Bab | 12

565 Kata
Gadis itu hanya mematung ketika Ale memegang kedua tangan nya, mengeluarkan kata-kata itu lalu Ale mencium Brendy di depan Shilla dan Adra.. Adra yang melihat kejadian itu tak percaya lalu ingin melangkah kan kakinya namun di tahan oleh Shilla. "Biarkan saja Adra, adikmu sudah melakukan hal yang sedikit benar." Tutur Shilla. Sebenarnya bukan itu, Adra ingin menghampiri karena ia cemburu dengan adegan itu. Ale belum bangkit dari posisi yang berlutut di hadapan Brendy, ia masih terus menatap wajah gadis itu seakan mengambarkan sesuatu di matanya. "Kenapa kau diam Brendy? jawablah.. kumohon!" Ale yang tetap dengan posisi itu. Brendy yang sedari tadi diam dan di perhatikan membuat ia menjadi sedikit canggung. "Nama yang cantik Brendy, secantik paras nya." Shilla yang mendekati keduanya diikuti Ale yang berdiri dari posisinya. "Oh ya, mereka ini adalah putraku Brendy, Adra adalah kakak Ale," ucap Shilla. "Maaf, saya ingin pulang," suara Brendy begitu sopan, karena Brendy menghormati bahwa lawan bicaranya adalah orang yang lebih tua dari nya. "Biar aku yang mengantarkan nya," balas Adra. "Tidak. Akulah yang mengantarkan Brendy, karena aku yang membawa dia kemari, maka harus aku...benarkah Brendy?" Berharap Brendy membalas YA. "Tidak aku akan pulang sendiri." Brendy yang kebingungan dengan posisi seperti ini. "Brendy, aku yang akan mengantar mu, lagipula hanya aku yang tau rumahmu." Adra tersenyum mengejek kepada Ale. "Brendy kau mau kan ku antar?" Ale memegang tangan Brendy. Sebagai orang tua Shilla harus melerai nya, tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya, tapi untuk saat ini Shilla lebih memilih Ale bukan berarti Shilla tidak sayang kepada Adra, hanya saja Shilla tau bahwa Ale sungguh bersalah dan ingin melihat bagaimana anak lelaki nya itu berbuat yang lebih baik. "Sudah biarkan Ale yang mengantarkan Brendy, di perjalanan Brendy yang akan memberitahu jalan rumahnya." Shilla Menatap senyum kepada Brendy. ******************" Di dalam mobil, di perjalanan.... Ale fokus menyetir dan melihat jalanan, dan di sebelah Brendy yang terlihat diam saja tanpa menatap atau ingin bicara kepada Ale. "Apa kau sudah makan?" Sedikit demi sedikit Ale mencoba mencairkan keheningan bicara dengan Brendy yang duduk di sebelah. "Antar saja aku pulang, rumahku di dekat Brooklyn Deli," ucap Brendy tanpa menatap Ale. "Bagaimana bisa aku mengantar mu pulang, sedangkan dirimu belum makan," balasan Ale tetap fokus menyetir. Ale tidak menuju rumah Brendy, ia malah menuju sebuah restoran di Los Angeles yaitu Sqirl. "Kita sampai." Ale memberhentikan mobilnya. "Aku tidak lapar," balas singkat Brendy. "Turunlah atau aku mengendong mu?" Ancam Ale tidak punya cara lain. Seketika Brendy menatap Ale dengan tatapan tajam, lalu ia membuang tatapan itu melihat pemandangan lain. "Tenangkan lah sedikit wajahmu itu Brendy, aku tidak akan menyakitimu okey?" Senyum Ale melihat reaksi Brendy. Ale turun dari mobil nya tak lupa membuka kan pintu Brendy, Ale mengulurkan tangan kepada Brendy, tapi Brendy malah berjalan keluar sendirian, tanpa membalas uluran tangan Ale. "Baik lah tidak apa-apa," Ale berbicara sendiri ketika Brendy melewati begitu saja. Kini keduanya duduk di restoran, di kanan dan kiri juga ada pengunjung lainya bersama kekasih,teman bahkan juga ada yang bersama keluarga besar. Ale kemudian memesan dua makanan yaitu Veal filet mignon tartare and smoked mascarpone at Spago dan dua minuman di restoran itu tentu dengan Brendy. "Kenapa kau tidak ingin makan?" Tanya Ale berbicara sambil makan. "Aku sudah bilang tidak lapar," Brendy hanya duduk memandangi meja itu. "Kau tidak lapar atau tidak ingin makan denganku?" Tanya Ale. "Kau cukup pintar mengenai kondisi ternyata." Jawab Brendy yang dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN