INTEROGASI KASUS DILAN

1502 Kata
"Pak polisi, pria itu yang menembak adikku! Dia ada di sini. Kenapa kalian tidak menangkapnya?" teriakku menunjuk pada Khairil. "Maaf, Nona. Tidak ada laporan dari atasan kami untuk menangkapnya. Kami datang ke sini untuk menginterogasi korban. Harap Anda keluar sebentar!" "Umay, barusan aku melihat pria itu. Khairil, dia tadi ke sini!" seru Papa tampak sangat ketakutan. "Tenang, Om Rusdi. Aku akan membantumu agar pria itu tak mengganggu keluarga kalian." "Bagaimana keadaan Dilan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Papa cemas. "Iya, Om. Polisi sedang menginterogasi Dilan di dalam." "Umay, Khairil pasti akan terus mendatangi Dilan. Keadaan Dilan sedang terancam!" "Om, jangan khawatir ... aku ada ide, kita bawa Dilan pindah dirawat di rumahku saja. Aku yakin Khairil tidak akan mengincarnya." "Apa? Untuk apa Dilan harus dibawa ke rumahmu?" protesku keberatan. Aku sangat marah mendengar sarannya. "Sephia, Tuan Umay benar. Dilan tidak aman berada di sini." "Tidak aman bagaimana, Pa? Ini rumah sakit, petugas polisi menjaganya. Ide Umay sangat konyol, jangan dengarkan dia!" "Sephia, pria itu barusan datang ke sini pasti Khairil sedang memata-matai Dilan!" ujar Papa bersikeras. "Tapi, aku tidak setuju Dilan harus dirawat di rumah Umay!" "Sephia, tolong mengertilah! Papamu benar. Dia sangat khawatir. Aku akan menyiapkan kamar yang aman untuk adikmu dan mengambil perawat khusus untuk mengkontrol kondisi Dilan. Dengan senang hati aku akan mengizinkan Om Rusdi dan Tante Heni jika mau menginap di rumahku. Kamu juga bisa tinggal di sana, Sephia. Akan kusiapkan kamar untukmu di vila-ku." Kata-kata Umay membuatku sangat muak. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Umay. Kamu bilang rumahmu tempat yang aman setelah apa yang kamu lakukan padaku sebelumnya? Apa kamu sudah lupa, kamu telah menyanderaku, Umay?" kecamku penuh emosi. "Sephia, aku melakukan itu untuk melindungimu dari ancaman Khairil!'' kelit Umay berdalih. "Ancaman seperti apa? Lalu, jika aku dalam ancamanmu, siapa yang akan melindungiku?" "Sephia. Sudah ... sudah cukup!" bentak Papa menengahi. *** Sikap keras kepala Papa tidak berubah. Diam-diam, Papa menyetujui saran Umay. Sorenya, setelah izin pada pihak rumah sakit, Dilan langsung dipindahkan ke rumah Umay tepatnya di vila yang terletak di perbatasan kota. Aku sangat kecewa dan marah dengan sikap Papa. Namun, aku tak kuasa mencegah ataupun menentang keputusan Papa. Malamnya, aku berkunjung ke vila milik Umay untuk melihat kondisi Dilan. Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Saat aku masuk ke kamar Dilan, Mama sedang menemaninya. Aku meminta pada Mama untuk meninggalkan kami berdua. Ada yang perlu aku tanyakan kepada Dilan. Dia sempat berbicara terus terang dengan merasa sangat menyesal dan meminta maaf atas perbuatannya. Dilan mengaku terpaksa karena diancam oleh ketua mafia untuk menjual menjual n*****a. Tanpa bisa menolak dan dia belum berani berkata jujur kepada Mama apalagi dengan Papa. "Jangan khawatir, nanti kakak yang akan memberitahu Papa dan Mama. Kamu tenang saja dan perbanyak istirahat, ya. Semoga lukamu lekas sembuh, kakak sangat sayang sama kamu, Dilan!" "Terima kasih, Kak. Kakak selalu menolong ku. Maafkan aku sudah banyak membuat masalah untuk Kakak." "Iya, kakak selalu memaafkanmu, Dilan. Selamat beristirahat!" Saat aku keluar, Umay sedang menungguku di luar kamar Dilan. Dia menawarkan kamar di lantai atas untukku, dengan tegas aku menolak tawarannya. "Sephia, aku berusaha untuk bersikap baik kepadamu juga adik dan keluargamu. Apakah tidak cukup membuktikan bahwa aku serius ingin berbuat baik?" "Umay, aku sudah memaafkan perbuatanmu dulu kepadaku, tapi aku belum bisa melupakannya. Jadi, aku punya alasan sendiri kenapa aku tidak bisa memercayaimu." "Aku ingin kamu seperti adik dan orang tuamu. Mereka menghargai bantuanku dan aku hanya menawarkan kamu untuk tinggal di rumahku sebelum Dilan benar-benar pulih. Aku rasa itu lebih memudahkanmu, Sephia." "Bagaimana kamu bisa berpikir aku akan tinggal di sini?" sindirku pedas. "Tentu saja supaya kamu merasa lebih nyaman, Sephia. Sebagai tuan rumah, aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik," jawabnya penuh percaya diri. "Apa? Kamu bilang lebih nyaman di sini? Jika ingin membuatku nyaman, kamu pergi dan enyahlah dari hidupku, Umay!" sengitku memberinya peringatan. "Di mana mamaku?" tanyaku sebelum aku pergi meninggalkan rumahnya. "Sephia, mama di sini, Nak!" sahut Mama berdiri di pintu kamar sebelah. Aku mengikuti Mama menuju kamar sebelah. Ingin kuajak Mama pulang bersama, tetapi aku yakin Papa melarangnya, karena malam ini mereka akan menginap di vila milik Umay selama Dilan belum membaik. "Ma, aku ingin bicara dengan Mama perihal Dilan." "Tentang Dilan? Ada apa, Nak?" "Ma, Dilan sudah bicara denganku dan mengakui kesalahannya. Sebelum penembakan, Dilan digerebek warga karena dia kepergok menjual obat terlarang. Tolong maafkan Dilan, Ma!" terangku sedih. "Oh, Tuhan! Kenapa adikmu masih melakukan perbuatan itu, Sephia?" "Ma, kata Dilan dia dipaksa geng mafia menjual narkoba." "Biar Mama yang mengingatkan dia, Nak. Dilan harus belajar dari kesalahannya. Sudah cukup satu kali saja melakukan itu, jangan mengulangi lagi." Aku mengangguk setuju. Ketika hendak pamit, Mama menahanku. "Kamu tidur di sini saja, Nak. Kamu kelihatan sangat lelah, sebaiknya menginap saja di sini." "Tidak, Ma. Aku harus pulang. Aku tidak sudi tidur di rumah ini." "Nak, mama tahu kamu tidak suka Tuan Umay. Tapi, sekarang sudah malam, mama khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Tenang saja, kamu tidur di sini bersama mama, ya!" bujuknya lembut. Aku memang sangat lelah. Tiga hari ini aku kurang tidur karena menunggui Dilan di rumah sakit. Kepalaku terasa pusing. Akhirnya, aku menuruti saran Mama dan memutuskan untuk menginap di vila malam ini. *** "Sedang apa kamu di sini?" Aku terkesiap saat melihat Umay sedang berdiri di samping tempat tidur. "Hello, selamat pagi, Sunshine. Aku sangat bahagia melihatmu dengan mata terpejam, Sephia. Lelapmu adalah kedamaianku!" sambutnya diiringi senyuman sembari menatapku lekat. "Umay, apa yang kamu lakukan di sini?" "Sephia, apa kamu lupa ini adalah rumahku? Tapi, jangan khawatir aku hanya ingin menyambutmu serta mengucapkan selamat pagi kepadamu. Sungguh, aku sangat senang kamu tidur di rumahku, Sephia. Semoga kamu betah dan seterusnya tinggal di sini." "Umay, aku hanya menuruti mamaku yang menyarankan agar aku menginap di rumahmu.' "Baiklah, terserah kamu saja, Darling. Oh, ya ... aku sudah menyiapkan menu sarapan yang istimewa untukmu. Setelah kamu siap, kami menunggumu di bawah, kita menikmati sarapan pagi bersama," pamitnya. Lalu, bergegas keluar dari kamar. Ketika menuju ruang makan, seluruh anggota keluargaku sudah ada di sana. Papa, Mama, serta Dilan mereka sedang menungguku. Umay pergi ke dapur dan membawakan sesuatu yang diletakkan dalam piring di atas nampan. Kemudian, dia menyuguhkan menu sarapan untukku. "Aku membuat menu spesial untuk kamu, Sephia. Stik daging buatanku, silakan dicicipi!" titahnya sambil mendekatkan piring. "Terima kasih, Umay. Maaf, aku sedang diet dan hanya menikmati menu vegetarian," tolakku halus. "Ah, Sephia ... tidak apa-apa. Aku akan buatkan kamu salad organik--" "Tidak usah repot-repot, Umay. Aku harus segera bersiap pergi." "Sephia, sarapan dulu, Nak. Mama sudah buatkan roti ubi sama omelet telur," tawar Mama menahanku. "Baik, Ma ... maaf setelah ini aku harus buru-buru pergi." "Aku akan merasa sangat senang kalian tinggal di sini. Jika Dilan sembuh pun, aku tak keberatan kalian berada di sini. Aku merasa seperti memiliki keluarga, berkumpul dalam kebersamaan. Iya, kan, Sephia?" Aku membuang muka saat dia menatapku. Setelah menyantap sarapan, aku bersiap-siap untuk pergi. Aku sangat muak berhadapan dengan Umay. Segera beranjak dari kursi. Namun, Umay berusaha menahanku dengan mengatakan sesuatu. "Sephia, sebenarnya aku ingin sekali memulai sesuatu denganmu secara baik-baik. Menghilangkan rasa permusuhan di hatimu kepadaku dan kita bisa menjalaninya sebagai teman. Lagi pula kamu bekerja di kantorku jadi kita bisa saling kerjasama." "Umay, aku bertahan di sana hanya sekadar ingin menjalankan profesiku, itu saja. Aku tidak tertarik dengan tawaranmu. Papa, Mama, adikku ... aku pergi!" "Sephia, berikanlah aku sedikit kesempatan dan ingin menjadi orang baik menurut penilaianmu." "Ok, Umay. Aku pegang kata-katamu, setelah itu mungkin aku akan berubah pikiran." *** Siang ini, aku hendak mengunjungi kontrakan Tasya. Sebelum sampai, lagi-lagi berpapasan dengan Dokter Della. Aku tak menghiraukannya. Dia menyapa. Terpaksa aku berhenti dan membalas sapaannya. "Sephia, aku turut berduka atas musibah adikmu!" "Terima kasih!" jawabku singkat dan berlalu. "Tunggu! Aku ingin mengingatkan sekali lagi kepadamu, Sephia ...." "Apalagi Dokter Della?" tanyaku menatap bosan. "Berapa kali aku peringatkan kamu agar menjauhi Khairil?" "Dokter Della, apa kamu juga ingin menyalahkan aku atas kasus penembakan adikku?" "Dengar, Sephia. Jauh sebelum kehadiranmu, Khairil tidak pernah mengalami masalah seperti ini." "Ya, aku tahu. Berapa kali kamu mengatakan itu kepadaku? Asal kamu tahu, walaupun kehadiranku membuat Khairil bermasalah, dia bahagia bersamaku. Tapi, sekarang semuanya sudah berakhir. Aku tak akan mengejar pria yang telah menembak adikku! Jadi kamu bisa mendapatkan dia tanpa harus bersaing denganku. Selamat siang, Dokter!" Aku bergegas meninggalkan Della. Khairil muncul dari rumahnya, lalu menghampiri. "Sephia, aku ingin bicara denganmu." "Khairil, aku rasa tak ada yang perlu dibicarakan!" balasku tegas seraya menatapnya tajam. "Sephia, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu." "Kalau itu tentang kasus penembakan Dilan, maaf aku tidak bisa. Aku ada urusan dengan Tasya." "Tolonglah, aku ingin membuktikan kepadamu, bukan aku pelaku penembakan Dilan." "Sudahlah, Khairil. Percuma saja! Aku tidak akan percaya ... apa yang aku lihat itu sudah cukup membuktikan. Jangan menambah kami semakin terluka." "Baik. Jika kamu sudah tidak memercayaiku. Lupakan semua yang pernah aku ucapkan dan jangan percaya satu kalimat pun!" Khairil berlalu dengan tatapan kecewa. "Khairil ...." Dokter Della memanggilnya. Mendengar Della memanggil Khairil, membuat langkahku terhenti. Aku penasaran, apa yang akan mereka lakukan. "Ustaz Khairil, aku tahu kamu tidak bersalah. Aku percaya ada orang yang sengaja menjebakmu. Aku tahu kamu bukan pelaku penembakan itu. Aku sangat percaya." Tangan Dokter Della menggenggam erat lengan Khairil. Tatapannya seolah-olah dia mendukung dan memberikan semangat pada Khairil. Melihat adegan mereka, aliran darahku naik seketika. Aku berubah pikiran, lalu menghampiri Khairil. "Kamu bilang akan menujukan sesuatu kepadaku?" tanyaku memancing Khairil agar menjaga jarak dengan dokter jutek itu. Khairil menoleh dengan cepat, menghampiri, dan meraih tanganku sambil berseru. "Ayo, ikut aku!" Sekilas aku melirik Dokter Della. Dari raut wajahnya tampak sekali Della sedang menahan emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN