Bab | 13

652 Kata
Walau melihat Brendy yang enggan dengan dia, tapi tetap saja mereka berdua berbicara walau tak banyak, berjalan satu mobil dengan Cloris, dan kini mereka memakan di atas satu meja, itu sudah cukup bagi Ale, membuat ia lebih bahagia, agar hubungan Ero dan Cloris bertambah baik dan jauh lebih baik. "Brendy kumohon anggaplah aku ada disini." Ucap Ale dengan mimik sedih. "Jika aku tidak menganggap mu ada lalu tadi aku bicara dengan siapa?" Sambil meminum minuman yang di meja. Ale tersipu malu dengan jawaban Brendy, ia langsung berpura-pura berdehem dan melihat kiri kanan. "Baiklah kau sangat cantik saat kesal." Ale yang Kini mengalihkan pembicaraan. "Dan kau sangat jelek saat wajahmu memerah seperti itu," Brendy membalikan kata-kata Ale. "Mana mungkin aku jelek bahkan semua wanita yang ada di kantor tergila-gila dengan pesonaku," batin Ale. Tidak lama kemudian akhirnya Brendy menyerah dan memakan menu yang di pesan Ale, jujur saja sebenarnya ia lapar tapi hanya menjawab tidak. Makan malam telah selesai, kini mereka berdua telah berhenti tepat di rumah Brendy. "Brendy jangan turun dulu," Ale mengunci pintu mobil dengan tombol yang di sekitarnya. "Buka pintunya Ale," perintah Brendy. Ale senang saat gadis itu memanggil namanya sungguh ia kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut Brendy. "Ulangi sekali lagi kalimat mu di belakang tadi," ucap Ale. "Ale," balas Brendy. "Ya ... Apa?" Ale memandangi gadis itu. "Buka pintunya!" paksa Brendy. "Apa kau sudah memaafkan aku?" Masih menatap gadis itu. "Siapa bilang aku memaafkan mu?" Brendy langsung menjawab nya. "Lalu kapan kau memaafkan ku?" Ale ingin menyentuh tangan itu namun ia  urungkan. "Tidak pernah, dan tidak akan pernah kau dengar," Brendy memejamkan matanya di sandaran mobil itu. "Dengar... aku memang sudah salah dengan semua ini... tapi tidak kah kau memberiku kesempatan untuk ku? Merubah segalanya menjadi lebih baik?" Ale Memegang tangan itu. "Jangan sentuh aku!" Brendy menyingkirkan tangan nya dari Ale. "Aku tidak akan pernah lelah untuk membuatmu percaya bahwa aku sungguh-sungguh," Ale menekankan kata-kata sungguh-sungguh. "Aku tadi diam karena di rumah mu ada ibumu dan satu lagi, disitu juga ada Adra, jadi jangan terbawa hati dan melakukan itu lagi," jelas Brendy. "Tapi tadi kau mau berbicara denganku kau makan malam denganku bahkan kita sempat sedikit bercanda di restaurant tadi," Ale berharap bahwa bisa mengubah sedikit keadaan. "Semua itu? Dengar  Ale, semua itu tidak akan mengubah apapun  rasa di hatiku ini Al,e mungkin suatu saat aku bisa memaafkan mu tapi ingat! rasa sakit masih ada bahkan aku akan membencimu," panjang lebar Brendy. "Jadi di hadapan mu aku ini seperti apa"? Tanya Ale. "Sudah aku muak, cepat buka pintu ini!" teriak Brendy. "Aku akan membuka dan menekan tombol ini, jika kau menjawab satu pertanyaan ku lagi." Tangan Ale siap menekan tombol itu  dengan wajah sedih, jelas tidak bisa di sembunyikan di wajah Ale. Brendy memejamkan matanya dan keheningan beberapa detik. "Bagiku kau adalah bajingan... ya, kau adalah b******n yang pernah menyentuhku dengan aksi gilamu itu, dan aku sangat membencimu saat ini," lantang, jelas, singkat namun terdengar sangat menyakitkan. Ale terdiam meneguk tenggorokan nya dan terdiam beberapa saat. "Cklk," suara tombol mobil. "Baiklah terimakasih atas jawabanmu, sekarang aku sudah membuka pintunya." Ucap Ale tak mampu menatap gadis itu karena mendengar semua terlalu menyakitkan. Gadis itu membuka pintunya dan langsung berlari menuju rumah, tanpa menoleh ke belakang. "Ia kau benar Brendy, aku adalah seorang b******n tapi kau harus ingat Brendy aku hanya akan menjadi b******n untuk mu, artinya hanya aku  yang boleh menyentuh mu, hanya diriku yang boleh membuatmu menangis atas kehadiranku, hanya diriku lah sepenuhnya membuat mu tersenyum dan nanti sampai tiba waktunya aku akan membuktikan bahwa b******n juga bisa untuk merubah segala sesuatu lebih baik, sampai kau tersadar tak semudah itu membuatku berhenti mengejar mu. Bahkan aku akan membuktikan nya    bahwa aku adalah b******n yang sedang  mengejarmu bukan karena ingin melukai mu tapi aku ingin membuatmu bahagia." Kata Ale pelan melihat gadis itu berlari dan ketika gadis itu benar-benar hilang ia langsung menancapkan gas mobilnya dan melaju pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN