KABUR DARI RUMAH

1301 Kata
"Sephia, ada apa malam-malam ke sini?" tanya Tasya heran. "Aku tinggal di sini, nggak apa-apa, kan, Sya?" "Tentu aja boleh. Ayo, masuk! Eh, tapi ... kamu baik-baik aja, kan?" "Aku lagi kesal sama Papa." "Duduk dulu, tenangkan pikiran kamu. Aku ambil minum, ya." Tasya bergegas ke dapur mengambil segelas air. "Aku lagi bete, Sya. Aku nggak tahu harus pergi ke mana." "Eh, ceritain, dong! Apa masalahnya?" Tasya meraih bantal sofa, lalu duduk di sebelahku. Aku menghela napas panjang. Entah, kepada siapa lagi aku mengadu selain pada sahabatku. "Papa mengurungku di kamar. Jadi aku kabur dari rumah, Sya." "Hah! Gimana ceritanya kamu sampe kabur, Phia?" Tasya tampak terkejut mendengar penjelasanku. "Papa memaksaku menikah dengan Umay. Kamu tahu aku nggak suka cowok itu!" "Aduh, Phia, bukannya Umay tipe cowok yang sempurna. Dia tampan, kaya, mapan lagi. Kamu beruntung mendapatkan calon suami seorang pengusaha sukses seperti dia," pujinya seolah-olah ada nada tekanan dari ucapan Tasya. "Sya, pokoknya aku nggak sudi nikah sama dia. Nggak suka bahas tentang cowok itu dan aku nggak akan pernah menikah dengan lelaki yang nggak aku cinta." "Ya, udah ... sekarang ganti mood kamu. Kita keluar, yuk!" ajaknya antusias. "Sya, aku sedang ingin menenangkan pikiran, aku nggak mau ke mana-mana." "Sephia, ayolah! Aku nggak suka lihat kamu down kayak gini. Kita pergi ke klub, having fun. Oke?" bujuk Tasya setengah memaksa seraya menarik tanganku. "Sya, kamu tahu, kan? Dari dulu, aku nggak suka pergi ke tempat seperti itu. Aku ingin tinggal di rumah." "Ah, apa kamu nggak bosan jadi anak pingit terus? Mumpung ada kesempatan kamu nggak di rumah orang tua kamu, nggak diatur-atur sama papamu, ayo, dong! Bebaskan, Phia ...," rayu Tasya. "Ohh, Sya ...." "Sini, ganti baju! Biar aku pilihkan gaun yang cocok punyaku." Aku beranjak mengikutinya ke kamar. Dia mulai memilih, lalu mencocokkan baju untuk kupakai. "Coba, pakai yang ini. Kamu pasti kelihatan semakin seksi!" Aku hanya menuruti sarannya. Melepas kaus dan celana jeans yang sejak tadi pagi aku kenakan. Menggantinya dengan baju atasan bahu terbuka warna putih polos dan rok pendek selutut warna marun.  "Woww! Kamu sangat cantik, Phia. Nggak heran bisa terpilih jadi cover model majalah," puji Tasya. "Phia, ayo, kita berangkat!" Kami mendatangi sebuah klub malam. Suasana hiruk pikuk diiringi musik disko bersahutan. Aku merasa canggung berada di tempat seperti ini. Tasya pergi menuju meja bar dan memesan minuman. Tak lama, kulihat dia sedang asyik berbincang dengan pria di pinggir meja. Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Dilan, menelpon. "Kak Sephia, tolong aku, Kak!" seru Dilan cemas. "Dilan, ada apa?" Aku pergi mencari tempat agak jauh dari keramaian menghindari suara berisik. "Kak, aku diancam ketua geng, gara-gara pil yang dibuang Papa kemarin. Sekarang mereka meminta uang ganti rugi. Kalo nggak bisa menggantinya, mereka akan membunuhku," papar Dilan ketakutan. "Berapa uang ganti rugi yang mereka minta?" "100 juta, Kak!" "Apa? 100 juta ... oh, Dilan!" "Tolong, bantu aku, Kak! Aku udah berusaha cari uang pinjaman sama teman, tapi nggak ada yang punya uang segitu. Mereka memberiku waktu selama 24 jam, kalo malam ini aku nggak bisa ganti, ketua geng akan menyuruh anak buahnya menghabisi nyawaku." "Ya, Tuhan! Ok ... Dilan, kamu tenang dulu, tetap di situ. Kakak akan berusaha membantu dan mencari uang pinjaman untuk membayar ganti rugi. Kalo ada apa-apa, segera hubungi Kakak. Kamu mengerti?" tegasku. Aku menghela napas berat. Apalagi ini? Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Aku kembali ke tempat semula untuk memanggil Tasya, ternyata dia sedang mencariku. "Sephia, kamu dari mana aja?" "Sya, Dilan barusan telepon, dia butuh bantuan. Aku harus mencari uang untuknya malam ini." "Kenapa dengan adikmu? Uang untuk apa?" "Dilan lagi ada masalah, Sya. Aku harus segera membantunya. Nyawanya sedang terancam. Aku harus mendapatkan uang 100 juta sekarang juga." "Apa? 100 juta untuk apa?" "Aku nggak bisa jelaskan sekarang. Semua ini gara-gara Papa!" Aku mendengkus kesal. "Aku nggak punya uang sebanyak itu, bagaimana kamu mendapatkannya? Oh, ya, aku baru ingat! Hanya ada satu orang yang bisa membantu kamu." Aku berusaha menerka ucapan Tasya. "Siapa?" "Umay!" "Nggak ... nggak. Aku nggak mau minta bantuan sama dia." "Phia, kamu mau minta bantuan sama siapa lagi selain dia? Mana ada orang yang ngasih uang pinjaman sebanyak itu di saat sekarang ini!" Betul juga kata Tasya. Bagaimana aku bisa mendapatkan uang dalam waktu 24 jam? Setelah kupikir matang, tak ada salahnya aku mencoba untuk meminta tolong pada Umay.  "Baik. Aku akan minta bantuan sama dia." Akhirnya aku menyerah. "Tapi, maaf, Phia ... aku nggak bisa antar kamu, ya. Cowokku udah di sini." "Jangan khawatir, aku pergi sendiri menemuinya." Dengan tergesa, aku pamit pada Tasya. Kemudian, langsung menuju rumah Umay. *** "Bos, Nona Sephia ada di depan gerbang. Katanya ingin bertemu dengan Anda." Salah seorang sekuriti yang bertugas di pintu gerbang menelepon bosnya. "Ah, Sephia ... suruh dia masuk!" Suara Umay begitu girang saat mendengar namaku. Aku diantar hingga di depan pintu utama. Memasuki rumah luas dan megah milik pria itu. Satu orang penjaga membuka pintu dan mempersilakan masuk. Di dalam, Umay sedang duduk di sofa ruang tamu. Dia tersenyum semringah menyambutku. "Hai, Sephia ... apa kabar? Senang sekali, kamu bertandang ke rumahku." " Umay, aku tidak mau berbasa-basi--" "Sttt ... tenanglah. Tak perlu terburu-buru. Santai! Silakan duduk dulu, aku ambilkan minuman untukmu." Umay hendak beranjak mengambil minuman, namun aku segera menolaknya. "Tak perlu repot-repot. Aku datang ke sini cuma sebentar. Aku butuh sesuatu yang sangat urgent!" "Oke, apa yang kamu butuhkan, Sayang?" Aku muak mendengar sebutan itu. "Aku perlu uang sekarang juga. 100 juta." "Woww! Untuk apa kamu butuh uang sebanyak itu?" selidiknya penasaran. "Umay, sudah kubilang aku sedang buru-buru, tidak ada waktu untuk menjelaskan. Lagi pula, ini bukan urusanmu. Aku datang ke sini hanya untuk meminjam uang." "Sephia, kamu tahu. Utang papamu sudah berapa banyak padaku? Sekarang kamu juga ingin pinjam uang  dariku dan kamu sangat yakin aku mau membantumu." "Ya, sudah, kalau tidak mau meminjamkan uang, aku mau pergi!" "Hei. Hei, tunggu! Oke, aku akan kasih. Kamu tunggu di situ!" Umay bergegas ke ruangan lain. Tak lama, dia kembali sambil membawa amplop besar berwarna cokelat. "Seperti yang kamu minta. 100 juta!" Dia menyerahkan amplop tersebut. Aku menerimanya, lalu memasukkan uang ke dalam tas. "Terima kasih, aku akan segera mengembalikan uangmu. Pegang kata-kataku. Permisi!" Aku hendak beranjak pergi. Tiba-tiba, Umay menghalangi. Dia tersenyum menyeringai. "Aku sangat penasaran denganmu, Sephia. Kamu sangat cantik malam ini. Penampilanmu sungguh menggoda. Mari kita bersenang-senang sebentar saja ...." "Umay, aku tidak ada waktu mendengar ocehanmu. Aku harus pergi!" Dia menarik lenganku. Aku mencoba melepaskan dan menghindari pria itu. Dia mengejar. Aku panik. Tanpa sadar menuju ruangan tengah. Dia terus mengejarku, seperti serigala yang sedang berburu mangsa dan siap menerkam untuk menjadi santapannya. "Mau apa kamu? Awas kalo kamu berani macam-macam, aku tidak akan segan menghajarmu," ancamku.  "Sephia, kamu sangat menggairahkan. Sayang sekali jika malam ini terlewatkan. Kita nikmati malam ini berdua, Sayang," kicau Umay menghampiri. "Jangan sentuh aku!" Aku terjebak di antara kursi panjang di ruang tengah. Dia mendorong tubuhku hingga terbaring di kursi, lalu menghampiri. Di pinggir kursi, ada meja bulat kecil dan di atasnya terdapat sebuah pot bunga. Saat Umay semakin mendekat, aku meraih pot tersebut, lalu memukul kepalanya hingga lebam dan berdarah. "Arghhh. Dasar wanita liar!" Umay merintih kesakitan. Dia berusaha mengejar. Aku tak tinggal diam, kutendang selangkangannya, hingga dia tak berdaya. Aku bergegas pergi meninggalkan rumahnya. Setelah keluar dari pintu utama, tampak anak buah Umay sedang berjaga di luar. Sampai gerbang, aku berusaha bersikap tenang, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Beberapa langkah dari gerbang, anak buah Umay berteriak dan mengejar. Aku bersembunyi, menghindari mereka. Setelah cukup jauh meninggalkan kediaman Umay, segera menghubungi Dilan. Dia menunggu di dalam gang sepi. "Dilan, ini uangnya. Cepatlah, kamu berikan uang ini pada mereka dan kamu harus berjanji pada kakak ... berhenti menjual barang terlarang jenis apa pun. Kamu mau berjanji untuk kakak, kan?" "Iya, Kak, aku janji nggak akan menjual obat-obat terlarang jenis apa pun. Terima kasih, Kak Sephia ... tapi, dari mana Kakak punya uang sebanyak ini?" "Udahlah, kamu nggak usah pikirin. Sekarang pergi temui mereka! Kakak juga harus segera pergi. Jaga diri baik-baik, ya!" Aku berpisah dengan adikku. Kembali mencari tempat yang aman. Aku yakin anak buah Umay sedang mengejarku. Saat hendak menuju jalan raya, tiba-tiba, mobil polisi muncul dari ujung jalan. Diikuti mobil Umay di belakangnya. Tak ingin ditangkap, aku mencari jalan pintas dan memasuki sebuah gang. "Hei, berhenti!" seru petugas lantang.  'Ah, celaka! Mereka memergoki.' Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN