sang adik.
"Orang yang sudah melahirkan kalian."
Semua terdiam karena penuturan ayahnya. Tak ada yang mau mengungkit almarhum sang ibu yang telah melahirkan mereka.
"Ayo ikut kakek, Aina. Kamu suka cokelat, bukan?" tawar Gibran dengan menggandeng tangan kecil Aina.
Sejenak Alam dan Seroja saling memandang. Tak seperti biasanya Gibran sang ayah berkenalan dulu dengan anak kecil. Bukannya Gibran tak menyukai anak-anak melainkan beliau tidak tahu bagaimana cara menyenangkan seorang anak.
*****
Tiap Sabtu Aina selalu bersama Alam seharian. Hayu harus segera menyusulnya karena dia tak merepotkan Alam di rumahnya. Hayu diperbolehkan pulang oleh Arimbi karena kafe sudah tutup di jam delapan malam.
"Permisi ..,." Hayu memanggil Aina dari luar.
"Cari siapa, Mbak?"
Yang keluar bukan Aina melainkan gadis berperawakan gemuk dari dalam rumah Alam.
"Saya mau menjemput Aina, Dek."
Hayu memanggilnya adek karena dia yakin jika wanita itu lebih muda darinya.
Sekali lagi bukannya memanggil Aina sang gadis berambut sebahu ini malah menghampiri Hayu. Memangnya aku ini pencuri? tanya Hayu dalam hati.
"Mbak ini Mbak Senja, kan?"
Hanya beberapa saja yang memanggilnya Senja bukan Hayu. Mereka yang memanggil nama kecilnya, hanya orang terdekat saja.
"Kok adek kenal nama kecil Mbak?" tanya Hayu kaget.
"Ya ampun Mbak Senja? Masa tidak kenal sama aku?" teriaknya gembira dengan menepuk bahu Hayu. Hayu meringis.
"Siapa, ya Dek?" Hayu masih bingung dan tak tahu siapa gadis ini.
"Aku Seroja, Mbak. Murid les Mbak dulu. Biasanya Mbak panggil aku Oca."
"Oca yang di perumahan Srikandi Jaya?"
Wanita yang bernama Oca itu tersenyum dan menggangguk.
"Mbak ke mana saja? Waktu Oca lulus SD Mbak Senja sudah pindah rumah." Oca langsung memeluknya.
Ternyata anak kecil berusia sepuluh tahun yang selalu dibujuk jika mau les sudah beranjak menjadi gadis yang manis. Anak yang tak mau dipanggil Oja nama kesayangan ayahnya sehingga Hayu mengganti namanya menjadi Oca.
"Kamu kenal sama Dokter Alam?"
"Alam itu kakakku, Mbak Senja."
"Loh tapi mengapa Mbak tidak pernah bertemu kakakmu waktu Mbak memberi les?" ujar Hayu terkejut.
"Mas Alam itu tinggal di Solo sama Eyang Putri. Mas Alam tidak mau kumpul sama aku dan ayah sejak ibu meninggal di rumah itu, Mbak."
"Oh ... jadi begitu. Pantas Mbak tidak pernah kelihatan."
"Iya Mbak. Ketika aku lulus SD, baru ayah mengajak aku pindah ke Solo untuk tinggal bersama Mas Alam."
Hayu menggangguk dan menghiburnya. Hayu memang tidak sepenuhnya tahu tentang kehidupan Oca. Oca hanya bercerita jika kakaknya tidak mau lagi tinggal di rumah tempat ibunya meninggal.
"Paman tahu kamu itu Senja. Lembayung Litahayu Senja, bukan? Anaknya Pak Rahmadi Cahyono Lutra." Tiba-tiba saja Gibran dan Alam menghampiri mereka di teras.
"Paman Gibran?" kata Hayu senang melihat rekan bisnis ayahnya dulu sebelum usaha ayah Hayu bangkrut.
"Maafkan Paman jika Paman baru menemuimu saat ini. Paman mencari keluargamu ketika Oja lulus SD tapi rumahmu bukan di sana lagi," tutur Gibran sedih.
"Tidak apa-apa, Paman. Saya senang bertemu Paman lagi."
Paman Gibran memeluk Hayu erat seperti anaknya sendiri. Hayu melihat wajah keheranan Alam yang berdiri sambil menggendong Aina yang tertidur.
"Alam, kamu antarkan Senja, ya. Biarkan pembicaraan kita berlanjut esok saja." Gibran melepas rangkulannya.
"Saya permisi dulu, Paman." Hayu berpamitan kepada Gibran sebelum pulang.
Ah hari ini adalah hari yang spesial untuk Hayu. Dia dipertemukan oleh seseorang yang baik lagi oleh Tuhan.
=Bersambung=