AYAHKU, PELAKU PEMBUNUHAN!

1260 Kata
Khairil mengajakku masuk ke mobilnya. "Aku sudah menangkap orang yang telah menembak Dilan." "Di mana?" "Aku sudah meringkusnya. Dia disekap di tempat persembunyiannya di perbatasan kota. Ferdi sedang berjaga di sana." "Kenapa kamu begitu yakin bahwa dia pelakunya, Khairil?" "Dia meninggalkan jejak, Sephia. Aku tidak bisa melepaskan b******n itu bebas begitu saja setelah apa yang dia lakukan kepadaku dan adikmu." "Melakukan apa kepadamu?" "Dia menjebakku dengan mengirimkan pesan bahwa dia mengetahui tentang keberadaan adikku. Kamu tahu sendiri, bagaimana aku sangat antusias setiap mendengar tentang kabar adikku. Dengan adanya informasi, aku dapat melacaknya dan hanya itu harapan agar bisa menemukan Salman." Setelah dua jam dalam perjalanan, kami tiba di sebuah rumah kosong yang disebutkan Khairil. Ferdi sudah menunggu di dalam. Khairil mengajakku masuk ke rumah itu. Seorang pria bertato tengah meringkuk dengan keadaan tangan dan kaki terikat. Khairil menyuruh Ferdi menyiramkan air untuk menyadarkan pria tersebut. "Hei, Mardi! Jawab pertanyaanku! Siapa yang menembak pemuda bernama Dilan?" gertak Khairil tegas. Dengan susah payah, pria itu mengubah posisi duduknya. Dia berusaha mengelap wajah dengan bahunya. "Jawab aku! Katakan pada nona ini, siapa pelaku penembakan yang sebenarnya!" ulangnya lagi. "A-aku yang menembaknya." Dia menatapku kaku. "Kamu, dasar b******n!" Aku menghantam muka pria itu bertubi-tubi. Khairil menahanku agar jangan terlalu emosi. Dia ingin mengetahui siapa yang menyuruhnya melakukan penembakan terhadap Dilan. Tiba-tiba, Khairil melihat sesuatu. Sekilas, seperti sinar laser berwarna merah mengarah tepat di kening Mardi. Khairil segera menarikku, menjauh dari tubuh Mardi. Kami jatuh bersamaan di atas lantai. Saat tersadar, kulihat tubuh Mardi sudah tergeletak dengan kening berlubang dan darah segar keluar dari lubang bekas senapan. Laser itu berasal dari senapan jarak jauh yang sengaja diarahkan untuk mengakhiri hidup pria itu. Mardi belum sempat mengatakan siapa dalang di balik penembakan Dilan. "Sephia, tempat ini sudah tidak aman. Kita harus segera pergi dari sini. Ferdi, tolong hubungi polisi dan berikan laporan pada mereka. Kalau ada apa-apa, hubungi aku!" pesan Khairil kepada Ferdi. Setelah keadaan cukup aman, Khairil menuntunku keluar meninggalkan rumah kosong itu. *** "Khairil, siapa yang menyuruh pria itu menembak Dilan?" tanyaku cemas. "Entahlah, Sephia. Aku belum yakin, dia belum sempat memberitahu. Tapi, aku mencurigai Umay, ini pasti ulah si b******n itu. Dia bisa melakukan apa saja yang dia suka. Sebaiknya, kamu dan keluargamu menjauhi Umay. Aku sudah memperingatkan ayahmu untuk tidak berurusan dengan Umay," kata Khairil mengingatkan. Dia menghela napas pelan. Aku mencerna apa yang disampaikannya, tetapi tak berani mengatakan yang sebenarnya bahwa Dilan justru sedang berada di rumah Umay. Aku berjanji akan meminta Papa untuk segera memindahkan Dilan kembali ke rumah kami setelah kondisi adikku sudah pulih. "Khairil, maafkan aku, aku sempat tidak memercayai ucapanmu. Aku juga sudah berkata kasar kepadamu