Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang lebih nyaman dari sebelumnya, aku merasa seperti baru dilahirkan kembali saat berada di tempat ini. Tak pernah aku merasa senyaman ini sebelumnya. Aku keluar dan melihat ke sekeliling ku, sungguh ini tempat yang sangat indah dan sangat menakjubkan.
Aku tidak pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya. Karena selama ini aku hanya mengurung diri ku di dalam rumah orang tua ku, karena takut dengan orang-orang yang akan menghina ku jika mereka tahu dengan kekuatan yang aku miliki. Aku merasa sangat nyaman tinggal disini untuk sementara waktu dan untuk menenangkan diri ku dari semua masalah yang aku alami.
Di sini tidak ada yang mengenali ku. Hal ini menjadi suatu keberuntungan untuk ku karena tidak ada yang tahu dengan keadaan ku dan tidak ada yang takut kepada ku seperti di tempat orang tua ku sebelumnya.
Hari ini aku mengawali hari ku dengan lari-lari kecil di sekitar hutan ini. Aku merasa amat sangat nyaman dan terbebas. Bebas sebebas-bebasnya. Ku hirup udara yang segar di pagi ini. Selesai melakukan olahraga kecil di hutan ini aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk mencari pekerjaan di kota ini.
"Aku ingin hidup normal layaknya manusia normal lainnya" bisik ku dalam hati. Dan aku tidak akan menggunakan kekuatan ku dalam keadaan apapun janji ku pada diri sendiri.
Aku takut jika aku menggunakanya mereka akan berpikiran sama seperti saat aku tinggal bersama keluarga ku. Lalu aku mempersiapkan semua perlengkapan untuk melamar pekerjaan di kota ini. Aku berdoa dalam hati semoga aku bisa segera menemukan pekerjaan. Dan aku pun memulai petualangan ku untuk mencari pekerjaan di hari ini.
Aku memulai dari yang terdekat dengan tempat tinggal ku. Aku berjalan sambil melihat-lihat di sekitar jika ada toko atau tempat yang bertuliskan membutuhkan karyawan aku langsung menghampiri tempat tersebut dan bertanya, berharap bisa di terima bekerja di tempat tersebut.
Karena aku tidak tahu kota ini dan aku baru berada disini aku memutuskan dengan berjalan kaki saja mencari pekerjaan disini. Aku tidak akan menggunakan kekuatan ku di depan orang-orang pikir ku sepanjang jalan dalam mencari pekerjaan. Aku akan melakukan seperti yang orang normal lainnya lakukan.
Aku memasuki semua tempat yang bertuliskan ada lowongan pekerjaannya tetapi belum ada yang mau menerima ku bekerja. Berbagai macam alasan mereka berikan kepada ku. Ada yang mengatakan kalau lowongannya sudah terisi oleh karyawan baru, ada yang bilang lowongannya sudah tutup dan berbagai alasan lainnya hanya untuk menolak ku untuk bekerja di tempat mereka.
Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka, kenapa mereka semua pada menolak ku untuk bekerja di tempat mereka. Aku mencoba mengkoreksi penampilan ku dengan bercermin di depan gedung-gedung yang bangunannya seperti terbuat dari kaca itu.
"Sepertinya penampilan ku tidak terlalu buruk untuk bekerja di tempat-tempat seperti ini. Apa aku kurang meyakinkan untuk bekerja dengan mereka? Ah, mungkin memang belum rezeki saja" bisik ku dalam hati sambil terus berusaha berpikiran positif dan melanjutkan pencarian ku.
Aku merasa lelah karena dari pagi aku melamar pekerjaan di berbagai tempat hingga siang ini belum ada juga yang menerima ku. Aku hampir putus asa.
"Ternyata sangat sulit mencari pekerjaan disini pikir ku. Aku harus bersabar, mudah-mudahan aku segera di terima kerja, dimana pun itu aku akan mencobanya dan jangan sampai aku kelepasan menggunakan kekuatanku di depan orang-orang" bisik ku dalam hati.
Aku terus berjalan, keluar-masuk dari toko satu ke toko lainnya untuk mendapatkan pekerjaan, hingga sore hari pun aku masih belum mendapatkan pekerjaan. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja hari ini dan melanjutkannya esok hari.
*****
Tidak terasa sudah hampir tiga minggu saja aku berada di tempat ini. Tetapi belum juga aku menemukan pekerjaan dan selama itu juga aku masih menggunakan kekuatan ku untuk memenuhi kebutuhan ku.
Jika ingin makan aku hanya memetik buah-buahan yang ada di sekitar hutan ini dengan kekuatan ku karena aku belum punya uang untuk membeli makanan dan aku hanya memanfaatkan yang ada di sekitar ku. Yang kebetulan di hutan ini terdapat banyak buah-buahan. Seperti sulap dan sihir buah-buahan itu pun langsung berjatuhan dan aku mengumpulkannya dengan sangat cepat.
Semua kegiatan yang aku lakukan, aku pasti menggunakan kekuatan ku. Janji ku untuk tidak menggunakan kekuatan ku, terpaksa aku langgar sendiri. Karena kalau tidak seperti itu mungkin aku tidak akan bisa bertahan hidup disini. Aku tidak punya siapa-siapa disini dan tidak kenal dengan siapa pun.
Aku mulai merasa bosan dan jenuh dengan hidup yang aku jalani. Aku merasa tidak ada perubahan dalam hidup ku. Aku tinggalkan rumah orang tua berharap bisa hidup lebih baik dari sebelumnya tapi ternyata tidak. Hidup yang aku jalani sekarang lebih buruk dari sebelumnya. Memang tidak ada yang membully ku seperti di tempat orang tua ku.
Tapi aku malah tidak bisa apa-apa disini kalau tidak mengandalkan kekuatan ku. Aku merasa diri ku semakin tidak berguna. Aku jadi teringat semua kata-kata orang tua ku, adik dan kakak ku serta semua orang yang membenci ku yang mengatakan semua hal buruk tentang diri ku.
Banyak yang menganggap aku aneh, selalu membuat s**l orang-orang, anak yang tidak berguna dan banyak kata-kata yang menyakitkan lainnya. Apakah benar kalau aku ini adalah anak kutukan? Yang selalu mengalami nasib buruk selama hidup ku. Seperti yang mereka ucapkan selama ini.
Dan tiba-tiba badan ku terasa menggigil dan merasakan sesuatu hal yang aneh. Aku merasakan seperti ada ledakan dalam diri ku ini. Badan ku ikut gemetaran. Aku merasa tidak kuat untuk menahannya. Seperti akan terjadi sesuatu pada ku. Lalu aku berlari meninggalkan gubuk ku, masuk kedalam hutan dan terus berlari semakin jauh. Dan seketika aku keluarkan semua emosi dan amarah ku yang selama ini aku pendam.
*****
“Aaaaarrrrggghhh.....”.
Aku berteriak sekuat-kuatnya dan menangis sambil terus berlari ke tengah hutan. Seketika itu juga suatu hal terjadi pada ku, mata dan tangan ku seperti mengeluarkan cahaya kilat yang menyambar seperti terjadi badai topan dan halilintar di saat itu juga.
Aku tidak bisa mengontrol kekuatannya. Mata ku terus saja bersinar. Setiap kali aku mendorong tangan ku kedepan seketika itu juga seperti terjadi badai topan. Semua yang ada di sekitar ku pada ikut berterbangan. Itulah yang terjadi pada ku saat aku melepaskan semua beban hidup yang rasanya seperti menghimpit pundak ku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi cara untuk menghilangkan semua beban yang menyesakkan selama ini.
Rasanya sakit, sangat sangat sakit dan menyiksa. Aku terus teriak dan berteriak lagi untuk mengeluarkan semua amarah ku yang selama ini aku pendam. Cahaya kilat itu selalu keluar setiap kali aku marah dan berteriak.
“Aaaarrggghhh.....”
Kenapa, kenapa tuhan ? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini. Kenapa aku harus memiliki kekuatan yang tidak aku inginkan ini.
"Kenapa,Kenapa Tuhan ?"
Karena kekuatan ku ini semua orang menjadi takut pada ku. Mereka membenci ku. Mereka menganggap aku aneh. Mereka bilang kalau aku ini monster atau alien. Orang tuaku dan saudaraku sendiri benci pada ku karena ini semua.
Aku terus berteriak sekuat-kuatnya hingga semua yang ada disekeliling ku pada berterbangan. Ya, semuanya. Dedaunan pada berguguran dari pohonnya. Kemarahan ini membuat kekuatan ku semakin dahsyat seperti terjadi badai petir. Nat sudah tidak mempedulikan apakah ada orang-orang di sekitar hutan ini yang akan melihatnya atau tidak.
Nat merasa lelah harus bersembunyi terus dengan kekuatan yang dimilikinya selama ini. Dia terus bersembunyi dan menahan amarahnya di depan semua orang. Dia muak dengan hidup ini. Tidak di tempat orang tuanya tidak disini semua sama saja. Nat merasa hidup ini tidak adil untuknya.
"Kenapa aku tidak bisa hidup seperti orang-orang normal lainnya, Tuhan... Kenapa ?" teriak Nat semakin histeris.
"Apa salah ku ? Kenapa ini semua harus terjadi pada diri ku ?"
"Kenapa ?Kenapa ? Kenapa aku harus merasakan dan mengalami ini semua"
Semua orang akan takut dan membenci ku saat mereka tahu kalau aku ini aneh dan beda dari mereka.
Karena merasa lelah dan tenaganya seakan terkuras habis karena emosi yang di keluarkannya, Renata menjadi tertunduk lemas dan bersimpuh sambil tetap terus menangis di hutan itu. Matanya yang mengeluarkan sinar tadi pun ikut menghilang. Nat masih terus menangis dan menangis.
Tanpa sepengetahuan Renata ternyata ada seorang pria yang memperhatikannya sejak tadi. Pria tersebut bersembunyi dibalik pohon dan berusaha bertahan, berdiri disana dengan memegangi batang pohon yang kuat agar tidak ikut berterbangan seperti dedaunan disaat Renata berteriak.
Dia memperhatikan semua yang terjadi dan mengetahui semua yang di katakan Renata. Dalam hati pria tersebut berpikir akan menjadikan Nat sebagai objek penelitiannya. Tiba-tiba dia medekati Nat, di saat dia merasa semuanya sudah mulai aman. Tidak ada dedaunan yang berterbangan lagi. Tidak ada seperti badai topan dan petir lagi di sekitarnya.
Dia pun mendekati secara perlahan-lahan saat Renata masih menangis tertunduk, Pria tersebut mencoba memberanikan diri mendekati Renata dengan sangat hati-hati.
"Mudah-mudahan dia nggak marah dan tidak mengamuk lagi. Kalau tidak aku pasti akan berterbangan seperti dedaunan tadi" gumam pria tersebut dalam hati.
Dia pun melangkah perlahan dan dengan hati-hati sekali untuk mendekati Renata.
****
"Hai" sapa pria tersebut dengan sedikit rasa takut dan gugup.
Mendengar suara tersebut Renata jadi berhenti menangis dan menoleh ke arah suara yang di dengarnya. Nat terkejut seketika, kenapa tiba-tiba sudah ada seorang pria yang berdiri dihadapannya. Dan seketika itu pula Renata mundur secara spontan untuk menjauhi pria tersebut.
"Jangan mendekat kalau kamu tidak mau celaka" teriak Nat secara spontan.
Tapi pria tersebut tetap saja pada pendiriannya, dia terus mendekati Renata. Mendekat dan semakin dekat lagi.
"Berhenti..." teriak Nat semakin kencang.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana ?"
"Aku akan mencelakaimu"
Seketika itu pula dengan sigapnya sang pria tersebut langsung mendekati Renata dan memeluknya. Lalu dia berbisik ke telinga Renata, "Aku akan membantumu jika kamu mengijinkannya. Karena aku sudah tahu dan sudah dengar semua yang kamu rasakan dan apa yang kamu alami".
"Ijinkan aku membantumu, Aku mohon!"
Bukan main terkejutnya Renata saat pria tersebut tiba-tiba memeluknya dan mendengar apa yang dikatakannya barusan, sambil terus berusaha melepaskan pelukan pria itu.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu dan apa yang kau inginkan dari ku ?"tanya Renata semakin tidak mengerti dan terus berusaha melepaskan dekapan pria tersebut.
"Ya, aku sudah mendengar semua yang kamu katakan saat kamu berteriak tadi dan aku melihat semuanya"
"Jadi kamu tidak usah berontak seperti ini. Aku akan melepaskan pelukan ini jika kamu mau berjanji untuk mengijinkan aku menolongmu dan beritahu aku siapa namamu ?"
Tiba-tiba Renata terdiam dan berhenti berontak. Renata menatap mata pria tersebut dalam-dalam, Dia melihat sepertinya pria tersebut sungguh-sungguh ingin menolongnya.
"Baiklah, tapi sebelumnya kamu lepaskan aku dulu dari pelukan mu ini kalau tidak aku bisa mati tidak bernafas karena pelukan mu ini."
"Oke, aku akan melepaskan mu".
"Oh iya, bukankah kamu tadi ingin mati ? Kenapa sekarang kamu malah takut mati" ucap Ian sambil melepaskan pelukannya.
"Iya, aku memang ingin mati... Tapi tidak mati dalam pelukan kamu juga karena tidak bisa bernafas" ucap Nat sambil menatap sinis pada pria tersebut.
Dalam hati Nat masih ragu apakah pria ini benar-benar ingin membantunya atau ada sesuatu yang disembunyikannya untuk mencelakai ku dan berpura-pura berbuat baik dan menolong ku.
*****