Renata menyetujui keputusan Ian

1262 Kata
"Berpikiran negatif ?" Ian mengernyitkan dahinya. "Tentu saja tidak ada, tenang aja, Nat. Kamu tidak usah khawatir begitu, di apartemen ku tidak ada orang orang seperti yang kamu pikirkan itu. Dan aku berjanji pada mu, aku akan menjaga mu dan melindungi kamu dari hal-hal yang tidak baik" ucap Ian sambil menggenggam tangan Nat untuk meyakinkannya. "Oke, aku akan tinggal bersamamu". ***** Pagi ini Nat dan Ian pun pulang ke apartementnya Ian dengan menggunakan taksi yang sudah di pesan oleh Ian dengan menggunakan telepon genggamnya. Di zaman yang sudah canggih ini hanya dengan menggunakan telepon genggam atau yang lebih familiar di sebut dengan Handphone(hp) semua yang kita inginkan bisa di pesan melalui hp. Nat membawa semua barang-barangnya. Taksi yang mereka pesan sudah menunggu di seberang jalan. Dan mereka pun berjalan kesana. Sebelum meninggalkan gubuknya Renata melakukan sesuatu pada gubuknya agar tidak ada yang mengetahui bahwa di tempat itu tidak ada gubuk dengan menyamarkannya seperti bayangan dengan kekuatan Renata. Dia masih enggan untuk langsung menghancurkannya. Karena dia berpikir seandainya suatu waktu dia ada masalah atau dia tidak betah tinggal bersama Ian kemungkinan dia bakal kembali lagi kesini. Tak berapa lama kemudian akhirnya mereka sampai di apartemen Ian. Benar seperti yang Ian katakan pada Renata sebelumnya bahwa tempat tinggalnya ini tidak ada orang-orang yang akan mengganggu mereka atau pun yang akan berpikiran buruk tentangnya. Di sini semua orang pada sibuk dan hanya mempedulikan kepentingan masing-masing. Jika berpapasan mereka hanya tersenyum. Tanda kalau mereka kenal dan bertetangga. Dan di sepanjang jalan menuju pintu kamar apartemen Ian, dia selalu tersenyum dengan orang-orang yang berpapasan dengannya. Dan aku pun jadi ikut-ikutan seperti yang dilakukannya. Setelah Ian membukakan pintu dia pun mempersilahkan Renata masuk ke rumahnya. "Silahkan dan Selamat Datang di istanaku, dan semoga betah tinggal disini anggap saja seperti rumah sendiri" ucapnya sambil membantu membawa barang Renata masuk ke dalam. "Kamu akan tidur di kamar bawah dan aku akan tidur di kamar atas, jadi kamu tidak usah takut dan jangan berpikiran yang tidak-tidak lagi" jelas Ian seperti tahu apa yang di pikirkan oleh Nat. "Rumahmu cukup besar, luas dan bagus. Dimana orang tua mu?" tanya Nat sungkan. "Lalu apa yang akan aku kerjakan disini" tanya Nat tiba-tiba. "Aku sama dengan mu, tinggal sendirian disini. Maka dari itu aku mengajak mu tinggal disini. Aku juga jarang tidur di rumah karena pekerjaan ku. Dan tugas kamu nanti adalah membantu mengatur schedule kerja ku dan akan ikut bersama ku saat aku kerja semacam asisten pribadi ku gitu" "Tapi, aku tidak pernah kerja seperti itu. Lalu orang tua mu dimana? " "Tenang aja, aku akan ajari kamu perlahan. Orang tua ku ada di kampung". "Apa kau sering mengunjungi orang tua mu ? Maksud ku pulang kampung gitu?" tanya Nat. " Iya, jika aku punya waktu luang". " Apa sekali setahun ?" "Tidak juga. Jika aku punya waktu saja. Sekarang kamu mandi dan istirahat lah! Nanti akan aku pesankan makanan untuk kita. Aku juga mau mandi dulu" "Iya" sahut Nat sambil menganggukkan kepalanya. Ian pun keluar dan meninggalkan Nat di kamar sendirian. ***** Ian keluar dari kamar yang di tempati oleh Renata. Dan menuju kamarnya yang ada di sebelah kamar Renata dan bersiap-siap untuk mandi. Sebelum mandi Ian pun menelepon makanan cepat saji. Ian sangat yakin kalau Nat pasti lapar pikirnya. Usai menelepon barulah dia mandi. Nat masih saja tetap bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Dia masih tetap berpikir kenapa Ian mau menolongnya dan mengajaknya ke apartemennya dan mempekerjakannya sebagai asisten pribadi seperti yang dia katakan walau Nat tidak punya keahlian di bidang tersebut. Masih tetap berpikir Nat pun melihat-lihat kamar ini sambil berjalan memperhatikan semua yang ada di kamarnya. Sejenak kemudian Nat terdiam dan duduk di tempat tidur yang begitu empuk. "Kamar ini terlalu luas dan sangat bagus yang di lengkapi dengan perlengkapan yang serba mewah dan lengkap. Seperti yang ada di imajinasi Nat selama ini. Apa saja yang ingin dilakukan semua bisa dilakukan di dalam kamar ini. Semuanya seperti mimpi untuk Nat, semua ada disini seperti ingin nonton tv, tv yang besar lengkap dengan home theater ada di depan tempat tidurnya. Ada komputer, ada AC, dan ada juga Playstation. Yang masih membuat Nat bingung kenapa Ian mau membawanya ke apartementnya. Apa benar dia tulus ingin membantu atau ada sesuatu di balik itu semua atau ada hubungannya dengan kekuatan yang dia miliki." "Yaudah lah dari pada aku memikirkan yang tidak-tidak lebih baik aku melakukan sesuatu. Semoga dugaan ku tentangnya salah" pikirnya untuk mengusir kegundahan hatinya. Lalu Nat merapikan semua barang-barang yang dimilikinya dan menyusunnya ke dalam lemari. Setelah itu aku akan bersiap-siap untuk mandi. Tiba-tiba aku mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu. Aku menunda untuk mandi dan berjalan keluar kamar ku untuk membukakan pintu. Sebelum membukakan pintu yang di ketok aku malah mampir ke kamarnya Ian. Aku memanggilnya tapi tidak ada sahutan akhirnya aku memutuskan untuk masuk saja. Di dalam aku mendengar suara gemericik air dan suara nyanyian. "Hhmm, wajar dia tidak mendengar teriakkan ku dari luar" gumamku. "Bang apa kamu memesan sesuatu ? Aku mendengar ada seseorang yang mengetok pintu " tanya ku sedikit berteriak. Tapi tetap tidak di jawab olehnya. Mungkin dia tidak mendengar ucapanku, pikirku. Lalu aku mengulang perkataanku sedikit lebih keras dari sebelumnya. "Oh iya, tadi aku memesan makanan untuk kita mungkin mereka sudah datang. Untuk bayarannya itu ada uang diatas kasur kamu ambil saja" sahutnya dengan keras. "Oke" jawabku. Aku pun keluar dari kamarnya dan membukakan pintu yang telah di ketok dari tadi. Memang benar yang datang adalah pengantar makanan cepat saji, dan aku pun mengambil makanan itu dan membayarnya. Orang itu menyerahkan makanan yang ada di tangannya "Ini mbak, pesanan yang di pesan atas nama Bapak Ian" ucapnya sambil tersenyum. "Oh iya" sahutku. Aku langsung menerima dan membayarnya. Si pengantar makanan tersebut pergi setelah aku membayarnya. Lalu aku menutup kembali pintu dan meletakkan makanan tersebut di atas meja. "Sudah datang makanannya, tumben cepat banget tidak seperti biasanya yang selalu lama" ucap Ian yang tiba-tiba sudah berada di belakang ku dan mengagetkan ku yang masih mengenakan handuk sehabis mandi. "Eh iya" sahutku terbata-bata. "Mungkin karena ada cewek cantik disini makanya mereka cepat mengantarnya" "Iihh, tidak ada hubungannya dengan aku, Bang. Lagian mana mungkin mereka tahu disini ada cewek atau tidaknya" "Eh, kamu manggil aku apa tadi ? aku baru dengar kamu bicara seperti itu" ucapnya sambil candain aku. "Abang! Memangnya kenapa, salah kalau aku panggil seperti itu? Karena aku pikir kamu lebih tua dari aku dan kamu pantas untuk aku panggil seperti itu. Rasanya tidak sopan jika aku masih memanggil namamu karena kamu sudah sangat baik untuk ku" "Oke, tidak terlalu jelek juga kedengarannya. Apa kamu lapar? Kalau kamu lapar kita makan saja dulu" "Tidak. Aku ingin mandi dulu" sahut ku. "Baiklah !! Kalau begitu aku akan menunggumu selesai mandi dan kita akan makan bersama" ucapnya sambil menuju kamarnya untuk berpakaian. Lalu aku pun mandi. Usai mandi aku menuju meja makan yang telah ada Ian disana. Dia menunggu ku sejak aku mandi tadi dan tidak ingin makan duluan. Kami pun makan bersama tidak ada pembicaraan saat makan. Kami hanya diam satu dan lainnya sambil menyantap makanan yang ada di depan kami dengan lahap. Sesekali dia melirik dan menatapku dengan sangat lama. Tanpa sengaja aku melihatnya yang menatapku lama. Aku pun jadi tersipu. Selesai makan aku merapikan semua yang ada di meja dan membereskannya. Karena merasa kelelahan kami memutuskan untuk langsung istirahat. Sebelum masuk ke kamarnya Ian berpesan agar aku jangan terlalu takut atau grogi besok saat mengikutinya kerja. Dan dia meninggalkan ku yang masih merapikan meja makan. Aku hanya menjawab "Iya" saat Ian berkata seperti itu. Selesai membereskan meja makan aku langsung ke kamarku. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN