Adra menatap rumah cat coklat yang ada di depan nya lalu ia menghampiri rumah itu.
Tok....tok...tok...
"Apa kau di dalam Miru?" Tanya Adra Sambil terus mengetok pintu.
Adra yakin bahwa di dalam rumah itu ada gadis yang ia cari dan terus mengetok pintu.
3 menit kemudian......
"Miru....Miru bukalah pintu nya aku Adra," teriak Adra.
~
Brendy Miru melamun di kamarnya rambutnya sungguh berantakan pipi nya penuh bekas air mata yang ia tumpahkan hingga kering dan enggan untuk meneteskan nya lagi.
Brendy mendengar suara ketokan pintu itu dan dia tahu bahwa mendengar nama Adra ia sengaja tidak membuka pintu karena tidak mungkin menunjukan dirinya dengan kondisi seperti ini.
"Adra?" Suara kecil dari bibir Brendy.
Tok...tok...tok....suara itu muncul lagi.
"Aku tau kau di dalam keluarlah aku Adra," lagi-lagi teriak lelaki itu.
Brendy tetap tidak ingin membuka kan pintu orang yang di depan pintu itu.
"Braaaaakkkk," suara pintu jati yang di didorong oleh Adra.
Adra berjalan terburu-buru mencari Brendy dan memanggil namanya.
"Miru...Miru...Miru," teriak nya.
Brendy kaget dengan teriak Adra sontak ia langsung berdiri untuk menghindar, tapi ketika ia berdiri laki-laki itu sudah dekat dengan nya.
"Miru," Adra melihat kondisi nya begitu kacau berantakan tak karuan.
"Adra," Brendy memundurkan langkah kakinya.
Adra dengan cepat berjalan mendekap tubuh itu penuh kasih sayang.
"Jangan sentuh aku," renggek Brendy dengan suara serak.
Adra melepaskan pelukan nya dan menatap dengan penuh iba ia tahu betul bagaimana perasaan wanita itu.
"Lepaskan aku Ar," suara pelan terdengar di bibirnya.
Adra menyelimuti kedua pipinya dengan kedua tangan nya.
"Aku disini...jangan takut... aku di sampingmu," mencium kembali pucuk kening manis itu.
"Aku....aku....aku...aku...." Brendy tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Adra langsung mendekap tubuh itu lagi mengelus pundak dan punggung dengan kedua tangan nya.
"Aku akan bersamamu...maafkan aku tidak bisa melindungi mu," Adra bersujud di hadapan wanita itu.
Brendy yang tadinya tak mampu menangis kini kembali ingin menangis dan berkaca-kaca.
"Adra pergilah kau tidak pantas dengan diriku," Kesedihan di matanya sungguh jelas.
"Aku tidak akan pergi kau tahu kan!" Adra berdiri kembali meraih kedua tangan Brendy dan mengangkat di pipinya.
"Aaahhhh," Brendy kesakitan.
Adra kaget dan membalikan pergelangan tangan itu.
Adra melihat tanda merah di kedua pergelangan gadis itu yang masih memar dan belum terobati.
Adra syok dan kaget sekasar apa yang sudah diperlakukan adiknya kepada gadis nya.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," Adra mengamati tangan-tangan merah itu.
"Tidak Ar aku tidak ingin," Brendy menolak ajakan nya.
"Sudahlah cepat lah bersiap-siap kita akan kerumah sakit," PaksaAdra.
30 menit berselang.....
Adra dan Brendy berjalan keluar rumah untuk pergi ke rumah sakit.
"Apakah sakit?" Tanya Adra.
"Apanya," balas Brendy.
"Kau berjalan tidak imbang, seperih apa? Katakan padaku?" Adra menghentikan langkah kaki Brendy.
"Aku bis.." ucap nya terpotong.
Adra mengendong wanita itu ala bridal style dan menuju mobil.
"Adra, aku bisa sendiri," Brendy yang tidak enak di perlakukan seperti itu.
"Sudah diam...aku tidak akan melukai mu," Adra berjalan dan membuka pintu mobil lalu dengan hati-hati mendudukkan gadis yang ia gendong.
"Adra terimakasih," senyum Brendy.
Adra membalas senyum itu dan melaju kan mobilnya menuju rumah sakit.