tentang kasus penembakan adikku," ujarku menatapnya pasrah. Kini, aku yang merasa bersalah kepadanya. "Sudahlah, Sephia ... yang penting sekarang kamu sudah mengetahui sebenarnya. Aku cukup lega kamu tidak berpikiran sesuatu yang buruk tentang aku," ucap Khairil dalam. "Kenapa kamu begitu khawatir kalau aku berprasangka buruk terhadapmu?" "Sephia, aku tidak bisa menerima sesuatu yang buruk ada dalam pikiranmu tentang aku. Apalagi jika aku tidak melakukannya." "Khairil ... saat aku melihatmu berada di sebelah tubuh Dilan, rasanya aku ingin sekali menutup mata. Tidak akan memercayai bahwa kamu yang menembaknya, bahkan hatiku berkata demikian. Namun, aku tidak bisa menutup mata begitu saja. Karena kamu terlihat bersalah ... sungguh aku sangat menyesali. Kamu justru sudah banyak berkorban untukku." "Sephia, aku mengerti apa yang kamu rasakan tentang adikkmu. Sudah, kita tak perlu membahas ini lagi. Mulai saat ini, pikirkan dirimu dan keluargamu, Sephia." "Kamu tahu, Khairil? Terkadang aku sangat takut kehilanganmu ... apakah kamu juga merasakan ketakutan yang sama sepertiku?" tanyaku menatapnya lekat. "Ketakutan seperti apa?" "Takut kehilanganku! "A-ak-aku tidak tahu, Sephia!" "Lalu, bagaimana tentang perasaanmu kepadaku, Khairil?" Khairil tampak terdiam. Dia hanya membalas tatapanku penuh keraguan. Ada perasaan takut pada sorot matanya. Terkadang dia memang sangat membosankan. Tak memahami bagaimana perasaanku terhadapnya. Namun, aku menyadari tak bisa memaksa dirinya mengatakan tentang perasaan Khairil kepadaku. Mataku mulai mengantuk. Hari yang sangat melelahkan, seharian penuh kami menempuh perjalanan. Sejak Dilan dirawat, aku menjadi kurang istirahat. Kami masih dalam perjalanan pulang, sebelum sampai tujuan. Saking tak dapat menahan kantuk, kepalaku bersandar di bahu kekar Khairil. Lalu, dia menggeser posisi kepalaku hingga bersandar di d**a bidangnya. Dia menghentikan mobilnya di tepi jalan. Membiarkan aku tertidur lelap sebelum tiba di rumah. Suara alunan lagu dari radio mobilnya mengalun merdu, mengantarku dalam mimpi indah bersama lelaki yang berada di sampingku. Entah, sudah berapa lama aku tertidur dan bersandar di dadanya. Saat terbangun, dia kembali mengemudikan kendaraannya. "Bagaimana kabar Dilan sekarang ini, apa dia sudah membaik?" tanya Khairil mengagetkan sebelum aku turun dari mobilnya. "Iy-iya ... Dilan sudah agak membaik. Dia sudah keluar dari rumah sakit." "Sudah keluar? Kenapa cepat sekali? Bukannya dia harus menjalani perawatan intensif? Sekarang, apa dia sudah berada di rumahmu?" Aku gugup, tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Khairil. Dia pasti marah jika aku mengatakan bahwa Dilan tinggal di rumah Umay. "Dilan sedang berada di rumah kerabat kami, Khairil! Papa yang mengizinkan," jawabku terpaksa berbohong. Aku segera turun dari mobil Khairil. Di rumah aku yakin tidak ada siapa-siapa. Papa dan Mama pasti sedang menginap di rumah Umay. Aku mengucapkan terima kasih pada Khairil atas semua usaha yang dilakukannya untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Lalu, aku berpikir akan menginap saja di rumah kontrakan Tasya malam ini