MEMUTUSKAN KONTRAK KERJA

1860 Kata
"Aku sangat marah mengetahui hal ini dan ingin memutuskan kontrak perjanjian kerja. Tapi, mereka bilang kalau aku memutuskan kontrak kerja, aku harus membayar uang ganti rugi tiga kali lipat dari uang fee yg dibayarkan padaku beberapa hari yang lalu," akunya sedih. Aku menghela napas berat, lalu mengembuskan pelan. "Khairil, bagaimana kamu tahu, studio foto dan agency model itu sudah diambil alih oleh Umay dan mulai sejak kapan?" tanyanya was-was. "Sebulan sebelum kamu mulai aktif melakukan pemotretan." "Kata pihak agency, mereka mengalami bangkrut dan terpaksa harus menjual saham pada perusahaan milik Umay." Aku tahu itu semua hanya sandiwara mereka untuk mengelabui Sephia. Berpura-pura mengatakan bangkrut agar dia tidak membatalkan perjanjian kontrak kerja di sana. Aku sudah menyelidiki perusahaan milik Umay dan memang sudah berambisi ingin mendapatkan saham dari agency itu. "Khairil, aku tidak punya uang untuk menebus pembatalan kerja, jadi aku terpaksa meneruskan kerjasama dengan pihak agency termasuk Umay. Apa kamu tidak keberatan?" "Sephia, aku tidak berhak ikut campur dalam menentukan pilihanmu dan membatasi kariermu." "Apa kamu tidak akan cemburu bila aku harus berurusan dan bertemu dengan Umay setiap hari? Umm ... maksudku apa kamu tidak mempermasalahkan tentang itu?" Aku tersenyum miring mendengar pertanyaan yang aku rasa itu sangat konyol. Namun, tak bisa kupungkiri ada perasaan canggung bila memikirkan tentang hal tersebut, tetapi yang pastinya aku tidak akan mengungkapkannya di depan Sephia. Seperti biasa aku tidak akan menjawab pertanyaanya kali ini. "Khairil, aku bertanya padamu! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" sungutnya mulai kesal. "Aku rasa itu tidak penting, Nona Sephia!" jawabku singkat. "Itu menurutmu, tapi bagiku sangat penting." "Untuk apa? Bukankah kamu pernah bilang bahwa kita menjalani hidup masing-masing dan tidak ada hubungan apa pun?" pancingku. Sephia terdiam. Dia tahu aku akan memegang ucapannya tempo hari. Sekilas kulirik wajahnya terlihat sendu. Dia membuang muka, lalu memandangi tepi jalan yang kami lewati. Sesungguhnya, aku tidak ingin membuatnya terluka. Akan tetapi aku akan mengingat kata-katanya, aku tidak mungkin memberinya harapan seandainya dia pun tak mengharapkan. Sesampainya di depan rumah orang tuanya, dia masih terdiam. Aku mengisyaratkan dan membukakan pintu mobil. Sephia keluar dengan perasaan hampa, kedua kelopak matanya tampak basah digenangi air mata. Dia tak berkata apa-apa hingga aku mengucapkan selamat malam dan menyalakan mesin mobilku. Meninggalkannya dalam kegamangan. *** POV Sephia Acara pemotretan untuk produk perhiasan berlian berjalan lancar. Beberapa teman-teman model mengiringi acara peragaan dengan menyuguhkan berbagai produk perhiasan yang sedang dipamerkan. Aku memilih gaun panjang berwarna merah dengan model bahu terbuka. Menampilkan kalung berlian yang melingkar di leher jenjangku dilengkapi dengan anting serta cincin dari produk perhiasan yang sama. Sorak sorai para tamu yang hadir meriuhkan suasana dalam ruangan catwalk. Di antara tamu tersebut, tampak Umay menatapku dengan pandangan takjub. Seandainya ini bukan acara penting dalam karierku, rasanya sangat muak diperhatikan oleh pria itu. Terlebih saat acara sudah usai, Umay maju ke depan dengan kedua tangan menggenggam buket bunga mawar. Warna yang