Aku sedang menunggu taksi saat melihat Dokter Della lewat di depanku.
"Hai, Sephia ... kamu pasti habis dari rumah Ustaz Khairil, kan? Tumben sekali kamu sudah mau pulang, biasanya kamu berkunjung sampai malam dan dia yang mengantarkan kamu," cicitnya bernada iri.
"Oh, ya ... kabar kedekatanmu dengan Khairil sudah menjadi gosip hangat di kawasan sekitar sini, tapi aku tahu itu tidak akan berpengaruh terhadapmu."
Aku tahu perkataan Dokter Della semacam sarkasme atau sindiran pedas yang sengaja ditujukan kepadaku. Akan tetapi, aku tidak mau membalas ucapan wanita itu. Mood-ku sedang kacau, tidak ingin berdebat tentang masalah apa pun dengannya.
"Sephia, aku tahu siapa kamu, gadis muda yang sedang merintis karier di dunia modelling. Pasti kamu punya ambisi besar dengan kelanjutan kariermu, bukan?" tanyanya.
"Apa yang sebenarnya mau Anda bahas, Dokter. To the point saja, aku tidak suka basa-basi dan aku merasa tidak perlu mengatakan secara detail tentang rencana masa depanku."
"Menurutku wanita yang bergelut di dunia entertaining sepantasnya mendapatkan lelaki yang berkecimpung di dunia yang sama, minimal dia seorang pengusaha, pebisnis. Aku rasa itu lebih cocok ...."
"Apa hubungannya dengan itu? Kenapa Anda peduli sekali tentang semua urusan pribadiku, Dokter?"
"Tentu saja ada. Aku kasih tahu kamu, Sephia. Khairil sangat pantang berhubungan dengan dunia sepertimu dan bukan tipe orang yang haus popularitas. Aku yakin kamu tidak bisa mengimbangi. Jadi, sebaiknya kamu jangan coba-coba untuk meracuni atau mengubah pendiriannya. Jika kamu masih nekat berhubungan, aku yakin kamu akan menghancurkan hidupnya."
"Wow ... Anda benar-benar sangat hebat, Dokter ... seperti Tuhan saja bisa mengetahui kehidupan manusia."
"Terserah kamu saja, Sephia. Aku sudah mengingatkan berkali-kali. Jika suatu saat terjadi sesuatu kepada Khairil, aku yakin itu semua pasti karena ulahmu."
"Dokter, silakan Anda berasumsi tentang apa saja dan teruslah berjuang untuk mendapatkan cinta Khairil. Asal Anda tahu, aku tidak akan berurusan dengannya lagi. Permisi!" pamitku seraya melambai memberhentikan taksi.
Dalam perjalanan menuju rumah, aku tak berhenti memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu. Bukan tentang percakapan atau kata-kata pedas dari dokter jutek itu. Namun, aku masih teringat akan sikap Khairil saat kami bertemu. Sikapnya berubah menjadi dingin seketika. Awalnya, aku mengira Khairil memiliki perasaan yang sama kepadaku, tetapi sepertinya itu semua hanyalah sebuah ilusi.
Aku bertekad akan melupakan Khairil, satu hal yang harus kuingat adalah pertolongan dan bantuannya kepadaku. Aku berjanji akan segera mengembalikan uang pemberian Khairil yang sudah digunakan untuk membayar utangku pada Umay. Mulai saat ini, aku akan membiasakan diri untuk menghapus semua kenangan bersamanya.
Hari-hari kujalani, memulai dari awal lagi. Walau hati terluka, aku harus berusaha menghadapinya dengan tegar. Beruntung aku memiliki karier yang bagus sebagai model. Selain pemotretan, aku pun sering menjadi bintang iklan di televisi. Namaku mulai dikenal banyak orang dan kondisi kesehatan Papa juga setiap hari semakin membaik.
***
"Sephia, kita makan siang, yuk!" ajak Tasya.
Aku baru saja selesai melakukan pemotretan. Tasya mengajakku makan siang di restoran. Sebenarnya aku sedang tidak ada nafsu makan dan ingin menyelesaikan semua pekerjaanku untuk hari ini, tetapi Tasya memaksaku pergi bersamanya dan terpaksa mengikuti keinginannya.
Aku lupa hari ini ulang tahunku. Tanpa kuduga sebelumnya, ternyata Tasya ingin memberikan kejutan di hari istimewa. Tiba di sana, aku terkejut melihat Umay. Dilan pun sedang menunggu. Mataku mendelik menatap Tasya. Ini semua pasti rencananya. Saat aku menanyakan ide gila mereka melalui isyarat mata, Tasya seolah-olah merasa tak bersalah.
"Hai, Nona Sephia Alexandra. Senang sekali bisa berjumpa, sekaligus menikmati makan siang bersamamu," ucap Umay menyambut semringah, mengucapkan selamat atas keberhasilanku.
Aku muak melihat pria itu. Menepiskan tangannya saat dia ingin memberikan pelukan. Dia menarik kursi dan mempersilakan aku duduk. Aku marah dengan Tasya, sepertinya dia sengaja mengatur pertemuan aku dengan pria b******n ini. Umay memilih menu makanan istimewa untukku, membuat aku semakin muak berada di dekatnya.
"Tak perlu basa-basi, Umay. Aku masih ada pekerjaan dan akan segera pergi."
"Sephia, jangan begitu. Kamu baru saja duduk. Kita makan dulu, ya! " bujuk Tasya menimpali.
"Iya, Kak. Ini hari spesial Kakak. Bang Umay sengaja mempersiapkan acara ulang tahunmu," kata Dilan menambahkan.
"Terima kasih. Tapi, aku tidak bisa lama-lama."
Aku bersorak dalam hati ketika suara ponselku berdering. "Hallo, selamat siang. Iya, baik ... saya akan segera mengecek ke sana."
Staff administrasi agency majalah menghubungi. Mereka memberitahu, uang fee-nya sudah ditransfer melalui rekeningku. Akhirnya, aku punya alasan meninggalkan acara membosankan yang telah dipersiapkan oleh Umay.
"Maaf, aku harus pergi," ujarku hendak beranjak.
"Sephia, duduklah sebentar lagi!" pinta Tasya.
"Sya, aku ada urusan penting."
"Biar aku yang antar," sela Umay menawarkan.
"Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri!" tegasku.
Aku bergegas pergi disertai tatapan kecewa dari mereka, terutama Umay. Menarik uang dari ATM dan segera mengembalikannya kepada Khairil. Sore ini juga aku harus menuju ke sana. Namun, tentu saja tak bisa bertemu langsung dengan Khairil. Kebetulan Ferdi lewat di jalan, aku akan menitipkan uang ini kepadanya.
"Ferdi, apa kabar? Bagaimana kabar Khairil? Apa dia baik-baik saja?" sapaku.
"Saya sangat sehat Nona Sephia. Ustaz Khairil juga baik. Tapi, beliau kelihatannya agak sedih," terang Ferdi.
"Memangnya kenapa dengan Ustaz Khairil? Dia ada masalah apa, Ferdi?" tanyaku khawatir.
"Entahlah, Nona. Sejak kemarin saya lihat beliau sedikit berbeda."
Aku sangat cemas mendengar penuturan Ferdi. Namun, aku tidak bisa menemuinya. Aku tahu Khairil pun akan merasa sungkan setelah kejadian beberapa minggu yang lalu. Walau dalam hati ini terbesit rasa rindu, aku mencoba menahan diri.
"Ferdi, tolong jaga Khairil. Kalau dia tak sempat masak, buatkan masakan untuknya. Omelet telur, menu kesukaan Khairil. Dan, tolong berikan ini kepadanya," pesanku pada Ferdi sambil menyerahkan amplop berisi uang dan pamitan pada Ferdi.