dan masuk ke dalam untuk mengambil baju salin dan meminta Khairil menungguku di luar sebentar. "Khairil, bisakah kamu tunggu aku sebentar? Aku masuk dulu mau mengambil sesuatu!" Khairil mengangguk setuju. Aku mengira di ruman tak ada siapa-siapa. Saat aku masuk menuju tangga, tiba-tiba mendengar suara Papa dan Mama sedang adu mulut seperti biasa. Langkahku terhenti seketika. Diam-diam, aku mendengarkan percakapan mereka di bawah. "Heni, ini semua gara-gara aku. Karma atas apa yang kulakukan lima tahun yang lalu ...." Kalimat Papa berubah setelah mereka berargumen. "Apa yang telah kamu lakukan, Mas? Kamu jadi sangat aneh akhir-akhir ini." "Heni, aku telah melakukan dosa besar. Tuhan mengutuk perbuatanku dengan mempertemukan Sephia. Bahkan, menjadikan putri kita jatuh hati pada Khairil," ujar Papa yang membuatku semakin penasaran. Aku menyimak perkataan Papa. Sepertinya Papa menyembunyikan sesuatu dan berusaha keras untuk mengutarakannya kepada Mama. "Aku tidak berniat membunuh anak kecil yang tidak berdosa ... aku tidak sengaja," rutuk Papa meratapi. "Apa maksudmu, Mas? Kamu telah membunuh anak kecil ... anak siapa, Mas?" "Heni, anak itu putra dari Khairil Ahmad Rashid. Aku yang telah membunuh putranya. Oh ... Tuhan!" aku Papa terisak. Aku sangat terkejut mendengar pengakuan Papa, hampir tak memercayainya. Kututup mulut agar tak mengeluarkan suara. Hatiku hancur berkeping, membayangkan bagaimana terlukanya hati Khairil saat itu. Lalu, bagaimana denganku sekarang? Bagaimana aku berhadapan dengan Khairil? "Mas ... katakan padaku, itu tidak benar! Bagaimana kamu membunuhnya, Mas?" cecar Mama tak percaya. "Heni, aku terpaksa melakukannya. Ini semua salahku. Gara-gara utang kepada Rico, ketua mafia penyelundup senjata gelap yang tidak bisa kubayar. Sebagai ganti, Rico menyuruhku menghabisi nyawa Khairil dengan menaruh bom di bawah mesin mobilnya ...." Papa berhenti menceritakan untuk sesaat sambil menahan tangisan sebelum melanjutkan. "Setelah kupasangi bom, aku tidak tahu anak Khairil dan supirnya menggunakan mobil tersebut. Saat Khairil masuk ke dalam rumahnya mengambil sesuatu, anak dan supirnya sudah berada di dalam mobil. Lima menit kemudian, secara otomatis bom meledak. Aku sangat ketakutan menyaksikan kejadian lima tahun yang lalu. Penyakitku berawal setelah tragedi itu. Setiap malam, aku selalu dibayangi mimpi buruk. Aku tak bisa hidup tenang. Aku sangat menyesal ...." Ingin kuteriak dan menangis sepuasnya. Namun, dadaku terasa sesak. Aku tak bisa bernapas. Satu-satunya cara, berlari meninggalkan rumah. Tak mau bertemu Papa. Aku tak mau memiliki ayah seorang pembunuh. Aku benci Papa! Tangisku pecah. Bagaimana aku menghadapi Khairil? Bagaimana jika dia mengetahui pelaku pembunuh putranya adalah papaku? Oh ... Khairil, maafkan aku! "Sephia ...." panggil Khairil lirih. Aku terkesiap, baru menyadari Khairil sedang menungguku di luar. Tiba-tiba, dia masuk mengejutkanku yang mematung dengan bersimbah air mata. Aku menatapnya dalam, mencoba menerka apa yang sedang dia pikirkan. Apakah dia mendengar pembicaraan kedua orang tuaku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN