POV Khairil
Ada sesuatu yang baru muncul dalam kehidupanku. Setelah sekian lama terbiasa dalam kesendirian, seseorang yang tak pernah terpikirkan telah hadir mengisi hati ini. Semula, mengira itu bukan perasaan cinta, karena aku sudah berusaha menepisnya. Namun, perasaan itu muncul begitu saja tanpa bisa menolaknya.
Ketika sedang memikirkan tentangnya, seseorang itu muncul di hadapanku. Sedang berdiri menanti kedatangan orang yang dinantikan dan orang itu adalah aku. Mengenakan dress selutut, dilengkapi ikat pinggang sehingga menampilkan bentuk tubuhnya yang ramping. Gadis itu menyambut saat aku mendekatinya.
"Sephia, apa kamu sudah lama menunggu di sini?" tanyaku menatapnya yang sedang berdiri di depan pintu pagar rumahku.
"Khairil, aku ingin bicara denganmu," ucapnya dengan tatapan ragu.
"Ayo, masuklah!"
"Tidak perlu. Aku ke sini hanya sebentar." Dia menolak halus.
Sorot matanya diselimuti kesedihan. Aku penasaran tentang apa yang ingin disampaikannya. Menunggu sesaat sebelum dia mampu mengucapkan.
"Aku sangat berterima kasih atas pertolongan dan semua bantuanmu. Tapi, mulai hari ini, kita sudahi hubungan ini. Maksudku ... kita tak perlu saling bertemu lagi. Kita menjalani hidup masing-masing ...," ungkapnya dengan perasaan berat hati.
"Baiklah. Aku menghargai keputusanmu, Nona Sephia. Selamat tinggal!" balasku setelah mendengar keputusan darinya.
Aku tidak mengerti, kenapa dia tiba-tiba memutuskan hubungan kami.
Di saat rasa cinta ini mulai bersemi dan aku yakin dia merasakan hal yang sama. Apakah secepat itu perasaannya berubah? Walau demikian aku, harus ikhlas merelakan.
***
"Ustaz Khairil, ada titipan untuk Anda dari Nona Sephia!" lapor Ferdi.
"Titipan apa, Ferdi?"
"Saya kurang tahu, Ustaz!"
Aku membuka amplop besar berwarna coklat. Saat dibuka di dalamnya terdapat beberapa gepok uang ratusan ribu dan setelah kuhitung jumlahnya 100 juga. Aku baru ingat janji Sephia yang ingin mengembalikan uang untuk membayar utang pada Umay hasil mendapatkan uang fee dari profesinya sebagai model.
"Di mana kamu bertemu Sephia, Ferdi?" tanyaku ingin tahu.
"Di ujung jalan depan gang, Ustaz. Dia tidak mau mampir ke sini dan saya lihat Nona Sephia sangat sedih," terangnya.
"Dia juga kelihatan sangat sedih dan menanyakan kabar tentang Anda serta berpesan agar saya menjaga Ustaz."
Aku terenyuh mendengar penjelasan Ferdi. Walau kecewa pada perkataannya kemarin, tetapi aku sangat berterima kasih dia masih peduli dengan keadaanku. Namun, aku merasa tak enak hati menerima uang pemberiannya karena aku sudah merasa ikhlas telah membantunya.
Terbesit pikiran ingin mengembalikan uang ini kepada Sephia. Aku yakin dia lebih membutuhkannya. Maka, aku berencana untuk menemuinya secara langsung di studio tempat Sephia melakukan pemotretan. Tak butuh waktu yang lama, aku sampai di gedung studio tersebut. Setelah bertanya pada resepsionis, staff yang bertugas di agency memberi tahu lantai ruangan pemotretan.
Aku menatapnya melalui pintu kaca. Sephia tampak cantik dengan gaun warna merahnya. Berjalan dengan diiringi oleh model-model di atas lantai catwalk. Selain melakukan pemotretan, dia juga sedang memperagakan produk perhiasan berlian keluaran terbaru. Saat semakin lama kutatap, sorak-sorai mengiringi penampilannya yang memukau.
Kemudian, seorang pria menghampirinya, dengan menggenggam rangkaian bunga mawar merah. Pria itu menyodorkan buket bunga pada Sephia, lalu mereka tampak berpelukan hangat. Aku terkejut ketika melihat wajah pria itu, dia adalah pria yang akan dijodohkan oleh orang tua Sephia terutama ayahnya. Dadaku bergemuruh saat menatap Umay mencium pipi Sephia.
"Khairil!" panggilnya ketika menyadari kehadiranku.
Aku tak menghiraukan panggilannya. Melangkahkan kaki meninggalkan ruangan tersebut. Sephia mengejarku seolah-olah tak peduli dengan tatapan orang-orang yang terheran melihat tingkahnya. Dia terus mengejar hingga kami berada di tempat parkir dan berusaha menahanku.
"Khairil tunggu aku!" serunya keras.
Terpaksa aku berhenti. Dengan mengatur napas Sephia mendekati. Tangannya menjinjing sepatu high heel yang dilepasnya ketika mengejarku.
"Khairil, kenapa kamu ada di sini?" tanyanya gugup.
"Aku ingin mengembalikan uangmu, Nona Seohia."
"Mengembalikan untuk apa? Bukankah aku yang punya utang sama kamu?"
"Aku sudah bilang kamu tidak perlu menggantinya. Jadi aku kembalikan lagi. Kedatanganku ke sini itu saja."
"Tidak, Khairil. Uang itu milikmu dan aku harus menggantikannya."
"Kamu lebih membutuhkannya, Sephia. Dengan uang ini, kamu tidak perlu bekerja di perusahaan milik Umay."
"Apa maksudmu, Khairil? Aku bekerja di studio bukan di perusahaan milik si b******n Umay."
"Studio ini sudah diambil alih atas nama Umay. Jadi, semua staff yang bekerja di studio termasuk semua model-modelnya di bawah perintah serta kekuasaan Umay."
"Apa? Tidak mungkin! Bagaimana kamu tahu studio ini sudah diambil oleh Umay? Kamu pasti bercanda!" sanggahnya bersikukuh.
"Atau jangan-jangan kamu cemburu pada Umay? Iya, kan?" tebaknya penuh percaya diri.
Mungkin benar aku cemburu, tetapi lebih tepat aku mengkhawatirkannya. Umay bukan pria yang baik. Dia akan memperlakukan Sephia seperti boneka mainannya. Aku tahu pasti, otak pria itu dipenuhi oleh rencana kotor dan licik terhadap Sephia.
"Sephia, kamu tidak tahu siapa Umay. Dia bisa melakukan apa saja untuk menaklukkan orang yang dikehendakinya termasuk kamu."
"Ah, Khairil ... kedengarannya itu sangat berlebihan. Aku tidak percaya Umay adalah bos di studio ini."
"Terserah kamu, Nona Sephia. Kamu terlalu polos sehingga sangat mudah dikelabui orang. Kalau kamu tidak percaya, silakan cari bukti sendiri. Untuk uang ini, sungguh aku tidak memerlukannya. Maka, akan aku berikan pada orang-orang yang lebih membutuhkan dan akan disumbangkan pada salah satu panti asuhan. Aku permisi," pamitku segera masuk ke dalam mobil.
Sementara, kulihat Sephia masih berdiri dengan tatapan bingung. Setelah menemuinya, aku berniat akan mengunjungi suatu tempat untuk menyumbangkan uang dari Sephia. Panti asuhan yang dulu pernah menjadi tempat tinggalku sejak menjadi anak yatim piatu. Menghabiskan waktu bersama Salman, adik kandungku yang hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya.
Tempat yang damai yang selalu dipenuhi suara anak-anak sedang melantunkan ayat-ayat suci. Suara tawa kebahagiaan seperti saudara. Suara riuh saat kami duduk berjajar menyantap menu makanan sederhana.
"Khairil, apa kabarmu, anakku?" sambut Pak Sofyan, ketua pengurus panti yang juga salah satu sahabat terdekat ayah angkatku.
"Alhamdulilah, saya sangat baik, Pak."
"Mari silakan masuk, Nak!" ajaknya mempersilakan.
Kami menuju ruangannya, Pak Sofyan memanggil salah satu staff untuk membuatkan minuman. Kami berbicara mengenai kegiatan anak-anak panti serta tentang apa saja yang terjadi di panti. Tak kecuali membahas berbagai masalah dan kendala yang sedang dihadapi.
Hingga pembicaraan pun selesai, aku menyerahkan uang untuk didonasikan semua. Untuk mencukupi kebutuhan pangan serta obat-obatan yang diperlukan. Pak Sofyan menerimanya dengan rasa bersyukur dan mengucapkan banyak terima kasih. Lalu, aku segera berpamitan pulang.
"Terima kasih, Nak Khairil. Semoga Allah membalasnya dengan berlipat rezeki dan kebaikan untukmu."
"Jangan merasa sungkan, Pak. Terima juga kasih atas ucapan doanya."
***
Hari sudah malam ketika aku tiba di depan rumah. Bersamaan saat keluar dari mobil, aku berpapasan dengan Sephia. Dia sepertinya habis menikmati waktu di rumah sahabatnya. Aku menyapa ramah, pelan-pelan, kubuang rasa canggungku berhadapan dengannya.
"Apa Anda mau pulang, Nona Sephia?"
"Iya, aku baru saja makan malam bersama Tasya."
"Kalau begitu aku antar kamu pulang!"
"Baiklah. Terima kasih, Khairil."
Sephia pamit pada sahabatnya, lalu masuk ke mobilku. Dia memilih duduk di bangku belajang. Kucoba menebak, dia sepertinya sedang menjaga jarak denganku. Sikap gugupnya tidak bisa ditutupinya, entah rasa sungkan atau gembira saat kami pergi bersama lagi.
"Khairil ...." katanya lirih.
Aku menoleh sekilas dan mengisyaratkan untuk mendengar apa yang ingin dia sampaikan. Wajahnya tampak ragu, tetapi aku tahu dia pasti akan membicarakan sesuatu yang dia rasakan. Aku menunggunya.
"Apa yang kamu bilang tentang Umay tadi siang ternyata benar. Aku sudah buktikan kalau dia yang mengendalikan studio pemotretan. Aku sudah bicara sama manager-nya soal ini dan menanyakan langsung," ungkapnya sedih.
Aku sangat marah mengetahui hal itu dan ingin memutuskan kontrak perjanjian kerja."
Bersambung