***
Air mataku berlinang. Andai dia tahu rindu ini teramat berat dirasakan dan aku harus menanggungnya sendirian. Seketika, aku teringat obrolan kami dahulu dalam perjalanan panjang setelah menghabiskan waktu di rumah Pak Rouf. Khairil mengantar sebelum sampai di rumah orang tuaku.
"Khairil, bolehkah aku tahu tentang sesuatu?" tanyaku saat itu.
"Tentang apa?"
"Apa yang ada di pikiranmu ... tentang aku misalnya?" tanyaku sedikit ragu.
"Aku tidak tahu. Aku sedang tidak memikirkan apa-apa. Ada apa memangnya? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" Penasaran, Khairil balik bertanya.
"Maksudku ... bagaimana kamu menilai kepribadianku?"
"Ah, cuma itu? Tentu saja kamu orang yang baik, Sephia...."
"Hanya itu? Selain itu, apalagi ...."
"Ya. Pasti ada yang lainnya."
"Seperti apa? Tentang apa?"
"Kamu berbeda dari semua orang yang aku kenal."
"Oh, ya? Apakah itu sesuatu yang baik atau sebaliknya?"
"Tentu saja sesuatu yang baik. Kenapa kamu sangat antusias?"
"Ah, tidak apa-apa ... aku penasaran saja." Aku berdalih sambil menutupi perasaan bahagia bersamanya.
Aku mengulum senyum. Membayangkan, bunga-bunga indah nan mekar sedang bertebaran di dalam hati ini. Debaran jantung berdegub kencang. Namun, ada sesuatu lagi yang ingin kutanyakan.
"Lalu, bagaimana dengan Dokter Della. Kamu juga bilang dia orang yang baik, bukan? Apa penilaianmu terhadap Dokter sama seperti penilaianmu terhadapku?" selidikku disertai dengan debaran di d**a.
"Hmm ... apa itu sangat penting?"
"Tidak juga. Hanya saja kamu tidak peka dengan kebaikan seseorang. Mungkin saja karena dia mengharapkan sesuatu atau memiliki perasaan yang lain terhadapmu," ungkapku.
Aku menunggu reaksinya, tetapi dia tidak segera menjawab. Jujur, aku sangat cemburu setiap menyebut nama Della pada Khairil. Dia pun tidak pernah menjelaskan, paling tidak bagaimana pendapat pribadinya tentang dokter jutek itu. Sikap diamnya membuatku sangat kesal.
Khairil tidak peka, bahwa aku menaruh hati padanya. Ataukah dia memang seperti itu? Rasanya ingin sekali aku mendengar dan memastikan dia tak menaruh hati pada Della atau tak memberikan harapan pada dokter itu. Sampai kami tiba, dia tidak mau mengatakan apa-apa.
"Sudahlah, Khairil. Aku tahu apa yang akan kamu bilang. Aku cerewet dan banyak tanya!" dengkusku kesal.
"Sephia ... iya, benar. Kamu sangat cerewet dan bawel."
"Benarkan, apa yang aku bilang?" Aku mengabaikannya sebelum dia membukakan pintu mobil.
"Iya, Sephia. Kamu cerewet, kamu bawel. Tapi sikap bawelmu membuat setiap orang merasa nyaman berada di dekatmu," katanya sambil berdiri dengan tangan menyangga pada atap mobil dan menatapku penuh arti.
Khairil mengulurkan tangannya, aku menyambut dengan senyuman seraya menatap wajah yang dipenuhi binar kelembutan. Dari sorot matanya, terlihat begitu tulus tentang apa yang diungkapkan Khairil kepadaku. Seandainya dia tahu, aku pun merasakan hal yang sama. Bukan sekadar merasa nyaman berada di dekatnya, tetapi perasaan bahagia yang tak ternilai dalam bentuk apa pun.
'Kini, semua hanya tinggal kenangan. Apa yang sudah menjadi kesepakatan, tidak mungkin aku tarik kembali!'
Bersambung