Kenalan

1221 Kata
"Namaku Renata, Deviana Renata. Tapi panggil saja aku Nat biar lebih simpel" ucap Nat dengan mengulurkan tangannya pada Ian. "Namaku Hesta Meiriansyah. Panggil aku Ian saja" balas Ian. "Nama kamu cakep juga ya.." ujarnya sembari tersenyum. "Terimakasih" "Kenapa kamu sampai ada di hutan ini ? Apa kamu tidak takut berada di hutan ?" tanya Ian penasaran. "Itu bukan urusan kamu" jawab Renata ketus. "Kamu kan ingin aku menolong mu jadi kamu harus menceritakan semua tentang kamu agar aku tahu bagaimana mencari solusinya" ucap Ian sambil memberikan senyuman yang lebar di bibirnya. "Eh,eh, kamu harus ralat perkataan kamu barusan, ya. Bukan aku yang menginginkan kamu untuk menolong ku, tapi kamu yang memaksa untuk menolong ku". "Ya, sudah terserah kamu saja maunya seperti apa ?" "Kamu mau tahu banyak tentang aku, kan ? Sebaiknya kita jangan bicara disini aku tidak mau ada yang melihat ku seperti yang kamu lihat tadi". "Oh, baiklah jadi kita mau bicara dimana?" tanya Ian. "Di rumah ku saja". "Di rumah mu, memangnya rumah kamu dimana?" tanya Ian penasaran. "Aku tinggal di dekat hutan ini" "Kamu sendiri ngapain disini ?" "Aku sedang melakukan penelitian". "Oh" jawab ku mengangguk. "Kamu dengan orang tua mu disini ?" tanya Ian semakin penasaran ingin tahu tentang Renata. "Tidak..! Aku kabur dari rumah, Aku merasa tidak betah tinggal di rumah ku sendiri" ucap Renata dengan wajah sedih. "Kalau kamu ingin tahu banyak tentang diriku. Ayo, mampir ke rumah ku. Lebih baik kalau kita berbicara di rumah saja, aku tidak mau bicara disini". ajak Renata pada Ian sambil berjalan ke gubuk yang di tempatinya yang diikuti oleh Ian yang berjalan tepat dibelakang Renata. "Jadi kamu tinggal sendirian ?" "Iya" Renata terus berjalan yang di ikuti oleh Ian. Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di gubuk tempat tinggal Renata. Nat membuka pintu dan mempersilahkan Ian masuk. Ruangan itu memang tidak terlalu sempit dan juga tidak terlalu luas. Tapi gubuk itu cukup rapi dan nyaman untuk di tempati seorang diri, begitu yang dipikirkan oleh Ian sambil melihat-lihat sekeliling tempat ini. Saat memasuki gubuk Renata, tidak tahu kenapa Ian merasa sangat nyaman berada di dalamnya. Dia tidak pernah merasa seperti ini saat memasuki tempat mana pun sebelumnya. Dia merasa memasuki surga yang sangat nyaman dan tenang. Dan merasa betah ingin berlama-lama berada disini. Padahal tempat ini sangat sederhana dengan adanya sebuah meja dan dua buah kursi yang berada di tengah ruangan ini, ada lemari dan buku-buku yang tertata rapi yang terletak di pojoknya dan di tengahnya ada tempat tidur yang hanya bisa di tiduri untuk satu orang saja dan di bawah tempat tidur ada sofa kecil yang juga bisa di jadikan tempat tidur. "Rumah kamu sangat nyaman ya, Nat" ucap Ian tiba-tiba. "Ini hanya ilusi tidak senyaman yang kamu pikirkan" jawab Nat. "Maksud kamu bagaimana ?" tanya Ian kaget dan kebingungan. "Ini semua aku buat berdasarkan keinginan ku dengan kekuatan yang aku miliki seperti yang kamu lihat tadi saat di tengah hutan. Dan aku akan meninggalkan tempat ini jikalau aku sudah mendapatkan pekerjaan, dan mampu mengontrak rumah dari hasil kerja ku nanti. Aku ingin hidup normal seperti layaknya orang-orang lakukan dan aku tidak ingin ada orang yang tahu dengan kekuatan yang aku miliki. Aku disini hanya untuk sementara waktu saja" ucap Nat menjelaskan. "Oh iya, apa tadi ada orang lain juga yang melihat ku saat aku mengeluarkan emosi ku tadi ?" tanya Nat penasaran pada Ian, Ia teringat dengan kejadian yang tadi. Kalau ada yang tahu selain Ian pasti akan tambah masalah untuknya. "Sepertinya tidak" "Kamu tidak takut tinggal sendirian di hutan ini?" tanya Ian penasaran. "Aku lebih takut pada diri ku sendiri dari pada dengan yang lainnya. Seharusnya kamu juga takut pada ku. Kenapa kamu mendekati ku dan ingin tahu banyak tentang aku ?" "Seperti yang aku bilang tadi aku ingin membantu kamu. Dan aku tidak akan merubah pendirian ku". "Oke aku coba percaya dengan kata-kata kamu, tapi kalau kamu berbohong dan ada niat tersembunyi di balik ini semua aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk mencelakai mu". ***** "Oh iya Nat, kamu bilang tadi kamu butuh pekerjaankan ? bagaimana kalau kamu kerja dengan aku saja?". "Kerja dengan kamu, maksudnya ?" Nat bertanya heran sambil mengernyitkan dahinya. "Iya, Kamu jadi asisten aku". Kebetulan aku lagi butuh asisten dan aku tidak sempat untuk mencarinya karena waktu ku yang selalu tersita pada pekerjaan. Dari pada kamu susah-susah nyari pekerjaan mending kamu kerja sama aku aja, bagaimana ?. Tapi kalau kamu tidak betah kerja sama aku, kamu bisa mencari pekerjaan yang lain. Jadi sebelum kamu menemukan pekerjaan itu kamu bisa kerja dengan aku saja dan aku akan membantu kamu untuk menjadi manusia normal seperti yang kamu harapkan. Setelah agak lama Renata berpikir, akhirnya Nat menerima tawaran Ian untuk menjadi asistennya. Lalu tiba-tiba Renata terpisahkan suatu hal, jikalau aku terima kerja dengan dia lalu nanti aku akan tinggal dimana. Bukankah rumahnya sangat jauh dari sini. Dan kalau aku mencari tempat tinggal yang lain untuk saat ini aku belum mampu untuk membayarnya. "Kenapa kamu masih bengong ? tanya Ian membuyarkan lamunanku. "Eh, i-iiya..! ucap Nat terbata-bata. "Ini aku memikirkan kalau aku kerja dengan mu lalu aku akan tinggal dimana, kalau aku pindah dari sini aku belum punya uang dan belum mampu untuk membayar sewanya, dan kalau aku masih tetap disini kurasa pasti sangat jauh dari tempat mu itu. Aku takut terlambat saat bekerja." "Oh, iya. Yang kamu bilang ada benarnya juga aku tidak memikirkannya sampai kesana." Ian pun kemudian memikirkan bagaimana cara agar Nat tetap mengambil tawarannya dan tidak tinggal jauh darinya. Tiba-tiba Ian langsung tersenyum sambil menatap Renata. Dia seperti mendapatkan sebuah ide cemerlang. "Kamu kenapa tersenyum seperti itu, bikin aku ngeri saja." "Kamu masih mau kan menerima tawaran ku?" "Iya" jawab Nat diiringi dengan anggukan kepala. "Lalu, tempat tinggal ku bagaimana ?" "Kamu akan tinggal bersama ku di apartementku. Jadi kamu tidak perlu susah-susah mencari tempat tinggal lagi. Dan mulai besok kamu sudah bisa langsung kerja." "Apa ? tinggal bersama kamu ? Nat kaget mendengar ucapan Ian tanpa sengaja nada suaranya pun ikut meninggi mendengarnya. "Apa kamu sudah gila ?" Aku tinggal bersama kamu, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang nantinya bila sering melihat kita dan tahu kita tidak ada hubungan apa-apa. "Iya" jawab Ian mantap tanpa ada keraguan dan berharap Nat tidak menolak ajakannya untuk tinggal bersama. Lama Nat memikirkan apakah ia akan tinggal bersama Ian atau tidak. Nat seperti mengalami dilema harus memilih antara tetap tinggal di hutan ini atau harus ikut Ian dan tinggal bersamanya. Kalau saja dia tetap berada disini tak akan ada perubahan seperti yang diharapkannya selama ini. Tapi kalau dia tinggal dengan Ian apa tidak akan ada masalah di kemudian harinya atau mungkin orang-orang akan menilainya sebagai wanita yang tidak baik. Karena tinggal bersama seorang pria yang tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Teman tidak, Saudara tidak, Apalagi pacar karena mereka baru saja bertemu dan kenal. Apa pandangan orang-orang terhadapnya nanti. Nat memikirkan, menimbang dan akhirnya memutuskan untuk mengambil tawaran Ian yang tinggal bersama Ian di apartemennya. Walau itu adalah keputusan yang sangat sulit untuknya. "Kok, kamu lama banget jawab pertanyaan ku tadi ? Apa yang sedang kamu pikirkan, Nat ?" tanya Ian sambil memperhatikan Nat sedari tadi yang seperti sibuk dengan pikirannya sendiri. "Apa tidak apa-apa kalau aku tinggal bersama kamu?" tanya Nat. "Iya. tidak apa-apa lah" sahut Ian "Tapi aku takut" "Takut kenapa?" "Aku takut kalau orang-orang akan berpikiran negatif tentang kita" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN