PELAKU PENEMBAKAN

1410 Kata
"Sephia, apa kamu sudah bertemu Dilan?" Mama memburuku saat aku masuk ke dalam rumah. "Tidak, Mama. Aku sudah menghubunginya tadi siang. Dia tidak menjawab teleponku." "Ya, Tuhan. Di mana anak itu?" "Dilan kenapa, Ma?" "Dia belum pulang sejak kemarin malam, mama sangar khawarir, Nak!" "Apa Mama sudah menghubungi semua teman-temannya?" "Sudah, tapi satu pun tidak ada yang mengetahui keberadaan adikmu. Apa yang harus kita lakukan? Apa perlu kita lapor polisi?" "Sabar, Ma ... besok aku akan segera mencari informasi tentang keberadaan Dilan. Aku mengerti perasaan Mama." Aku memberinya pelukan hangat, turut merasakan kekhawatiran atas Dilan. *** "Sephia, apa kamu sudah mendengar berita tentang Dilan?" tanya Tasya tepat bersamaan saat aku mendatangi rumahnya. "Tidak, Sya. Aku ke sini justru ingin bertanya. Apakah kamu melihatnya?" "Iya, kamu benar. Semalam aku melihat Dilan. Tapi, kamu tenang dulu, ya!" "Melihat dia di mana? Kenapa dengan Dilan, Sya?" "Aku yakin kamu pasti tidak akan percaya. Dilan adikmu, dia menjual obat terlarang di sekitar sini, Phia." "Apa? Tidak mungkin! Dilan sudah janji tidak akan menjual obat-obat laknat itu lagi. Ini tidak mungkin!" "Phia ... aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Semalam dia di gerebek warga karena ketahuan sedang melakukan transaksi dengan pembeli. Di antara warga itu juga ada Khairil. Aku mendengar langsung, Khairil mengancam akan menghabisi nyawa Dilan. Kamu tahu, Khairil sangat menentang pengedar obat-obatan ataupun minuman keras di wilayah ini. Khairil orang yang sangat dipercaya dan berpengaruh di sini." Kata-kata Tasya membuatku cemas. "Aku harus menemui Khairil. Dia pasti mengetahui keberadaan Dilan. Aku harap dia baik-baik saja!" pamitku. Aku bergegas menuju rumah Khairil. Rumahnya tampak sepi. Kemungkinan Khairil sedang tidak ada di rumah. Aku menuju ke ruko tempat Khairil bekerja. Juga tidak ada dia di sana. Saat akan kembali ke kontrakan Tasya, aku melihat mobil Khairil terparkir di depan rumahnya. Akan tetapi, dia tidak melihatku. Tampaknya dia sangat terburu-buru, lalu menuju mobil dan mengemudikan kendaraannya. Taksi melintas, aku mengikuti mobilnya. Dia mengendarai sangat cepat, taksi yang kutumpangi hampir saja tak bisa mengejar. Kemudian, melihat mobilnya lagi menuju tempat sepi, ke area bangunan kosong dan keadaannya sudah tak layak huni. Sebagian temboknya hancur dan tak beratap. Khairil masuk ke dalam, tangannya menggenggam senjata api. Dengan rasa penasaran, aku menunggu di dalam taksi. Beberapa menit kemudian, aku menyusulnya. Duarrrrr! Suara tembakan terdengar dari luar. Aku segera masuk ke dalam bangunan tersebut. Khawatir terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya. Namun, mataku terbelalak, ketika melihat  tubuh seseorang yang sangat aku kenal tergeletak dengan darah mengucur di dadanya. Di sebelah tubuh yang sudah tak berdaya, Khairil sedang memegang tubuh pemuda itu. Tangannya masih menggenggam pistol. Kenapa Khairil tega menembak adikku? "Dilan ... oh, Dilan!" Aku menubruk tubuhnya. Mengguncang berkali-kali, berharap dia sadar dan terbangun. Namun, tubuh adikku tak bergerak. Di luar, suara sirine mobil polisi dan ambulan nyaring bersahutan. "Sephia, aku tak melakukannya. Aku bersumpah. Percayalah!" seru Khairil dengan suara parau, memelas padaku. "Sephia ... tunggu! Aku perlu bicara dulu dengan Sephia. Aku mohon!" teriak Khairil ketika dua petugas menyergapnya. Aku menjerit sekerasnya, hampir pingsan saat aparat keamanan mengelilingi seluruh ruangan di dalam bangunan. Beberapa petugas segera memborgol tangan Khairil, bersamaan dengan tim penyelamat. Mereka menggotong tubuh Dilan dan membawanya ke dalam ambulan. Aku mengejarnya dan ingin menemani Dilan diantar ke rumah sakit. "Sephia!" jerit Khairil saat aku mengikuti petugas medis. Wajah Khairil terlihat pasrah seolah-olah dia terbukti bersalah. Tiba-tiba, rasa kebencian muncul dalam hati, ketika mengingat ucapan Tasya. Khairil yang mengancam akan menghabisi nyawa Dilan dan apa yang baru saja aku lihat semua itu adalah benar. Seketika aku sangat marah kepadanya, tak peduli tatapan memelas saat polisi membawanya ke dalam mobil tahanan. Khairil memang terbukti bersalah dan pantas menerima hukuman. *** "Dilan ... Dilan!" teriak Mama histeris. Tubuh adikku dibawa masuk menuju ruangan unit gawat darurat. Seorang suster meminta kami menunggu di luar, lalu dengan sigap menutup pintu ruangan. Mereka pasti akan segera melakukan operasi terhadap adikku. Sebelumnya, petugas medis telah memeriksa keadaan Dilan. Mereka mengatakan bahunya terluka parah akibat tembakan peluru dan mengalami banyak pendarahan. Umay menghampiri Papa, mengucapkan rasa turut berduka. Bahkan, dia ingin membantu mengurusi semua biaya pengobatan rumah sakit selama Dilan dirawat. Dia pun akan bekerja sama untuk melacak kasus penembakan terhadap adikku. "Om Rusdi, aku turut berduka atas musibah yang dialami Dilan. Aku akan membantu masalah biaya admisyrasi untuk Dilan. Semoga dia cepat pulih. Jangan khawatir, polisi sedang menginterogasi pelaku penembakan. Aku sangat yakin Khairil yang melakukannya dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal." "Khairil pasti sudah merencanakan penembakan kepada putraku, Umay!" sahut Papa sambil merutuk diri. "Ya. Tentu saja, Om. Dia sangat berbahaya. Untung aku memergoki perbuatannya dan segera melaporkan pada pihak yang berwajib," balas Umay pasti. "Bagaimana kamu bisa mengetahui Khairil ada di sana, sedangkan aku tak melihatmu, Umay? Kamu tahu, aku menyaksikan langsung kejadian itu, tapi kamu tidak berada di tempat kejadian!" sungutku menampik perkataannya. "Ah, Sephia. Kamu tahu aku memiliki banyak anak buah. Mereka bisa memberikan informasi apa pun yang aku mau, termasuk berita tentang Khairil," ujarnya. Umay berpamitan pada kami saat ponselnya berdering. Kemudian, dia bergegas untuk menerima panggilan telepon dan meninggalkan rumah sakit. Setelah kepergian pria itu, Papa menghampiriku. Dari raut wajahnya bukan hanya terlihat sedih, tetapi sedang menahan amarah. "Sephia, ini semua karena ulahmu!" bentak Papa emosi. "Apa maksud Papa? Kenapa Papa selalu menyalahkan aku?" "Iya, semua ini gara-gara kamu. Siapa yang membawa pria itu berkunjung ke rumah kita? Kamu, Sephia! Papa sudah memperingatkan agar kamu menjauhi Khairil, tapi kamu memang keras kepala. Ini semua salahmu!" "Pa, sudahlah ... jangan mulai lagi. Aku tidak mau membahas tentang itu. Aku sangat sedih dengan keadaan Dilan." "Kamu pikir cuma kamu yang bersedih? Pria itu pasti akan menghabisi semua keluarga kita termasuk kamu, Sephia," tuduh Papa membuatku berkerut kening. "Apa maksud Papa?" "Sephia, kamu tidak mengenal siapa sebenarnya Khairil!" "Pa, aku mengenalnya. Saat pertama kali aku bertemu dengannya, Khairil memang orang yang baik. Dia sangat rajin beribadah. Orang-orang memanggilnya Ustaz dan dia menyelamatkan aku dari pria b******n seperti Umay!" "Cukup, Sephia. Hentikan semua omong kosongmu! Ustaz, hah? Khairil bukan seorang Ustaz, Sephia! Kamu tidak tahu, sudah berapa banyak nyawa manusia yang dibunuhnya?" "Apa maksud Papa? Papa seperti sangat kenal dengan sosok Khairil. Ada apa, Pa? Memangnya siapa Khairil?" cecarku mulai mencurigai sikap Papa. "Ti-ti-tidak! Tidak ada apa-apa ...," jawabnya singkat dan tampak gugup. *** Sudah seminggu Dilan dirawat, masa kritisnya pun telah lewat. Kami sangat bersyukur dia selamat. Dilan belum siuman, namun kondisinya belum sempurna membaik. Dokter memindahkan ke ruangan khusus pasien rawat inap. Sebuah kamar dengan fasilitas serta perlengkapan dan suasana yang lebih nyaman. Beberapa petugas polisi memanggilku, Mama, dan Papa. Mereka hendak melakukan testimoni penyelidikan tentang kasus penembakan Dilan. Setelah adikku sadar, mereka akan menanyakan kejadian secara kronologis sebelum penembakan. Aku menandatangani berkas-berkas dan menjadi saksi pada kasus tersebut. Saat aku kembali ke kamar Dilan dirawat, di dalam sudah ada Umay dan Khairil. Entahlah, mendadak perasaanku berubah jadi sangat benci melihat kedatangan Khairil. Setahuku, belum lami ini dia ditangkap polisi, kenapa hari ini dia sudah dibebaskan? "Sephia ...," panggilnya datar. "Mau apa kamu ke sini?" Aku berbalik tanya dan bersikap tak acuh. "Dengarkan penjelasanku, bukan aku pelaku penembakan terhadap adikmu. Percayalah!" "Kenapa aku harus percaya padamu, Khairil? Aku melihatmu di sana dengan senjata di tanganmu dan tubuh Dilan tergeletak di lantai dengan berlumur darah. Bagaimana aku harus percaya kepadamu?" "Itu semua jebakan, Sephia. Ada orang yang telah menembak Dilan sebelum aku menemukan tubuhnya. Pelaku penembakan yang sebenarnya sudah kabur." "Aku tidak percaya, Khairil. Bagaimana kamu bisa terjebak dalam waktu yang bersamaan? Kamu pembohong!" "Kakak ...." Suara Dilan terdengar lirih. Dia sudah siuman. "Dilan ... syukurlah, kamu baik-baik saja!" Aku menghampiri dan memeluknya terharu. "Dilan, apakah kamu sudah bisa mengingat sesuatu, tentang kejadian hari itu?" selidik Khairil antusias. "Hanya sedikit." "Bisakah kamu ceritakan, Dilan? Aku mohon!" "Malam itu ... setelah aku digerebek, dua orang pria menculikku." "Siapa orang itu?" cecar Khairil penasaran. "Aku tidak bisa melihatnya. Aku pingsan, saat sadar tangan dan kakiku sudah diikat dan kedua mata tertutup. Mereka menyanderaku." "Khairil, kamu jangan berpura pura. Sudah cukup, jangan berbohong padaku! Kamu pasti yang melakukan itu pada adikku! Kalau bukan kamu, siapa lagi?" tanyaku tak percaya. "Sephia, untuk apa aku melakukan semua itu kepada adikmu?" "Bukankah kamu yang mengancam Dilan sebelum dia ditembak? Karena kamu sangat membenci perbuatan seperti yang dilakukan Dilan, benarkan?" "Iya, aku akui itu. Memang aku mengancamnya untuk sekadar memberinya peringatan dan juga pelajaran supaya adikmu jera. Tapi, bukan dengan menembaknya dan sungguh aku tidak tahu Dilan itu adikmu." "Khairil, aku tahu adikku bersalah. Tapi, kenapa harus menembaknya? Kenapa kamu tega melakukannya?" Aku masih tidak bisa memercayainya. "Sephia ... baik. Aku akan mencari siapa pelaku penembakan Dilan yang sebenarnya dan akan membuktikan kepadamu bahwa aku tidak bersalah!" tegas Khairil mantap. Lalu, pergi dengan tatapan terluka. Suara pintu diketuk dari luar. Aku membukanya, dua orang petugas polisi mendatangi. Mereka meminta izin untuk melakukan interogasi. "Pak polisi, pria itu yang menembak adikku! Dia ada di sini. Kenapa kalian tidak menangkapnya?" Aku menunjuk pada Khairil yang baru saja keluar dari kamar tempat Dilan dirawat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN