MENCABUT KEPUTUSAN

1193 Kata
"Sya, aku lagi bingung, nih. Aku mau minta pendapat sama kamu," ungkapku saat Tasya tiba di kafe. "Bingung kenapa, Phia?" "Ini tentang masalah pekerjaanku, Sya. Kamu tahu, pemimpin perusahaan yang baru di kantor agensi dan studio itu adalah Umay. Kalo aku tahu sebelumnya, aku nggak mungkin mau kerjasama di kantor agensi itu." "Memangnya kamu tahu dari siapa, Phia?" "Khairil yang ngasih tahu. Aku juga udah tanya langsung sama Bu Siska, generan manager di kantor." "Terus apa rencana kamu?" "Aku mau memutuskan perjanjian kontrak kerja kantor mereka. Tapi, aku harus mengembalikan uang fee yang sudah ditransfer ke rekeningku. Juga harus membayar denda pemutusan kontrak sepihak." "Ya, ampun, Phia. Jangan gegabah, pikirkan dulu masa depan kamu. Mengembalikan uang fee aja kamu belum tentu sanggup apalagi membayar denda, aku tahu itu. Dari mana kamu mencari uang sebanyak itu?" cicit Tasya mengomentari. "Dengarkan aku, Phia. Lebih baik kamu jalani dulu sisa kontak kerja. Kalo kamu sudah selesai, kamu punya pilihan mau ganti kantor agensi atau apa pun terserah. Kamu nggak perlu menanggung risiko berat seperti itu." "Sya, tapi aku muak dan nggak tahan kalo tiap hari ketemu sama Umay. Kamu pasti tahu gimana rasanya kalo di posisiku!" "Aku tahu, Phia. Tapi kalo menuruti egomu, kamu hanya akan mendapatkan banyak masalah. Percayalah!" bujuknya mencoba untuk menenangkan. "Ngomong-ngomong ... kalo boleh aku tahu , tinggal berapa lama lagi sisa kontrak kerja kamu di sana?" "Tiga bulan." "Cuma tiga bulan, itu nggak akan lama, Phia. Bersabarlah ... aku yakin kamu bisa." "Ohhh ... aku benci dengan hidupku, Sya. Kenapa nasibku seperti ini?" "Hei, jangan bilang begitu! Kamu tahu? Kamu gadis yang paling beruntung dibanding aku. Dengan hidupmu yang berkecukupan, apa pun itu kamu selalu dengan mudah mendapatkan apa yang kamu mau. Bahkan, pria terkaya seperti Umay aja sangat tergila-gila padamu. Kalo boleh jujur, aku iri sama kamu, Phia," aku Tasya seraya merangkulku. "Oh, Sya. Terima kasih atas semuanya. Kamu memang sahabat terbaikku!" Aku membalas rangkulan Tasya dengan pelukan layaknya sahabat. "Baiklah, aku akan berusaha mengikuti saranmu dan akan bersabar sampai aku menyelesaikan kontrak kerjaku." "Nah, gitu, dong! Itu baru Sephia yang aku kenal." "Aku mau telepon Bu Siksa dulu, setelah itu aku kembali ke studio." "Ok. Go go girl. Oh, ya ... nanti malam kamu ke rumahku, ya. Aku mau masak banyak untuk menu makan malam. Aku tunggu kamu jam tujuh tepat." "Ok, aku pasti datang ke rumahmu. Thank you, Sya!" *** "Syukurlah, akhirnya kamu memilih keputusan yang tepat melanjutkan kontrak kerja di agensi model. Kamu sebenarnya sangat beruntung, Phia. Bayaran kamu sebagai model saja sudah cukup untuk membuka usaha. Nanti kalo sudah selesai, aku yakin uangmu akan bertambah dan kamu bisa gunakan untuk membeli apartemen." "Iya, aku tahu, Sya. Tapi, aku juga harus membayar semua utang Papa pada Umay. Aku nggak mau gara-gara utang Papa, aku yang menanggungnya dan harus menikah dengan Umay. Aku nggak mungkin menikah dengan pria yang nggak aku cinta." "Jujur aja, karena sekarang udah ada nama seseorang yang mengisi hati kamu, kan?" goda Tasya sambil mencubit pipiku. "Ihh, Tasya!" jeritku menahan sakit. "Aku pulang sekarang, ya. Nanti kemalamatan," pamitku saat melirik jam tangan di pergelangan tanganku. "Kamu nggak nginep di sini? Siapa tahu besok pagi kamu ketemu Khairil." "Nggak, Sya. Besok aku ada pemotretan di luar kota. Oh, ya ... kalo kamu ketemu Khairil, tolong titip salam buat dia, ya," pintaku sambil mengerlingkan mata padanya. "Ok, tenang aja!" Tasya mengantarku hingga di depan pintu. Setelah mengucapkan terima kasih, aku memeluknya dan berpamitan. Saat aku menuruni tangga teras rumah, Khairil sedang memarkirkan mobilnya. Sepertinya dia baru pulang kerja, tapi kenapa sampai selarut ini? Biasanya dia selesai kerja sekitar jam lima sore. "Assalamu alaikum ...." Karena masih termenung, hampir saja aku tak mendengar Khairil menyapa kami. "Wa-waalaikumsalam, Ustaz!" balas kami bersamaan. "Ustaz Khairil, apa Anda tidak keberatan kalo mengantarkan Sephia pulang?" celetuk Tasya spontan. "Apa Anda mau pulang, Nona Sephia?" tanyanya memastikan. "Iya, aku baru saja makan malam bersama Tasya." "Tolong antarkan Sephia pulang, Ustaz. Kasihan dia pulang sendiri, saya jadi