serasi dengan gaun yang aku pakai. Dia menyerahkan buket bunga kepadaku dan karena ingin menjaga sikap di depan publik, dengan sangat terpaksa aku menerima buket bunga pemberiannya. Tak kusangka dia membalasnya dengan pelukan serta ciuman di pipiku. "Khairil!" Tiba-tiba, netraku beralih pada pintu kaca di depan ruangan. Khairil berdiri memandangi, dari raut wajahnya dia seolah-olah merasa sangat risi dan terganggu dengan adegan yang baru saja kulakukan bersama Umay. Namun, aku masih ragu. Apakah Khairil melihat kami barusan? Lalu, dia segera berpaling dan meninggalkan ruangan catwalk. "Khairil!" panggilku segera menyusulnya. Dia tidak menoleh atau menghiraukan panggilanku. Kulepas sepatu high heels sambil terus mengejarnya, tak peduli orang-orang sedang melihatku. Aku masih bisa mengikutinya walau harus berlari sampai menghabiskan sisa tenaga hingga melihatnya berdiri di sebelah mobil yang berada di tempat parkir. "Khairil ... tunggu aku!" teriakku berusaha menahannya pergi. Khairil pun berhenti, berdiri menungguku. Dia menoleh setibanya aku sudah berada di depannya. "Khairil, kenapa kamu ada di sini?" tanyaku gugup seraya mengatur napas. "Aku ingin mengembalikan uangmu, Nona Sephia," balasnya santai. "Mengembalikan untuk apa? Bukankah aku yang punya utang sama kamu?" "Aku sudah bilang, kamu tidak perlu menggantinya. Makanya aku kembalikan lagi. Maksud kedatanganku ke sini untuk itu saja bukan karena yang lain dan jangan berpikir aku sedang menguntitmu," sarkasnya menegaskan. "Tidak, Khairil. Uang itu semuanya milikmu dan aku harus menggantikannya." "Kamu lebih membutuhkannya, Sephia. Dengan uang ini, kamu tidak perlu bekerja lagi di perusahaan milik Umay." "Apa maksudmu, Khairil? Aku bekerja di studio dan agency model bukan di perusahaan milik si b******n Umay." "Studio ini juga agency model tempat kamu bekerja sudah diambil alih atas nama Umay. Jadi, semua staff yang bekerja di studio termasuk semua model-modelnya di bawah perintah serta kekuasaan Umay." "Apa? Tidak mungkin! Bagaimana kamu tahu studio ini sudah diambil oleh Umay? Kamu pasti bercanda!" sanggahku tak percaya. "Atau jangan-jangan kamu cemburu pada Umay? Iya, kan?" pancingku ingin memastikan perasaan Khairil yang sebenarnya terhadapku. Khairil tampak terdiam dan sikap diamnya itu selalu membuatku kesal. Sudah kupastikan dia tidak akan mengatakan, lalu mengalihkan dengan jawaban yang lain dan itu pun benar. "Sephia, kamu tidak tahu siapa Umay. Dia bisa melakukan apa saja untuk menaklukkan orang yang dikehendakinya termasuk kamu." "Ah, Khairil ... kedengarannya itu sangat berlebihan. Aku tidak percaya Umay bos di studio ini," ujarku ragu. "Terserah kamu, Nona Sephia. Kamu terlalu polos sehingga sangat mudah dikelabui orang. Kalau kamu tidak percaya, silakan membuktikannya sendiri. Untuk uang ini, sungguh aku tidak memerlukannya. Akan aku berikan pada orang-orang yang lebih membutuhkan dan disumbangkan pada salah satu panti asuhan. Aku mohon diri. Selamat tinggal, Nona Sephia!" pamitnya segera masuk ke dalam mobil. Aku menatap kepergiannya. Hatiku ragu, tetapi tidak mungkin Khairil berbohong kepadaku. Lalu, aku kembali ke studio dan langsung menanyakan pada staff bagian administrasi yang telah cukup lama bekerja di studio dan agency ini. "Mbak, maaf boleh saya tahu ... apakah benar yang memimpin seluruh karyawan di studio dan agency ini adalah Tuan Umay Lesmana?" "Umm ... maksud Mbak Sephia apa, ya? Maaf saya kurang paham," jawabnya seolah-olah menutupi. "Sudahlah, Mbak. Jujur saja kepada saya, siapa yang menjadi bos kamu di sini? Pertanyaan saya sangat jelas." "Eh, iy-iya, Mbak. Memang benar, Tuan Umay adalah pemilik resmi juga pemegang saham di studio dan agency ini," terangnya mengakui. Aku syok mendengarnya. Buru-buru, aku langsung menuju ruangan pimpinan direksi di lantai atas dan berniat menemui Umay. Setelah mengetahui tentang pemilik saham agency ini, aku ingin memutuskan perjanjian kontrak kerja. Aku tidak mau bekerja dengan pria yang hampir saja mau merenggut kesucianku. Tok tok tok Dengan mantap aku harus mengatakan langsung pada Umay tentang keputusanku mengakhiri hubungan kerjasama dengan perusahaannya di agency. Tak lama, pintu terbuka dan tampak pria itu terkejut saat melihatku. Dengan gugup, dia segera mempersilakan masuk. "Hai, Sephia. Aku tak menyangka kamu menemuiku di sini!" ujarnya basa-basi. "Umay, aku sudah tahu apa posisimu di agency ini. Maka dengan alasan itu, aku ingin membatalkan perjanjian kontrak kerja pada agency ini. Aku harap kamu menyetujui." "Oh, Sephia kenapa sangat mendadak sekali? Padahal kariermu semakin naik dan kamu akan mendapatkan banyak kesempatan mengumpulkan uang. Bukankah kamu mau melunasi semua utang papamu. Kenapa tiba-tiba kamu ingin berhenti, Sephia?" sindirnya bernada penuh ejekan. "Maaf, Tuan Umay. Aku punya alasan kenapa ingin berhenti. Lagi pula aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang hampir mencelakaiku. Aku pikir kamu pasti masih ingat itu!" "Dengar, Sephia. Aku tidak bermaksud mencelakaimu. Jujur aku sangat menyukaimu sejak dulu dan kamu pun tahu itu. Tapi, sekarang ini aku menyadari sebaiknya aku melupakan ambisiku untuk mendapatkan perhatianmu, Sephia ... ada hal yang penting harus diprioritaskan yaitu mengembangkan bakat serta potensi yang baik dalam kariermu. Aku rasa itu hal yang baik pula untuk kelanjutan masa depan kamu." "Aku bisa menentukan masa depanku sendiri, Umay. Rasanya aku tak membutuhkan itu dan aku tidak mau bergantung pada seseorang." "Sephia ... aku tahu kamu tidak suka kepadaku. Tapi, tolonglah mari kita memulai sesuatu yang baik dalam menjalani hubungan bisnis. Kita lupakan permusuhan yang terjadi sebelumnya dan kita menjalani hubungan menjadi teman yang baik atau sebagai sahabat dekat. Bagaimana?" "Umay, aku cukup kenal siapa kamu. Maaf, bila aku tak bisa memercayaimu," tegasku tak peduli. "Baiklah. Asal kamu tahu, memutuskan perjanjian kontrak kerja secara mendadak itu sangat tidak profesional. Apalagi tidak diketahui alasan yang tidak jelas kamu ingin membatalkannya. Apa kamu tahu  seperti apa konsekuensinya?"cecar Umay menakuti. "Aku akan konsultasikan pada manager di sini. Aku mohon diri. Permisi," selaku mengakhiri perbincangan kami. Aku menuju ruangan general manager untuk menanyakan langsung tentang kesepakan perjanjian kontrak kerja dulu. Setelah dipersilakan, di dalam tampak seorang wanita paruh baya sedang memeriksa dan menandatangi surat-surat yang menumpuk di atas meja kerjanya. Wanita itu tersenyum, lalu menawarkan untuk duduk. "Hai, Sephia. Apa perlu apa kamu ke sini? Saya harap bukan karena ada masalah di agency ini," singgungnya. "Sebenarnya saya sangat merasa nyaman kerja di sini. Hanya saja, saya baru tahu siapa pimpinan di kantor ini," jelasku berhati-hati memilih kalimat. "Oh, ya. Memang ada pergantian pemimpin di antor ini. Tapi, apa hubungan dengan pekerjaanmu?" tanya wanita yang biasa dipanggil Bu Siska. "Tentu ada, Bu. Saya sangat mengenal Pak Umay dan sepertinya saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya di agency ini?" "Memangnya kenapa, Sephia?" "Saya hanya merasa tidak nyaman setelah tahu bahwa Tuan Umay adalah atasan saya?" "Kenapa begitu? Itu bukan alasan yang masuk akal. Sebelum menandatangani surat perjanjian, kamu dituntut untuk menjadi model profesional. Agency kami sudah menyetujui apa yang membuat kamu tidak nyaman, misalnya tidak berpose dengan memakai pakaian terbuka mau pun yang terlalu v****r. Saya sangat paham. Tapi untuk alasan yang baru saja kami katakan, saya tidak bisa menerima," ungkap Bu siska panjang lebar. "Kamu sudah menyetujui jika memutuskan kontrak kerja, maka kamu harus siap menerima sanksi dengan mengembalikan uang fee yang telah kami transfer ke nomor rekekingmu dan juga harus membayar denda tiga kali lipat untuk itu. Jadi, kamu harus pikirkan lagi, Sephia." Aku sangat terkejut mendengar penjelasan dari Bu Siska. Bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk mengembalikan uang fee serta uang dendanya? Pasti jumlahnya sangat banyak tidak akan cukup dengan sisa penghasilanku selama bekerja di sini. "Sephia, saya sangat peduli dengan bakat yang kamu miliki. Karena kerjamu bagus dan menguntungkan kantor kami, maka kami pun memperlakukan kamu sangat baik. Di sini adalah kesempatan kamu untuk mengejar mimpi. Kamu akan menjadi model terkenal di negeri ini, kalau perlu kami akan mempromosikan kamu menjadi model internasional." "Terima kasih atas kepedulian Bu Siska dan agency ini. Jujur, saya mengikuti pemilihan model cover majalah berawal karena saya butuh pekerjaan. Tetapi barangkali saya tidak bisa selamanya menjadi model. Semua ini saya jalani hanya untuk sementara. Saya terbebani utang keluarga yang yang tidak bisa kami lunasi. Saya memilih menjadi model ini karena terpaksa." Aku duduk termenung berharap meminta pengertian dari Bu Siska. "Sephia, keputusan memang ada sama kamu. Saya sekadar memberi saran. Kamu mau melanjutkan atau membatalkan kerjasama kita, semua itu terserah kamu. Yang pasti, itu tadi ... kamu harus menyetujui apa yang baru saja saya sampaikan." "Baik, saya mengerti, Bu." "Oh, ya ... ini copy-an dari surat perjanjian kontrak kerja kamu dengan kantor kami. Mungkin kamu sudah lupa, jadi kamu bisa pelajari ini lagi," imbuhnya seraya menyerahkan lembaran kertas dalam satu file. "Iya, terima kasih, Bu. Saya akan memikirkan tentang ini kembali. Maaf, sudah mengganggu waktu Anda, saya permisi ...." Aku beranjak dan keluar dari ruangan Bu Siska. *** "Sya, kita makan siang di kafe dekat kantor agency-ku. Sekalian ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu. Apa kamu ada waktu?" "Aku nggak ada acara hari ini. Tunggu di sana, bentar lagi aku nyusul." "Ok." Waktu menunjukkan pukul 13.20 siang. Aku janjian bertemu Tasya di kafe yang sering kami kunjungi. Pikiranku sedang bimbang, antara bingung dan canggung menyelimuti hati ini. Jika aku membatalkan kerjasama, otomatis akan berdampak buruk dengan karier juga masa depanku. Belum lagi harus menanggung uang denda yang harus kubayar. 'Oh, Tuhan ... sepertinya hidupku dipenuhi berbagai macam ujian! Apa yang harus kulakukan?' Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN