"Hei, berhenti!" seru seorang petugas lantang.
"Perempuan itu harus ditangkap, dia kabur setelah mencuri uangku. Kejar dia." Umay, pria terkaya di tempat tinggal kami telah melaporkanku pada pihak berwajib.
"Ya. Perempuan itu bukan hanya pencuri, tapi dia juga p*****r. Tangkap dia, Pak!" tambah seorang pemuda turut memprovokasi.
Dengan napas tersengal, aku melarikan diri dari kejaran mereka. Akibat kondisi keuangan keluarga kami yang sedang ketar ketir, Dilan nekat menjual obat terlarang dan terjebak menjadi p**************a. Hingga suatu hari, Papa memergoki dan melihat pil-pil tersebut, lalu membuang semua ke dalam toilet.
Fatalnya, Dilan harus menanggung ganti rugi kepada bandar n*****a dengan harga ratusan juta. Aku berhasil menyerahkan uang tebusan untuk Dilan, memberikannya sebagai jaminan agar nyawa adikku selamat dari ancaman. Dia harus berhenti menjual pil laknat itu.
Aku terus berlari, menyusuri jalanan sempit menuju gang kecil di sebuah kawasan perumahan menengah. Rumah di sekitar, hampir mirip kontrakan dengan atap rendah. Demi menyelamatkan diri, aku memanjat dinding salah satu rumah tersebut. Dari bawah, terlihat jendela yang masih terbuka. Diam-diam, aku segera masuk ke dalam dan berharap aman dari kejaran.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan aku. Aku tidak bermaksud mencuri. Aku sangat terpaksa melakukan ini. Aku berjanji, jika Engkau menyelamatkanku kali ini, aku akan menjalankan semua perintahMu. Ampuni aku." Aku mengiba, sambil terus merapal berdoa.
Semoga rumah yang kusinggahi merupakan rumah kosong tanpa penghuni. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara pintu terbuka. Bayangan seseorang menghampiri ruangan tempat aku bersembunyi. Aku mengambil setrika yang tergeletak di atas kursi kayu. Rumah ini ternyata ada penghuninya, ataukah salah satu dari orang-orang yang sedang mengejarku?
Dari arah belakang, aku melihat seorang pria tengah berjalan. Dia tidak bersuara, namun dari gelagatnya tampak pria itu sedang memegang sesuatu. Dalam penerangan remang-remang, membuatku harus berhati-hati. Benda yang sedang dipegang pria tersebut jatuh ke lantai. Dia membawa beberapa buku di tangannya, lalu berjongkok memungut sebuah buku yang terjatuh.
Aku bisa merasakan dia sudah mengetahui keberadaanku. Namun, aku tetap bersembunyi di balik dinding pembatas ruangan, dengan tangan siaga menggenggam setrika.
"Aku akan laporkan kamu ke pihak berwajib sebagai pelaku tindakan kriminal, jika setrika itu menghantam tubuhku." Tanpa menoleh, pria itu berujar tegas.
Suara ancamannya membuyarkan pikiranku. Dia bangkit setelah memungut buku yang tergeletak di lantai. Kemudian, menatap wajah pucatku yang masih berdiri mematung bak hantu tertangkap di siang hari. Pria itu berjalan mendekati. Tangannya seakan hendak menggapai sesuatu.
"Berhenti! Jangan mendekat ... atau aku akan memukulmu menggunakan benda ini!" ancamku.
Dia tidak memedulikan peringatanku. Aku mundur hingga tubuhku mentok menempel pada tembok, pria itu tetap melangkah dengan tatapan tajam. Tangannya menyentuh dinding tepat di sebelah bahuku.
Klikk!
Ah ... rupanya dia menekan stop kontak listrik. Lampu seketika menyala menerangi seluruh ruangan. Tepat di depanku berdiri, terdapat sebuah lemari penuh dengan buku-buku dan kitab suci. Dinding ruangan pun terlihat banyak hiasan kaligrafi bertuliskan huruf Arab. Sepertinya sosok pria itu orang yang sangat disegani dan berpendidikan. Mungkin bisa dibilang seorang yang paham tentang ilmu agama. Aku melihat tatapannya penuh selidik. Dia berjalan mundur santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Lepaskan sandalmu dan ganti dengan sandal khusus untuk dipakai di dalam rumah!" titahnya.
"Sandalnya, ada di dekat pintu utama." Dia menambahkan seraya telunjuknya mengarah pada pintu depan.
Aku bergegas mencari benda yang dimaksud. Melepas sandal highheel dan menukar dengan sepasang sandal terbuat dari kain tipis.
"Maaf aku tidak sengaja masuk ke rumahmu. Aku ...." Aku terdiam tak meneruskan ucapanku. Namun dia seolah-olah memahaminya. "Tolong aku ... aku butuh tumpangan untuk sementara. Setelah ini aku akan segera pergi. Aku pasti tidak akan melupakan kebaikanmu." Aku menatapnya dengan tatapan memelas.
Pria itu masih berdiri santai, tidak terkejut dengan kehadiranku. Dia melangkah pergi ke ruangan lain.
"Kau mau ke mana?" tanyaku.
"Apa aku harus izin dulu melakukan sesuatu di rumahku sendiri?" Pria tersebut balik bertanya, membuatku merasa canggung dan tersipu.
"Aku mau mengambil air minum. Apa kamu mau?" Dia menawarkan.
"Ah ... terima kasih! Maaf merepotkan ...." Tanpa sadar aku mengikutinya. Khawatir jika pria aneh itu keluar rumah, lalu memanggil orang-orang yang sedang mengejarku.
Melihat tingkahku, dia tersenyum dengan tatapan misterius.
"Umhh ... namaku Shepia. Bolehkah aku tau siapa namamu?" tanyaku seraya mengulurkan tangan.
"Panggil saja Khairil," balasnya dengan telapak tangan menangkup d**a.
"Hei, gadis itu pasti berada di sekitar sini." Suara-suara di luar mulai terdengar gaduh.
"Aku yakin dia pasti bersembunyi di rumah salah satu warga di sini. Kita harus mengecek satu per satu," timpal yang lainnya.
Aku sangat terkejut, bagaimana mereka mengetahui keberadaanku secepat ini?
"Kita tanya semua warga di sini. Rumah ini siapa penghuninya?" Suara Umay mengintrogasi.
"Itu, rumah Ustaz Khairil," sahut seorang warga yang usianya sudah sepuh.
"Ayo kita tanya dia!" ajak Umay tak sabar melacak keberadaanku.
Dari dalam aku mulai ketakutan. Berharap orang yang disebut Ustaz Khairil tidak memberitahu kepada mereka. "Apakah kamu yang sedang mereka cari?" selidiknya ragu.
"Bu-bukan, Ustaz." Aku tergagap.
"Maksudku ...." Aku bingung bagaimana menjelaskannya.
"Iya, mereka sedang mencariku ... tapi Ustaz, aku mohon ... tolong jangan beritahu kalau aku di sini. Tolong!" harapku cemas.
Dia membalasnya dengan menatapku tajam.
"Perempuan itu pencuri, dia juga p*****r!" Suara orang-orang di luar, membuat emosiku memuncak.
"Ustaz, tolong jangan percaya ucapan mereka. Aku tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu. Pria yang bernama Umay, memaksaku menerima lamarannya. Aku tidak mau menikah dengan pria b******n seperti dia. Dia menahanku dan berusaha untuk melayaninya. Aku tidak sudi!" kataku penuh harap.
"Aku terpaksa membawa uang dan akan segera mengembalikannya. Aku butuh uang itu untuk menebus nyawa adikku. Tolong bantu aku, Ustaz Khairil ...." Aku memelas, air mataku meleleh deras.
"Kamu tunggu di situ. Aku akan menemui mereka." Dia bergegas menuju ruang tamu.
"Selamat malam, Pak! Ada yang bisa saya bantu?" Dari dalam aku mendengar Ustaz Khairil sedang berbincang dengan orang-orang di luar.
"Selamat malam, Ustaz! Maaf kami menganggu. Kami ingin bertanya, apakah Ustaz melihat seorang gadis lewat di sekitar sini?"
Ustaz Khairil sepertinya terdiam sesaat. Dia seolah-olah sedang mengatur napas, lalu mengembuskan pelan. Aku menunggu jawabannya, apakah beliau akan memberitahu keberadaanku?
"Maaf, saya tidak mengerti apa yang kalian maksud dan saya tidak melihat seorang gadis yang Anda cari. Mohon maaf," terang Ustaz Khairil berkata sopan.
Jawaban Ustaz Khairil membuatku bersyukur dan membuatku lega. Walau sementara, setidaknya aku tidak lagi bertemu pria berengsek bernama Umay. Namun, orang-orang itu tak mau meninggalkan halaman rumah Ustaz Khairil. Setelah tuan rumah menutup pintu, mereka tetap berjaga. Tampaknya, Umay tak percaya ucapan Ustaz Khairil dan menyuruh anak buahnya terus mengawasi keadaan rumah.
"Mereka masih mengawasi di luar. Sebaiknya kamu istirahat di sini. Besok saja kamu perginya." Ustadz Khairil, menyarankan juga menawarkan tumpangan.
"Terima kasih Ustaz sudah membantuku. Maaf, Anda harus berbohong kepada mereka untuk melindungi saya," ujarku merasa bersalah.
"Aku percaya padamu," jawabnya singkat sambil berlalu.
"Sementara ini, kamu tidur di kamar tamu. Aku akan menyiapkan baju serta perlengkapan tidur dan lainnya."
Dia memandang busanaku yang sedikit mencolok. Aku merasa tak enak berada di rumah orang yang berpengaruh di lingkungan ini. Sepertinya, Ustadz Khairil sosok yang disegani. Itu bisa terlihat dari penampilan dan cara dia berkomunikasi.
Namun, dia tipe pria yang sangat tertutup tentang masalah pribadinya. Terbukti, saat aku bertanya tentang istri atau keluarganya, dia tak berkata apa-apa. Aku merasa segan, khawatir dengan kehadiranku akan menganggu ketenangan anggota keluarganya.
Sekilas, aku mengamati foto dirinya terpajang di lemari buku sedang memeluk seorang anak kecil berusia sekitar lima tahunan dan dia hanya bercerita sedikit, mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal. Lalu, bagaimana dengan istrinya? Di mana dia sekarang? Apakah kehadiranku tidak akan mempengaruhi reputasinya sebagai orang yang disegani?
Bersambung