khawatir," sela Tasya membuatku semakin merasa jengah. "Kalau begitu aku antar kamu pulang!" "Oh, ng-nggak usah, saya bisa naik taksi," cegahku tak mau merepotkan Khairil. "Tak apa, mari aku antar!" Khairil menyetujui permintaan Tasya. Membukakan pintu mobil dan mengisyaratkan padaku untuk naik. "Terima kasih, Khairil. Biar aku duduk di belakang saja," ucapku sungkan. Khairil hanya membalasnya dengan anggukan. Di perjalanan kami tak banyak bicara. Aku rasa Khairil tipe orang yang introvert, dia jarang dan tak akan bicara jika orang yang bersamanya tidak berbicara terlebih dulu. Untuk beberapa saat, kami hanya saling membisu sebelum suaraku memecah kesunyian. Aku yang memilih duduk di bangku belakang sengaja ingin menjaga jarak dan menghindari untuk tidak menatapnya dari dekat. Khairil ...," panggilku lirih. Matanya sekilas tertuju ke arahku melalui kaca mobil. Dia mulai tertarik untuk menyimak perkataan dan akan mendengarkan apa pun yang ingin kusampaikan. Seolah-olah dia sedang menunggu dengan sangat sabar. "Apa yang kamu bilang tentang Umay tadi siang ternyata benar. Aku sudah membuktikan kalau dia yang mengendalikan studio pemotretan serta kantor agensi tempat aku bekerja. Aku sudah bicara dengan general manager di kantor soal ini dan menanyakannya secara langsung," jelasku terasa berat kuungkapkan. "Aku sangat marah mengetahui hal ini dan ingin memutuskan kontrak perjanjian kerja secepatnya. Tapi, mereka bilang kalau aku memutuskan kontrak kerja, aku harus membayar uang ganti rugi tiga kali lipat dari uang fee yg dibayarkan padaku beberapa hari yang lalu," sesalku sangat sedih. "Separuh uang fee itu aku berikan kepadamu untuk membayar utangku dan sebagian lagi sudah aku gunakan untuk mencukupi kebutuhan kami di rumah. Aku bingung bagaimana caranya mengganti uang denda yang harus kubayar pada mereka?" Khairil tampak terdiam, sepertinya dia tidak mempunyai ide atau solusi untuk membantu mengatasi masalahku. Akan tetapi, aku tidak mengatakan kepadanya bahwa aku telah mencabut kembali keputusan untuk membatalkan kontrak kerja. Kupikir sebaiknya tidak menberitahu pada Khairil, lagi pula dia tidak mungkin menghalangi karierku. Kemudian, aku mengalihkan topik pembicaraan. "Khairil, bagaimana kamu tahu, studio foto dan agency model itu sudah diambil alih oleh Umay dan mulai sejak kapan?" tanyaku penasaran. "Sebulan sebelum kamu mulai aktif melakukan pemotretan," jawabnya terdengar berat. "Kata pihak agency, mereka mengalami bangkrut dan terpaksa harus menjual saham pada perusahaan milik Umay," imbuhku. Dia terdiam lagi. Aku rasa seseorang yang baru kenal dengannya akan sangat kesusahan bila berdiskusi dengan pria seperti Khairil. Dia seorang pemikir yang keras, sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Maka, dia akan berlama-lama memikirkan sesuatu sebelum Khairil menyetujuinya. "Khairil, aku tidak punya uang untuk menebus pembatalan kerja, jadi aku terpaksa meneruskan kerjasama dengan pihak agency termasuk Umay. Apa kamu tidak keberatan?" Akhirnya, aku memilih untuk berterus terang dan menceritakan tentang keputusanku. "Sephia, aku tidak berhak ikut campur dalam menentukan pilihanmu dan membatasi kariermu." "Apa kamu tidak akan cemburu bila aku harus berurusan dan bertemu dengan Umay setiap hari? Umm ... maksudku apa kamu tidak mempermasalahkan tentang itu?" Khairil tersenyum miring. Aku sudah bisa menebak senyumnya adalah jawaban dari ketidakpastian tentang perasaan dia terhadapku. "Khairil, aku bertanya padamu! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" sungutku mulai kesal. "Aku rasa itu tidak penting, Nona Sephia!" jawabnya singkat. "Itu menurutmu, tapi bagiku sangat penting." Aku bersikukuh ingin mengetahui perasaannya. "Untuk apa? Bukankah kamu pernah bilang bahwa kita menjalani hidup masing-masing dan sudah tidak ada hubungan apa pun?" balasnya balik bertanya dan itu membuatku semakin merasa sedih. Apakah aku sudah tidak memiliki harapan untuk mendapatkan cinta juga perhatian dari Khairil? Kalau memang benar, mulai detik ini, aku harus rela melepaskan dan melupakannya. Bangkit sendiri dan mulai menata kembali hidupku dalam kegamangan. Lalu, kepada siapa aku meminta perlindungan? Siapa yang akan menyelamatkanku bila suatu saat pria b******n seperti Umay mengusik ketenanganku lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN