Part 9 Gosip

1025 Kata
"Tutup telinga saja jika ada yang membicarakan kita." ~Alam  "Bagaimana foto kami? Keren, bukan?" Hayu baru saja membuka wattsapp yang menampilkan Aina dan Alam berpose dengan cantiknya. Mereka seperti ayah dan anak. "Memangnya kalian foto di mana?" Hayu mengirim pesan kepada Alam. Pantas saja mulai kemarin malam Aina sibuk mencari baju yang dia ingin pakai. "Lomba apa?" Hayu mengetik sambil memakan siangnya. Ia pikir lomba biasa saja yang pernah diadakan sekolah Aina. "Lomba ayah dan anak." "Nggak seperti biasanya si Mas Alam suka sama selfie," celetuk Arimbi di belakang Hayu tiba-tiba. "Oh maaf Arimbi. Aku tidak tahu jika kamu di sini," ujarnya yang terkejut dan meneguk segelas air. "Mas Alam ikut lomba sama Aina, ya? Wah keren foto-fotonya." Arimbi menyambar ponsel Hayu dan melihat semua gaya Alam dan Aina ketika di foto. "Juara pertama, ya?" sahut Arimbi senang. "Seharusnya Mas Alam sudah menikah di umurnya yang sudah tua. Ah, Mas Alam sih pemilih," katanya sambil menyerahkan ponsel milik Hayu. Hayu hanya terkekeh tak menjawab. Di usia yang sudah matang, Alam belum menemukan jodoh yang ia inginkan. Sejak pertemuan dengan Hayu, ia merasa wanita itulah jodohnya kelak. "Oh, ya sebentar lagi suamiku akan ke sini. Kami akan makan malam berdua." Arimbi sumringah mengatakannya. "Selamat menikmati kencan kalian." Hayu mencandainya. Ia tak pernah tahu suami Arimbi. Kata Arimbi, suaminya jarang berkunjung ke kafe. Arimbi mengarahkan jempolnya kepada Hayu. "Maaf Alam aku harus melanjutkan pekerjaanku dulu. Tolong antarkan Aina ke rumah, ya. Terima kasih." Tak berselang lama Alam membalasnya dengan cepat. "Tenang saja. Aku akan menjaga Aina." Hayu menyudahi percakapan melalui pesan dengan Alam karena pekerjaannya sudah menanti. Maklum jam makan siang adalah pekerjaan tersibuk di kafe mereka. ***** Hari sudah hampir sore ketika Hayu pulang ke rumah kontrakan. Dari awal masuk gerbang menuju rumah, Hayu melihat banyak sepasang mata yang memandangnya aneh. Hayu tidak tahu apa yang terjadi? Apa dia telah berbuat salah? Atau Aina tanpa sengaja melakukan suatu hal? Mereka berbisik-bisik dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bu Hayu, benar anda itu sudah bercerai?" tanya ibu Fatma tetangga depan rumahnya. "Maaf ibu. Mengapa ibu bertanya seperti itu?" sahut Hayu pelan. "Tolong, ya Bu. Jangan menjadi janda genit yang suka menggoda suami orang," ujarnya kasar dan mengintimidasi. "Kalau anda sampai menganggu suami kami. Maka kami berhak mengusir anda dari sini," sahut ibu bertubuh tambun di sebelah Ibu Fatma. "Maksud ibu apa?" Hayu terheran-heran mendengar ibu Fatma bertanya hal tersebut. "Kami takut jika Ibu Hayu akan menggoda suami kami," cerocos Ibu Fatma tanpa henti dan matanya melirik ke arah teman-temannya meminta bantuan. "Saya tidak mengganggu suami ibu-ibu di sini. Jangan berpikiran seperti itu, Bu," tegas Hayu tak mau kalah. "Halah ... Ibu Hayu. Kami ini tahu wanita semacam anda itu seperti apa?" kata yang lain juga. Rasanya ingin Hayu sobek mulut ibu ini. Dia bukan seperti yang mereka pikirkan. Memang ibu Fatma suka sekali bergosip dan tak jarang tetangga sebelahnya juga jadi bahan gunjingan. "Maksud perkataan Ibu apa?" Hayu bertanya dengan kesal. "Jangan sok bermuka malaikat, Bu Hayu. Saya tahu anda itu wanita nak---" ucapannya terhenti saat Alam menghampiri. "Hayu bukan wanita nakal, Ibu Fatma. Dia adalah kekasih saya." Hayu melongo mendengarnya. Ia tak menyangka Alam bicara seperti itu. "Kekasih? Dengan wanita janda?" hinanya tanpa merasa bersalah. "Memang salah jika kekasih saya seorang janda? Bukannya Allah mengijinkan kita menikahi siapa saja asal wanita itu baik budi luhurnya?" ketus Alam sambil tetap menggandeng Aina. "Alam, sudah biarkan saja," cegah Hayu agar tidak ada keributan. "Ibu-ibu, saya tahu kalian pasti mendengarkan saya. Hayu adalah kekasih saya. Jangan pernah sekalipun menjelekkan kekasih saya. Bersikap baiklah terhadap Hayu jika tidak ingin rumah kalian saya hancurkan!" kecam Alam yang terlihat emosi. "Alam sudah hentikan. Malu dilihat orang," kata Hayu sambil memegang tangannya. "Buat malu? Kamu kekasihku. Aku tidak mau jika kekasihku di hina seperti ini," emosi Alam tersulut. "Maafkan istri saya Pak Alam dan Bu Hayu. Mulutnya tak bisa dikendalikan." Pak Rahmat menyeret tangan istrinya agar masuk ke rumah. "Ayo masuk, Bu. Bisa gawat jika Pak Alam sampai mengusir kita," sahut Pak Rahmat yang masih bisa Hayu dengar. Dengan terpaksa ibu Fatma mengikuti suaminya masuk ke rumah dan seketika itu juga semua pintu kembali tertutup. "Ayo masuk Hayu," ajak Alam kepadanya yang masih bingung. Mengapa Pak Rahmat takut dengan Alam? Ada yang aneh dengan semua hal ini. "Ibu ayo masuk. Om dokter membelikan kita soto ayam." Aina menyenggol lengan Hayu. Hayu segera masuk ke rumah dan tak peduli lagi tentang hal tadi. "Jangan kamu pikirkan gosip tetangga tadi. Anggap saja angin lalu," timpal Alam sambil menyiapkan mangkok untuk Aina. "Tapi bagaimana bisa kamu mengatakan jika aku adalah kekasihmu?" lanjutnya balik bertanya. "Memang kamu kekasihku," jawab Alam enteng. "Tapi Alam?" "Sudahlah jangan berbicara seperti itu lagi." Alam malah asyik membuka kantong plastik berisi soto ayam. "Aina makan, yuk. Om dokter lapar nih." Bukannya menjawab pertanyaan Hayu malah mengajak Aina makan. Hayu tak habis pikir dengan jalan pikiran Alam yang mengganggap dirinya adalah kekasihnya. ***** Siapa yang tak kenal dengan nama Syah di kalangan perumahan Cendana Puri? Ayah Alam adalah pengusaha sukses yang telah membangun perumahan ini untuk mereka yang tak mampu. Mereka hanya perlu membayar uang listrik saja. Tidak ada yang bisa menentang Alam jika ada salah satu warga berbuat salah dan terusir. Gibran Palupi Syah adalah seorang ayah dengan dua anak. Alam Pramudya Syah yang sekiranya akan menggantikan ayahnya malah menjadi seorang dokter. Harapan satu-satunya Gibran terletak kepada putri keduanya. Mutiara Seroja Syah. Istrinya sudah meninggal 20 tahun yang lalu hingga kini tetap melajang. "Alam, ayah dan adikmu akan ke tempatmu akhir pekan ini. Apa kau ada di rumah." Gibran menelepon putra kesayangannya. "Alam ada di rumah, Yah. Datang saja," ucapnya datar. "Kamu sendirian di rumah? Kenapa ada suara anak kecil? Apakah ada pasien?" tanya Gibran tanpa henti. "Bukan ayah. Alam memiliki sahabat kecil di sini. Aina namanya," kata Alam senang. "Perkenalkan kepada ayah akhir pekan ini sahabat kecilmu itu," canda ayahnya sebelum menutup telepon. Meskipun Alam dan ayahnya saling berjauhan tapi mereka tak pernah putus kontak. Alam sangat menyayangi ayahnya apalagi adiknya. Alam berharap dia bisa memperkenalkan Hayu kepada ayahnya suatu saat nanti. Alam juga berharap menikahi Hayu. Ia ingin membina sebuah keluarga yang dilandasi dari cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN